TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Enam Puluh Dua


__ADS_3

"Istirahatlah!" Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Fura sebelum akhirnya raga Syafiq meninggalkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktu menunjukkan pukul 19:40 saat Fura berada di ruang keluarga bersama Hana dan Omar. Ia sedang membantu Hana mengerjakan PR, sedang Omar tampak asik bermain mobil-mobilannya. Teh Rani dan Mbak Kinan tampak membantu Mbok Santi menyiapkan makan malam keluarga yang menaungi mereka.


Dari bawah langkah kedua sejoli itu terdengar. Ialah Shofi dan Syafiq yang sedang turun ke lantai bawah, Syafiq tampak melingkarkan jemarinya di pinggang Shofi sambil terus mendengar celoteh Shofi yang sangat renyah di dengarnya.


Fura yang melihat segera membuang wajahnya dan tetap berusaha setenang mungkin tetap mengajari Hana belajar. Hingga Hana menyadari kehadiran Shofi dan Syafiq, ia dengan cepat menghampiri.


"Bundaa .... Kenapa Bunda dan Abi baru turun? Apa adik Hana rewel? Perut Bunda sakit lagi?"


Ya, memang beberapa hari ini Shofi memang kerap merasakan kontraksi di perutnya. Usia kehamilan yang semakin mendekati hari kelahiran membuat Shofi lebih sering merasa letih. Area kaki yang membengkak membuat aktivitasnya sedikit terhambat, oleh karenanya ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.


Akibat kondisi Shofi tersebut, Syafiq lebih banyak menghabiskan waktu sepulang kerja bersama Shofi kini atas izin Fura tentunya. Fura seperti biasa memilih diam dan mengalah, untuk kebaikan seluruh anggota keluarganya. Kebaikan dan ketenangan Shofi yang tengah mendekati kelahiran, juga kebaikan Syafiq.


Fura memilih bersikap tenang agar Syafiq tak pusing memikirkan kondisi ini. Kondisi yang mengharuskannya tak adil, walau Fura tau pasti tidak mudah untuk Syafiq membiarkan dirinya (Fura) sang istri pertama bersusah payah dengan kekurangan yang dimiliki. Ya ... begitu setidaknya pemikiran positif Fura.


Kembali dengan tanya Hana terhadap Shofi. Shofi tersenyum baru setelahnya ia berujar, "Adik Hana sangat kuat, ia selalu tendang perut Bunda!"

__ADS_1


"Apa di perut Bunda ada bolanya? Kenapa adik suka menendang?" Hana terus berceloteh dan Shofi dengan sabar terus menjawab satu persatu tanya itu.


Syafiq yang sejak menuruni tangga menangkap bayang bidadari pertamanya terlihat menarik napas panjang sebelum akhirnya ia mendekati raga itu. Lagi-lagi sebuah senyuman terpancar merekah cantik menyambut raganya semakin mendekat. Syafiq berdiri tepat di depan kursi roda itu dan membungkuk memberi kecupan yang cukup lama di puncak kepala wanitanya.


Wanitanya ....


Wanita dengan kekurangan yang dimiliki tetap bersinar dengan rona cantiknya. Rona cantik kebaikan akhlak yang membuat raga tegap itu tak berdaya dan selalu tak mampu mengucap kata cinta yang nyatanya telah ia hianati dan terbagi.


Syafiq mendorong kursi roda itu dan menghentikannya di sisi sebuah sofa. Syafiq duduk di sofa itu setelahnya. Berdampingan dengan mawar jingga yang walau tak satu sofa tapi terasa begitu dekat. Jemari Syafiq mendarat cantik di bahu Fura, terus menyapu lembut bahu itu.


Sesaat Syafiq tertegun, ditatapnya dua wanita di sisi dan di hadapannya bergantian. Terlintas seketika ucapan Billy beberapa waktu lalu. 'Serakah' ... Syafiq tersenyum getir. Hatinya nyatanya membenarkan ucapan itu. Dua hati dan dua raga yang ingin ia miliki.


"Aku memang serakah, tapi memang hatiku menginginkan keduanya! Aku mencintai keduanya! Toh kami halal! Ya, walau awalnya terbingkai kebohongan, tapi kami telah saling menerima dan berdampingan. Terlepas dari keinginan Shofi untuk pergi jika Juriyy-ku pulih. Aku akan tetap berusaha mempertahankan keduanya. Walau keputusan akhir tetap pada keputusan Shofi dan aku harus siap apapun itu saat hari itu tiba."


