
"Aku maunya mas Syafiq yang pertama ngucapin selamat ke aku, tapi dia malah nggak bisa dihubungi ...!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 22:05 saat ini, udara Bandung semakin malam semakin dingin terasa. Shofi terus merayu Karin agar mau menginap di rumahnya. Entah mengapa Shofi tak ingin sendiri malam ini, walau sudah diisi makanan, tubuhnya tak berhenti menggigil. Minyak kayu putih entah berapa kali Karin balurkan ke tubuhnya, matanya pun sangat sulit dipejamkan. Berkali-kali pula Shofi menghubungi Syafiq, namun ponsel Syafiq tetap tak aktif.
"Please Karin, jangan pulang, ya!" ucap Shofi penuh pengharapan.
"Aku takut tiba-tiba suami Mbak pulang dan aku nggak enak berada diantara kalian, Mbak ...!"
"Tapi mas Syafiq sudah mengabari nggak akan pulang, apa kamu tega ninggalin aku sendiri?" Karin bergeming, ia bingung.
"Please ... malam ini aja, Rin!" Shofi mengiba.
"Hmm ... baiklah. Tapi aku tidur di sofa depan aja ya, Mbak!"
"Sama aja dong aku sendiri di kamar! Tidur di kamar aja sama aku, ya!"
"Ma-af nggak, Mbak! Itu ranjang Mbak sama mas Syafiq, aku nggak bisa tidur di sana!" ujar Karin dengan rahut sungguh-sungguh. Menurutnya sangat tak sopan tidur di ranjang teman yang sudah berkeluarga, berbeda jika Shofi wanita sendiri.
"Baiklah, kamu tidur di sofa, tapi di sofa i-tu!" Shofi menunjuk Sofa panjang di kamarnya. Setelah beberapa saat Karin terdiam, ia akhirnya mengangguk.
"Terima kasih, kamu teman terbaikku, Karin!" Shofi menggenggam kuat jemari Karin sembari tersenyum, Karin membalas senyuman tulus itu.
Waktu berlalu, setelah Shofi berusaha memejamkan mata diiringi murrotal lirih, akhirnya ia bisa terpejam. Sebaliknya Karin tampak tak tenang, berkali-kali ia melihat kondisi Shofi, suhu tubuh Shofi stabil tapi tangan dan kakinya yang begitu dingin membuat Karin khawatir. Ia bolak-balik memberi minyak kayu putih di kaki dan tangan Shofi. Hingga akhirnya ia menuju sofa dengan guling dan selimut sebagai rekan yang telah disediakan beberapa saat lalu oleh Shofi.
•
•
Subuh menjelang, Shofi seperti biasa mandi di pagi hari dan bersiap menjalankan ibadahnya, sedang Karin masih tertidur. Perut Shofi yang mual membuat ia mengeluarkan seluruh makanan yang di makannya semalam. Suara muntahan Shofi terdengar hingga membangunkan Karin yang terlelap.
"Mbak ... Mbak gpp di dalam?" khawatir Karin.
"Nggak-pa-pa, Rin. Aku mu-al a-ja kok!"
Wuek ... wuek ....
Muntah kembali terdengar, hingga beberapa saat setelahnya Shofi keluar dan terus bersandar di dinding sisi kamar mandinya. Karin tampak mendekat dengan minyak kayu putih di tangannya.
"Balurkan ini, Mbak!" lontar Karin, Shofi menurut. Ia langsung membalurkan minyak kayu putih di ulu hati hingga perutnya, leher juga posisi bawah hidung. ia terus pula menghirup aroma minyak kayu putih setelahnya.
Shofi duduk di tepi ranjang kini, ia memakai kain sembahyang yang sudah digenggam dan melakukan ibadah dengan kondisi duduk, sebab ia sangat lemas setelah memuntahkan semua makanan di perutnya.
"Mbak mau kubuatkan sesuatu?" tanya Karin setelah melihat Shofi melepas kain sembahyangnya.
"Kamu sudah sholat? sholatlah dulu! Sudah jam setengah 6 kurang!" Karena begitu lama Shofi mual di kamar mandi, waktunya banyak terkuras hingga ibadah subuhnya pun mundur.
