TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Keduanya saling melayani tanpa penghalang pil-pil seperti sebelumnya, melakukan dengan ikhlas dan cinta membuncah. Terselip doa dalam setiap hentakan semoga benih yang akan ditanam berhasil mewujudkan ingin keduanya akan hadirnya buah hati. Kehadiran yang diharap menjadi penguat hubungan mereka selamanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi menjelang, Pukul 08:30 Shofi telah sampai di Rumah Sakit tempatnya bertugas. Wajahnya merona, senyum seperti biasa mengembang. Yang membedakan adalah euforia berbeda dalam jiwanya, Shofi memiliki harap dan mimpi baru kini, anak!


Kemarin sore setelah sampai rumah Syafiq tak membuang waktu segera membuang pil-pil pencegah pelepasan sel telur yang Shofi simpan di laci nacasnya. Dan setelah hubungan mereka semalam, Shofi sangat berharap benih yang Syafiq tuai berhasil menerobos dinding rahim dan membuahi sel telur yang ia lepaskan.


Dengan pijakan-pijakan berenergi dan penuh semangat serta do'a-do'a terbaik yang ia semai dalam hati Shofi menuju ruang prakteknya. Diperjalanan langkahnya terhenti saat sebuah tangan tiba-tiba dengan kuat mencengkramnya.


"Haii Bu Dokter Cantik ...." Siapa lagi kalau bukan Karin yang saat ini menggodanya.


"Kamu tumben sampai cepat, Rin?" lontar Shofi yang sangat hapal Karin biasanya selebor dan sering datang terlambat.


"Ihh Mbak, jujur banget!" ucapnya sembari tertawa.


"Mbak, masih setengah jam! Ngopi dulu, yuk!" Seperti biasa Karin selalu bicara lagi dan lagi yang ditanggapi Shofi dengan senyum dan gelengan kepala.


"Gimana Mbak, mau nggak ngopi?" Ia bertanya lagi.


"Kopi nggak bagus untuk perut di pagi hari, Sayang!" ucap Shofi.


"Kalau nggak ngopi, ngeteh aja, Mbak! Teh bagus menghangatkan tubuh di pagi hari. Bisa memompa semangat dan memacu energi positif di otak, teh juga----


"Iya, bawel!" sela Shofi menarik hidung Karin.


"Ahh ... Mbak, sakit tau!" Karin memijat-mijat hidungnya baru berujar kembali. "Mbakk ...!"


"Hemm ...?"


"Tapi Mbak yang teraktir, ya! Budgetku limit! Kemarin ibu di kampung minta transfer, katanya ibu----


"Stop! Nggak usah dilanjut! Nanti bisa panjang kalau kamu mulai cerita keluargamu. Iya aku traktir ...!" Dan keduanya melangkahkan kaki ke kantin rumah sakit yang tampak lenggang.


Tak berselang lama, dua cangkir teh hangat sudah tersaji di hadapan mereka. Perlahan Shofi mulai mengesap tepi cangkir tersebut dan tiba-tiba mendengar ... KRUK ... yang berasal dari perut Karin. Karin tersipu sedang Shofi tersenyum.


"Pesen makanan gih, belum sarapan, kan?" ujar Shofi.

__ADS_1


"Hee ... iya, Mbak." Karin tersenyum menyeringai.


Beberapa saat setelahnya pelayan kantin membawa nasi goreng pesanan Karin yang langsung dimakan dengan penuh semangat.


"Mbak ... gimana? Keputusan apa yang mbak ambil? Apa Mbak setuju akhirnya dengan permintaan mas Syafiq?" Dengan mulut penuh dan sambil mengunyah Karin melontar tanya.


"Makan yang tenang, jangan banyak bicara!" seloroh Shofi. Karin tersenyum, karena ia begitu lapar, ia menurut.


Sambil menyesap teh hangatnya kembali Shofi terus memperhatikan Karin. Tiba-tiba teringat di otaknya awal perjumpaan dirinya hingga kini begitu akrab dengan perawat magang tersebut.


Pagi itu 8 bulan lalu saat Shofi masih menjalani hari-harinya sendiri, walau merasa tubuhnya kurang fit ia datang ke Rumah Sakit melayani banyak pasiennya. Hingga di jam pulang Karin yang saat itu masih melakukan training menangkap keadaan Shofi yang sangat drop dan lemah.


Shofi duduk terkulai bersandar di sisi Mazdanya, Karin mendekat. Ia dengan jiwa sosialnya tampak panik dan bingung. Shofi yang melihat kehadiran Karin entah mengapa langsung mengujar satu kalimat. "Kamu bisa mengendarai mobil?" Perilaku yang sangat beresiko, untung saja Karin wanita baik ... ia benar-benar mengantar Shofi ke kontrakannya. Tak sampai situ, Karin yang baru pertama bertemu Shofi merasa tak sungkan dan benar-benar menjaga Shofi bak seorang perawat pada pasiennya. Membuat bubur, mengompres, mencarikan obat ... hingga saat Shofi telah sadar ia memaksa Shofi agar mau dikeroki olehnya, karena Shofi terlihat letih, pucat dan perutnya kembung tak mereda. Shofi masuk angin.


