
"Maaf aku bersikap kasar padamu Fura! Aku tidak ingin kamu merasa aku mengasihanimu! Aku hanya ingin suatu saat mengembalikan apa yang menjadi milikmu pada tempatnya tanpa harus merasakan terbagi lagi setelahnya!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Syafiq menjatuhkan tubuhnya ke sisi Shofi saat aktivitas malam mereka selesai. Shofi yang letih langsung terpejam, sedang Syafiq memilih membersihkan diri dan duduk bersandar di head board ranjang memperhatikan Shofi setelahnya.
Syafiq terus menyapu kepala Shofi, membuat Shofi terganggu dan beberapa kali menggerakkan kepalanya. "Mas, aku mengantuk!"
"Kita berbincang, Sayang!"
"Besok saja ya, Mas! Aku mau istirahat, maaf!" Melihat tak ada respon, Syafiq akhirnya turut tidur di samping Shofi.
•
•
Pagi menjelang, Syafiq membangunkan Shofi baru setelahnya ia izin turun ke bawah membantu Fura membersihkan diri. Saat Syafiq di rumah Shofi dulu, Fura selalu dibantu teh Rani. Namun kini Syafiq berada serumah dengan kedua wanitanya, membuat ia memiliki tanggung jawab pula terhadap Fura yang masih kesulitan membersihkan tubuhnya sendiri.
"Bii ... kamu ke mari!" ucap Fura melihat Syafiq memasuki kamar mereka. Teh Rani yang sedang memiringkan tubuh Fura, membantu majikannya membuka baju tidur tak kalah kaget.
"Keluarlah Teh! Biar aku yang membantu istriku!" lirih Syafiq.
"Kenapa ke mari! Ini masih jatah waktumu bersama Shofi, tak baik kamu meninggalkannya!" Syafiq tersenyum.
"Aku sudah meminta izin pada Shofi dan ia mengizinkan. Aku akan merasa bersalah, saat berada di dekatmu tapi membiarkan orang lain mengurusimu! Kamu tanggung jawabku, Juriyy." Dengan lembut Syafiq melanjutkan aktivitas yang beberapa saat lalu dilakukan teh Rani, ia mengangkat tubuh Fura dan membaringkannya ke bath up setelahnya.
"Kenapa ke sini, Bii? Di sana kursiku!"
"Sudah lama kita tidak berendam bersama!" Syafiq dengan cepat membuka penutup tubuhnya dan ikut masuk ke bath up.
_______________
"Nanti kalian akan berangkat jam berapa?" Syafiq menatap lekat netra Shofi sembari memakai kemejanya.
"Jam 9, Mas!" jawab Shofi mengancingkan satu persatu kemeja Syafiq.
"Jaga matamu saat berdekatan dengan dokter itu!" Shofi tersenyum.
"Apa Mas cemburu dengan dokter itu?"
"Hemm ... ya!"
"Apa Mas tidak percaya padaku?"
"Hemm ... sedikit!"
"Kenapa masih meragukanku?"
__ADS_1
"Karena aku tidak memberi seluruh hatiku. Bisa saja kan kamu mencari seseorang yang mampu memberikan status istri satu-satunya padamu!"
"Hahh ... malangnya aku! Ada pria tampan dan mapan tapi perutku sedang membuncit!" utar Shofi menggoda Syafiq.
"Hahh ... jadi kamu terfikir genit pada pria lain? Nakal!" Jemari Syafiq menjawil hidung Shofi membuat Shofi meringis.
"Mas ...."
"Hem?"
"Bagaimana jika dokter itu bukan melirikku tapi melirik istrimu yang lain? Apa kamu juga akan cemburu?" Shofi memperhatikan seksama wajah pria di hadapannya, menunggu rahut apa yang muncul setelah pernyataannya.
Syafiq menjauhkan wajahnya dari Shofi, baru setelahnya ia menjawab. "Aku tidak suka orang lain mendekati milikku, baik padamu atau Fura, sebab kalian milikku. Tapi jujur aku lebih khawatir padamu ... sebaliknya Fura, aku percaya penuh padanya tak akan tergoda yang lain."
"Aku sedih kamu tidak percaya padaku, Mas!" Wajah Shofi menyernyit. Syafiq tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Sebuah kecupan mendarat dikening Shofi dengan raga yang terkunci dalam dekapan Syafiq setelahnya.
"Kita sudahi membahas ini, aku harus bekerja, hem?" Shofi tersenyum dan mengangguk.
_______________
Seperti biasa pukul 07:15 Hana berangkat ke sekolah. Berbeda dari hari biasa, kali ini Kinan dan Omar juga ikut mengantar Hana, mengalihkan perhatian Omar tujuannya.
Omar memang sangat dekat dengan Fura. Jika tau Fura akan pergi, pasti Omar merengek. Mempertimbangkan hal itu, Omar pun dialihkan ke sekolah Hana. Bermain di wahana bermain akan menyenangkannya.
Tak lama Hana berangkat, Syafiq pun undur diri. Seperti biasa ia mengecup kening 2 wanitanya. Ia merunduk menghadap wajah Fura setelahnya.
Syafiq berdiri, ia meraih kepala Shofi dan mengecup kembali kening Shofi pula, agar tidak terjadi kecemburuan. Ia izin berangkat setelahnya.
