
Shofi terdiam mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir suaminya. "A-ku akan mempertimbangkannya, tolong beri a-ku wak-tu, Ma-s!"
______________
Waktu pagi mereka dilewati seperti biasa, sarapan dan setelahnya Syafiq berangkat lebih dulu karena ia akan mampir menemui Fura dan putra-putrinya.
Walau dilema memenuhi otaknya, Shofi berusaha menjalani aktivitasnya dengan semangat seperti biasa. Ia tersenyum dan menyapa siapa saja yang berpapasan wajah dengannya di rumah sakit. Shofi memang ramah dan lembut, itu pula yang menyebabkan kursi antrian poli gigi selalu penuh bahkan di pagi hari seperti ini.
•
•
"Cantiik ... coba buka mulutnya! Hahh apa di dalam mulut adik ada musik? Kenapa giginya terus bergoyang? Langsung naik yuk!" ucap Shofi melayani seorang pasien usia sekolah dasar yang awalnya tidak mau masuk dan menahan tubuhnya di muka pintu.
Sambil terus bercerita dan memberi kata-kata positif Shofi melakukan tugasnya, hingga 1 gigi berada dalam cup giginya saat ini.
"Ini gigi aku, Bu dokter?" Shofi mengangguk seraya tersenyum.
"Tidak sakit kok, kenapa teman-teman aku bilang dicabut gigi sakit?" celoteh sang bocah yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut.
"Karena di-sini tertanam kata sakit!" Shofi menyapu kepala sang bocah mengisyaratkan otak yang dimaksud.
"Katakan pada otak kita, ini biasa saja, aku tidak takut! Maka otak akan mengirim sinyal keberanian pada ini!" Shofi menyentuh dada mengisyaratkan hati.
"Otak dan hati kita harus selalu bahagia dan positif hingga hilang semua rasa takut yang muncul, Paham!" Sang gadis kecil mengangguk.
"Oke ... sampai bertemu lagi! Jangan lupa rajin menggosok gigi setelah makan dan menjelang tidur ya, Cantik ...!"
"Bye Bu Dokter ...," pamit sang anak berdiri di muka pintu meletakkan tangannya ke atas dan digerakkan ke kanan dan kiri sangat menggemaskan.
"Byee ...." Sambut Shofi melambaikan tangannya pula. Beberapa saat setelahnya wajah gadis kecil tak terlihat.
"Ada berapa orang lagi di luar, Dit?" tanya Shofi pada Dita dokter magang asistennya.
"Sementara sudah habis, Dok!"
Shofi mengambil napas panjang dan menyandarkan bahunya ke kursi.
"Apa Dokter ada masalah?" Shofi tersenyum.
__ADS_1
"Dit, duduklah!" Dita duduk.
"Kudengar dari rumor beredar kamu sudah punya anak, apa itu benar?"
"I-tu, a-ku-----
"Jadi benar?" potong Shofi melihat Dita terus membenarkan posisi kaca matanya tidak tenang.
"Do-k, tolong ...! Rahasiakan hal ini dari direktur rumah sakit, please Dok!" Dita memasang wajah mengiba.
"Kamu masih muda, usia berapa menikah?" lugas Shofi.
"Sa-ya kece-la-ka-an, Dok ...!" Dita menunduk.
"Dimana ayahnya?"
"Ya, kami akhirnya dinikahkan saat kami masih sekolah, Dok. Tapi kami sudah ber-ce-rai. Menikah di usia muda tidak mudah, ego kami masih sama-sama tinggi. Ia bahkan masih kekanakkan sebagai suami!"
"Tapi hebat kamu bisa menjadi dokter!"
"Saya mengambil kejar paket untuk mendapat ijazah SMA setelah melahirkan. Setelahnya saya fokus mengejar cita-cita sa-ya ...."
"Dan anakmu?"
"Apa memiliki anak itu menyenangkan?"
