
Setelah Fura mengangguk, Syafiqpun bersiap pulang dan tak lama bayang Syafiqpun tak terlihat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
đź’”22:45 saat Syafiq membuka pintu rumah 1 lantai bergaya minimalis di hadapannya. Ia pun terhenyak mendapati Shofii tertidur di sofa menunggunya.
Setelah meletakkan tas yang dibawanya, Syafiq merengkuh tubuh Shofii untuk dipindahkan ke kamar. Namun tiba-tiba Shofii terbangun saat tubuhnya mendarat di pembaringan.
"Hahh, jam berapa ini? Kamu sudah pulang sejak kapan, Mas?" lirih Shofii merasa bersalah karena tak tau kepulangan Syafiq.
"Aku baru sampai, maaf pekerjaanku banyak jadi aku pulang telat," ucap Syafiq seraya memaksakan bibirnya tersenyum kearah Shofii.
"Kamu mandilah dulu Mas, lho ... pakaian ini? Sepertinya saat berangkat tadi kamu bukan menggunakan pakaian ini? Atau aku yang lupa?" ucap Shofii sambil terus mengingat yang terjadi.
"Aku memang baru sampai dan langsung mandi tadi, baru aku mengangkatmu ke kamar setelahnya," ucap Syafiq berbohong menutupi yang sesungguhnya terjadi.
"Ohh jadi kamu sudah mandi, coba---" seketika Shofii mendekati hidungnya ke tubuh Syafiq. "Benar kamu sudah mandi Mas, tubuhmu harum, pantas pakaianmu berbeda, kamu telah menggantinya ternyata," ucap Shofii seraya tersenyum.
"Baiklah, tunggulah disini! Aku akan mengambilkan makan malammu Mas. Kamu pasti lapar, bukan?" tanya Shofii.
Syafiq yang belum mengutarakan kebenaran tentang Fura, kembali berbohong. Syafiq mengangguk kini menanggapi tanya Shofii.
"Okee, kamu jangan tidur dulu ya, Mas! Kamu harus mencoba masakanku," ucap Shofii penuh semangat.
Hahh, bagaimana ini? Padahal aku sudah makan banyak tadi karena Fura menyajikan menu opor ayam kesukaanku. Tapi kalau aku menolak Shofii, ia pasti akan sedih, batin Syafiq.
Tak berselang lama ...
•
•
KREK ...
Shofii tampak masuk saat pintu telah terbuka. Ia pun segera memperlihatkan masakan yang ia sembunyikan sejak tadi di belakang tubuhnya.
"Ini makan malammu Mas, aku membuatnya sendiri dengan cinta," ucap Shofii menyodorkan piring di tangamnya.
__ADS_1
"Ohh ... opor ayam?" kaget Syafiq.
Kenapa dengan 2 wanita ini, keduanya sama-sama menyajikan opor ayam kesukaanku. Padahal aku sudah makan banyak tadi di tempat Fura. Tapi godaan opor ayam selalu tak bisa kutolak, batin Syafiq.
Dan Syafiq tampak mulai melahap masakan Shofii. Suap demi suap kembali masuk ke mulut Syafiq. Hingga beberapa saat berlalu, dan masakan Shofii di piring Syafiq telah habis.
"Alhamdulillah," ucap syukur Syafiq mengakhiri kunyahan terakhirnya.
Benar-benar opor ayam yang enak, sangat mirip dengan masakan Ibuku. Shofii bahkan memasak sendiri opor ini, wanita ini ... darimana ia tau aku suka opor? Kalau perutku tidak kekenyangan pasti aku sudah mengambil nasi lagi, batin Syafiq.
"Kau suka masakanku, Mas?" Shofii tampak serius menanti jawaban dari bibir suaminya.
"Kenapa kamu memasak opor?" tanya Syafiq seraya menatap lekat Shofii.
"Karena aku suka opor, dan aku yakin opor makanan yang disukai mayoritas orang Indonesia, kamu belum menjawab tanyaku Mas, kamu suka?"
Syafiq pun mengangguk. "Aku suka."
"Sudah hampir setengah 12, kita tidur, Mas!" ucap Shofii menambil piring ditangan Syafiq dan meletakkannya di dapur, sedang Syafiq ke kamar mandi, menyikat gigi adalah kebiasaannya sebelum tidur.
"Tidurlah Sof, besok kau ke rumah sakit, bukan?" lirih Syafiq sambil memejamkan mata berpura mengantuk.
