TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Dada Shofi sesak. Ia masih bergeming setelah mendengar obrolan Hana dan Abinya tersebut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Matahari telah tengelam saat APV Syafiq masuk ke pelataran. Tak berselang lama adzan magrib berkumandang. Shofi yang memiliki rencana pergi dengan suaminya telah tampil cantik dengan balutan gamis flanel model full kancing ke bawah bermotif kotak-kotak perpaduan warna navy dan hitam.


Syafiq langsung masuk ke kamar Fura. Ia membersihkan diri di sana. Walau memiliki 2 istri. Kamar Fura tetap menjadi labuhan utama Syafiq. Berada dalam 1 satu rumah dengan 2 bidadari merupakan hal baru untuknya, Syafiq masih belajar memperlakukan mereka dengan adil, walau Syafiq sadar ia tak akan bisa adil sempurna. Oleh karenanya keikhlasan keduanya sangatlah penting dalam hubungan semacam ini.


Fura segera masuk ke kamar saat menyadari Syafiq telah kembali. Terdengar kucuran air menandakan suaminya tersebut tengah membersihkan diri. Dengan cekatan Fura membuka lemari dan memilih sebuah kaos casual dengan celana panjang berbahan twill, ia meletakkan pakaian yang dipilihnya ke atas ranjang setelahnya.


Ia yang ingin mengambil air wudhu tertahan menunggu sang suami keluar dari kamar mandi. Hingga beberapa saat Syafiq keluar. Syafiq tahu betul Fura pasti hendak berwudhu, ia mendorong kursi roda Fura ke toilet dan memancurkan selang ke sisi kursi roda istrinya tersebut. Ia membantu Fura membasuh kakinya pula. Keduanya menjalankan ibadah maghrib berjamaah setelahnya.


Fura masih terus memperhatikan aktivitas suaminya yang tengah merapikan rambutnya. Syafiq yang menyadari seketika mendekat. "Apa aku sudah tampan?" ucap Syafiq mengarahkan wajahnya ke hadapan Fura.


Fura meraih wajah itu, "Suamiku sangat tampan!" Syafiq tersenyum. Tanpa aba-aba ia meraih tubuh Fura dan menggendong ala bridal membawa raga itu ke sofa.


Masih berada di pangkuan Syafiq, Fura menatap intens wajah suaminya tersebut dan melontar kata. "Aku dengar Jauza-ku ingin melihat bayi mungil dalam perut wanita keduanya."


"Betul, apa hal itu menganggu Juriyy-ku?" Fura menggeleng. Ia berkata setelahnya. "Mana mungkin aku keberatan, bukankah memang kewajibanmu memberi cinta dan perhatian pada bayi itu! Masalahnya----


"Apa?" Syafiq menatap lekat sambil menyapu kepala Fura.


"Putrimu Hana terus merengek meminta ikut, aku khawatir ia akan menganggu kalian!"


"Ucapan apa ini! Aku ayah Hana, mana mungkin aku terganggu dengan kehadiran putriku sendiri. Aku tak masalah ia ikut!"


"Dan Shofi?"

__ADS_1


"Ia pasti juga tak keberatan. Oh ya, aku senang kamu mengajarkan panggilan baru untuk Shofi pada Hana. Shofi sangat menyukainya."


"Syukurlah, awalnya aku takut Shofi keberatan tiba-tiba dipanggil bunda oleh Hana," lirih Fura tak merubah posisi matanya dari wajah Syafiq.


"Ia juga wanita baik sepertimu, hatinya tidak keras. Ia sangat menyukai panggilan itu. Satu lagi, malam ini kami tak hanya ingin memeriksa kandungan Shofi, melainkan ada seseorang yang hendak kami temui." Fura memicingkan matanya. "Siapa?" tanya Fura penasaran.


"Shofi belum memberitahu sesuatu padamu?" Fura menggeleng.


"Ia begitu berkeras ingin memulihkanmu! Dan malam ini kami hendak menemui seorang dokter syaraf yang katanya bagus dan akan berusaha membantumu!!" Fura memalingkan wajahnya.


"Ada apa? Juriyy-ku terlihat tidak suka?"


"Semua hanya akan membuang-buang waktu dan uangmu, Bii. Aku tidak mungkin sembuh! Biarkan aku seperti ini saja!"


Syafiq mendekatkan wajahnya. "Tidak ada yang tahu ketetapan-Nya, tidak ada yang tidak mungkin!"