"Sa-ngat, Dok. Semua letih, sedih ... hilang hanya dengan menatap senyum polosnya. Anak itu anugerah yang tak ternilai, Dok. Memang jalan saya memilikinya adalah kesalahan, tapi bahagia memilikinya membuat saya tak menyesali masa lalu saya-----
Obrolan mereka terhenti saat ketukan terdengar. Dengan sigap Dita membuka pintu, Karin sang perawat masuk membawa beberapa map berisi pasien yang baru saja mendaftar dan sudah berada di ruang tunggu poli gigi.
Karin yang merupakan sahabat Shofi juga menyampaikan akan menunggunya di tempat biasa untuk makan siang. Shofi tersenyum dan mengangguk.
_______________
"Wahh ... itu sih tawaran menggiurkan, Mbak! Kalau saya jadi mbak, pasti saya iya kan keinginan suami Mbak, siapa tadi namanya? Mas Syafiq?" Shofi mengangguk.
"Difasilitasi tempat praktek plus lengkap menjadi ibu pula. Wanita mana sih mbak yang nggak pengen jadi ibu," utar Karin kembali setelah melihat anggukan Shofi.
"Kalau kemarin saya bilang mas Syafiq pria beruntung, kini saya rubah ... Mbaklah yang beruntung mendapatkan suami seperti dia, bagaimana pun laki-laki yang mencintai kita dengan tulus pasti berharap memiliki anak dari rahim kita." Karin yang memang pembawaannya banyak bicara dan kritis kembali mengemukakan pendapatnya.
__ADS_1
"Kamu itu tuh kayaknya pengalaman banget sih, Rin?" goda Shofi.
"Ah Mbak bisa aja. Aku bisa bicara begini karena belajar dari mbak-mbakku. Malahan Mbak, tanteku sampe ikut program bayi tabung karena belum juga dikasih momongan. Kayak Mbak gitu deh, waktu muda dipakai untuk mengejar karir sampe minumin pil KB biar nggak hamil. Ehh ... giliran sudah siap punya anak, malah susah. Kasihan!"
"Kamu nyindir aku?"
"Heee... nggak lah mbak, Mbak kan masih muda!"
"Saya sudah tua, sudah kepala 3!"
"Yaudah kenapa banyak mikir! Aku dukung Mbak cepet hamil, kalau perlu aku siap jadi asisten di klinik praktek Mbak nanti!" ucap Karin dengan penuh semangat.
"Kamu tuh lucu, Rin ... aku aja masih belum mutusin, kamu mikirnya sudah kemana-mana!" Keduanya sama-sama tersenyum.
"Oh iya, aku dengar habis ashar ada meeting para dokter ya, Mbak?"
"Wahh, kamu memang serba tau, Rin. Betul!" ucap Shofi.
"Katanya akan ada direktur rumah sakit yang baru dan masih muda lho, Mbak?" antusias Karin.
"Oh ya, aku sih belum dengar itu! Meetingnya aja masih nanti, kan?" Shofi tersenyum.
"Sudahlah, ayo kita habiskan makanan kita! 15 menit lagi istirahat berakhir dan kita belum sholat zuhur!" lontar Shofi.
Keduanya melanjutkan makan siang mereka. Otak Shofi benar-benar dipenuhi segala ucapan Karin mengenai tantenya yang kesulitan memiliki anak.
Setelah makanan keduanya habis, mereka keluar dari rumah makan menuju parkiran tempat mobil Shofi berada. Hingga seorang bocah kecil tiba-tiba menabrak Shofi dan menghentikan langkah keduanya.
BUG ....
"Ahh ...." keluh spontan Shofi.
Bocah kecil dengan tubuh berisi berusia sekitar 2 tahun berdiri dengan takut menatap Shofi, ia merasa bersalah dan takut Shofi memarahinya. Hingga seorang laki-laki muncul dan sang bocah berteriak.
"Papa ...."
Netra Shofi terkunci ... ia kaget melihat sosok pria di hadapannya.
"Mas Rai-han ...?"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