
Syafiq sebetulnya agak geram melihat Billy yang mulai sering datang di luar jam terapi, dari mulai mengunjungi sahabat, membawakan makanan untuk anak-anak, mobilnya mogok, dan banyak lagi alasan yang selalu ada saja ia lontarkan hingga bisa mencapai rumahnya!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 20:10 seluruh anggota keluarga sudah berkumpul ke ruang makan tak terkecuali Billy yang diajak Fura ikut makan bersama.
Seperti biasa Fura menyendokkan nasi ke piring Syafiq dan kedua anak-anaknya. Sedang untuk lauk ia membiarkan Shofi yang menyendokkannya ke piring suaminya itu. Baru saja hendak melahap menu di piringnya seketika sebuah piring kosong mendekat.
"Tolong! Jauh aku tidak sampai!" ucap Billy dengan wajah memelas. Fura menarik bibirnya tak habis pikir dengan pria yang terlihat berwibawa di rumah sakit tapi terlihat semaunya saat seragam itu tertanggal. Syafiq melirik dan menggeleng-geleng melihat aktivitas istri pertamanya terhadap orang asing di rumah mereka.
Aktifitas makan berjalan tenang, hingga acara makan malam itu berakhir.
"Aku langsung ke atas Mas, mbak Fura, Dokter Billy!"
"Aku antar!" sela Syafiq dengan cepat. Ia menyapu kepala Fura sambil melirik Billy, mereka ke lantai atas setelahnya. Hana dan Omar langsung diraih mbak Kinan untuk masuk ke kamar. Fura masih di ruang makan menyesap teh hangat yang belum diminumnya. Dan Billy dengan cepat meraih cangkir itu beserta cangkir miliknya.
"Ayo kita minum di teras! Pasti hawanya sejuk!" Fura tersenyum kecil dan mengangguk.
•
•
"Suamimu terlihat sangat siaga!"
"Saat aku hamil juga seperti itu, Kak!" ucap Fura datar.
"Kau pasti cemburu melihat pemandangan itu!"
"Tidak juga!"
"Tidak salah!" lontar Billy menyesap teh hangatnya. Fura tersenyum kecil.
"Ini malam minggu, kenapa Kakak malah kesini? Harusnya Kakak mendatangi kekasih Kakak!"
"Ini aku sedang melakukannya." Fura menggelengkan kepala.
"Berhenti berpura-pura kuat, Fura! Buah dari keputusan yang kamu tempuh ini aku tau tidak mudah. Menjadi satu-satunya itu lebih menyenangkan, dan aku serius pada kata-kata yang kulontarkan pada suamimu tempo hari!"
"Kata-kata apa?"
"Aku siap membahagiakanmu!"
"Kakak ngaco!"
"Ini serius!"
"Kita bicara tentang pemulihanku saja! Besok aku akan terapi lagi, kan?" Fura menoleh menatap Billy
"Terapi setiap hari itu tidak bagus. Tubuhmu butuh rehat!"
"Aku ingin sembuh!"
"Aku juga ingin kamu secepatnya sembuh dan bisa mengambil jalan untuk hidupmu ke depan!"
"Jalan apa lagi yang harus aku ambil? Ini jalanku! Mendampingi mas Syafiq!"
"Fura ...!"
"Hemm?"
__ADS_1
"Berjanjilah! Jika sembuh kamu harus berani bersikap! Syafiq itu jelas tak adil! Berhenti mempertahankan sesuatu yang nyatanya hanya menyakiti!" Billy menatap intens wajah Fura, menatap pesona cantik di hadapannya.
"Jadi besok kita terapi apa, Kak?"
"Kenapa mengalihkan pembicaraan?"
"Karena aku ingin berhenti menjadi beban!"
Billy membalik wajah, "Terapi listrik besok. Aku akan menjemput!"
Tanpa aba-aba, dari belakang sepasang lengan melingkar ke leher Fura dan wajahnya terus mencium bahu itu. "Siapa yang akan dijemput Dr. Billy besok, hem?" Syafiq mengangkat wajah dan menoleh ke arah wajah Fura, ia menciumi pipi itu.
"Bii, ish ... ada Kak Billy jangan begini!"
"Biar saja! Kamu itu istriku, aku berhak menciummu di manapun!" Billy membuang pandangnya dan menggeleng-geleng atas perilaku Syafiq yang terkesan sengaja dan kekanakan.
"Sekarang jawab! Apa yang sedang kamu rencanakan, Dokter Billy?" ujar Syafiq saat tubuhnya telah mendarat di kursi di sisi Billy.
"Besok aku akan menjemput Fura untuk terapi listrik!"
"Terapi lagi? Bukankah hari ini sudah?" ucap Syafiq.
"Aku yang memintanya, Bii. Aku ingin cepat pulih!"
"Begitu rupanya, baiklah aku sendiri yang akan mengantarmu besok!" Syafiq menghadapkan wajahnya ke arah Fura.
"Tidak perlu begitu Pak Syafiq, biar saya yang menjemput Fura! Lagi pula Bapak harus selalu berada di sisi istri kedua Bapak, bukan?"
"Jangan lupa batasanmu, Dokter! Oke baik, sudah malam kami perlu istirahat jadi Dokter lebih baik pulang juga!"
"Tentu, ini aku juga akan pulang! Kita bertemu besok Fura!"
_______________
"Apa tidak boleh kekanakan terhadap istrinya?" Syafiq duduk di sisi Fura dan terus menyapu wajah itu.
"Bukan tidak boleh, tapi tidak di hadapan orang lain juga, kan?"
"Tapi aku senang melakukan di hadapan orang lain, terutama di hadapan Kakak doktermu itu!"
"Jawza-ku cemburu?"