"Setelah tertidur karena menunggumu pulang tadi, aku sekarang tidak mengantuk, Mas," ujar Shofii.
Syafiq tak bergeming dan terus berpura tertidur, namun nyatanya Shofii semakin mempererat dekapannya.
Ahh, tidak bisa seperti ini. Aku juga tidak bisa tidur jika Shofii terus begini, aku harus membuatnya mengantuk. Tapi bagaimana caranya? Ohh, betul ... aku akan buat Shofii terus bercerita hingga ia mengantuk, batin Syafiq.
Syafiq pun mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di head board ranjang, Shofii pun mengikuti.
"Kamu terganggu, Mas?" lirih Shofii.
"Kamu belum tidur, bagaimana aku bisa tidur?" jujur Syafiq.
"Oke baiklah, bagaimana jika kamu menceritakan tentang mantan suamimu?" ujar Syafiq.
"Kamu sungguh ingin mendengarnya, Mas?"
__ADS_1
"Tentu, kenapa tidak?" ucap Syafiq.
"Oh, oke. Mas Raihan kekasihku sejak kuliah, kami kuliah di universitas yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula, kedokteran."
"Lalu?"
"Lalu di tahun keempat kami memutuskan menikah siri," lirih Shofii.
"Siri?" Syafiq tampak menegaskan yang didengarnya.
"Iya, seperti pernikahan kita." Shofii tampak tersenyum baru ia melanjutkan lagi ucapannya. "Aku kuliah mengandalkan beasiswa, dalam berkas persyaratan. Aku tidak boleh menikah dan hamil hingga kuliahku selesai, jadi kami memutuskan menikah siri untuk menjaga dari hal yang tidak diinginkan," lirih Shofii yang mulai menyandarkan kepalanya ke bahu Syafiq.
"Berapa lama kalian menjalani pernikahan?" tanya Syafiq kembali.
"Dua tahun dan semua berakhir saat mas Raihan mendapat beasiswa ke Amerika untuk melanjutkan ke spesialis bedah sesuai cita-citanya."
"Kamu pasti sangat bersedih saat itu?" ujar Syafiq.
"Itu tak perlu ditanya, karena mas Raihan meminta bercerai tanpa alasan jelas. Jika jarak menjadi alasannya, aku sudah mengemukakan akan setia menunggunya, tapi ia bergeming. Apalah aku yang hanya istri siri. Dengan sebuah kata, ikatan kami pun berakhir. Mas ... kamu tidak akan seperti mas Raihan yang meninggalkanku, kan? Setelah 2 tahun perjanjian kerjaku, kamu harus menikahiku secara hukum. Kamu ingat janjimu kan, Mas?"
Syafiq tampak terjebak dalam tanyanya, terbawa rasa iba atas hal yang menimpa Shofii, Syafiq pun akhirnya mengangguk.
"Terima kasih, Mas ... aku tau kamu pria yang baik Mas. Kamu menerimaku walau tau usiaku lebih tua darimu, bahkan setelah kamu tau aku pernah menikah sebelumnya, kamu tetap maju meminangku," ucap Shofi memeluk hangat tubuh Syafiq.
Bagaimana ini? Aku berada pada posisi semakin sulit. Bahkan aku merasa sama buruknya dengan Raihan mantan suami Shofii. Aku berbohong pada Shofii, aku terus menahan Shofii saat itu untuk melihat KTPku yang tertera status menikah disana. Dan aku semakin sulit kini memberitahu kebenaran tentang Fura pada Shofii. Hati kecilku tak tega membuat hatinya sakit kembali. Aku benar-benar pria yang jahat, batin Syafiq.
Secara spontan Syafiq terus menyapu kepala Shofii hingga Shofii tertidur. Syafiq terus menatap Shofii setelahnya.
Shofii bukan wanita yang buruk, ia cantik ... dan mungkin tampilan wajah inilah yang membuatku saat itu memilih biodatanya. Hingga kemudian kutahu pula kepribadiannya pun juga baik.
Shofii adalah anak yatim yang ternyata juga tersudut dengan kontrak pekerjaannya dan tidak bisa menikah, tapi jiwanya membutuhkan pendamping. Dan semua seakan memuluskan pernikahan siri kami yang menutupi status pernikahanku sebelumnya bersama Fura.
Shofii ... mengapa aku berfikir kini, jika semua tak adil untukmu. Lalu aku harus bagaimana? hati Syafiq terus bergemuruh di dalam sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading❤❤
__ADS_1