"Apa kamu menginginkan aku sembuh?"Fura membalik wajahnya menatap Syafiq, memastikan apa yang ingin didengarnya.


"Karena kupikir kesembuhanku tak penting lagi sebab sudah ada Shofi yang sempurna di dekatmu!"


"Aku tidak suka perkataan seperti ini, kamu tau betul perasaanku padamu, hem?"


"Dulu aku tau, sekarang tidak lagi! Jauza-ku sudah tak pernah mengungkapkannya!" Fura menunduk.


"Bibirku kelu mengucapkannya. Keikhlasanmu membuatku malu pada cintaku yang tak sebanding dari setiap yang kamu lakukan untukku Juriyy!" batin Syafiq.


Syafiq masih menatap Fura namun kini terdapat kesedihan di sana. Fura yang selama ini menahan pilunya sendiri pun tak mengalihkan tatapannya. Sejujurnya ia ingin mendengar ungkapan cinta itu. Tapi Syafiq hanya bergeming. Netra kedua insan saling mengunci, bahasa lisan tak mampu menjangkau rasa masing-masing. Terdapat binar berkaca dengan sudut bibir yang memaksa diangkat setelahnya. Fura tersenyum. Tak ingin Syafiq melihat kepedihannya.

__ADS_1


"Juriyy dengar! Jawza-mu ingin kamu sembuh, kuatkanlah keyakinanmu, Sayang! Untukku dan anak-anak, hem!" bisik Syafiq.


"Memang aku egois ingin memiliki keduanya, aku sungguh ingin Juriyy-ku pulih, walau di sisi hatiku yang lain ada ketakutan pula Shofi akan pergi jika Juriyy membaik. Tapi biarlah kehendak-Nya yang bicara untuk yang terjadi kemudian," monolog Syafiq.


Fura ingin mendengar ungkapan itu, ia menunggunya. Ia bergeming. Ada kepiluan di hatinya namun raganya terbawa sapuan yang terus diberikan Syafiq di kepalanya, sapuan yang kini bermain di rambut ikal miliknya. Jemari yang terus bermain, kini ia merapikan anak-anak rambut Fura, menyelipkannya di belakang telinga, mengangkat dagu Fura yang mulai menunduk hingga dengan cepat jemari itu pindah ke tengkuk Fura dan menahannya. Fura terus menggeleng.u7


"Bii, jangan! Nanti kamu akan terlambat, Shofi sedang menunggumu!" Syafiq tak menghiraukan ucapan Fura. Dengan lembut bibirnya menyambangi bibir Fura, menggigit kecil-kecil dan terus bermain. Hingga kecupan itu semakin buas tatkala Fura mulai membalasnya. Hingga beberapa saat mereka saling melepas pagutannya.


"Jangan menyangsikan rasaku, hem?" Walau Fura masih menunggu ungkapan itu, tapi ia menikmati aktivitas Syafiq. Ia mengangguk. Syafiq memeluk erat tubuh Fura setelahnya, hingga tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


Seorang gadis kecil terperanjat, ia menutup wajahnya. "Letakkan aku ke roda dan berikan jilbabku, Bi!" lirih Fura. Syafiq menurut.


"Hai malaikat Abi!" Syafiq mendekat.


"Maaf Abi, Hana tidak lihat apa-apa!"


"Sudah buka. Tidak apa-apa, Abi memeluk Umi karena sayang. Namun lain kali biasakan ketuk pintu dulu ya, Nak!" ucap Syafiq membungkukkan tubuhnya mencium puncak kepala Hana. "Sekarang katakan, apa yang membuat Hana terburu-buru tadi!"


"Katanya kita mau melihat adik bayi! Ayo berangkat Abi! Bunda sudah siap sejak tadi!" lontar Hana.


"Iya ayo kita berangkat. Pamit dulu pada Umi sana!" Hana berlari mendekati Fura.


"Umii ... Hana ikut Abi dan Bunda, yaa!"


"Iya, tapi Hana jangan nakal di Rumah Sakit ya, Sayang!" ucap Fura. Hana mengangguk. Syafiq mendekat setelahnya.


"Aku berangkat dulu! Ingat, jangan sangsikan rasaku padamu!" bisik Syafiq, Fura tersenyum. Tak berselang lama bayang Syafiq menghilang.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


__ADS_2