TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Fura bergeming dengan air mata mulai lolos satu persatu dari sudut matanya. Omar menatap Hana, ia masih mengenali wajah itu.


"Kakak ...!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kedua raga kecil saling berpeluk. Hana mendekat pada Fura setelahnya.


"U-miii ...." mata bulat itu tak henti mengeluarkan bulirnya.


"Hana ...." Begitu pun Fura yang diliputi rasa bersalah besar sebab tak ada di sisi sang putri selama ini. Ia membungkuk meraih tubuh Hana.


"Umii ... jangan tinggalin Hana lagi!" lirih gadis kecil itu lagi. Fura mengangguk.


"Ma-af ... maaf, Sayang ...!" lirih Fura kini.


Hana tampak terus memeluk raga Fura namun sepasang tangan kecil terus memukul-mukul tubuh Hana.


"Aww ... Nura kenapa pukul Kak Hana, Kakak nggak nakal kok! Oh iya Umi, kenapa Nura Umi gendong?" Mata bulat itu terlihat antusias tak sabar mendengar jawab Fura.


"Sebab Nu-ra----- Netra Fura melirik Syafiq yang kini menarik alisnya ke atas seakan menunggu jawab dari mulut wanitanya tersebut.


Fura menarik napas panjang baru melanjutkan kata-nya. "Nu-ra adik Ha-na, Sayang!"


"Adik?" Mata itu merona ia yang sebelumnya tampak malu-malu mencium bocah kecil itu, kini tampak penuh semangat dan gemas menciumi wajah Nura.


"Kakak, jangan cium Nura kencang-kencang nanti Nura nangis! Kalau Nura nangis Umi nggak bisa buat kue dan nggak bisa sekolahin Omar!" Raga tegap itu mendekat ke arah Omar dan membungkuk.


"Mulai sekarang Umi tidak perlu buat kue lagi! Abi yang akan sekolahkan Omar, hem? Apa Omar tidak kangen Abi. Sini peluk Abi!" Tangan itu direntangkan. Namun bukannya mendekat, raga kecil itu seolah takut dan bersembunyi di belakang tubuh Fura.


"Omar kenapa ngumpet. Itu kan Abi!" pekik Hana.


"Bukan! Abi Omar bukan itu!" Semua mata heran saling berpandang.


"Ini Abi kita, Omar!" ucap Hana lagi.


"Abi Omar ganteng, yang itu nggak ganteng. Omar takut!" ujar Omar mengintip dari balik tubuh Fura.


"Juriyy .... Ayo katakan kalau aku Abinya Omar!" Fura menelan salivanya saat lengan Syafiq melingkar ke pinggangnya dan napas itu terasa hangat di telinga saat bisikan itu didengarnya.


"Bagaimana aku akan memberitahu Omar, jika aku sendiri tidak yakin kamu benar-benar Suamiku!" lirih Fura di telinga Syafiq.


Mata Syafiq membulat tak menyangka dengan yang didengarnya. "Kenapa? Apa yang membuat Juriyy-ku lupa dengan Jawza-nya?" serius Syafiq.

__ADS_1


"Tanya saja pada Nura!"


"Oh ... aku sampai lupa! Aku memang belum menyapa putri kecilku," batin Syafiq. Ia larut dalam fikirnya.


"Hai Sayang anak Abi!" Belum lagi bibir Syafiq mendarat di pipi Nura. Bocah kecil itu spontan menangis kencang. Semua raga semakin bertambah bingung. Syafiq menatap Fura yang sedang mengayunkan tubuh Hana dan menjauhkan wajah Syafiq dari pandangan Nura.


"Kenapa Nura menangis lihat Abi, Umi?" tanya Hana seolah mempermudah Syafiq mendapat jawabannya.


Fura meminta Hana mendekat ia berbisik. Hana seketika tertawa mendengar jawaban Fura.


"Sini beritahu Abi, Sayang!" Hana mendekat dan berbisik, Syafiq seketika tersenyum setelah mendengar jawab itu.


Syafiq mendekatkan raganya pada Billy. "Terima kasih, Bill!" Tangan itu merangkul laki-laki yang kini menjadi kakaknya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Clue yang kau beritahu!"


"Clue? Kamu pasti salah paham! Aku tidak memberi clue apapun!"


"Oh ... okelah. Yang jelas aku ucapkan terima kasih padamu sudah menjaga Juriyy-ku selama ini!"


Billy mengangguk datar. Ia mencengkram lengan Syafiq saat Syafiq membalik badan. Netra itu bertemu.


Setelahnya Syafiq meminta Fura dan anak-anak naik ke mobil. Tampak Omar masih terus melirik Syafiq dengan takut. Mobil itu berhenti didepan tukang cukur , Syafiq ke luar dan beberapa saat ia kembali dengan tampilan berbeda.


Pintu mobil itu dibuka. Belum lagi ia masuk. Teriakan itu di dengarnya. "Abiiii ...!" pekik Omar. Keduanya berpeluk setelahnya.


Syafiq meraih tubuh Nura dan menciuminya, kini tidak ada penolakan dan tangisan bahkan Nura tampak terus tertawa dan berceloteh. Hana dan Omar ikut mendekat menciumi Nura pula.


"Pa ... pa ... paaa. Ta ...ta ...taa ...." Fura tersenyum melihat aktivitas tersebut. Netranya berkaca, Syafiq yang menangkap hal itu terus menyapu kepala bidadarinya.


______________


"Akhirnya aku menemukanmu!"


"Jujur! Pasti kak Billy mengatakan sesuatu padamu, iya kan?"


"Hmm ... iya! Tanpa kusadari kakak doktermu itu ternyata membeli clue tentang kehadiranmu di sana!" Syafiq mengeratkan dekapannya.


"Berarti kamu menemukanku tidak murni usahamu!" Fura memberi jarak tubuhnya.


"Juriyy please! Jangan permasalahkan itu! Tidak taukah kamu bahwa Jawza-mu ini begitu susah hidup tanpamu!"

__ADS_1


"Tidak ada penyalur hasratmu!"


"Kenapa hal itu yang kamu ingat!" Jemari itu terus menyapu wajah Fura.


"Apa ada alasan lain?"


"Tentu!"


"Apa?"


"Hati!" lirih Syafiq


"Hem?"


"Kamu membawa pergi hatiku, hingga organku yang lain tak mampu bekerja sempurna!" Tangan itu sudah menahan tengkuk Fura.


"Jawza-ku sudah pandai menggombal! Oh ya ... a-ku turut berduka, Bii ...!"


Mendengar ucapan Fura, tangan di tengkuk itu seketika terlepas.


"Masih begitu kehilangan sepertinya!" lirih Fura.


"Bukan! Aku sudah ikhlas. Jodoh kami sudah berakhir!" Fura mengangguk dan berkata lagi setelahnya.


"Lalu kenapa rona wajahmu seketika berubah?"


"Aku hanya khawatir!"


"Tentang?" bingung Fura.


Jemari itu terus menyapu kepala Fura. "Tentangmu!"


"A-ku?" Syafiq mengangguk.


Alis itu terangkat, Fura tak memahami ucapan Syafiq.


"Aku khawatir Juriyy-ku meminta membagi hatiku kembali!" bisik Syafiq. Kepala Fura terus menggeleng. Syafiq menahan kepala itu, baru saja ingin merasakan manis bibir itu. Namun tiba-tiba ....


"Oaaa .... Pa pa paa .... Oaaa .... Ta ta taaa ...." Nura menangis!


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=END\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


❤Semua kembali pada tempatnya ya😘

__ADS_1


__ADS_2