
"Tapi dompetmu ada padanya! Ayo kita turun, ia menunggu kita!"
"Me-nung-gu?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pintu kokoh berwarna coklat terbuka. Tampak wanita paruh baya dengan balutan atasan kemeja full kancing dan rok tiga perempat bermotif bunga terlihat di sana. Ia mengangguk menatap Syafiq, Syafiq membalasnya. Dari arah luar mang Anto mendorong koper Shofi dan meletakkannya di tepi ruang tamu. Ia pergi setelahnya.
Baru 2 langkah kaki Shofi masuk, seorang gadis kecil dengan dress sebawah dengkul berlari mengetahui kedatangan Syafiq. Shofi tak asing dengan wajah itu. Ya ... mereka memang pernah bertemu di Gramedia, ia adalah Hana putri pertama Syafiq dan Fura.
"Abiii ...." Lengkingan panjang Hana memenuhi seisi rumah tersebut. Syafiq spontan membuka tangan dan membungkuk bersiap meraih tubuh kecil yang berlari menujunya.
Dada Shofi sesak, melihat gadis kecil yang merupakan buah cinta suaminya dengan wanita lain membuat nuraninya sebagai wanita teriris. Hal yang menyadarkan akan status kosongnya, status yang tak pernah terdaftar di pengadilan negeri mana pun. Ia yang masuk dalam ikatan Syafiq, Fura dan putri kecil mereka.
"Pantaskah aku cemburu?" batin Shofi.
HAP ...
Raga kecil Hana masuk dalam dekapan lengan kekar Syafiq. Melihat interaksi Syafiq dan putrinya dalam jarak begitu dekat hati Shofi tak kuat. Ia baru saja hendak memundurkan tubuhnya namun jemari Syafiq dengan cepat menahannya. Menggenggam sangat erat tak ingin Shofi beranjak. Otot-otot Shofi melemah, ia pasrah dan tetap berdiri di tempatnya.
Belum lagi dekapan 2 insan terlepas. Sosok pria kecil menggenggam robot muncul dari sebuah ruangan. Wajahnya berbinar tak kalah antusias dari bocah kecil sebelumnya, ia berlari pula menghampiri raga pria yang dipanggil abi tersebut.
Dan Shofi lagi-lagi terhenyak. Ia fikir hanya ada satu raga kecil yang ia curangi haknya, tapi ada satu lagi. Shofi memejamkan mata sembari menggelengkan kepalanya. Matanya berkaca, berkali-kali ia menarik napas panjang lalu membuangnya, berusaha menahan emosinya, jika tidak bulir-bulir itu akan lolos dengan mudah.
Dua raga kecil berada dalam dekapan Syafiq, hingga beberapa saat jemari-jemari kecil mulai melepaskan tubuh abinya. Mereka saling berebut mencium wajah Syafiq. Syafiq melirik Shofi yang membuang wajahnya ke jendela. Syafiq menyadari situasi ini pasti tak mudah untuk Shofi.
"Abi tumben pulang cepat, sih?" Hana mulai mengeluarkan suaranya.
"Iya, pekerjaan Abi sudah selesai."
"Kalau begitu nanti sore kita jalan-jalan ke Alun-alun ya, Abi! Hana mau makan ice cream di sana!" Syafiq tersenyum.
"Abi ... Omar juga mau ice cream strobelli!" Pria kecil yang baru bisa mengucap huruf R tampak masih belum bisa membedakan peletakan huruf R dan L, sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Nanti malam Abi tidak pergi, kan? Hana senang dengar cerita binatang seperti kemarin sebelum tidur!" Syafiq mengangguk sembari mencuri pandang Shofi yang terus menunduk.
"Seorang anak merindukan abinya, ia senang abinya membacakan cerita untuknya. Abi yang biasanya sering tak pulang dan tidur dalam dekapanku. Hahh .... Mengapa jalan hidupku begitu rumit ...!" Shofi bermonolong dalam diam.
Omar tampak melirik Shofi. Ia yang baru menyadari ada orang asing di rumahnya seketika memundurkan tubuh dan bersembunyi di belakang Syafiq.
Berbeda dengan Omar, Hana yang mengingat wajah wanita dewasa yang datang bersama abinya adalah wanita yang sama dengan sosok yang menolong uminya langsung menyunggingkan senyum.
"Haii, Tante baik," sapa Hana meraih jemari Shofi dan menciumnya. Shofi tersenyum getir, memaksa tersenyum lebih tepatnya. Nuraninya berontak, "Andai gadis kecil ini paham aku wanita kedua abinya. Apa ia akan tetap sopan seperti ini padaku?" pilu Shofi.
"Omar, kamu jangan takut! Ini tante baik yang tolong umi di Toko Buku. Dia tidak jahat!" Hana mengulurkan tangan agar Omar keluar dari persembunyiannya.
