TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tujuh Puluh Empat


__ADS_3

Billy mendekati Syafiq yang berjalan lambat ke arah luar. Ia menepuk bahu itu. "Berfikirlah Syafiq!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dalam perjalanan otak Syafiq tak tenang, ia terus terngiang kata yang berulang Billy ucapkan. "Fikirkan? Apa maksud ucapan Billy sesungguhnya?" batin Syafiq.


Setiap ucapan Billy terus memutari otaknya, "Bukankah tadi Billy juga berucap aku harus berfikir yang terjadi hari ini. Ada apa dengan hari ini?"


Syafiq mengingat-ingat hal yang terjadi sejak ia bangun tidur, menyuapi  Hana, merapihkan Hana ...


"Tunggu, tidak mungkin yang terjadi di rumah! Mana mungkin ia memintaku berfikir sedang ia sendiri tak tau yang terjadi padaku. Pasti bukan hal di rumah. Jika Billy tau ... tentunya hal tersebut tertangkap matanya. Berarti kejadian di rumahnya. Apa sebetulnya yang diminta Billy untuk aku fikirkan ...? Semua seakan teka-teki ...."


Otak itu kembali berfikir....


"Yang terjadi hari ini adalah, aku bertemu tunangan Billy, ada bayi menggemaskan, Hana tampak senang melihat Nura, Hana melontar ingin adik, Hana rindu Omar, Mata adik bulat seperti ma-ta Ha-na. Mata yang sa-ma. Ahhh ... apa kata-kata Billy berhubungan dengan bayi kecil itu. Tunggu ... wajah bayi itu memang tak asing untukku. Wajah i-tu ------


Syafiq menghentikan mobilnya di tepi pematang sawah. Ia terus berfikir setelahnya.


"Wajah bayi i-tu memang mirip Ha-na ke-cil. Ahh .... Tunggu! Seorang teman menitipkan bayinya pada Billy. Memang aneh, Billy baru kembali dari Jakarta mengapa temannya menitipkan anak padanya, untuk apa? Bukankah ini waktu rehat Billy, mengapa juga ia harus mau menjaga anak orang lain ... bukankah lebih baik menghabiskan waktu bersama Tunangannya. Tidak! Billy pasti bohong perihal anak itu. Anak siapa dia, bagaimana ia bisa mi-rip putriku. Putriku ahh .... Mungkinkah? Tunggu! Malam itu aku dan Fura melakukannya. Jarak malam itu ke hari i-ni 18 bulan. Jika ia memang benar buah hubungan malam itu. 18 bulan dikurangi 9 bulan, jika ia benar bayi kami ... harusnya usianya 9 bulan." Seketika dadanya sesak.


"Bayi i-tu dari perkembangan-nya juga diperkirakan berusia 9 atau10 bulan. Putriku ... mungkin-kah i-a putri-ku? Nura ... nama Nura juga begitu erat dengan kata Nuha, nama Fura Ahh ... Ya Robb, iya ... iya betul! Nura pasti putriku. Putri hasil hubungan malam sebelum Fura menghilang." Syafiq terus tertawa kini.


"Nura ... Nura putriku ...."


Hana yang sedang memainkan gadget bingung melihat perilaku abinya. Ia mendekat dan menatap Syafiq.


"Abi kenapa?" lontarnya.


"Tidak ... tidak apa-apa, Nak! Tetaplah bermain!" Hana kembali ke joknya.

__ADS_1


Syafiq kembali berfikir, "Jika Nura di sana, bukankah harusnya Fura dan Omar juga ada? Tunggu ...! Tadi Billy bilang 'Bawa masuk Nura ia butuh ASI-nya' ASI-nya tentu pada diri Fura. Ya, inilah pesan yang berusaha Billy sampaikan padaku. Bahwa Fura sedang berada di rumah itu ... dan Nu-ra adalah putriku. Juriyy ... Juriyy ... aku menemukanmu, Sayang!" Napas kasar itu kembali keluar bersamaan desir sesak yang menyeruak.


