TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

"Kenapa dokter Billy seolah sudah mengenal Fura lama. Apa mereka saling kenal! Aku harus mencari jawaban dari Fura!" batin Syafiq yang terbakar cemburu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Buka mulutmu, Juriyy!"


"Bii, tadi pagi aku sudah minum obat, perutku sudah membaik."


"Minum lagi, ya! Kamu tau, aku sangat khawatir tadi. Ini obat lambung tidak pahit!" Fura terus menggeleng.


"Demi aku, tolong jangan sakit! Buka mulutmu please!" Syafiq terus memohon sambil menciumi jemari Fura. Syafiq sangat tau bagaimana membuat Fura luluh hingga akhirnya menurut. Dan benar, dalam hitungan detik gelengan itu berubah jadi anggukan.


"Pintar. Terima kasih!" lirih Syafiq setelah tablet maag masuk ke mulut Fura. Tampak netra Fura menyipit menahan rasa getir di mulutnya.


Syafiq menarik kepala Fura hingga bersandar di bahunya, jemarinya terus menyapu kepala itu. Hingga akhirnya Syafiq mengeluarkan kata yang memenuhi otaknya.


"Jujur aku tidak suka melihat dokter itu tadi!"


Wajah Fura seketika mendangak menatap wajah Syafiq. "Bukankah Jawza-ku sudah bertemu dokter itu sebelumnya? Jawza-ku pula yang menyetujui ia menanganiku!"


"Betul. Tapi sekarang aku tidak suka!"


"Kenapa?"


"Tatapan dan cara ia menanganimu tadi sepertinya tidak pure aktivitas seorang dokter!" Fura sadar Syafiq sedang cemburu. Ia senang melihat perilaku posesif Syafiq ditunjukkan kembali setelah sekian lama ia tak mendapatinya. Namun Fura memilih berpura bodoh.


"Betulkah terlihat seperti itu? Aku bahkan tidak merasakan apa pun saat ia memijatku," ucap Fura mempertegas segalanya.


"Memijat, ahh ... lewati tahapan itu! Terapi apa yang dokter Billy katakan padamu setelahnya?"


"Kalau tidak salah, tehnik Gait dan hidroterapi."


"Hidroterapi? Terapi di dalam air maksudmu? Ahh ... apa perlu terapi seperti itu?" gusar Syafiq mengangkat tubuh dan menyilangkan kakinya sambil menatap intens wajah Fura.


"Katanya penting, Bii! Tekanan air akan membantuku menopang beban tubuh dan membuat otot-ototku menjadi lebih kuat!" lontar Fura.


"Saat terapi itu dilakukan aku harus ada di sana!"


"Bukankah pekerjaanmu banyak! Tidak perlu ikut, lagi pula aku tidak mau pekerjaanmu terhambat karena aku!" Syafiq bergeming, ia meraih jemari Fura kembali.


"Juriyy ... jujurlah, bualan apa yang dokter itu katakan hingga membuat wajahmu merona dan terus menatapnya seperti tadi, hem?"

__ADS_1


"I-tu-----


"Apa sepekan ini kalian sudah bicara banyak hal hingga makanan kesukaanmu pun ia sampai tau?"


"Apa Jawza-ku sedang cemburu?" Fura menatap Syafiq dan tanpa aba-aba Syafiq menarik raga itu ke pelukannya.


"Pertanyaan bodoh! Tentu aku cemburu ada laki-laki lain yang menyentuh dan menatap terus padamu!" Otak Fura mendadak panas, desiran itu terus naik menghantarkan rasa tak biasa. Rasa yang dulu sering ia rasa saat bersama suaminya tersebut.


"Kenapa diam saja? Seberapa dekat kalian? Atau jangan-jangan kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Syafiq, bibirnya terus mengecup puncak kepala Fura.


"Sebetulnya di-a ...." Fura bimbang haruskah ia memberitahu Syafiq? Jujur ia sangat senang Syafiq cemburu. Satu sisi hati hatinya ingin membiarkan kecemburuan itu, mengatakan hubungannya dan Billy di masa lalu hingga tetap merasakan desiran akibat kecemburuan Syafiq. Tapi di sisi lain ia tak tega jika Syafiq terus salah paham. Ia ingin berbohong saja tak mengenal Billy. Fura bergeming terus berfikir.


"Heii ... kenapa kata-katamu terputus?" Tangan itu sudah merangkum wajah Fura, dan kecupan mendarat di pelipisnya.


"Apakah ini bukti cinta itu masih ada? Rasa yang tetap ada walau tak sebesar dulu. Rasa yang tak terbingkai ucapan cinta, namun aku masih bisa merasakannya. Mas Syafiq ...."


