
"Ayo jawab adik kecil yang manis! Sudah lama aku tak mendengar suaramu!" batin Billy. Dalam hatinya ingin tertawa menatap wajah panik dan kesal itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔FLASHBACK ON
Alkisah, berpuluh tahun silam terdapat dua orang sahabat yang saling mengisi dan dekat. Ialah Fahira dan Swarna, persahabatan terus berlanjut hingga mereka masing-masing telah menikah dan memiliki anak.
Fahira memiliki Fura berusia 10 tahun, sedang Swarna memiliki Billy yang saat itu berusia 15 tahun. Kehidupan berjalan tak bisa ditebak. Fahira memiliki suami yang kerap menyakiti dirinya, sedang Swarna bersuamikan pria yang sangat penyayang dan royal.
Fahira yang tak tahan akhirnya memilih bercerai, ia hidup setelahnya dibantu Swarna. Hubungan persahabatam mereka tak berubah. Bahkan Billy dan Fura turut terbawa dekat, mereka laksana kakak dan adik yang sangat menyayangi. Berbagi cerita kerap dilakukan keduanya. Hingga 5 tahun berlalu.
Fura yang saat itu duduk di kelas 2 SMP sudah memancarkan aura kecantikannya. Billy yang duduk di kelas 3 SMA sangat senang menjaga Fura, lokasi rumah yang berdekatan membuat Billy dan Fura selalu berangkat dan pulang bersama. Benih-benih cinta muncul di hati Billy. Hingga rumor itu beredar!
Beberapa waktu setelahnya Paman Billy membawa Swarna beserta Billy pindah ke Singapura, tempat paman Billy dan keluarga tinggal. Setelahnya mereka kehilangan kontak hingga hari ini mereka bertemu.
💔FLASHBACK OFF
"Bagaimana pengecekan kondisi fisik pasien, Sus?" Billy tampak bertanya pada wanita muda dengan pakaian putih di sisinya yang baru saja melakukan pengecekan pada Fura.
"Semua baik, Dok."
"Oke bagus, kita lanjut lakukan pengecekan sistem syaraf sensorik dan motoriknya!"
Fura yang pernah di cek hal serupa tampak pasrah dan terus memperhatikan seorang suster yang mengecek bagian-bagian tertentu di bagian pinggulnya ke bawah memastikan otot dan persendiannya respons terhadap sentuhan, rasa sakit, suhu (panas dan dingin), dan getaran.
Suster dan Billy menatap wajah Fura, mencari tarikan wajah yang mungkin terbentuk saat pijatan atau ketukan dilakukan di bagian tersebut, namun keduanya saling menoleh dan suster tampak menggeleng ke arah Billy.
"Fura, sungguh kamu tak merasakan apapun?"
"Tidak, Kak!" Billy menarik napas panjang menatap Fura. Ia berbalik ke belakang setelahnya mengambil sarung tangan berbahan karet dan memakainya. Ia menyuruh Fura memejamkan mata sebelum akhirnya mengambil dua buah jarum lancip dan tumpul dan mengarahkan jarum itu bergantian dari yang tumpul ke yang lancip pada telapak kaki Fura. Netra Billy awas mengamati ekspresi wajah Fura. Namun, lagi-lagi tak ada ekspresi yang di temukan di sana. Fura bergeming.
"Buka matamu, Fura!"
"Bagaimana, Kak? Aku masih tak merasakan apa pun! Sejak dulu pun seperti ini, bagian bawahku kebal. Tidak merespon apa pun, harusnya memang aku tak melakukan tindakan ini lagi! Aku harus menerima kondisiku selamanya berada pada kursi roda, Kak. Kalau bukan karena mbak Shofi dan mas Syafiq yang terus memaksaku. Aku pun enggan ke dokter dan melalui ini semua ...." Fura seperti biasa berusaha keras menahan bulir itu, namun bulir itu seakan tak terkendali menerobos netranya, tangisan pun pecah.
"Sus, kamu boleh keluar! Aku ingin bicara berdua dengan pasien!" Tampak suster menatap Billy dan Fura bergantian baru akhirnya menunduk.
"Jangan berfikir macam-macam! Dia seorang sahabat, bahkan seperti adikku!" Suster tersenyum menyadari Billy membaca fikirannya.
"Sekarang bisa tinggalkan kami!"
__ADS_1
"B-aik, Dok."
"Oh ya, tunggu sebentar!"
"Ada lagi, Dok?"
"Katakan pada keluarga pasien, pengecekan belum selesai di dalam!"
"Ohh ... i-ya, Dok!" Tak berselang lama suster pun meninggalkan ruangan pemeriksaan.
•
•
"Tatap aku Fura! Kamu sungguh ingin pulih, bukan?" Fura bergeming.
