TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Syafiq menghilang dari balik pintu setelahnya, meninggalkan bulir yang terus memaksa keluar dari pelupuk mata Shofi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Syafiq yang tertidur seketika terbangun sangat merasakan tangan-tangan kecil mengelitiki tubuhnya.


"Yeaa ... abi sudah bangun ... abi bangun, Umi!" pekik Hana melihat Syafiq menggerakkan tubuhnya.


Syafiq melonggarkan lengannya meraih dua tubuh kecil yang sejak tadi berusaha membangunkannya.


HAP ....


"Haaa .... Abi lepas, Abiii ...." Hana terus tertawa merasakan jemari Syafiq bergerak-gerak di tubuhnya.


"Umii ... Abi nakal, Umii ...," teriak Omar tak nyaman pula dengan kejahilan Syafiq.


"Tadi kalian nakal ganggu Abi, ya! Sekarang Abi tidak akan melepaskan kalian!"


"Umi ... tolong Umiii ...." Pekik Hana kembali meminta pertolongan.


"Bi ... sudah ah! Sudah jam 4 belum sholat ashar, kan! Sudah ayo bangun!" Fura menggerakkan rodanya mendekati raga Syafiq dan membuka tangan meraih tubuh kecil Omar hingga duduk di pangkuannya. Fura menciumi dua pipi chubby Omar baru menurunkannya. Omar langsung membuka pintu kamar dan berlari keluar.


"Hana juga mau dicium, Umi!" Hana sudah berjinjit di hadapan Fura menghadapkan wajahnya.


MUACH ...


"Sudah sana main lagi!" ucap Fura.


"Abiii ... Abi ingat kan kita mau ke Alun-alun sore ini. Makan ice cream, Abi ...! Abi tidak lupa, kan?" Hana menciumi wajah Syafiq, merayunya.


"Iya, Sayanggg. Abi ingat!" lontar Syafiq mencium gemas pipi Hana.


"Hana tunggu di luar dulu ya, Nak! Abi biar mandi dan bersiap-siap!" ucap Fura pada Hana. Hana mengangguk dan berlalu.


"Astagfirulloh. Aku lupa! Apa Shofi sudah turun!"


"Aku belum melihatnya di bawah, cobalah tengok ke atas!" lontar Fura masih merapihkan jilbabnya. Syafiq mendekat meletakkan dagu di bahu Fura.


"Minggir Bi! Gelii!"


"Jawab jujur dulu, apa Juriyy-ku sungguh tidak keberatan Shofi tinggal di sini?" tanya Syafiq sembari menatap lekat pantulan wajah Fura di cermin.


Fura menghentikan aktivitasnya, menatap balik pantulan wajah pria di hadapannya. "Aku tidak masalah. Jawza-ku jadi tidak harus meninggalkan rumah untuk bertemu bidadarinya yang lain!"


"Kamu tidak cemburu?"


"Kata orang cemburu itu tanda cinta. Aku senang masih merasakan rasa itu, berarti hatiku masih milikmu, hem?"


"Pintar!"


"Bii ... justru aku yang takut jika aku dan anak-anak akan mengganggu aktivitasmu dan Shofi! Yah, mengingat selama ini kalian hanya tinggal berdua! Atau perlu kubuat sebuah palang tulisan agar jangan ada yang naik saat kalian sedang bersama!" Fura membulatkan matanya menggoda Syafiq.


Syafiq menjawil hidung Fura. "Nakal!"


"Ahh sakit, Bii ...." Fura terus memijat-mijat hidungnya.


Sepasang tangan melingkar di tubuh Fura setelahnya. "Mungkin hanya ada satu istri sepertimu di dunia ini! Dan aku bersyukur memilikimu!" Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Fura setelahnya.


"Sudah! Mandi dan sholatlah sana! Ingat kamu punya janji dengan anak-anak, Bi! Oh iya ... nanti ajaklah Shofi bersama kalian. Anak-anak perlu terbiasa dengan kehadiran Shofi pula!"


"Juriyy-ku juga harus ikut juga berarti!"

__ADS_1


"Aku sedang malas keluar!"


"Kalau begitu aku pergi dengan anak-anak saja!"


"Sungguh aku tidak apa-apa, Bi! Ajaklah Shofi, hem?" Fura berkeras.


"Kamu yakin?" Fura mengangguk.


"Baik nanti aku akan coba mengajak Shofi!"


______________


Setelah membersihkan diri dan melaksanakan ibadah. Syafiq melangkahkan kaki menelusuri anak tangga di hadapannya. Tak berselang lama pintu kamar Shofi sudah di hadapannya. Ia membukanya perlahan.


"Astagfirulloh, Mas! Kamu mengagetkanku!" Shofi yang baru keluar kamar mandi dan masih dengan balutan handuk kaget seorang pria memasuki kamarnya.


Shofi mendorong raga Syafiq menuju pintu. "Kamu kenapa, Shof? Ingat kamu masih istriku! Kenapa mengusirku?"


"Setelah rapi aku akan membuka pintu!"




Setelah beberapa saat, Shofi membuka pintu dengan balutan tunik rayon full kancing berwarna mustard dan celana katun hamil.


