
Syafiq bangkit setelah kebersamaan dengan Rabb-Nya. Hatinya lebih tenang, setidaknya ia sudah memohon ampunan pada Penciptanya, tinggal langkah selanjutnya adalah ia harus ikhlas dengan apa yang akan Shofi putuskan. Dan berlaku adil jika Shofi tergerak untuk bertahan.
Ia keluar dari kamar tersebut setelah memberi kecupan pada 2 malaikat yang sangat pulas terbuai mimpi indahnya.
Syafiq memasuki sebuah kamar di sisi kamar putra-putrinya, kamar Fura. Dengan perlahan nyaris tak bersuara, Syafiq masuk dan duduk di tepi ranjang mendekat pada raga yang telah mencuri hatinya 6 tahun silam. Ia yang saat itu baru berusia 20 tahun sungguh memikat Syafiq, pegawai magang yang sangat ramah dan sangat menjaga pandangannya. Ia cepat belajar banyak hal dan cekatan mengerjakan sesuatu.
Nuha Syafura, sesuai nama yang melekat. Nuha bermakna kecerdasan dan Syafura atau Zhipora yang merupakan nama istri nabi Musa yang sangat lembut dan pemalu. Fura biasa ia dipanggil, wanita yang rela berkorban dan berani memutuskan sesuatu di luar nalar wanita manapun. Berbagi suami! Syafiq menunduk dalam teringat ujaran Fatir, tidak ada wanita yang benar-benar ikhlas berbagi. Setiap wanita tentunya ingin menjadi satu-satunya ratu untuk suaminya. Namun Fura mengenyampingkan ego itu atas dasar cinta.
"Juriyy-ku adalah cinta pertamaku ... ia menyerahkan masa mudanya mendampingiku, sejak awal Juriyy selalu percaya padaku. Percaya hatiku akan selalu utuh untuknya, namun nyatanya aku membagi hatiku. Ia yang terlihat tegar dan sering menyembunyikan pilunya. Tapi aku pun tak bisa berkutik, keputusan yang ia ambil telah menenggelamkanku. Kehadiran Shofi meluluhkan setengah bagian hatiku yang lain." monolog Syafiq.
Syafiq menyapu lembut kepala dengan rambut yang tergerai cantik. Di tepikan anak-anak rambut bagian depan yang menutupi sebagian wajahnya hingga kecantikan itu terpampang jelas. Syafiq mendekatkan bibirnya ke puncak kepala Fura, menahan napas, dan mengecupnya dalam. Fura terbangun.
"Bii ...." Panggilan khas dengan nada lirihnya tak pernah berubah. Ia mengangkat wajahnya ke atas menatap wajah Syafiq di sana.
"Maaf membangunkanmu!" ucap Syafiq memindahkan posisi tubuhnya duduk bersandar pada head board ranjang di sisi Fura. Syafiq masih menyapu lembut kepala dari raga yang tengah berbaring yang terus melihat ke atas memperhatikannya.
"Ada apa, Bii ...?" bingung Fura, sudah lama Syafiq tak memandangnya intens cukup lama seperti ini. Dalam hitungan detik lengan Syafiq sudah mengangkat tubuh Fura hingga bersandar di head board. Syafiq duduk menyamping dan merangkul bahu itu. Fura mengerjapkan mata sembari menyapu kedua matanya, menyempurnakan kesadarannya.
"Bii ... apa yang terjadi?" Fura bertanya lagi. Syafiq menenggelamkan wajahnya ke bahu Fura.
"Maafkan aku Juriyy ... aku tak adil selama ini padamu dan anak-anak! Aku lebih banyak bersama Shofi."
"Kamu sudah sering mengatakan itu, dan aku menerimanya. Jangan membahas itu lagi, Bii!" lirih Fura menyapu kepala Syafiq di bahunya.
"Kamu pasti terluka selama ini, bukan? Maaf aku tak bisa menjaga hatiku! Hatiku tak utuh-----
"Jangan lanjutkan! Jawza-ku tidak boleh mengatakan apa yang Juriyy-nya tidak suka! Cukup aku tau tapi jangan sampai terucap! Yang terpenting Jawza-ku masih ada di sisiku. Katakan! Aku akan tetap bersamamu, bukan?"
Syafiq mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Tentu, pasti Sayangg. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!"