"Aku harus cepat berbalik, sebelum Juriyy-ku pergi. Ya ... aku harus cepat!"


"Abi ... kenapa kita berbalik? Bukankah kita harus cari Umi dan Omar?"


Sapuan itu mendarat ke kepala Hana. "Kita akan bertemu Umimu, Nak!" lirih Syafiq dengan mata berkaca. Ia berkata lagi setelahnya. "Akan!" Hana tampak bingung tapi memaksakan tersenyum seraya kepalanya terus mengangguk.


_______________


Di kediaman Billy, Fura panik. Ia ingin segera pergi dari rumah itu namun Billy terus memaksa agar Fura makan bersama mereka dulu.


"Kamu itu menyusui, tentunya nutrisi yang baik akan sangat kamu butuhkan!" lugas Billy. Dengan ragu akhirnya Fura mengangguk.


"Ayo, makan yang banyak!" Billy menyendokkan sayur sop di sisi nasi Fura.


"Sudah ... sudah, Kak! Jangan terlalu banyak!" Suara itu tak digubris Billy..


"Ingat, kamu makan berdua, Fura! Sudah ayo makan!" Memasang wajah mengerut, Fura akhirnya mengangguk.




Fura dengan cepat menghabiskan makannya. Ia ke kamar menggendong Nura yang tertidur, dan berusaha membangunkan Omar seelahnya. Mayra dan Billy masuk.


"Omar masih sangat pulas, Fura. Kalian pulang sore saja nanti!" ucap Billy duduk di tepi ranjang.


"Tidak bisa, Kak. Aku harus segera pulang. Bagaimana pun mas Syafiq sudah bertemu Nura. Aku khawatir ia akan curiga perihal asal usul Nura."

__ADS_1


"Fura, apa tidak lebih baik kamu kembali pada suamimu itu, ia terlihat begitu kehilanganmu!" Mayra melontar kata. Fura tersenyum.


"Iya, aku tau ke mana tempat pemberhentian terakhirku, Kak. Tapi belum sekarang. Aku perlu melihat ketulusannya lagi!" Mayra tersenyum getir menanggapi ucap Fura.


"Tinggal di sini saja, tak perlu ke rumah kecil itu lagi! Di sini kosong, rumahku rumahmu juga, hem?" tambah Billy.


Fura menggeleng. "Aku nyaman dengan hidupku di sana, Kak. Suasana yang dekat persawahan, suara burung-burung, juga hubungan antar masyarakat yang begitu hangat, semua membuatku nyaman. Anak-anak juga tenang!"


Billy menarik napas panjang. "Kamu itu keras kepala, persis sifat papa!"


"Mau bagaimana lagi, sudah takdiku menjadi anaknya. Sudah ya, Kak ... itu Alhamdulillah Omar sudah bangun. Aku pulang dulu!"


"Jagoan ... ayo pamit pada Uncle dan Aunty!" Omar mendekat dan mengarahkan tangannya pada Billy dan Mayra bergantian. Setelahnya Mayra memakaikan sepatu Omar dan menematkan helm ke kepala Omar.


Fura berdiri setelah ketsnya terpasang sempurna. Ia mendekati Mayra. "Aku pamit Kak, sampai bertemu lagi nanti. Kalau Kak Billy nakal bilang padaku, biar aku jewer!" Mayra terkekeh sebaliknya Billy menggeleng-geleng kepala.


Ia menuju Billy setelahnya. "Kak ... terima kasih. Aku pasti rindu Kakak!"


"Jaga diri baik-baik adikku yang manis!" Keduanya sama-sama tersenyum. Baru saja sepasang kaki itu melangkah mendekati maticnya 2 raga masuk melewati gerbang.


"Umiii ... Omar ...!" pekik seorang bocah ke arah Fura dengan bibir mengerucut ke depan dan air mata memenuhi pipi.


Fura bergeming dengan air mata mulai lolos satu persatu dari sudut matanya. Omar menatap Hana, ia masih mengenali wajah itu.


"Kakak ...!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


❤Happy reading 😘

__ADS_1



❤Hana & Omar


__ADS_2