
"Aku memutuskan ini untuk diriku sendiri! Menghindari penyesalanku jika mas Syafiq sampai mencari Shofi lain jika aku pergi!" lirih Shofi.
"Apapun alasanmu aku berterima kasih!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Matahari semakin meninggi saat Shofi memperoleh pesan dari Maria, rekannya saat duduk di fakultas kedokteran mengenai hal yang meresahkannya.
Setelah Syafiq pergi, Shofi memang memutuskan kembali ke kamar dan menghubungi beberapa rekannya, meminta rekomendasi dokter syaraf yang bagus yang mereka ketahui. Beberapa dari mereka telah mengabari tak memiliki koneksi dan informasi menyangkut hal tersebut. Keadaan yang membuat Shofi hampir down, hingga di detik akhir ia memperoleh pesan dari Maria.
"Dr. Billy? Kamu yakin dia dokter yang bagus, kah?"
"Bagus Shof, kami pernah bertemu di sebuah seminar. Saat itu moderator memanggilnya ke depan dan meminta Dr. Billy memberi sedikit prakata mengenai pengalamannya menangani pasien sesuai spesialisnya, saat itu kalau tidak salah ia menceritakan pengalamannya membantu seorang pria lumpuh untuk berjalan kembali."
"Waw, oke! Kirim padaku kontaknya, Mar!"
"Sip. Oh ya, bagaimana kabarmu, Shof. Setelah resign apa aktivitasmu sekarang?"
"Sementara aku di rumah saja, menikmati kehamilanku!"
"Kapan kamu menikah? Mengapa aku tak mendengar berita pernikahanmu?" kaget Maria.
"Iya aku su-dah menikah. Oke ada yang harus kulakukan. Sudah dulu ya, Maria. Kutunggu nomer kontak Dr. Billy!"
"Baiklah kalau begitu. Jaga kesehatanmu selalu, Shof!"
"Terima kasih ...."
"Alhamdulillah ... semoga Dr. Billy bisa membantu dan proses terapi Fura bisa segera dilakukan," gumam Shofi.
Tok ... Tok ....
Tak berselang lama, sebuah ketukan mengaburkan lamun Shofi. "Masuk aja, tidak dikunci!" teriaknya.
Raga kecil dengan rok sedengkul dan kaus berwarna putih masuk membawa seberkas senyum. Senyum yang tak asing bagi Shofi, senyum Syafiq.
"Heii ... Hana!"
"Hai Bundaaa," jawab Hana yang membuat hati Shofi seketika berdesir. Shofi tersenyum getir mendengar panggilan Hana padanya.
Kaki kecil mendekat, Hana kini turut duduk di sofa di samping Shofi. "Bunda sedang apa?" ucapnya lagi-lagi menematkan panggilan yang membuat Shofi sesak. Hal yang menyadarkan posisinya yang tak benar dalam keluarga Syafiq, setidaknya begitu fikir Shofi.
"Se-dang san-tai," jawab Shofi singkat.
"Kata Umi di perut Bunda ada adik Hana, apa itu benar?" Shofi bergeming, hingga beberapa saat ia mengangguk ragu.
"Boleh Hana cium Adik?" Shofi menyingkirkan sesak yang ia rasa dan lagi-lagi mengangguk menatap wajah polos Hana.
Tanpa sungkan Hana mendekatkan wajahnya ke perut Shofi, ia menciuminya. Sejenak Shofi terbawa suasana dan terbayang Syafiq saat melakukan hal yang sama pada perutnya.
"Hai Adik, ini kakak Hana ... nanti kalau kamu sudah keluar dari perut Bunda, kita main bersama, yaa!" lirih Hana mengajak bayi dalam perut Shofi berbincang. Hal yang membuat Shofi spontan menyapu rambut ikal Hana. Ia merasa tersentuh dengan prilaku putri suaminya tersebut.
"Hana ...," panggil Shofi.
"Iya, Bunda!"
"Ke-napa Hana panggil tante Bun-da?" Shofi melontar tanya yang ada di otaknya.
"Tadi Ibu Kania dijemput Abi Yusuf di sekolah. Abi Yusuf bawa baby Mikail yang sangat lucu. Hana ceritakan pada Umi. Hana juga bilang ingin punya adik bayi seperti baby Mikail. Kata Umi sebentar lagi Hana juga akan punya adik dari perut Bunda. Kata Umi ... tante Shofi juga ibu Hana." Mendengar penuturan Hana lagi-lagi Shofi heran dengan ketulusan wanita pertama suaminya. Dadanya semakin berdesir dan keinginan menyembuhkan Fura semakin kuat.