"Bicaralah Juriyy, atau aku bisa gila karena berprasangka pada kalian!" Bibir itu mendarat sekilas ke bibir Fura, menyadarkan keterpakuan Fura.


"Oh Bii, Bi-lly sebenarnya adalah teman masa kecilku!" Ya ... Fura akhirnya memutuskan jujur. Bagaimana pun kebohongan adalah hal tidak benar.


"Teman? Juriyy-ku tak pernah menceritakan hal ini sebetulnya!"


"Kakak?" Syafiq menyugar rambutnya, rasa cemburu itu masih ada. Ia menyesal telah menjadi perantara pertemuan Fura dengan Billy.


"Katakan sedekat apa hubungan pertemanan kalian?"


"Jawza-ku sangat berlebihan. Kami hanya sebatas teman, tidak lebih. Dulu kami bertetangga dan banyak menghabiskan waktu bersama. Dulu kak Billy selalu menjemputku sepulang sekolah, dia---"


Jemari Syafiq sudah di ambang bibir Fura, ia tak senang dengan cerita itu. "Sudah jangan dilanjut!" lirih Syafiq.


"Besok aku libur! Aku akan mendampingimu terapi!"


"Bii ... aku pergi bisa bersama teh Rani dan mang Anto. Kamu pergi saja dengan mbak Shofi dan anak-anak, aku mengizinkannya."


"Aku sedang ingin menemanimu terapi. Sebulan ini aku sibuk hingga tak mendampingimu, tapi ternyata banyak hal yang terlewat dariku!"


"Jangan belebihan, Bii!" Tangan Fura menyapu pipi Syafiq. Syafiq memejamkan mata hingga tangannya sudah berada di belakang kepala Fura, menahannya.


"Jangan Bii, malam ini seharusnya kamu bersama mbak Shofi!"


"Kamu sedang sakit, aku akan menemanimu! Shofi pasti mengerti."

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak mau mengambil hak wanita lain! Adil! Kamu harus adil, Bii!"


"Juriyy, please!"


"Aku mengingatkan karena mencintaimu, tak ingin hal kecil yang diremehkan memberatkanmu!"


Syafiq membuang napasnya kasar, "Satu ciuman dan aku akan pergi!"


"Nanti Jawza-ku akan berbuat yang lain!"


"Tidak!" Wajah Syafiq mengiba. Fura terdesak, ia akhirnya mengangguk.


Fura terbawa tautan bibir Syafiq hingga tak menyadari jemari itu sudah membuka satu persatu kancing piyamanya. Jemari itu menyusup kebelakang dan membuka sepasang pengait setelahnya.


"Astaga Bii ... !" lirih Fura menyadari pengaitnya terlepas


"Hanya sebentar! Dan aku akan ke kamar Shofi!"


Fura mengelengkan kepala sembari menarik napas panjang. "Dulu mas Syafiq cukup dengan ini semua, tapi aku yang menyeretnya ke pelukan Shofi. Aku salah ... harusnya aku tak menyuruhnya menikah lagi! Kini nasi itu telah menjadi bubur! Aku harus berbagi raga suamiku ...."


______________


Di kamar berbeda, Shofi gelisah Syafiq tak juga datang. Berusaha memejamkan mata tapi sulit.


"Syafiq menggenggam jemari Fura itu wajar! Kenapa aku cemburu! Fura juga istrinya, tapi hatiku tak suka. Ini yang tak kusuka dari berbagi, melihat kebersamaan orang yang kita cinta dengan orang lain. Dan kini ... mas Syafiq bahkan lupa malam ini harusnya ia di kamarku. Sedang apa mereka? Apa ia mulai tak adil? Hahh, andai aku tegas untuk pergi, aku tak akan merasakan perasaan hari ini ...."




Pukul 22:05 Pintu kamar Shofi terbuka. Syafiq terus menatap Shofi yang tengah tertidur.


"Andai aku terbuka sejak awal sebelum rasa itu muncul dan keinginan memiliki lebih itu hadir, semua tak akan seperti ini. Aku bersalah pada Shofi, tapi aku sedang ingin bersama Juriyy-ku beberapa saat lalu ... maaf Sayang membuatmu menunggu hingga tertidur!"


Syafiq mencium bahu Shofi dan menyapu perut membuncit itu, ia memiringkan tubuh setelahnya membelakangi wanita keduanya tersebut dengan berbagai hal memutari otaknya.


"Aku menyingkirkan Raihan dari Shofi tapi mendekatkan Billy yang merupakan teman masa lalu Fura. Mereka hanya teman harusnya aku tak cemburu. Tapi entah mengapa melihat pandangan mata Billy seolah menyiratkan perasaan lebih. Bagaimana ini, padahal mereka akan sering bertemu ...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2