_______________
Beberapa saat berlalu, 3 wanita telah sampai ke tempat yang di tuju. Tak disangka kedatangan mereka bersamaan dengan tibanya sang dokter yang hendak mereka kunjungi. Dengan ramah sang dokter menyapa Shofi yang tengah berdiri di lobi.
"Dr. Shofi ...."
"Eh ... ha-lo, Dokter."
"Sudah lama?"
"Baru saja tiba, Dok."
"Datang sendiri, kah? Aku tak melihat siapapun bersamamu?"
"Itu keluarga saya, dia pasien yang akan dokter tangani!" Shofi mengarahkan pandangannya pada 2 orang wanita yang baru saja keluar dari toilet agak jauh dari mereka berada.
"Oh, baiklah. Nanti kita bertemu di ruangan saya, saya undur diri!" Belum lagi melihat jelas, Billy sudah undur diri ke ruangannya.
"Iya, baik Dok!" ucap Shofi.
__ADS_1
•
•
Setelah 1 orang keluar dari ruangan Dr. Billy, seorang perawat tampak keluar dan memanggil pasien berikutnya.
"Ibu Nuha Shafura ...," pekik sang perawat.
Dengan cekatan Shofi mendorong kursi roda Fura masuk ke ruangan dengan plat Poli Syaraf, meninggalkan teh Rani di ruang tunggu. Pria tegap itu tampak tak terlihat. Hingga sang perawat berucap, "Sebentar ya, Bu, Dokter sedang mencuci tangan sejenak."
Shofi dan Fura mengangguk bersamaan. Fura spontan menggenggam jemari Shofi, ia panik akan melakukan terapi, segala usaha yang nyatanya tidak membuahkan hasil di masa lalu akan ia lakukan lagi kini.
Shofi menyadari kepanikan Fura, ia membalas eratan jemari itu dengan genggaman yang menyamankan, berusaha memberi kekuatan. Hingga Fura spontan mengangkat wajah menghadap Shofi dan tersenyum.
"Maaf menung-gu----" ucapan Billy sang dokter seketika terhenti melihat wajah itu, wajah tak asing untuknya. Ia menatap wajah itu beberapa saat memastikan yang dilihatnya. Wajah yang kini dalam balutan jilbab tak seperti dulu. Ia menarik napas panjang saat melihat nama dalam berkas yang diserahkan perawat. Dadanya pun sesak menyadari wanita yang pernah mengisi hatinya tersebut duduk di atas kursi roda. Rasa perih muncul membayangkan hari-hari berat dilalui sang wanita dengan kondisinya tersebut. Hingga setelah beberapa saat Billy duduk.
Wanita di hadapan Billy yang tak lain adalah Fura tak kalah kaget, matanya membulat menatap sosok pria yang sering bersamanya di masa lalu, sosok yang tiba-tiba harus pergi ke negara lain meninggalkannya saat itu. Billy, sosok kakak dan sahabat itu muncul, kini ia ada tepat di hadapannya. Fura terdiam dengan mata yang saling mengunci hingga beberapa saat Billy berucap.
"Inikah pasien yang akan saya tangani?" Billy berucap datar seprofesional mungkin. Ia yang tak tau hal apa saja yang telah dialami Fura memilih bersikap normal, tak ingin masuk terlalu jauh sebelum mengetahui segalanya.
"Benar, ini kerabat saya yang kemarin kami bicarakan," ucap Shofi. Billy bergeming menatap Shofi.
"Kerabat? Aku baru tau ada kerabat Fura yang menjadi dokter? Dan wajah Dr. Shofi sama sekali asing tidak mirip dengan Fura," batin Billy.
"Oke, apa dokumen riwayat cedera pasien juga obat-obat yang dulu pasien konsumsi dibawa?"
"Ini, Dok!" Shofi menyerahkan yang diminta Billy. Billy tampak melihat satu persatu kertas dan Foto dalam genggamannya sembari sesekali melirik Fura. Ia mengambil botol-botol berisi pil setelahnya. Billy menggeleng-geleng mendapati botol obat yang masih hampir penuh, ia menatap Fura dan tersenyum kemudian. Ia sangat tau Fura tak suka minum obat.
"Pasien bernama i-bu----" Billy tampak berpura memperhatikan berkas di hadapannya baru melanjutkan kalimatnya.
----Nuha Shafura usia 26 tahun 8 bulan, betul?"
"Betul, Dok," lugas Shofi.
"Oke Ibu Fura, bisa dijelaskan kenapa botol-botol pil ini masih penuh, hem?" Billy menaikkan alisnya menatap Fura.
Mata Fura membulat dengan bibir yang sedikit dimajukan, ia tau betul Billy sedang mempermainkannya. Billy yang tau dirinya tak suka obat kini mempertanyakan itu.
"Menyebalkan! Kamu mempermainkanku, Kak!" batin Fura dengan jemari meremas tepi kursi rodanya.
"Kenapa tidak dijawab? Saya tidak akan melanjutkan tindakan sebelum mendengar jawaban pasien! Obat itu penting! Jika pasien lalai dan tidak mendengar ucapan dokternya, bahkan membiarkan botol-botol ini tak tersentuh. Untuk apa usaha pemulihan dilakukan?"
Shofi bingung menatap Fura, kenapa Fura tak meminum obatnya. Ia tak menyadari botol-botol itu masih penuh sebelumnya.
"Ayo jawab adik kecil yang manis! Sudah lama aku tak mendengar suaramu!" batin Billy. Dalam hatinya ingin tertawa menatap wajah panik dan kesal itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
💔Happy reading😘