"Tante ... maaf maksudnya Bunda, apa boleh tau siapa ibu Kania dan Abi Yusuf itu?" Hana mengangkat wajahnya menatap Shofi.
"Ibu Kania itu guru Hana di sekolah, Bunda. Kalau Abi Yusuf itu suaminya." Shofi mengangguk memahami.
Tak berselang lama, ketukan kembali terdengar.
"Tantee ... apa kak Hana ada di dalam?"
"Kakak di dalam, Omar. Masuk saja!" pekik Hana seketika.
"Boleh kan, Bunda?" Sesaat Hana sadar jika ia belum meminta izin Shofi apakah adiknya boleh masuk atau tidak. Shofi mengangguk, Hana pun tenang. Sebuah senyum kembali tergambar. Senyum yang membuat Shofi tertegun. Lagi-lagi bayang Syafiq terlihat di wajah Hana.
"Apakah anakku kelak juga akan mirip mas Syafiq?" tiba-tiba terlontar tanya di benak Shofi.
__ADS_1
"Kakak kenapa di kamar, Teman abi?" tanya Omar seketika saat raganya masuk. Tak berselang lama mbak Kinan ikut masuk mengejar Omar.
"Omar sini! Apa kamu tidak mau menyapa adik kita?"
"Adik apa?"
"Adik kita di perut Bunda!" Hana dengan lugas menyatakan fikir otaknya pada Omar.
Omar menatap Shofi seketika, "Kenapa Kakak panggil teman Abi, Bunda?"
"Kata Umi tante Shofi ibu kita juga Omar! Di perut Bunda juga ada adik kita!" Wajah Omar menyipit menatap Shofi bingung. Shofi bergeming, hatinya was-was dengan reaksi Omar.
"Ibu aku hanya Umi, Kakak. Aku tidak mau ibu lain!" gusar terlihat di wajah Omar. Mbak Kinan tak kalah bingung terus menatap Shofi dengan pandangan aneh.
"Tanya saja sama Umi kalau kamu nggak percaya!" lontar Hana dan seketika Omar berbalik meninggalkan kamar Shofi.
Detak jantung Shofi tak teratur, reaksi Omar tak seperti Hana. Tampak penolakan di otak Omar.
"Tidak ... tenang Shofi! Mereka hanya anak-anak! Yang terpenting Fura terlebih Syafiq senang kamu ada di tengah mereka," monolog Shofi.
"Tante, maaf Bunda ke kamar mandi dulu ya, Sayang!" lirih Shofi. Hana mengangguk. Baru saja hendak melangkahkan kaki ke kamar mandi, ponselnya berdering. Panggilan dengan nomer tak dikenal, Shofi mengangkatnya.
"Halo, Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam, benar saya bicara dengan dokter Shofi?"
"Benar. Maaf ini siapa, ya?"
"Saya Billy, saya dihubungi teman bahwa dokter Shofi sedang membutuhkan bantuan saya!"
"Benar, bisa kita bertemu, Dok!"
"Mungkin besok jam 11 pagi saya bisa meluangkan waktu!"
"Kalau siang mas Syafiq bekerja. Padahal aku juga ingin mas Syafiq memastikan pula dokter yang menangani Fura. Agar segalanya berjalan nyaman," batin Shofi.
"Dr. Shofi ...?" Billy bingung tidak ada jawaban dari Shofi.
"Hmm ... oke bisa! Kirim alamat yang harus saya datangi!"
"Baik. Terima kasih banyak sebelumnya, Dok."
"Kembali. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam."
Bukan ke kamar mandi setelahnya, Shofi mendudukkan dirinya di tepi ranjang menghubungi Syafiq.
"Bunda tidak jadi ke kamar mandi?" tanya Hana mendekat.
"Bunda ada keperluan dengan Abi dulu ya, Nak."
"Bunda telepon Abi?" Shofi mengangguk.
"Mass ...!" ucap Shofi tiba-tiba saat panggilannya tersambung.
"Haii Sayang ... hal apa yang membuatmu begitu bersemangat menghubungiku bahkan lupa melontar salam, hem?"
"Maaf .... Assalamu'alaikum, Mass ...."
"Wa'alaikumsalam. Katakan ada masalah apa, Shof?"
"Mass ... bisakah nanti kita keluar? Aku sudah menemukan dokter syaraf yang bisa membantu menyembuhkan Fura, dan ia mengajak bertemu malam ini!"