Fura menoleh ... saling bertatap dan mengunci pandang hingga senyum disunggingkannya. Senyum yang seketika menyesakkan Syafiq. Fura kembali mengarahkan wajahnya ke depan, dengan tenang ia menatap wanita semampai yang tampak asik berbincang dengan putri kecilnya. Wanita yang sebentar akan menjadi ibu dari anak suaminya. Ialah Shofi madunya.


Sesak ... tentu! Wanita mana yang ingin sebetulnya melihat suaminya memiliki anak yang bukan dari rahimnya. Fura dengan pintar mengaburkan bayang sesak yang menyelimuti otaknya. Ia menatap pria tercinta yang duduk di sisinya, ia senang prianya masih tetap di sana, duduk di sisinya, ikhlas tetap menjadi sandarannya.


Hati kecil Fura mengakui semua tak lepas berkat kebaikan Shofi. Shofi melengkapi kekurangannya, Shofi nyatanya bertahan setelah malam itu ia memohon. Memang seakan ia memanfaatkan Shofi, tapi nyatanya ia melihat binar cinta di mata keduanya, mata Shofi dan Syafiq suaminya. Dan ia rela berbagi!

__ADS_1


Shofi menatap wajah-wajah itu. Wajah tulus Fura juga wajah penuh cinta Syafiq. Sesaat ada kepedihan menyelimuti Shofi sebab nyatanya ia hadir di tengah dua orang sosok yang sesungguhnya memiliki cinta tulus tapi terseret ombak takdir yang akhirnya meluluhkan hati sang penopang menjadi dua bagian.


Seketika otaknya mengingat hari itu, hari yang seharusnya ia bisa berbalik dari lingkaran cinta yang menyesakkan, namun ia dengan sadar memilih bertahan. Azzam yang saat itu begitu kuat terpatri untuk menyembuhkan cinta pertama kekasih hatinya. Azzam yang kini seakan belum menemukan titik pasti, lantaran kesembuhan itu nyatanya belum terlihat.


Hatinya bergejolak, "Akankah ia selamanya berada dalam posisi ini? Atau ia sebaiknya menyerah dari azzam itu dan pergi saat bayinya lahir? Tapi jika pergi ... apa hatinya sanggup?"


Shofi sungguh merasa jadi manusia munafik, tak ingin menjadi orang ketiga, namun ia juga sukar berbalik. Ia bergeming, hingga dilihatnya sang kekasih hati menepukkan jemarinya di sofa tepat di samping ia duduk. Shofi mengangguk dan mendekat. Membuang segala fikir yang menyelimutinya sejenak. Ia pun duduk di sana.


Syafiq mencium bahu wanita yang baru saja duduk mendekat padanya. Ia bahagia bisa berdampingan dengan dua bidadarinya. Ya, walau kata adil itu masih sangat jauh dan sungguh sulit, karena ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan ia condong pada salah satunya. Hal yang terus memenuhi otaknya, namun gambaran senyum merekah lagi-lagi ia dapati dan membuatnya tenang. Fura nyatanya selalu mempermudahnya, ia yang haknya sering ia lalaikan nyatanya tak pernah mengeluh.


Kondisi nyaman dan tenang tercipta, hingga sebuah suara seketika mengaburkan segalanya.


"Assalamu'alaikum semua ...! Waw surprize, semua sedang berkumpul rupanya."


Dialah Billy yang sepekan ini sering terlihat hilir-mudik di rumahnya. Bukan tanpa alasan! Hydroterapy yang harus dijalankan Fura membuat Syafiq akhirnya memutuskan untuk membiarkan Billy memberi terapi tersebut di rumahnya.


Banyak ART yang mengawasi menjadi pertimbangan. Otaknya akan kacau membayangkan sang istri melakukan terapi air berdua dengan Billy. Berbeda jika dilakukan di rumah, ada anak-anak dan para ART di sekitar mereka. Syafiq yang kondisinya bekerja juga Shofi yang kini lebih banyak di kamar memang tak bisa memantau aktivitas terapi Fura.


Syafiq sebetulnya agak geram melihat Billy yang mulai sering datang di luar jam terapi, dari mulai mengunjungi sahabat, membawakan makanan untuk anak-anak, mobilnya mogok, dan banyak lagi alasan yang selalu ada saja ia lontarkan hingga bisa mencapai rumahnya!

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


__ADS_2