"Semua ini hal biasa untukku, kamu bukan pasien pertama yang tidak menunjukkan reaksi saat kami melakukan pengecekan sendi mereka. Namun satu, sebelum kami melanjutkan tindakan selanjutnya. Dirimu sendiri harus yakin akan keberhasilan terapi ini! Kutanya lagi! Kamu yakin akan sembuh, bukan?"
"A-ku tidak tau, Kak!" Billy menggeleng kecewa dengan mental menyerah Fura, hingga ia melihat sebuah cincin melekat di jari manis Fura. Sesaat ia sesak melihatnya, namun ia berfikir menggunakan itu sebagai penarik semangat Fura.
"Heii ... kudengar kamu sudah menikah. Bukankah dengan kesembuhanmu suamimu akan bahagia?" ucap Billy. Fura tersenyum getir.
"I-ya, suamiku pasti se-nang," lirih Fura.
"Kata-katamu sangat manis, Kak. Cinta----" Fura menghentikan kalimatnya sesaat setelahnya baru melanjutkan kembali. "Suamiku memang segalanya untukku, Kak. Tapi entah bagaimana posisiku di hatinya ...."
Billy penasaran dengan yang didengarnya. Ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Fura. "Ada apa, Fura? Jika ada yang meresahkanmu ceritakanlah! Bukankah dulu kamu senang bercerita berbagai hal padaku, hem?" Fura tersenyum getir.
"Maaf, aku tak seharusnya membahas masalah ini. Semua baik-baik saja dalam rumah tanggaku!"
"Jika kamu ragu menjadikan suamimu alasan kesembuhanmu, fikirkan hemm ... anak mungkin? Kamu sudah memiliki anak, kah?" Fura mengangguk dan tersenyum.
"Dua, aku memiliki dua malaikat, Kak!"
Spontan Billy menyapu kepala Fura, "Adik kecilku ternyata seorang ibu sekarang! Dan dua anak pula! Ahh ... kamu masih muda, kenapa begitu cepat memiliki anak!"
"Kak ... jaga bicaramu! Dan sapuan seperti tadi jangan dilakukan lagi! Aku istri dan seorang ibu saat ini, bukan gadis kecil lagi!" lirih Fura melirik dan mengerucutkan bibirnya ke arah Billy.
"Harusnya aku yang aneh, kamu seorang ibu tapi menangis seperti tadi tak ubah seperti Fura saat kecil dulu!" Fura melirik Billy.
"Oh ya, Kak. Sudah selesai bukan pengecekan hari ini! Kamu benar, anak-anak harus menjadi alasan kesembuhanku! Mereka masih kecil, masih banyak waktu yang akan kuhabiskan bersama mereka!"
__ADS_1
"Good! Lantas ayahnya? Tak menjadi prioritasmu kah?"
"Abinya juga!"
"Abi? Hemm ... panggilan yang manis!"
"Oke, aku akan suruh wanita hamil itu masuk. Oh ya, jujur aku penasaran. Siapamu dia? Kuingat kamu tak pernah memiliki kerabat seperti dia?"
"I-tu ... kami berteman. Ya, pertemanan yang sangat erat."
"Entah mengapa aku tak suka dengan kata pertemanan!"
"Kak ... ma-af ...!"
"Sudahlah! Aku sudah melupakan cerita masa lalu!"
"Tapi kami bersalah padamu dan tan-te Swar-na. Kamu pasti membenciku, membenci kami, Kak!"
"Tidak juga! Saat itu kamu masih kecil dan belum tau apa-apa! Sudahlah jangan membahas itu!" Spontan Billy membuka pintu ruangannya.
"Silahkan masuk dr. Shofi!"
Shofi seketika menatap Fura. "Apa semua baik-baik saja?" utar Shofi. Fura mengangguk.
"Begini Dr. Shofi, kami sudah melakukan berbagai pengecekan. Kami menyarankan tindakan fisioterapi untuk ibu Fura! Namun bagi penderita paraplegia, atau biasa disebut kelumpuhan bagian bawah seperti ibu Fura, support dari keluarga akan sangat berpengaruh bagi kesuksesan tindakan yang kami lakukan. Untuk itu kami sarankan untuk tetap memberi semangat, serta mengatur pola makan dan menjaga berat badan pasien agar tak mempersulit geraknya." Shofi mengangguk menatap Fura.
"Lalu kapan fisioterapi mulai dilakukan? Bisa dilakukan di rumah, bukan?" tanya Shofi.
"Tentu bisa. Senyamannya pasien saja."
"Tidak di rumah! Aku ingin di rumah sakit saja, Dok!" ucap Fura.
"Kenapa?" heran Shofi.
"Ada anak-anak, aku tidak tenang mendengar suara mereka!" Billy menatap Fura.
"Dan keputusan akhir?"
"Beri kami waktu untuk memikirkannya, Dok! Aku akan meminta pertimbangan suamiku!"
"Oh oke tentu."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