"Harus malam ini?"
"Harus, Mass! Aku ingin pengobatan Fura cepat dimulai."
"Tadinya ada seorang teman yang ingin main ke rumah, tapi ternyata ia harus segera ke Surabaya dan silaturahminya di cancel. Aku pun berniat mengajakmu ke dokter kandungan. Ingin memastikan perkembangan calon anak kita, tapi ternyata kamu punya rencana lain ...."
"Hmm ... atau ba'da magrib kita ke dokter kandungan baru setelahnya bertemu dokter syaraf itu. Bagaimana menurutmu, Mas?" ucap Shofi kembali.
"Jika poli kandunagn ramai pasien?" kilah Syafiq.
__ADS_1
"Aku punya kontak dokter Catrina, aku akan membuat janji dari sekarang, agar setelah magrib kita bisa langsung masuk!"
"Bisa seperti itu?" Syafiq tampak ragu.
"Tentu bisa!"
"Baiklah kamu atur saja!"
"Bunda ... Hana juga mau bicara dengan Abi!" Hana yang sejak tadi menyimak melontar kata.
"Iya, Sayang!" Shofi berbicara pada Hana baru kemudian berbicara pada Syafiq di ponselnya. "Mas, Hana ingin bicara!"
"Oh ... ia bersamamu?"
"Iya."
"Baiklah coba loadspeaker ponselmu!"
Ponsel sudah berpindah ke tangan Hana dengan suara yang muncul keluar. "Abii ... sedang apa? apa sudah makan siang? Apa hari ini pekerjaan Abi banyak? Apa kepala Abi pusing?" Hana terus melontar tanya yang biasanya ditanyakan Fura saat Syafiq menghubungi.
"Abi sedang menggambar di tempat kerja, Abi sudah makan dan betul pekerjaan Abi banyak!"
"Abi jangan letih-letih ya! Kalau kerja tetap harus jaga kesehatan! Harus banyak minum! Jangan terlalu memaksakan diri!" Shofi terus tersenyum mendengar celoteh Hana yang begitu dewasa. Hingga beberapa saat terdengar Syafiq menyahut.
"Iya Juriyy kecilku." Dan Shofi sesak saat panggilan teruntuk Fura terdengar telinganya.
"Haa ... Apa Hana sudah seperti Umi, Abi?"
"Ternyata kata-kata yang dilontar Hana adalah kata-kata yang biasa dilontar Fura ...," batin Shofi.
Baru saja Shofi hendak beranjak tapi ia urungkan. Inilah keadaan yang harus ia hadapi, seperti halnya Fura lapang dada menghadapinya. Shofi merasa harus melakukan hal yang sama. Akhirnya Shofi tetap duduk di sisi Hana dan memperhatikan interaksi ayah dan anak tersebut.
"Sudah sangat mirip! Sekarang katakan apa yang Hana lakukan bersama tante Shofi? Apa Hana menganggu, Tante?"
"Hana habis berbicara dengan adik bayi di perut Bunda, Abi ...!" Syafiq kaget dengan panggilan baru Hana tapi Syafiq senang.
"Oh-ya, iya benar di perut Bunda ada adik Hana yang sangat lucu. Bahkan nanti malam Abi mau lihat adik ke dokter!" Karena bahagia Syafiq melontar kata yang ada di otaknya.
"Apa Hana boleh ikut lihat adik?"
"Tentu saja! Baiklah Abi harus melanjutkan pekerjaan Abi, salam untuk Umi, ya!"
"Tunggu ... tunggu Abi! Ada yang belum Hana ucapkan!"
"Hem?" sesaat Syafiq bingung.
"Aku selalu mencintaimu, Bii," ucap Hana seketika. Tak ada sahutan.
"Kenapa diam! Ayo dijawab Abii?"
"Hmm ... A-ku--- juga selalu mencintaimu malaikatku!" lirih Syafiq.
"Bukan itu jawabnya!"
"Hmmm ...?"
"Panggilan Umi! Masa Abi lupa sih?"
"Juriyy-ku."
"Yeaaa ... sempurna!" pekik Hana.
"Sudah ... sudah ya, Assalamu'alaikum, Sayang ...!"
"Wa'alaikumsalam, Abi ...!"
Dada Shofi sesak. Ia masih bergeming setelah mendengar obrolan Hana dan Abinya tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Maaf baru up. Selamat Hari Merdeka! Semoga Negri kita lekas merdeka dari berbagai virus dan hal buruk yang ada💪💪❤❤
__ADS_1