
"Wanita apa aku? Aku sungguh tak memiliki hati!" Ia lagi-lagi terisak.
Ia bergeming dan merasa harus menyudahi ini semua ....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 05:00 Syafiq terbangun dari lelapnya. Dirabanya ranjang tepat di sisinya berusaha mencari raga mawar jingganya, namun nihil mawar jingganya telah beranjak lebih dulu darinya.
Ditatapnya kamar tempat ia berdiam, memastikan apa yang dilaluinya semalam adalah nyata dan bukan sekedar hayal. Dan ia tersenyum, menatap bingkai besar pantulan meja rias di depan ranjang menampilkan gambar dirinya bersama Fura dalam balutan baju adat nan cantik. Hal yang memastikan bahwa ia semalam memang menghabiskan waktu dengan bidadari pertamanya.
Tiga tahun delapan bulan nyatanya ia tak berhubungan, dan semalam terbayar sudah penantian itu. Bidadarinya telah kembali seperti sedia kala. Ia terus tersenyum hingga menyadari jarum jam terus berjalan hingga sepuluh menit terlewat dan ia belum membersihkan diri dan menjalankan ibadah.
Ia bangkit dan menjalankan aktivitas itu. Ia baru saja hendak menggantung sajadah yang baru saja digunakan hingga netra menangkap kertas itu.
Sebuah kertas tertahan kotak bludru berbentuk hati menjadi perhatiannya. Hal yang biasanya tak ada di sana kini menjadi netranya berpusat. Ia seketika mengambil kertas itu ... memperhatikan, membaca dan terhenyak ... dibukanya pula kotak bludru yang berdiri cantik di atas meja rias. Dadanya sesak mendapati benda sakral itu di sana.
"Juriyy ... tidak Juriyy ... jangan lakukan!" Ia ke luar kamar dengan terpogoh-pogoh menyusuri tiap sudut rumah tak terkecuali setiap kamar pula.
Bidadarinya tak ada, bukan hanya itu ... putranya dan pengasuhnya pun tak terlihat. Dada itu sesak. Baru saja semalam ia bak menari di atas awan kini ia terjatuh ke tebing terdalam.
Wanita paruh baya menghampiri dengan secangkir teh panas. "Tehnya saya letakkan di kamar atau di ruang tamu, Pak?" ucapnya sopan.
"Mbok ... di mana ibu?" tanya Syafiq seketika.
Wanita itu menggeleng. "Saya belum melihat ibu semenjak bangun, Pak!"
"Omar, mbak Kinan, di mana mereka?"
Wanita itu menggeleng kembali. "Saya belum melihat penghuni rumah ini selain Bapak. Mungkin di kamarnya, Pak!" lirih Santi tampak kebingungan melihat reaksi Syafiq.
"Mang Anto!"
"Saya, Pak."
"Mamang mengantar atau melihat ibu dan Omar ke luar rumah, kah?"
"Tadi habis adzan ibu nyuruh saya beli bubur ayam, Pak. Buburnya sudah saya taruh di meja makan."
__ADS_1
"Saya bukan bertanya tentang bubur, tapi ibu Fura, istri saya. Apa Mamang melihat dia ke luar dari rumah?"
"Setelah saya kembali dari beli bubur saya tidak melihat ibu Fura lagi, Pak!"
Syafiq kacau ... diraihnya kunci APV dan segera dikendarainya kuda besi itu. Sembari mengemudi di tatapnya setiap gang dan jalan yang ia lewati mencari raga orang-orang yang mendadak tak di tempat. Ia semakin frustasi saat tak juga melihat wajah-wajah itu.
Ia menepikan kuda besinya, dan kembali menatap kertas yang sejak tadi digenggamnya.
Assalamu'alaikum Jawza pemilik hati Juriyy ...
Setelah berbagai pelik akhirnya kita berada di titik ini. Jawzaku lagi-lagi selalu berhasil memporak-porandakan hati Juriyy-nya.
Setelah Tiga tahun delapan bulan Juriyy-nya merasa tak sempurna. Semalam hubungan itu terjadi lagi. Ternyata aku kembali bisa melayanimu.
Aku begitu senang karena aku merasa sempurna menjadi istri. Namun aku sedih karena nyatanya aku tidak siap berbagi kembali.
Maaf Jawzaku sayang ...
Aku hanya mampu mendampingimu sampai titik ini.
Untuk baikmu dan baik kita.
Karena tanggung jawab itu tak mudah, adil dan tidakmu akan dipersaksikan kelak.
Dan hatiku tidak siap menjadi sebab kesulitanmu di hari itu.
Kuakui semua adalah salahku yang memintamu berbagi dulu ...
Apalah daya Juriyy-mu hanya manusia biasa yang ingin menjadi istri terbaik walau kekurangan membatasinya.
Kesalahanku adalah awal berbagai masalah itu terjadi. Dan 7 bulan lalu adalah titik balik aku memperoleh imbas dari kesalahanku.
Rasa sepi dan rindu menyelimutiku. Aku terima ...
Terima kasih pernah menjadikanku pengisi hatimu. Doa selalu untuk kebahagianmu bersama Shofi. Hanya Shofi.
Jangan batalkan perceraian kita, biarkan semua berlanjut! Aku dan kamu akan meraih bahagia kita masing-masing.
__ADS_1
Sementara ini aku akan membawa Omar menepi. Setelah hatiku siap bertemu, aku akan datang dan kita bicara perihal pengasuhan anak-anak.
Saat surat ini kamu baca mungkin aku sudah pergi sangat jauh. Tidak perlu bersusah payah mencariku ...
Segera pulanglah!
Semalam kamu tidak pulang, Shofi pasti khawatir!
Wasalamu'alaikum
Separuh hati yang merapuh
💔Juriyy
______________
Syafiq melipat kertas itu bersamaan bulir yang terus memaksa ke luar. Ia terus bergeming mencerna setiap kata yang tertulis. Memastikan tidak salah membacanya. Dan lagi-lagi hatinya hancur saat dilihatnya kata itu. "Doa selalu untuk kebahagianmu bersama Shofi. Hanya Shofi."
"Juriyy-ku benar-benar mencintaiku. Ia lagi-lagi mengambil keputusan sesuai emosinya. Emosi yang seolah tau seluruh bahagiaku. Ia pergi sebab rasa bersalahnya pada Shofi ...."
Tangan itu memukul kemudi dengan kuat, rasa bersalah itu menyeruak. "Andai sejak awal aku tegas menolak ingin Fura ... Andai sejak awal aku tak berbohong ... Andai sejak awal aku menutup celah Shofi masuk ke hatiku ... Andaii ...."
Pukul 07:00 saat Syafiq mendengar ponselnya terus berdering ... Ia menetralkan hatinya sebelum akhirnya menekan tombol hijau pada ponsel tersebut.
📲Selamat pagi, dengan Bapak Syafiq?
📞Benar.
📲Kami dari Polres Bandung Barat ingin menanyakan sesuatu pada Bapak. Apa anda mengenal kendaraan Mazda dengan plat D 5011 AH?
📞I-ya. Itu kendaraan istri saya. ada apa ya, Pak?"
📲Mobil tersebut terpelosok jurang, dan kami menemukan 1 korban meninggal nyaris tidak dikenali wajahnya, sebab mobil sempat meledak sesaat setelah terjatuh. Silahkan Bapak ke RS daerah Bandung untuk mengecek apakah korban merupakan salah satu anggota keluarga Bapak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1