Dua hari setelah hari itu Shofi bed rest di rumah, Karin kerap datang usai pulang kerja ke kontrakannya, berbagai makanan dibawa Karin. Kebaikan Karin sungguh sangat membekas untuk Shofi yang memang tak memiliki siapa pun di dunia ini.


"Mbak ... Mbak ...." Tepukan di bahu Shofi menyadarkan keterpakuannya. Shofi tersenyum, Karin yang sedang ia lamunkan duduk tepat di hadapannya menampilkan senyum dengan lingkaran ke dalam menghias pipinya. Karin memang memiliki 2 lesung pipit yang sangat manis.


"Kamu udah selesai makannya?" tanya Shofi menangkap piring di atas meja tak terlihat.


"Iya sudah, Mbak! Tuh barusan piringnya dibawa Desi!" terang Karin menyebutkan nama pelayan kantin yang sudah mereka kenal.


"In syaa Allah. Doakan cepat dijabah, ya!" jawab Shofi semringah.


"Aamiin ... aamiin, pasti kudo'akan. Mbak kan dokter favoritku yang cantik dan baik hati!"


"Berlebihan deh!"


"Oh ya, Mbak ... kemarin Mbak ikut meeting, kan? Gimana menurut Mbak direktur rumah sakit yang baru? Galak nggak? Aku denger-denger ganteng ya Mbak orangnya?"


Belum lagi dijawab seorang pria berjas bersama seorang pria lewat dan langsung mendekat ke meja mereka. Netra mengiba lagi-lagi tertangkap mata Shofi, netra seperti itu harusnya tak ia tampilkan di muka umum seperti ini.


Ia yang kini telah sampai di meja Shofi lantas berujar. "Kamu sudah datang Shof? Bisa ke ruanganku?" lirihnya sambil membungkuk dan sekilas melirik Karin.


"Ini di muka umum, jaga pandangan Bapak!"


"Shof, please!"

__ADS_1


"Maaf saya harus ke ruangan saya, Pak!"


"Shof ... makan sianglah nanti denganku!" Shofi hanya melirik sang pria yang merupakan Raihan. Ia berlalu tanpa menghiraukannya.


"Ayo, Rin!" ajak Shofi pada Karin sahabatnya.


Di perjalanan Karin terus menatap Shofi, ia yang penasaran melontar tanya, "Mbak, tadi siapa? Aku baru lihat dia di Rumah Sakit ini?"


"Tadi kamu tanya bagaimana rupa direktur Rumah Sakit yang baru, kan? Pria tadi orangnya!"


"Hahh ... sungguh, Mbak? Ternyata benar ganteng orangnya. Tapi kenapa aku melihat kalian seolah sudah sangat akrab? Jujur, Mbak! Apa du-lu Mbak pernah punya hubungan dengan di-a?" Wajah Karin yang melotot dengan ekspresif menandakan kekepoan tingkat tinggi. Shofi tersenyum sembari menggeleng-geleng.


"Kok diem aja sih, Mbak? Kalau memang dulu kalian punya hubungan, posisi mas Syafiq bisa terancam nih, mas Syafiq harus waspada!"


"Kamu ngelantur!"


"Serius Mbak! Soalnya aku melihat pandangan aneh pak Direktur sama Mbak tadi! Aku yakin dia menyimpan perasaan khusus sama Mbak!"


Shofi berhenti melangkah, ia menatap lekat Karin. "Rin, kami sudah sama-sama memiliki keluarga. Jadi omonganmu itu nggak masuk akal! Dan hindari ucapan mengenai hal sensitif seperti ini saat kita di dalam Rumah Sakit, oke!" lugas Shofi.


"Mbak ... apanya yang nggak masuk akal, sih? Memang Mbak belum dengar gosip yang beredar?"


"Gosip apa lagi, Sayang?" ucap Shofi menarik kedua alisnya ke atas dan langsung memasuki lift, Karin dengan cepat mengejar.


"Direktur kita yang baru itu, katanya du-da, Mbak!" bisik Karin mengarahkan wajahnya ke telinga Shofi. Shofi menoleh. "Du-da?"


"I-ya duda! Bahaya kan buat mas Syafiq? Apalagi dia kan taunya Mbak belum menikah dan dia-----


"Stop dulu, Rin! Bukankah dia menantu pak Burhan? Bagaimana bisa kamu bilang ia du-da?" heran Shofi melangkah keluar dari lift.


"I-ya memang dia menantu pak Burhan, Mbak. Tapi anak pak Burhan yang istrinya pak Direktur itu ... dikabarkan sudah me-ning-gal! Kecelakaan di Amerika!"


Langkah Shofi seketika berhenti. Jantungnya berdetak cepat. Bukan masalah Raihan yang mungkin akan menjadi masalah dalam hubungannya dengan Syafiq. Melainkan ia seketika terfikir Shofi kecil, ia merasa teriris membayangkan bocah sekecil itu sudah tak memiliki seorang i-bu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


💔Makasih yang sudah memberi tips hadiah baik poin/koin, vote, rate dan selalu komen. Semua menjadi semangat Bubu🙏❤❤


__ADS_2