
"Aku menyingkirkan Raihan dari Shofi tapi mendekatkan Billy yang merupakan teman masa lalu Fura. Mereka hanya teman, harusnya aku tak cemburu. Tapi entah mengapa melihat pandangan mata Billy seolah menyiratkan perasaan lebih. Bagaimana ini, padahal mereka akan sering bertemu ...."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tumben suamimu tak terlihat, padahal kuperhatikan sebulan ini ia terus mengantarmu terapi di akhir pekan!"
"Ia sedang mengantar mbak Shofi memeriksakan kandungannya."
"Dan mengabaikanmu?"
"Please Kak, jaga ucapanmu, orang yang sedang kamu bicarakan adalah suamiku!" Billy menggelengkan kepalanya.
"Kenyataannya bukan? Shofi bisa berjalan dan kamu tidak. Harusnya ia memprioritaskanmu! Terlebih pula kamu yang lebih dulu melahirkan anak-anaknya!"
"Kakk ... kutegaskan, aku yang menyuruh mas Syafiq mengantar Shofi dan membiarkanku pergi dengan teh Rani dan mang Anto. Jadi jangan salahkan suamiku."
"Kamu buta Fura! Aku iri dengan Syafiq karena mendapat cinta sebesar itu darimu!" lugas Billy dengan tangan terus merefleksi telapak kaki Fura.
Fura menggelengkan kepala, ia berkata setelahnya.
"Jika Kakak sudah menikah, istri Kakak juga akan memberi cinta yang besar untuk Kakak dan Kakak akan mengetahui arti ketulusan sebuah hubungan!" Kini Billy yang tersenyum.
"Sungguhkah begitu? Tapi sayang, aku mungkin tak akan pernah menikah!"
"Kenapa?"
"Karena wanita yang kusuka sudah ada yang memiliki!"
"Kakak kurang mujur, harusnya Kakak bergerak lebih cepat!" ucap Fura tak mengerti bahwa dirinya lah yang dimaksud Billy.
"Bagaimana lagi! Aku baru menemukannya!"
"Maksud Kakak?" Fura membulatkan matanya.
"Bukan apa-apa. Oh ya, kulihat tadi putra tampanmu ikut ke sini!"
"Iya. Entahlah ... Omar memang dekat denganku. Ia tak mau diajak Abinya, jadi hanya Hana yang ikut dengan mereka."
"Baguslah! Setidaknya ada satu anggota keluargamu yang otaknya benar!"
"Kak!"
"Sorry, sorry ... aku hanya bercanda!" Fura menunduk. Tampak Billy berusaha memancing emosi Fura lagi. Ia senang Fura terus menyahut ucapannya, hal yang dulu sering mereka lakukan. Saling mencaci dan berbalas ucapan.
"Terapi kita sesaat lagi selesai. Setelah ini jangan langsung pulang, ikut aku kita cari makan dulu!"
"Di rumah mbok Santi sudah masak, Kak!"
"Bisa dimakan nanti malam, kan! Lagipula kasihan putra kecilmu pasti menahan lapar sejak tadi, hem?"
"Kakak mengarang! Bahkan mbak Kinan membawa banyak snack untuk Omar!"
"Benarkah! Tapi aku sedang tak ingin ditawar. Kalian harus ikut denganku!"
"Aku harus izin mas Syafiq," lontar Fura.
__ADS_1
"Biar aku yang meminta izin nanti, toh dia juga pergi dengan wanita lain. Kenapa kamu tak bisa pergi sesaat denganku yang notabenenya sebagai dokter dan sahabatmu!"
"Tidak Kak. Mas Syafiq bisa cemburu!"
"Hahh ... apa aku tidak salah dengar? Suamimu cemburu? Tapi aku senang ia masih memiliki rasa itu padamu!" jawab Billy dengan santainya.
"Kakak bicara apa, tentu saja ia cemburu, aku kan istrinya!"
"Iya benar, kamu istrinya! Istrinya yang bodoh!"
"Kak!" Dan sebuah bantal tampak melayang kini ke arah Billy.
"Aww ... ternyata lemparanmu masih cukup kuat! Bagus! Berarti otot-ototmu bekerja baik. Aku bertambah yakin kamu akan bisa pulih!"
"Kak ihh ... yang melempar tangan kenapa disangkutpautkan dengan kakiku yang tak berfungsi. Tapi aku amiin kan doa baiknya!"
" Itu pula yang kuharap!"
"Oke, sudah selesai!"
"Panggil teh Rani, Kak!" ujar Fura seketika karena ia membutuhkan perawatnya tersebut untuk memindahkannya ke kursi roda.
"Siap!"
Tak berselang lama pintu terbuka. Omar sang putra kecil dengan cepat mendekat, ia meletakkan kepalanya ke tubuh Fura.
"Umi sudah selesai terapinya?" celoteh polos Omar.
"Sudah, Sayang!"
Dan teh Rani dengan cekatan mengangkat tubuh Fura ke kursi roda, sedang Billy tampak melepas jas dokternya.
"I-ya Sayangg!" jawab Fura sembari mencium gemas pipi Omar.