"Tentu saja!" Dan bibir itu sudah menyusuri wajah Fura dengan sangat lembut.
"Cantik! Juriyy-ku sangat cantik!" Fura tersenyum.
"Bii ... dalam hitungan hari atau bahkan hitungan jam kamu akan menggendong bayi mungil lagi. Kamu pasti sangat senang menjelang detik-detik itu, bukan?" Syafiq menatap Fura dan tersenyum.
"Rasanya sama seperti saat aku menantikan kelahiran Hana dan Omar dari rahimmu ini!" Wajah Syafiq sudah berada di atas perut Fura dan menciuminya.
"Bii ... sudah! Geli ...!" Syafiq tersenyum, ia bangkit dan mengangkat tubuh Fura hingga duduk bersandar pada head board ranjang.
"Katakan, nama apa yang menurut Juriyy-ku bagus untuk anak ketigaku?"
"Harusnya kamu menanyakan hal itu pada mbak Shofi dan bukan padaku, Bii!"
"Tapi aku mau nama darimu!" lengan itu menarik kepala Fura hingga bersandar di bahunya.
"Nama apa yaa ... anakmu perempuan bukan?"
__ADS_1
"Begitu sesuai prediksi."
"Hemm, bagaima-na ji-ka ... Zidna atau Zidni."
"Bagus. Dan kepanjangannya?" antusias Syafiq.
"Kepanjangannya harus Jawza-ku dan ibu kandungnya yang mencarinya!" Syafiq mengangguk.
"Juriyy ...."
"Hem?"
"Terima kasih!" Syafiq mendekap raga itu.
"Jauza-ku sangat senang mengucapkan terima kasih. Apa bersama mbak Shofi sangat membahagiakanmu, Bii?" Syafiq mengangkat kepalanya dan menyapu kepala Fura.
"Aku berterima kasih bukan karena kehadiran Shofi tapi karena kehadiranmu di sisiku!"
"Iya, karena aku mengizinkanmu bersama mbak Shofi, bukan?" Fura tampak menarik napasnya panjang menetralkan segala sesak.
"Bukan tentang Shofi. Tapi tentangmu! Aku sangat bahagia memilikimu, Juriyy. Semoga kita akan selalu bersama seperti ini! Rasa ini sangat dalam hingga sulit kuungkapkan tapi rasa itu tak pernah hilang bahkan bertambah kuat sebab ketulusanmu selalu memikirkan tentangku!" Syafiq bermonolog dalam hati.
"Kenapa diam, Bii?" tanpa aba-aba Syafiq mendekap raga itu lagi. menghirup harum yang masih tetap sama sejak pertama mereka bertemu. Menciumi wajah itu hingga bibir keduanya begitu dekat bahkan hembusan napas itu terasa hangat.
"Bii, tunggu! Bukankah kamu harusnya bersama Shofi?"
"Sudah sepekan ini aku di atas, malam ini aku ingin di sini bersamamu!"
"Tapi hari kelahiran mbak Shofi sudah dekat, Bii!"
"Jangan bicara lagi! Aku ingin di sini! Besok aku akan menemani Shofi!"
"Tunggu Bii ...! Ju-jur! Bagaimana rasamu pada-ku ki-ni?" lirih Fura seraya menyapu wajah itu. Ia menahan sesak dan memberanikan diri bertanya hal yang sering ia ragukan dan selalu menenuhi otaknya.
"Pertanyaan a-pa i-ni?"
"Aku tak pernah mendengar kata cin-ta itu la-gi! Aku ingin ta-u .... Apakah ra-sa i-tu masih a-da? Atau kedekatan ini hanya se-batas kewa-jiban atau rasa ka-sihan!"
Suafiq menatap intens wajah Fura. Rahut cemas itu ditangkapnya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengutarakan rasa yang selama ini begitu sulit terucap.
"A-ku cin-ta .... Sa-ngat! Pa-ham!"
Desiran kebahagiaan memenuhi aliran darah Fura mendengar pernyataan Syafiq hingga otaknya terasa panas. Setelah menetralkan sesak, Fura menyunggingkan senyum dengan sangat cantik. Membuat Syafiq tak ragu menyatukan bibir itu.
Rasa yang lagi-lagi masih terasa sama, walau kondisi fisik Fura tak seperti dulu. Penyatuan yang hangat dan saling menuntut, hingga beberapa saat keduanya melepaskan dan tersenyum, kemudian mereka menyatukannya kembali. Tangan Syafiq pun tak tinggal diam, ia terus menelusup mencari yang disukainya.
________________
Di kamar berbeda, Shofi tak dapat memejamkan mata. Ia memilih membersihkan diri untuk mengisi waktu dengan harapan setelah tubuhnya segar ia akan mudah terlelap. Namun anggapan itu nyatanya salah, setelah mandi tubuhnya justru menggigil hebat.
Shofi terus memanggil Syafiq namun jarak yang jauh seakan angin lalu. Berusaha menghubungi ponsel Syafiq, namun dering ponsel itu ternyata ada di sisinya. Ponsel Syafiq ada di kamarnya. Ingin beranjak ke bawah. Bahkan menggerakkan tubuh tak bisa ia lakukan. Bibir dan seluruh tubuhnya bergetar, kedinginan menyeruak. Ia tersungkur di tepi kamar mandi tanpa penutup tubuh.
Ia kacau .... "A-da a-pa i-ni? Ke-na-pa se-per-ti i-ni? Ma-ss .... Ma-ss .... To-longg!!" lirih Shofi dengan air mata mulai mengalir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Sambil nunggu up boleh mampir ke karya terbaru Bubu❤❤
__ADS_1
💔Klik foto profil Bubu dan temukan judul karya tersebut😊