
"Aku berangkat dulu! Ingat, jangan sangsikan rasaku padamu!" bisik Syafiq, Fura tersenyum. Tak berselang lama bayang Syafiq menghilang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi jenis kelaminnya perempuan, Dok?" berbinar Syafiq mendengar penuturan Dr. Cartina. Setelah sepasang buah hati ia miliki, jenis kelamin putra ketiga sesungguhnya sudah tak menjadi prioritas, alias apapun ia akan senang. Tapi Syafiq yang memang menyukai anak perempuan, merasakan kebahagiaan lebih saat mengetahui prediksi yang sesuai harapnya.
"Betul, Dad. Usia kandungan 25 minggu, memasuki 6 bulan. Kondisi keseluruhan calon bayi bagus, namun tetap harus dijaga kondisi emosional Mom, pola makan, juga tubuh Mom kalau bisa jangan terlalu letih. Karena apapun yang dirasakan Mom sejatinya sedang dirasakan sang bayi dan akan membentuk pribadi kedepan buah hati Mom dan Dad." Syafiq mengangguk paham dengan kata-kata yang dilontar Dr. Catrina.
"Apa ada lagi yang ingin ditanyakan?"
Setelah melirik Hana yang tampak sibuk mendekati layar monitor yang menampilkan gambaran adik bayinya, Syafiq berujar. "Dok beberapa waktu lalu istri saya sempat mengalami pendarahan yang memang tak banyak dan sudah ditangani dokter. Tapi jujur saya agak takut untuk berhubungan badan, khawatir berpengaruh pada calon bayi saya. Bagaimana menurut Dokter?" Tampak Shofi menatap wajah Syafiq berusaha memahami yang suaminya rasakan. Syafiq menarik sedikit sudut bibirnya ke atas tersenyum pada Shofii.
"Saya tidak tau yang terjadi sebelumnya pada calon bayi kalian, tapi yang saya lihat hari ini rahim Mom cukup kuat, calon bayi sehat dan bergerak aktif, detak jantung pun bagus. Jadi tidak ada kendala untuk berhubungan. Ini bukan calon anak pertama, tentunya Dad tau bahwa posisi dan gerakan yang nyaman akan menyamankan calon bayi Mom dan Dad pula." Syafiq mengangguk.
"Ada lagi?" Shofi menatap Syafiq, terlihat Syafiq menggeleng.
"Oke jika semua sudah cukup jelas. Tetap akan saya buatkan resep vitamin dan asam folat sebagai penunjang perkembangan calon bayi. Harus di minum setiap hari ya, Mom!" Shofi mengangguk.
Tak berselang lama ketiganya meninggalkan Rumah Sakit dan segera menuju ke sebuah cafe tak jauh dari Rumah Sakit berada.
Pria dengan kaos putih berkerah casual dipadu jeans hitam tampak terlihat di meja yang telah Shofi pesan beberapa sat lalu.
Melihat kedatangan 3 orang yang mendekat pada mejanya. Pria yang merupakan Dr. Billy berdiri. Ia mengangguk dan membalas uluran tangan Syafiq yang mengarah padanya.
"Perkenalkan, saya Syafiq dan ini Shofi, istri saya," ujar Syafiq merangkul bahu Shofi. Melihat ketampanan Billy, ada rasa khawatir di hati Syafiq.
"Billy. Billy Ardiansyah," balas Billy.
"Mari silahkan duduk kembali!" utar Syafiq setelahnya.
__ADS_1
"Aku Hana, anak abi Syafiq yang tampan!" seloroh Hana tiba-tiba melihat Syafiq tak memperkenalkan dirinya. Billy tersenyum dan menyapu kepala Hana.
"Hai Hana, putri cantik dengan mata yang indah!" Sesaat Billy memperhatikan Hana serasa tak asing dengan wajah itu. Tapi segera ia buang fikir itu.
"Oke bisa ceritakan kondisi pasien yang akan saya tangani!"
Syafiq menjelaskan dengan rinci riwayat kondisi Fura, hal yang menyebabkan cidera, juga berbagai terapi yang dulu pernah mereka lakukan. Billy tampak mengangguk-angguk mendengar ujaran Syafiq.