Shofi merebahkan diri setelahnya di ranjang. Setelah menjalankan ibadah, Karin mendekat. "Mbak mau aku buatkan nasi goreng?" tanya Karin. Shofi menggeleng.
"Aku masih mual, Rin!"
"Aku buatkan teh hangat saja, ya!" tanya Karin kembali.
"Hmm ... teh hangat bolehlah tapi jangan pakai gula, ya!"
"Sip, Mbak." Baru saja hendak beranjak Shofi menahan lengan Karin. "Maaf lagi-lagi aku merepotkanmu, Rin ...," lirih Shofi.
__ADS_1
"Santai aja, Mbak! Selama aku bisa!" ucap Karin seketika membuat Shofi berkaca. Ia yang sesungguhnya sangat membutuhkan kehadiran Syafiq, hanya bisa menangis menahan pilu, karena Syafiq sampai saat ini bahkan belum menghubunginya.
_____________
Di tempat berbeda Syafiq tak tenang setelah menjalankan ibadah subuhnya. Ia ingat belum menyalakan ponselnya sejak semalam, ia menyalakannya. Tampak banyak panggilan dari Shofi tertera. Syafiq bertambah gusar, hatinya tak tenang.
"Ada apa dengan Shofi? Tak biasanya ia terus menghubungiku," batin Syafiq.
Ia berusaha menghubungi Shofi tapi kini ponsel Shofi yang tak bisa dihubungi. Shofi memang mematikan ponselnya, percuma ia menyalakan ponsel jika pesan atau panggilan dari Syafiq tak pernah muncul, begitu Shofi fikir.
Syafiq masuk ke ruang isolasi Hana, terlihat Fura baru saja membuka kain sembahyangnya. Netra mereka bertemu, Fura yang menatap rahut panik di wajah Syafiq melontar tanya. "Ada apa Bi? Ada yang kamu fikirkan?"
Syafiq menurunkan tubuhnya bertumpu pada lutut, ia mengenggam erat jemari Fura. Teh Rani yang membuka pintu seketika menutupnya kembali melihat aktivitas 2 majikannya.
"Bii ... kamu kenapa? Bangun! Jangan seperti ini!" ucap Fura aneh dengan perilaku Syafiq.
Syafiq menyandarkan kepalanya di lutut Fura, Fura yang bingung terus menyapu kepala Syafiq. Hingga beberapa saat Syafiq mengangkat kepalanya. "Mungkin kata-kataku akan menyakitimu, tapi aku harus mengatakannya ...!"
"A-da a-pa, Bii?" Fura semakin tak mengerti.
"Juriyy, aku harus bertemu Shofi! Tolong izinkan aku pergi!"
"Tidak! Putri kita sedang sakit, Bii! Setiap malam kamu sudah menghabiskan malam bersama Shofi, dan baru satu malam kamu tak bersamanya tapi sudah begitu resah! Jika Jauzaku masih mencintai Juriyynya, jangan pergi!" ucap Fura berusaha mempertahankan hak sang putri atas keberadaan Abinya. Perilaku yang disadarinya egois tapi semua untuk Hana yang sakit.
"Hanya sebentar dan aku akan segera kembali, Juriyy! Hanya menyakinkan kondisinya baik, itu saja!"
"Abii ... Abiii ...!" Terdengar lirih Hana mengigai memanggil Syafiq.
"Kamu sangat resah, Bi! Apa begitu besar rasa cintamu padanya, hingga kamu terus memohon dan mengabaikan kondisi putrimu! Lihat di-sana! Bahkan putrimu terus memanggilmu dalam tidurnya ...!" Syafiq terdiam, Fura benar, Hana harus menjadi prioritasnya. Hana dan Omar, mereka tidak tau apa-apa. Syafiq mendekati ranjang Hana saat ini, ia meletakkan kembali ponselnya ke atas nacash dan menciumi Hana setelahnya.
_______________
"Mbakk ... Mbak kenapa? Mbak sudah bangun?"
"Ahh ... aku bermimpi rupanya. Mimpi yang sangat buruk!"
"Mbak memang mimpi apa?" Jiwa kepo Karin seketika muncul.
"Bukan apa-apa kok," lirih Shofi memaksa tersenyum.
"Oh ya, Rinn ... jam berapa i-ni?" tambah Shofi.
"Jam 9, Mbak!"