"Jawza-ku sangat curang!" Fura menjawil hidung Syafiq sembari tersenyum. "Maaf ...!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku melegalkan kecurangan itu. Katakan Bii ... kenapa kamu tiba-tiba membahas ini?" Fura menatap netra Syafiq.
"Tadi saat membeli ice cream aku berjumpa Fatir."
"Oh ya? Dengan Aida?"
"Iya, dengan sahabatmu Aida. Aida sedang mengandung besar."
"Alhamdulillah, senang mendengarnya. Sejak ia tinggal di Surabaya kami jarang berbincang lama, hanya chat seperlunya saja. Ia bahkan tak pernah cerita kehamilannya." Fura memajukan bibir tampak sedikit kecewa.
"Ia pasti sibuk mengikuti Fatir berdakwah," lontar syafiq.
"Iya, sahabatmu itu sudah menjadi pendakwah terkenal. Katakan apa yang Fatir ucapkan hingga membuat Jawzaku terus meminta maaf malam ini!"
"Aku menceritakan keadaan kita, ia memintaku bertaubat atas kebohonganku pada Shofi dan menyuruhku meminta maaf dan memastikan keikhlasan kalian atas hubungan ini!" Fura tersenyum.
"Tadi aku sudah menghadap Rabb-ku kini aku memohon maaf padamu karena sering mencurangi hakmu!"
Lengan Syafiq langsung mengunci tubuh Fura, perkataan Fura membuatnya sesak. "Aku bersyukur memilikimu. Kelak aku akan bersaksi untuk pengorbanan dan kesetiaanmu." Fura yang hampir jarang menangis kini, seketika menumpahkan butiran air mata dengan deras.
"Jangan menangis! Apa kata-kataku menyakitimu?"
"Ini tangisan kebahagiaan. Aku belum pantas mendapat persaksianmu itu, aku masih sering mengeluh dan aku bukan istri yang sempurna!"
"Diam! Jangan bicara lagi! Juriyy-ku sangat sempurna!"
"Shofi yang sempurna bukan aku ...!"
"Aku akan marah jika kamu bicara lagi!"
"Aku akan diam! Aku tidak mau Jawzaku marah!"
__ADS_1
"Istriku yang baik!"
"Aamiin."
"Bii ... kamu sudah menemuiku, sekarang temuilah Shofi, mintalah maaf yang tulus pula! Kita sangat berdosa padanya!" lirih Fura menyapu wajah Syafiq.
"Iya, aku akan menemuinya."
"Tunggu Bii!" Fura menahan Syafiq yang baru saja hendak beranjak.
"Katakan Bii! Apa yang akan kamu perbuat jika Shofi berkeras pergi!" Syafiq menunduk. "Berarti jodohku dengannya hanya sampai di sini! Aku tidak akan memaksanya lagi! Aku akan menerima apapun keputusannya!"
"Kamu pasti akan bersedih!" lirih Fura.
"Aku masih memilikimu dan anak-anak! Aku akan bersyukur dengan yang kumiliki!" Fura bergeming sesaat dan mengangguk.
"Dompet Shofi di laci sebelah kiri, Bii. Berikan padanya! Aku tak ingin menahannya lagi! Jika Jawza-ku telah siap apapun keputusan Shofi, maka tak ada alasanku lagi menyusahkannya!"
Syafiq mengangguk. Beberapa saat kemudian bayang syafiq tak terlihat meninggalkan seberkas senyum di wajah Fura.
____________
Syafiq melangkahkan kaki ke lantai atas setelahnya, membuka perlahan pintu besar yang membatasi raganya dan Shofi. Lampu meremang, Shofi tengah terlelap. Syafiq merebahkan raganya di sisi Shofi, ia memiringkan tubuh dan mendekap erat raga di hadapannya. Shofi terbangun.
"Mas, apa yang kamu lakukan! Kamu lupa kita sebaiknya memberi jarak dulu!"
"Tolong biarkan se-jenak, Sa-yang! Biarkan seperti i-ni! Aku takut esok tak bisa lagi melakukan-nya!" lirih Syafiq mendengus harum Shofi yang begitu menyamankannya. Harum yang banyak menemani malamnya. Shofi bergeming.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Segini dulu, ya😊
__ADS_1
💔Happy reading😘😘