
Ia terus menatap wajah itu, hingga perlahan netranya sangat berat terbuka, kelopak matanya perlahan menyipit dan kemudian menutup sempurna.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masih dalam netra tertutup Shofi mendengar sayup adzan zuhur berkumandang. Hal yang biasanya selalu sukses membuatnya terbangun, namun raganya kini seakan enggan beranjak. Ia merasakan dekapan yang menyamankannya, juga harum tubuh yang menenangkannya. Bukan terbangun, ia justru semakin merapatkan wajahnya ke dada Syafiq, ia menghirup aroma yang sangat ia sukai, semakin dekat harumnya semakin jelas hingga raganya semakin lemah dan masuk dalam dekapan lebih dalam.
Syafiq merasakan setiap perilaku Shofi. Netranya mulai terbuka. Kepala yang masih tertutup hijab itu melekat tak berjarak dari tubuhnya. Bahkan kaki-kaki panjang Syafiq nampak tak dapat bergerak. Kaki Shofi menyilang erat di lututnya.
Syafiq yang merasa perilaku Shofi adalah tanda terbukanya hati Shofi dan tanda ia sudah memaafkannya, mulai mengecup kepala Shofi perlahan. Tangannya yang tadi tenang di sisi tubuhnya, kini mulai merangkak naik hingga terus menyapu kepala Shofi.
Shofi tersadar saat belaian terus bermain di kepalanya. Sadar ada sosok lain bersamanya. Ia yang merasa janggal membuka mata. Sebongkah tubuh berada di depan matanya. Lingkaran tangan mengunci tubuhnya. Ia menatap ke bawah terdapat sepasang kaki terkunci kakinya. Jantungnya mulai tak teratur, perlahan ia menggeser kaki dan mendangakkan wajah setelahnya, hingga tertangkaplah rupa itu. Shofi terhenyak!
"Pergi! Pergi! Kenapa kamu di sini!" teriak Shofi sembari melakukan aksi dorongan spontan ke tubuh kekar Syafiq namun tak memberi efek pergerakan Syafiq.
"Kamu sudah berperilaku jahat padaku, aku tidak suka berada di dekatmu! Pergi! Pergi .... Mas!" gusar Shofi kembali, ia terus memukuli dada Syafiq kini dengan air mata yang mulai menetes.
"Shof ... tenanglah Shof! Bagaimana aku bisa beranjak jika lenganku tertahan kepalamu!"
"Hohh?" Shofi kaget. Ia segera mengangkat kepalanya hingga tangan itu lolos.
Syafiq duduk di head board ranjang menatap Shofi yang sudah berdiri, ia berjalan setelahnya dan berdiri di muka jendela. Syafiq mendekat.
"Stop! Jangan maju lagi!" ucap Shofi saat raga Syafiq mulai mendekat.
"Oke, aku akan berdiri di sini! Tapi tolong dengarkan aku!" Shofi bergeming.
"Shof, sungguh semua bukan inginku untuk menduakan Juriyy, maaf maksudku Fura. Ia yang menginginkan aku menikah lagi! Sungguh ...!"
"Juriyy ... manis sekali kamu memanggilnya Mas. Bagaimana ini, kenapa begitu sakit? Aku tidak suka berbagi! Tapi di sini aku yang menjadi orang ketiga. Aku harus bagaimana ya Robb ...." monolog Shofi.
Setelah membuang napas kasar, Shofi bicara, "Kenapa kamu mau? Bukankah kamu bisa menolaknya?" tegas Shofi.
__ADS_1
"Jika aku menolak, Fura akan mengajukan gugatan perceraian, dan aku tak bisa berpisah dengannya!"
"Suamiku takut ditinggalkan istri pertamanya! Hahh ... jahat! Kalau kamu begitu mencintai Fura. Lalu perasaanmu selama ini padaku apa?" batin Shofi. Dalam diam, ia menyapu air mata yang lolos dari matanya.
Shofi berbalik dan menatap lekat Syafiq, "Mas, aku tidak mau bicara panjang lebar! Sekarang aku mau kamu menjatuhkan talak padaku! Aku ikhlas menyudahi ini semua! Aku akan pergi dan merawat anakku sendiri! Anggaplah semua imbas kebodohanku terlalu percaya pada kebohonganmu!"
"Tidak! Tidak Shof ...! Aku tidak akan melakukan itu! Aku mencintaimu Shof! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
"Cinta? Hahhh ...! Egois! Egois kamu, Mas! Kamu ingin memiliki kami berdua. Tapi maaf ... dalam otakku tak membenarkan ini! Tidak boleh ada 2 Ratu dalam 1 rumah. Dan karena aku sebagai orang ketiga di sini, aku yang akan mundur! Jalani kehidupanmu dengan baik dengan mbak Fura, Mas!" Bulir yang sejak tadi disembunyikan dari penglihatan Syafiq, kini tertangkap. Bahkan melihat Syafiq menyadari perihnya, bulir itu semakin deras keluar.