"Sudah berapa lama kondisi tersebut menimpa pasien?" tanya Billy dengan rahut serius.
"Dua Tahun delapan bulan kurang lebih."
"Oke sebelum saya menentukan tindakan yang akan saya lakukan. Saya harus mengetahui seberapa berat kondisi pasien, untuk itu beberapa pengecekan harus dilakukan!"
"Pengecekan apa saja, Dok?"
"Lalu kapan pemeriksaan itu bisa dimulai?"
"Besok bawa pasien menemui saya di tempat saya praktek, jangan lupa untuk membawa riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan, seperti hasil tes laboratorium, foto Rontgen, CT scan, MRI, EEG, atau EMG yang pernah dijalani. Jenis obat, suplemen, atau produk herbal yang pernah dikonsumsi juga tolong dibawa!"
Syafiq menatap Shofi, "Aku besok tidak bisa libur, Sayang!" bisik Syafiq.
"Aku yang akan membawa Juriyy-mu, Mas!"
"Sendiri? Kamu yakin?"
"Bukankah ada teh Rani, ia akan sangat membantuku!" Syafiq diam sesaat baru mengangguk setelahnya.
"Oke besok istriku akan datang ke tempat praktekmu, Dok!" Syafiq lagi-lagi berucap sembari merangkul bahu Shofi membuat Billy tersenyum-senyum melihatnya.
__ADS_1
"Suami yang posesif!" batin Billy.
Beberapa saat kemudian ketiganya berpisah. Di rumah Syafiq berbicara bertiga bersama Fura dan Shofi. Ia menuturkan pada Fura perihal pemeriksaan yang harus dilakukannya esok. Fura yang awalnya ragu, melihat kedua orang di hadapannya seakan tak main-main ingin menyembuhkannya akhirnya mengangguk.
Ia membuang jauh kemungkinan kegagalan itu. Hal yang dulu ia rasa, berbagai terapi yang tak membuahkan hasil di masa lalu. Kali ini ia merasa harus bangkit dan lebih semangat. Namun ada hal yang mengganjal di otaknya. Ia meminta bicara berdua dengan Shofi sebelum kembali ke kamar.
•
•
"Aku dengar dari mas Syafiq kamu yang berkeras ingin memulihkanku dan mencari dokter syaraf itu. Katakan! Semua untuk apa, Mbak? Bukankah keadaanku yang seperti ini baik untukmu? Setidaknya kamu tidak harus berbagi raga mas Syafiq denganku yang tak bisa melayaninya!" lugas Fura.
Shofi menatap lekat Fura baru menjawab. "Itu yang tak kusuka mbak Fura! Kamu bukan lawan sebanding untukku! Selamanya aku akan dikatakan mengintimidasi kelemahanmu! Aku wanita kedua egois yang tak memikirkan perasaan istri pertama yang sedang kesakitan! Aku ingin kamu sembuh. Agar kita bisa imbang melayani suami kita. Bagaimana?" ucap Shofi.
Shofi menutup rapat kesepakatannya dengan Syafiq yang akan pergi setelah Fura pulih. Fura yang baik pasti akan menolak hal itu mentah-mentah. Bahkan bisa jadi Fura akan berbalik dari segala pengobatan itu jika tau motif Shofi sebenarnya.
"Kenapa harus ada kata lawan sebanding? Kita bisa berangkulan di sisi suami kita, bukan?" Fura melontarkan isi otaknya. Otak baik yang tak menerima perkataan buruk yang tak sesuai hatinya.
"Tapi aku tidak berfikir begitu!" Shofi segera beranjak hingga ia tiba-tiba berhenti dan berbalik di muka pintu. "Oh ya Mbak, malam ini mas Syafiq bersamaku, bukan?" Fura masih menatap Shofi tak habis fikir dengan pemikiran dan sikap madunya yang terkadang baik dan terkadang buruk padanya. Ia mengangguk setelahnya.
Shofi meninggalkan ruangan dengan hati yang sesak. "Maaf aku bersikap kasar padamu Fura! Aku tidak ingin kamu merasa aku mengasihanimu! Aku hanya ingin suatu saat mengembalikan apa yang menjadi milikmu pada tempatnya tanpa harus merasakan terbagi lagi setelahnya!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Dr. Billy
__ADS_1