
Pandangan Syafiq seketika mencari wanita tercintanya, dan akhirnya Syafiq menemukan wajah teduh sang istri di muka pintu. Sang istri tampak tersenyum menangkap wajah sang pujaan hati yang sesungguhnya sangat dirindukannya pula.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak berselang lama, Mang Anto supir keluarga Syafiq mengantar Hana ke sekolah. Mereka pun masuk ke dalam.
"Omar main dengan mbak Kinan dulu ya, Abi mau bicara dengan Umi," ucap Syafiq lembut dan menurunkan Omar dalam gendongannya di muka pintu dan membiarkan sang pengasuh membawa Omar keluar untuk disuapi setelahnya.
Tanpa berkata Syafiq segera mendorong kursi roda sang istri yang seperti biasa sang istri tampil cantik dengan polesan tipis di wajahnya juga gamis rayon berwarna pink dengan motif bunga yang manis menambah aura kecantikan yang dimiliki Fura istrinya terlihat jelas.
Langkah Syafiq berhenti saat kursi roda yang dinaiki Fura tak bisa bergerak dan terhalang ranjang di hadapannya. Syafiq pun segera menutup pintu kamar.
"Aku sangat merindukanmu, Juriyy," lirih Syafiq memeluk sang istri.
Fura yang juga merindukan suaminya membalas pelukan Syafiq.
Syafiq duduk di ranjang dan menatap wajah sang istri, "Matamu bengkak, apa Juriyy-ku menangisiku semalaman?" tanya Syafiq.
"Aku hanya tidak bisa tidur, Bi," lirih Fura.
"Karena memikirkan suamimu bersama wanita lain, benar seperti itu? Maafkan aku," lirih Syafiq.
"Bukan itu, tapi Omar menggangguku dan terus minta dibacakan dongeng semalaman," bohong Fura.
"Oya, bagaimana Shofii? Ia wanita yang hebat bukan? Dari fotonya ia terlihat cantik, kau sangat pandai memilih wanita, Bii," goda Fura padahal hatinya sesungguhnya teriris.
"Kamu wanita yang tercantik, Juriyy," lirih Syafiq.
"Tapi aku tidak bisa melayani suamiku dengan baik, aku tidak----
"Juriyy-ku sangat sempurna," ucap Syafiq memotong ucapan Fura.
"Bi, kamu sudah sarapan? Sarapanlah dulu, aku akan menyiapkannya," ucap Fura berusaha menggerakan kursi rodanya.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku sudah sarapan ...."
"Shofii memasak untukmu?"
Syafiq pun mengangguk.
"Aku senang Shofii pandai memasak tidak sepertiku," ucap Fura.
"Aku bukan bos restauran yang mencari koki yang pandai memasak, aku mencari wanita yang menggetarkan hatiku," lirih Syafiq.
"Sejak dulu kamu sangat pandai menggombal, Bii."
"Hanya padamu Sayang, Juriyy-ku. Hanya Juriyy pemilik hatiku, tidak ada wanita lain," ujar Syafiq seketika mencium Fura lembut.
"Katakan Bii, apa kamu juga mencium Shofii seperti kamu barusan menciumku?" tanya Fura.
Syafiq pun menggeleng.
Dan juga, mengapa kamu pulang kesini? Sudah kukatakan 2 hari ini kamu jangan kesini, temanilah Shofii seperti pasangan baru lainnya!" tambah Fura.
"Kenapa kamu mengatakan hal yang kutahu membuatmu sakit, Juriyy?" ucap Syafiq seraya menyapu lembut kepala Fura yang tertutup hijab.
"Karena nyatanya kamu telah halal dengannya pula kini," ucap Fura sambil memainkan jemari Syafiq.
"Dan kamu yang membuatku melakukannya," lirih Syafiq.
"Juriyy, jika ini membuatmu tidak nyaman. Aku akan menceraikan Shofii, aku hanya menginginkanmu Juriyy dan kamu tau itu," lirih Syafiq.
"Heii Bi, tidak seperti itu. Pernikahan itu bukan permainan, aku baik-baik saja dan sangat bahagia. Kamu harus memberi hak yang sama pula untuk Shofii. Apa yang kamu lakukan bersamaku, kamu harus lakukan pula bersama shofii," ucap Fura berusaha tegar.
" Kau membohongi hatimu, Juriyy ...."
"Tidak, aku sungguh bahagia!"
__ADS_1
"Katakan! Apa semalam kamu ingin ke kamar mandi? Apakah Teh Rani membuatmu lama menunggu?" tanya Syafiq.
"Tombol yang kamu buat dan mengarah ke kamar Teh Rani, membuat ia datang dengan cepat saat aku membutuhkannya. Kamu tidak perlu hawatir, Bii," ucap Fura.
"Dan siapa yang membantumu membersihkan diri subuh tadi?" tanya Syafiq kembali.
"Aku bukan bayi, aku bisa membersihkan tubuhku sendiri, walau selama ini aku telalu manja padamu. Tapi mulai saat ini, aku akan belajar mandiri tanpa menyusahkanmu," ucap Fura.
"Kau tau aku senang melakukannya," lirih Syafiq.
"Ahh Bii ... oh ya sudah siang, berangkatlah Bii! Ada banyak orang yang menjadi tanggunganmu kini, kamu harus lebih giat bekerja," goda Fura.
"Juriyy-ku nakal dan mulai menggodaku. Kamu ingin aku semangat bekerja bukan? Sekarang cium aku seperti tadi."
•
•
•
"Oh ya, nanti malam aku akan pulang kesini Juriyy!"
"Tidak Bi, jangan!! Temanilah Shofiimu, berikan ia kebahagiaan dalam pernikahannya. Salurkan hasrat yang selama ini tak bisa kamu salurkan denganku. Aku ikhlas Bii, aku sungguh tak ingin kamu dzolim pada Shofii," lirih Fura lagi-lagi mengabaikan hatinya.
Dan semakin Fura memintanya membagi raganya kini. Syafiq semakin teriris.
"Juriyy ... kenapa kamu tidak memahamiku ...," batin Syafiq.
"Semoga kamu memahamiku, Jawza-ku ... semua yang kulakukan hanya untuk kebahagiaanmu. Itu saja!" batin Fura.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading❤❤
__ADS_1