"Omar lapar mau mampir makan surabi, boleh?"
"Tentu saja boleh, kebetulan Om Billy juga sedang ingin makan surabi. Umi juga sedang ingin surabi, tuh!" Sela Billy dengan cepat menjawab tanya Omar. Alisnya terus diangkat menunggu reaksi Fura.
"Apa makan surabinya tidak nanti malam saja, hem? Kita keluar bersama Abi, bagaimana?" lirih Fura.
"Omar mau makan surabi sekarang!"
"Orang tua yang baik itu, bukan yang selalu menolak keinginan putranya, Fura. Sudah ayo kita ke bakulan surabi!" Tanpa aba-aba Billy menggendong tubuh Omar dan beranjak ke luar ruangannya. Teh Rani mendorong kursi roda Fura, sedang mbak Kinan mengikuti dari belakang.
Fura terus menggeleng melihat perilaku spontan Billy yang sesuka hatinya tersebut. Hingga akhirnya raga-raga itu sampai di pelataran rumah sakit.
Mang Anto tampak sudah berdiri tegap di sisi Avanza putih sebab teh Rani memang segera menghubunginya untuk bersiap saat jam terapi nyonyanya hampir selesai tadi. Pintu avanza itu dibuka, baru saja teh Rani hendak meraih tubuh Fura untuk naik, Billy berteriak.
"Tunggu ... tunggu! Mang Anto dan teh Rani pasti letih, bukan? Omar meminta makan surabi, jadi biarkan Ibu Fura ikut dengan saya, nanti saya yang akan mengantarkannya. Kalian lebih baik pulang saja, cukup mbak Kinan yang ikut kami!" Billy lagi-lagi melakukan aksi suka-sukanya.
"Tapi Pak Dokter, nanti Bapak-----
"Jangan khawatir, saya dokter istrinya, tentu pak Syafiq tidak akan keberatan! Nanti saya akan menghubunginya! Kalian pulang saja sana!"
"Bu ...?" Mang Anto dan teh Rani menatap Fura bersamaan. Sesaat Fura bingung, ia terus menatap Billy.
"Kenapa menatapku Umi Fura?"
__ADS_1
"Aku membutuhkan teh Rani untuk membantu mobilitasku."
"Aku yang akan membantumu!"
"Tapi, Kak!"
"Jangan berfikir macam-macam. Kita sahabat, kan? Dulu kamu juga sering memintaku mengendongmu di pundak." Fura terdiam.
"Sana kalian pulanglah! Ibu Fura diam saja berarti mengiyakan ucapanku!"
Teh Rani masih menatap Fura. Fura yang merasa aktifitas terapi belakangan ini melelahkannya, merasa butuh juga sesekali melihat pemandangan sekitar. Ia pun mengangguk.
Billy tersenyum puas. Setelah melihat Avanza yang dikemudikan mang Anto menghilang. Ia meminta mbak Kinan tetap bersama Fura di sana, sedang Ia yang masih menggendong Omar turun ke baseman mengambil Livinanya.
Tak berselang lama Livina itu berhenti tepat di depan Fura. Billy ke luar mobil meraih tubuh Fura dan mendudukkannya di jok depan. Setelahnya mbak Kinan naik ke jok tengah yang sudah ada Omar di sana.
•
•
Lalu lintas kota Bandung yang padat saat weekend, membuat 4 raga itu baru sampai ke bakulan surabi 15 menit setelahnya.
Seperti sebelumnya, Billy dengan sigap meraih tubuh Fura dan mendudukkannya di kursi roda. Sedang Omar yang tak sabar langsung berlari diikuti mbak Kinan.
Billy dan Fura masuk ke dalam dan segera memesan surabi yang mereka inginkan. Billy tampak terus menatap Fura sembari melirik Omar yang tengah asik bermain wahana permainan di sudut kedai.
"Jangan lihat aku seperti itu, Kak!"
"Kenapa tidak boleh?" lugas Billy.
"Kakak bisa suka padaku! Dan itu tidak diperkenankan karena aku istri seseorang!" Fura menjawab sembari tersenyum menggoda Billy.
"Adik yang nakal!" Billy seketika menjawil hidung Fura.
"Kak, jangan pegang-pegang!"
"Kenapa? Tangan-tanganku! Terserah apa yang akan kulakukan!"
"Fura ...!"
"Iya, Kak?"
"Jujur, apakah tindakan-tindakan terapi yang kuberikan sama sekali belum menunjukkan perubahan di kakimu?"
"Hmm ... pernah sih Kak aku merasakan sebuah getaran! Tapi hanya sesaat dan tak terasa lagi."
"Kapan?" antusias Billy.
"Setelah hidroterapi 2 pekan lalu."
"Sungguh? Kalau begitu kamu harus----" Belum lagi ucapan Billy selesai, netranya menangkap seorang pria yang tengah menyuapi surabi ke bibir seorang wanita.
"Harus apa, Kak? Kak ...!"
"Lihatlah ke sana Fura! Bukankah itu suamimu bersama madumu?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
💔Happy reading😘