TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Enam Puluh Satu


__ADS_3

"Lihatlah ke sana Fura! Bukankah itu suamimu bersama madumu?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Fura bergeming.


"Katakan, apa kamu juga yang menyuruh mereka ke sini?"


"I-tu-----" Fura masih melihat pemandangan beberapa meter darinya, menunduk sesaat baru akhirnya ia melontar kalimat.


"Ayo kita hampiri mereka, Kak! Mas Syafiq pasti senang aku juga ada di sini."


"Apa ini Fura? Apa kamu tidak marah dan cemburu melihat suamimu bermesraan dengan wanita lain?"


"Kak, yang kulihat adalah sepasang suami istri. Tidak ada alasan aku marah!"


"Please Fura, hatimu itu terbuat dari apa? Berhenti jadi bodoh! Jangan mau diduakan! Jadilah milik suamimu satu-satunya atau tinggalkan!" geram Billy yang merasa perilaku Fura tidak masuk akal.


"Kak, ini takdirku! Lihat kondisiku, aku lumpuh! Tidak bisa melayani dan menjadi istri sempurna untuk suamiku! Aku ikhlas berbagi dan aku harus siap melihat pemandangan-pemandangan seperti itu!"


"Shi*t! Jadi ini makna ketulusan sebuah pernikahan yang kamu agungkan! Cinta yang menyakiti! Jika Syafiq mencintaimu dengan tulus, ia akan berdiri di sampingmu dan tetap menjadikanmu satu-satunya ratu walau dengan kekuranganmu!"


"Aku yang meminta ini, Kak!"


"Sudahi Fura! Kamu lihat di sana, suamimu nyaman bersama wanita itu! Putrimu juga kulihat di rumah kemarin begitu dekat dengan Shofi. Apa kamu akan membiarkan satu-persatu orang yang kamu cintai membagi hatinya dengan Shofi! Jangan bodoh!"


"Sekarang aku tanya pada Kakak! Bagaimana jika Kakak memiliki istri disabilitas sepertiku, tidak seperti istri-istri teman Kakak dengan kesempurnaannya! Satu lagi! Kakak tidak mendapat hak Kakak sebagai suami. Apa ada alasan Kakak untuk tidak berpaling?" lirih Fura sembari menunduk.


Jemari Billy mengangkat dagu Fura. "Kalau aku jadi suamimu, akan kukerahkan yang kupunya untuk mengobatimu! Dengan keyakinan dan ikhtiar kuat aku akan terus meyakinkanmu, kalau kamu pasti sembuh. Dan selama itu aku akan setia mendampingimu!" Fura tersenyum.


"Kakak bisa bicara begitu karena tidak mengalaminya langsung. Bahkan Kakak pasti akan malu mengajakku bertemu rekan-rekan Kakak yang hebat-hebat itu!"


"Aku tidak malu!"


"Please Kak, sudahlah membahas ini! Biarkan aku bergabung dengan mereka."


Billy menggeleng-geleng.


"Kamu yakin? Ayolah Fura ... kamu hanya mengganggu dua insan sang sedang memadu cinta! Kita di sini saja, atau sekalian kita pergi saja cari tempat lain. Ayo!"


"Tidak, Kak! Aku ingin menghampiri suamiku, terserah kalau Kakak mau cari tempat lain!"


Dan baru saja hendak memutar kursi rodanya. Fura melihat seorang pria tegap menggandeng 2 bocah mendekati tempatnya. Fura bergeming!


"Umi ... Umi ...," pekik sang bocah cantik sambil berlari menujunya.


"Hana ...."


"Umi di sini pasti cari Hana, kan? Untung tadi Hana ketemu Omar di tempat bermain itu, kalau nggak Umi pasti bingung cari Hana!"


"Kakak ke sini kenapa nggak ajak aku! Untung Om Dokter baik mau ajak aku ke sini, jadi kita ketemu!"

__ADS_1


"Iya, maaf ya Omar! Lain kali Kakak nggak akan tinggalin Omar, tadi soalnya habis periksa, Bunda pengen surabi jadi Kakak ke sini deh. Kata Abi adik bayi lagi laper mau makan!" Kedua bocah terus berceloteh tak menghiraukan raga-raga besar saling menatap dengan berbagai rasa yang campur aduk sulit dijelaskan.


Syafiq seketika memposisikan dirinya di belakang kursi roda Fura dan mendorong kursi roda itu mendekati raga wanita yang lain yang juga tengah menatap aktivitas mereka di kejauhan.


"Heii ... tunggu Pak Syafiq! Fura datang bersamaku, jadi kamu tidak bisa membawanya begitu saja!" Tangan Billy menahan kursi roda Fura. Syafiq seketika duduk di sebuah kursi dan menariknya ke hadapan Billy.


"Apa kamu lupa Pak Dokter, kalau wanita yang kamu bawa ini adalah istriku!"


"Yakin ini istri anda? Bukankah wanita hamil yang duduk di sana yang merupakan istri Bapak? Ayolah Pak Syafiq, jangan serakah!"


"Kurang ajar kamu!"


"Bii ... tahan! Ada anak-anak!" jemari Fura menggenggam lengan Syafiq yang sudah berada di kerah kemeja Billy. Tampak mata-mata polos bingung dengan aktivitas oang dewasa di sekitar mereka.