"Tak baik seorang istri memberi jarak pada suaminya, Sof ...!" ucap Syafiq sambil melenggang masuk.


"Selama aku belum memutuskan, sebaiknya kita memberi jarak dulu!" Syafiq bergeming.


"Shof, aku hendak ke Alun-alun bersama anak-anak! Kamu ikut, ya!" ajak Syafiq yang ditanggapi gelengan Shofi.


"Aku letih. Tidak ingin kemana pun. Pergilah bersama Fura!"


"Fura juga sedang enggan keluar. Ia menyuruhku mengajakmu!"


"Istrimu itu terlalu baik, Mas!" Syafiq tersenyum kecil.


"Jadi aku hanya akan pergi bersama anak-anak?" Shofi mengangguk.


"Baiklah. Shof----


"Hem?"


"Turunlah ke bawah, kamu akan bosan terus di atas sendiri. Fura sedang di taman, mungkin kalian bisa berbincang!" Shofi mengangguk.


"Aku pergi. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salamm ...."


_______________


Syafiq memarkirkan APV-nya di depan kedai ice cream di jalan Asia Afrika. Setelah mobilnya berhenti sempurna Hana dan Omar dengan cepat berlarian menuju kedai hingga menabrak wanita dengan perut buncit yang sedang menggenggam 2 ice cream cone.


"Ma-af Ummah, Hana tidak sengaja!"


"Omar juga tidak sengaja!"


"Ada apa, Sayang?" Syafiq tergesa-gesa mendekat dan ia terhenyak.


"Aida, kan?" Wanita dengan balutan gamis hitam dan pasmina senada tertangkap netra Syafiq.

__ADS_1


"Mas Sya-fiq?" Wanita bernama Aida tampak kaget melihat Syafiq yang merupakan sahabat suaminya berada di tempat itu.


"Dengan siapa di sini? Apa kabar, Fatir?" antusias Syafiq. Aida tersenyum menatap Raga yang berjalan mendekati mereka.


"Itu Mas Fatir!"


Syafiq menoleh dan dua raga itu sama-sama terhenyak, saling merangkul dan tersenyum.


"Syafiq!"


"Fatir!"


"Senang berjumpa denganmu Fiq, ini putra putrimu, kah? Mereka sudah besar-besar, cantik dan tampan. Benar-benar pantulan Syafiq dan Fura." Syafiq tersenyum.


"Dua tahun! Dua tahun kita tak bersua Fiq, terakhir saat istrimu-----


"Iya, syukurlah masa-masa itu telah berlalu!" Syafiq dengan cepat menyela ucapan Fatir yang baru saja ingin melontar cerita Fura menjalani komanya.


"Oh iya, Fura tidak ikut?"


"Ia sedang enggan keluar."


"Oh, tapi kondisinya baik bukan?"


"Alhamdulillah. Bagaimana kamu bisa di Bandung? Bukankah sahabatku yang sudah menjadi ustad terkenal ini menetap di Surabaya?"


"Kamu berlebihan Fiq. Aku masih Fatir yang sama."


"Abii ... Ayo ke sana! Hana mau ice cram!" Hana terus menarik lengan Syafiq.


"Tunggulah di sini, Fat! Aku pergi ke kedai itu dulu!" Fatir mengangguk sembari tersenyum.


Beberapa saat setelahnya, Omar dan Hana tampak serius memakan ice cream ditemani Aida. Syafiq dan Fatir memesan kopi dan berbincang. Ya, Syafiq dan Fatir memang sahabat saat SMA. Hingga saat lulus Fatir mendapat beasiswa kuliah Ilmu Agama Islam ke Kairo dan Syafiq melanjutkan kuliah design interior.


"Sekarang ceritakan kehidupanmu Fat, suka dukamu menjadi penceramah. Aku bangga padamu Fat. Kamu berdakwah dan menebar kebaikan. Tidak sepertiku." Syafiq menunduk seketika teringat perilaku buruknya pada Shofi.


"Apa ini? Kau seperti bukan Syafiq yang kukenal. Bukankah kau suami dan ayah yang hebat! Kau selalu sabar mendampingi Fura dalam kekurangannya setelah kejadian itu. Itu sesuatu hal luar biasa, Sahabatku!" Syafiq tersenyum getir.


"Ada apa? Apa ada yang terjadi dalam kehidupanmu yang tak aku ketahui? Kau dalam masalah, Fiq?" Fatir yang membaca rona aneh di wajah Syafiq melontar kata.


"Kau sangat pandai Fat, kau benar situasiku sedang kurang baik saat ini!"


"Ceritakanlah!"


"Aku membohongi wanita untuk menikah denganku!" lirih Syafiq.


"Fiq, maksudmu kau ...?" Syafiq mengangguk. Fatir menarik napas kasar.


"Fura tau?"


"Fura tak ada masalah karena ia yang memintanya. Yang jadi masalah aku tak jujur dengan wanita keduaku, segalanya kini terbuka dan ia meminta berpisah dariku, sedangkan ia sedang mengandung anakku!"


"Syafiq ... itu sungguh tidak baik! Tapi selama ini kau adil bukan?"


"Tidak juga!"


"Hahh ...!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2