Syafiq mendekat dan mengukung tubuh Shofi hingga bersandar dinding.
"Jangan mendekat! Kamu mau apa, Mass!" Tangan Shofi menahan bahu Syafiq, namun Syafiq tak gentar ia semakin semakin mendekatkan tubuhnya dan jemarinya mulai menyusuri wajah Shofi.
"Kamu bersedih, Sof! Mulutmu bisa berbohong ikhlas, tapi matamu tidak! Matamu menyiratkan tidak ingin berpisah dariku! Jangan ...! Jangan paksa aku memutuskan sesuatu yang akan menyakiti dirimu! Aku mencintaimu, Shof ... Sangat!" Jemari Syafiq sudah mendarat sempurna di tengkuk Shofi, hingga Syafiq menyatukan sepasang daging kenyal mereka. Shofi terus menggeleng, hingga pertahanan tangannya di bahu Syafiq semakin melemah saat indra pengecap Syafiq menyusup dengan lembut dan semakin dalam.
Shofi yang mulai terlena seketika terbayang wajah Fura, ia melepas pagutannya dan mendorong sekuatnya Syafiq kebelakang. Ia menjatuhkan raga ke lantai setelahnya. Kepalan jemarinya terus dihentakkan ke lantai mengutuki perilakunya yang luluh beberapa saat lalu.
"Sayang hentikan! Kamu menyakiti dirimu sendiri!"
Mood dan emosi Shofi berubah-ubah. Otak dan hatinya tak sinkron. Ia terlihat kacau, sebentar menangis, berteriak dan mencaci dirinya.
______________
Di tempat berbeda Raihan yang mendapat kabar dari IRTnya bahwa Shofi tak ada di rumah merasa panik. Ia teringat ujaran Shofi yang ingin meminjam uang dan tak ia beri. Raihan meyakini satu hal, Shofi pasti pulang ke rumahnya mengambil kartu-kartunya.
Raihan meninggalkan acara, mengemudi dengan cepat menuju rumah Shofi. Raihan sangat takut Shofi bertemu Syafiq dan Syafiq akan meluluhkannya. Raihan berharap besar agar Shofi kembali padanya dan bisa menjadi ibu untuk Shofi kecil.
20 menit perjalanan, Raihan sampai di rumah Shofi. Ia yang tau betul pagar rumah Shofi tak pernah digembok seketika membuka penguncinya, ia terhenyak, kaget dan frustasi saat mendapati mobil Syafiq ada di sana. Hal yang berarti mereka sedang bersama.
Tubuh Raihan melemas, ia mundur dan keluar. Ia sadar tidak baik hadir diantara mereka yang mungkin sedang menyelesaikan permasalahannya. Dengan gontai Raihan kembali ke mobil dan menunggu di sana. Jika nanti Shofi keluar, ia akan langsung menghampirinya.
__ADS_1
_______________
Syafiq yang sejak tadi menahan diri dan hanya menatap Shofi yang rapuh di kejauhan kaget saat tiba-tiba Shofi berdiri.
"Sudah cukup semuanya, Mas! terserah jika kamu tak bisa menalakku. Aku akan tetap pergi! Aku hanya butuh mengambil barang-barangku saja!"
Shofi dengan cepat menarik koper di sisi lemari dan memasukkan pakaian-pakaiannya, jilbab, dokumen penting dan berbagai barang yang lain. Hingga ia menuju tas favoritnya ingin mengambil kartu-kartu penting dalam dompetnya, tapi yang ia cari tak ditemukan.
"Di mana dompetku?" batin Shofi.
"Kalau kamu mencari dompet, ada padaku!" lugas Syafiq merasa tau apa yang difikirkan Shofi.
Mata Shofi membulat, "Berikan barangku, Mas!"
"Tentu saja, tapi kamu harus mengambilnya sendiri!"
"Maksudmu?" bingung Shofi.
"Dompetmu tidak ada di rumah ini!"
"Lalu, kamu taruh di mana?"
"Ikutlah denganku untuk mengambilnya!"
______________
💔FLASBACK
Beberapa hari sebelumnya Fura yang tak ingin Syafiq dan Shofi berpisah terus mencari cara. Fura meyakini Shofi pasti akan kembali mengambil barang berharganya. Ia pun meminta Syafiq mengambil dompet Shofi dan memberikan padanya. Fura sangat berharap Shofi akan datang ke rumahnya. Saat itu terjadi, Fura akan membantu Syafiq menjelaskan segalanya dan meyakinkan Shofi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
💔Happy reading😘
💔Maaf Bubu baru balik ke Bekasi❤❤