"Mbak Kinan! Bawa anak-anak bermain lagi di wahana ya!" lugas Fura.


"Tidak! Bawa anak-anak duduk dengan bu Shofi. Suapi anak-anak di sana!"


"Oh ... i-ya, Pak!"


"Omar, Hana ... ikut mbak Kinan ya! Abi dan Umi segera menyusul!"


Tak berselang lama raga bocah-bocah yang digandeng Kinan telah menjauh. Syafiq kembali memusatkan perhatiannya ke arah Billy.


"Hei Dokter! Jaga batasanmu! Tugasmu adalah menterapi istriku, setelahnya kamu tak ada hak bersama istriku!" geram Syafiq.


"Anda tentu sudah tau pak Syafiq jika istrimu itu sahabatku! Jadi tak ada masalah bukan jika aku mengajak sahabatku yang penat dengan rutinitas terapinya untuk merefresing otaknya? Yah secara sang suami sepertinya begitu sibuk bekerja dan menghabiskan waktu bersama istri keduanya!"


"Kak, pergilah! Jangan masuk terlalu jauh dalam urusan rumah tanggaku! Aku sudah bertemu suamiku, jadi tolong tinggalkan aku!"


"Tapi Fura?"


"Kak, please!" Mata Fura mengiba sambil terus melirik Syafiq.


"Aku pergi dari sini karena tak bisa melihat mata mengiba sahabatku! Tapi aku tak akan diam saja dengan ketidakadilan yang kamu lakukan Bapak Syafiq!"


"Kamu tidak tau apa-apa dengan kehidupan rumah tanggaku, jadi sebaiknya ... DIAM!"


"Aku bukan orang bodoh Bapak Syafiq! Dan tentunya aku bukan pria serakah sepertimu!"


"Kau ...!"


"Bii ... jangan Bii!"


"Kak, pergilah!"


Billy membuang kasar napasnya. "Baik aku akan pergi! Tapi satu hal pak syafiq! Jika kamu sudah tidak bisa mencintai Fura dengan baik. Aku siap mencintainya dengan tulus dengan segala kekurangannya dan tidak membagi hatiku dengan wanita mana pun!"


BUG ....


Sebuah pukulan akhirnya mendarat di wajah Billy.

__ADS_1


"Itu untuk kata-katamu yang kurang ajak Pak Dokter. Dengar! Selamanya aku tidak akan melepaskan istriku Fura!"


"Biii ... sudahh! Kamu tau aku tidak suka pria kasar!" Fura seketika menangis.


"Maaf Juriyy ...!"


"Sekarang kamu pergi dari sini!" pekik Syafiq.


"Tolong pergilah, Kakk!" pekik Fura. Billy akhirnya mengangguk. Tak berselang lama raga itu tak terlihat.


Syafiq menatap wajah Fura setelahnya. Wajah itu memerah dengan bulir terus mengalir. Fura memang agak tauma dengan pukulan. Bagaimana dulu ia melihat Ayahnya sering memukul mamanya.


"Maaf Juriyy ...!" Syafiq berusaha menyapu air mata itu tapi ditepis Fura.


"Tangan itu tadi memukul seseorang. Jauhkan tanganmu, Bii !"


"Please Juriyy! Oke tanganku tidak akan menyentuhmu. Tenangkan dirimu, kita menuju anak-anak sekarang, hem?" Fura mengatur napas, hingga emosinya stabil.


Baru setelahnya Syafiq mendorong kursi roda itu ke meja lain di sudut yang tampak riuh dengan suara bocah kecil yang saling berceloteh mengenai aktivitas mereka hari ini.


_________________


"Katakan! Bagaimana Juriyy-ku bisa dengan santai pergi bersama laki-laki lain tanpa mengabariku!" Mata Syafiq membulat mengunci wajah Fura sesaat setelah mereka sampai rumah dan pintu kamar mereka tertutup.


"Maaf Bii, Kak Billy yang a-kan mengabari-mu ka-tanya!"


"Tapi istriku itu kamu bukan Billy! Kenapa Billy yang mengaturmu, hem?" jemari itu mengangkat wajah Fura yang menunduk. Syafiq senang tak ada penolakan lagi kini.


"Ma-af ...!" lirih Fura kembali menyadari kesalahannya.


"Aku juga tak melihat teh Rani bersama kalian! Apa Billy juga yang menaik-turunkan tubuhmu dari kursi roda?" Fura mengangguk.


"Kenapa dengan mudahnya kamu membiarkankan tubuhmu disentuh pria lain, Juriyy!" lirih Syafiq.


"Tidak akan lagi, Bii!"


Setelah beberapa saat terbawa emosi, Syafiq menarik napas menetralkan segalanya. Ia mendekat dan menangkup wajah Fura.


"Juriyy-ku tau kenapa Jawza-nya marah, bukan?" Fura bergeming menatap Syafiq.


"Karena aku takut kamu berpaling!" Tangan Syafiq terus menyapu wajah Fura.


"Kamu hanya milikku Fura. Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Selamanya!" Fura terus menatap Syafiq.


"Maafkan aku pula memukul sahabatmu tadi, semuanya sebab kata-katanya yang tak pantas terucap!" Fura mengangguk.


"Baiklah ...! Kamu pasti letih setelah terapi tadi, bukan? Istirahatlah!" Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Fura sebelum akhirnya raga Syafiq meninggalkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2