"Kakak benar, Sayang. Ayo cium tangan Tante!" pinta Syafiq.
Shofi menggeleng pelan, tak ingin Syafiq memaksa Omar melakukan inginnya. Syafiq mengangguk. Terlihat Omar berlari ke arah ruang keluarga.
"Oh ya Sayang, umi di mana?" ujar Syafiq tiba-tiba yang membuat Shofi seketika menatap Syafiq dengan rahut aneh. Ada rasa sakit ia rasa, suaminya mencari istrinya, wanita pertamanya. Shofi berusaha keras membuang rasa tidak enaknya. Dalam otaknya ingin segera bertemu Fura, mengambil dompetnya dan segera pergi. Berada dalam situasi rumit ini sungguh tak diharap Shofi. Menjauh adalah pilihan tepat.
Syafiq yang sedang membungkuk menghadapkan wajahnya pada Hana tak menyadari kegelisahan Shofi. Ia masih menatap lekat Hana menunggu jawaban dari sang putri kecil.
Syafiq mengajak Shofi ke ruang tamu dan berucap lirih, "Tunggulah di sini! Aku akan segera kembali!" Shofi mengangguk.
•
•
Di dapur, Syafiq melihat Fura tengah minum di sisi lemari es. Ia segera membungkuk meletakkan kedua jemarinya di lengan Fura. Ia mendaratkan dagunya di bahu kiri Fura setelahnya. "Juriyyku sedang apa?" bisik Syafiq mendekatkan bibirnya di telinga Fura. Jemarinya sudah berpindah ke kepala belakang Fura dan membuat wajah cantik itu menoleh. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Fura.
"Bi, jangan nakal! Ini dapur! Ada 2 ART di sini!"
"Biarkan, mereka tak melihat!" Syafiq meletakkan gelas dan mendorong kursi roda Fura hingga mendekat meja makan. Syafiq duduk di salah satu kursi dan memutar kursi roda Fura menghadap wajahnya.
"Jawzaku terlihat sangat bahagia. Apa kamu datang bersamanya?" tanya Fura melihat wajah merona Syafiq.
__ADS_1
"Juriyyku selalu tau segalanya, benar ia datang. Ia ingin mencari dompetnya," jawab Syafiq mendekatkan lagi bibirnya kini ke kening dan sepasang pipi Fura. Ia sungguh mengabaikan keberadaan 2 ART yang sejak tadi mondar-mandir di sekitar mereka meletakkan satu persatu lauk makan siang di meja makan.
"Untuk apa kecupan barusan? Sebagai balasan aku akan bicara pada Shofi ... a-tau untuk ra-sa cin-ta?" Ucapan terakhir yang penuh keraguan dan agak sulit terucap lolos dari bibir Fura.
Syafiq tersenyum tipis dan membelai kepala Fura setelahnya, "Apa sekarang butuh alasan untuk menciummu, hem?"
Fura menunduk sesaat dan mengangkat wajahnya kembali. Ia menatap lekat Syafiq. Mata berkaca Fura tertangkap netra syafiq. Syafiq memeluk raga itu. Fura tersenyum getir di balik punggung Syafiq. Merasakan dekapan yang masih terasa sama tapi rona berbinar itu seakan bukan lagi untuknya.
"Apa Jawzaku akan tetap mengunci tubuhku dan membiarkan bidadarinya yang lain menunggu seorang diri?"
Syafiq merenggangkan tubuhnya, merangkum dan mengamati wajah Fura seksama. Ia merekatkan sisi wajahnya ke sisi wajah Fura. mengecup berkali-kali wajah itu setelahnya. "Bidadariku yang baik, bahkan terlalu baik!" Syafiq menarik napas panjang lalu tersenyum setelahnya.
"Sudahi memujiku! Ajaklah Shofi dan anak-anak untuk makan siang bersama, setelahnya baru kita bicara! Bukankah bayi kalian membutuhkan nutrisi lebih?" lirih Fura.
"Bukan hanya bayi itu, tapi kedua malaikat kecil kita juga membutuhkan nutrisi, hem?" Syafiq meralat ucapan Fura.
"Apa aku juga?"
"Kamu juga."
"Dan Shofi?"
"Shofi juga. Kita semua membutuhkan nutrisi!" Fura tersenyum.
"Sana pergi! Panggil mereka!"
Baru beberapa langkah menjauh, Syafiq berbalik. Ia kembali merangkum wajah Fura. "Aku selalu mencintai Juriyyku, paham!" bisik Syafiq berusaha membuang kegelisahan dan ketakutan Fura yang tertangkap netranya. Fura mengangguk.
"Aamiin .... Semoga!" lirih Fura saat bayang Syafiq tak terlihat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1
💔Kalau komennya banyak nanti up lagi😉
💔Makasih supportnya selalu❤❤