"Aku tertidur cukup lama ternyata. Kamu nggak ke Rumah Sakit?"
"Kata pak Raihan saya jaga Mbak aja!"
"Mas Raihan?" Shofi kaget mendengar Karin menyebut nama Raihan.
"Tadi pak Raihan ke sini, Mbak. Tuh bawain bubur ayam, katanya belinya di tempat langganan. Kok dia tau langganan Mbak sih? Aku jadi curiga-----
"Mulai deh kamu, coba diem dulu! Jam berapa Mas Raihan, maksudku pak Raihan ke sini? Apa dia masuk ke dalam?" tanya Shofi dengan degup jantung tak beraturan, ia tidak suka perilaku Raihan yang tiba-tiba datang. Shofi merasa bersyukur Syafiq sedang tak ada, entah apa yang terjadi jika mereka sampai bertemu.
"Jam 7 tadi, Mbak. Dia di gerbang aja. Dia kaget lihat saya keluar."
"Apa dia bertanya sesuatu padamu?"
__ADS_1
"Dia menanyakan apa Mbak baik-baik saja."
"Hanya i-tu?"
"Hmm ... i-ya. Ma-af saya ke-kamar mandi du-lu ya, Mba-k!" Shofi mengangguk ke arah Karin dengan perasaan lega. Ia mengambil ponsel setelahnya. Ia menyalakan dan melihat banyak panggilan dari Syafiq, tapi ia mengabaikan. Menurutnya ada hal penting yang harus ia urus dahulu, Raihan. Ia harus memperingati Raihan untuk tak seenaknya datang menemuinya.
Di sudut kamar mandi Karin termenung merasa bersalah.
💔Flashback ...
Mendengar suara bel yang terus berbunyi Karin menuju ke arah luar, ia terhenyak saat dilihatnya Raihan sang direktur Rumah Sakit berdiri di muka pagar dengan sebungkus bubur ayam.
"Ka-mu, perawat di Rumah Sakitku, bukan?" tanya Raihan yang kaget pula melihat Karin.
"I-ya, Pak. Ba-pak kenapa da-tang ke-sini?" bingung Karin melontarkan tanya.
"Mana Shofi?"
"Mbak Shofi sedang ti-dur, Pak!"
"Ti-dur? Apa ia baik-baik saja?"
"Mbak Shofi tadi pagi sih muntah-muntah tapi sekarang sudah lebih baik," jawab Karin.
"Kenapa kamu di sini? Bukankah Shofi memiliki suami? Atau kamu bekerja sampingan sebagai pembantu di rumah Shofi?"
"Ihh Bapak, masa cantik-cantik begini saya dibilang pembantu!"
"Lalu? Apa yang kamu lakukan di sini? Suami Shofi ada, bukan?"
"I-tuu-----
"Ingat saya direktur Rumah Sakit tempatmu bekerja! Jika kamu sampai tidak menjawab atau menjawab tanya saya dengan kebohongan, saya tidak segan untuk memecat kamu!" tegas Raihan mengintimidasi Karin.
Karin bimbang, tapi rasa takut dikeluarkan dari pekerjaan lebih mendominasi, sebab ia memiliki 3 adik yang harus ia tanggung sekolahnya. Ia pun memilih menjawab jujur pertanyaan Raihan daripada karirnya terancam.
"Sa-ya di sini me-ne-mani Mba-k Sho-fi, Pak," lirih Karin.
"Memang kemana suaminya?"
"I-tu-----
"Ayo jawab! Atau kamu ingin dipecat?"
"Mas Syafiq se-malam nggak pu-lang, Pak!"
"Tidak pulang?" tanya Raihan memastikan apa yang didengarnya. Karin mengangguk. Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa ada sesuatu yang tidak benar.
"Oke baiklah, kamu tenang saja informasimu aman, Shofi tidak akan tau kamu memberi tauku semua ini! Hari ini kamu tak perlu ke Rumah Sakit! Cukup jagalah Shofi, dan ini tolong berikan pada Shofi! Katakan aku membelinya di tempat langganannya!"
"Pak ... Pak ... tunggu, Pak-----
Raihan tak menanggapi panggilan Karin, ia menuju jeepnya dan tak lama mobilnya tak terlihat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1
💔Jangan lupa banyakin komen biar Bubu cepet up lagi😉❤❤