TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Sembilan Belas


__ADS_3

"Maaf, Juriyy! Aku terpaksa melakukan ini karena sepertinya kondisi Shofi sedang tidak baik," monolog Syafiq.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Suatu saat nanti, aku ingin memiliki anak darimu, Sayang ...!" lirih Raihan setelah pergulatan malam mereka.


"Aku juga, Mas."


"Aku suka anak perempuan, Shof. Baik, lembut dan pasti akan cantik sepertimu!" Raihan kembali menciumi Shofi.


"Tapi aku suka anak laki-laki, ia akan kuat dan jadi pelindungku!"


"Bukankah ada aku yang akan melindungimu! Aku menginginkan anak perempuan, Sayang ... bahkan aku sudah mempersiapkan sebuah nama."


"Sungguh? Sekarang katakan nama apa yang kamu siapkan?" Shofi membenamkan wajahnya ke dada Raihan, ia sangat suka posisi seperti itu sebab merasa terlindungi.


"Shofiyya ... aku akan memberinya nama seperti namamu!" Raihan terus menyapu kepala Shofi yang membuat Shofi semakin mengeratkan pelukannya. Shofi merasa sangat disayangi.


"Ahh ... kamu tidak kreatif, Mas. Mengapa harus nama yang sama denganku?"


"Karena aku sangat mencintai ibunya."


"Gombal!"


"Sungguh!"


________________


💔Flashback Off


"Sayang ... maaf, karena gerimis aku datang terlambat!" Syafiq meraih kepala Shofi dan mencium puncak kepalanya. Kehadiran Syafiq seketika membuyarkan lamun Shofi, lamun sebab teringat panggilan Raihan atas putri kecilnya. Bingung, kesal, melengkapi kekecewaan yang shofi rasa, mengapa Raihan menematkan nama yang ia siapkan untuk anak mereka dulu, nama yang tak lain adalah namanya, terlalu!


Melihat kehadiran Syafiq, Shofi seketika melingkarkan lengannya di tubuh Syafiq erat. Tampak jelas Shofi sedang diliputi kepedihan hingga tak menyadari di mana mereka berada. Syafiq berbisik, "Jangan berpelukan di muka umum bu Dokter! Mungkin saja ada salah satu pasien atau rekan bekerjamu di cafe ini!" Shofi seketika melepaskan pelukannya.


"Ayo kita ke mobil! Oh ya bagaimana dengan Mazdamu jika kamu pulang denganku?"

__ADS_1


"Aku sudah titip satpam untuk menjaganya," lirih Shofi.


"Baiklah, ayo kita pulang! Ini sudah bayar?" Syafiq menatap cangkir capuchino di hadapan Shofi. Shofi menggeleng.


Setelah Syafiq membayar tagihan Shofi, keduanya masuk ke mobil. Di mobil Shofi terus menghadapkan wajahnya ke luar jendela, butiran air di sudut mata Shofi tertangkap netra Syafiq. Syafiq mengemudikan APV dan memberhentikannya ke sudut sebuah taman.


"Sayang ...," panggil Syafiq sembari membelai lembut kepala Shofi. Shofi menoleh, ia menatap lekat Syafiq tanpa kata. Syafiq menarik tubuh Shofi ke dekapannya. Syafiq yang melihat Shofi sangat kacau merasa ia pasti membutuhkan support darinya.


Air mata Shofi tumpah. "Mass ... aku melihatnya, aku bertemu lagi dengannya!"


"Si-apa?" bingung Syafiq.


"Mas Raihan!" Syafiq bergeming tak menyangka reaksi Shofi akan sebegitu terluka bertemu sosok masa lalunya.


Syafiq menarik napasnya panjang lantas berujar, "Di-mana?"


"Pertama kami berpapasan di muka rumah makan, kedua di ru-mah sa-kit!" Shofi kembali terisak.


"Di-Rumah Sakit? Ia pasienmu?" Syafiq memastikan kemungkinan ada interaksi keduanya.


Syafiq merangkum wajah Shofi, "Kamu begitu sedih bertemu dengannya, apa ia masih memiliki tempat di hatimu, Shof?" Syafiq menatap dalam wajah Shofi.


"Ma-af Mass ... tidak seperti i-tu!"


"La-lu ...?"


"Mass ... tadi aku bertemu mas Raihan dengan putrinya yang berusia 2 tahun, kamu tau apa artinya itu, Mas? Artinya wanita itu telah hamil saat kami masih berstatus suami istri. Mas Raihan menduakanku, ia berselingkuh. Jahat! Itu yang membuatku bersedih, Mas!" Syafiq bergeming, seketika dadanya sesak.


"Bahkan aku tak beda dengan Raihan, aku memiliki wanita lain. Bagaimana ini? Tidak ... semua tidak sama! Fura menginginkan ini, tapi Shofi belum tau .... Hahh ... aku salah! Tapi jika kubuka, bagaimana jika Shofi meninggalkanku?" Syafiq terus bermonolog hingga shofi menyapu dan menepuk lembut bahunya.


"Kamu termenung, Mas?"


"Oh ... ma-af, lanjutkan lagi ceritamu, Shof!"


"Dan kamu tau siapa nama putri mas Raihan, Mas? Shofi ... ia menematkan namaku untuk putrinya! Hahh ... bisa-bisanya ia melakukan itu! Dan lagi Mas, ia tadi mencengkram lenganku! Ia memaksaku mendengar penjelasannya. Ia sudah memiliki keluarga, tapi masih menggangguku. Memalukan!"

__ADS_1


Syafiq gusar. Mendengar cerita Shofi sangat jelas Raihan masih memiliki rasa pada istrinya itu. Syafiq berujar, "Besok aku akan ke Rumah Sakit dan meminta Raihan menjauhimu! Ia harus tau jika kamu sudah menikah!"


"Mas ... kamu ti-dak serius, kan? Ia direktur Rumah Sakitku, Mas. Jika ia tau aku sudah menikah, ia bisa langsung memecatku! Tidak ... jangan lakukan Mas!" Mata yang sesaat lalu dipenuhi kesedihan berubah jadi kecemasan. Shofi sangat memikirkan karirnya.


"Sayang ... resignlah! please! Beri aku anak seperti yang Raihan miliki, kita buat Shofi-Shofi kecil yang lain!"


Belum masalah permintaan Fura ia tepati, kini bertambah lagi masalah kehadiran Raihan. Walau menurut cerita Shofi bahwa Raihan kini telah berumah tangga kembali dan memiliki anak. Ada rasa cemburu Syafiq membayangkan Shofi akan sering bertemu Raihan, terlebih Raihan sepertinya masih memiliki rasa pada Shofi. Syafiq benar-benar dilema.


Di sisi lain Shofi pun bimbang, haruskan ia meninggalkan Rumah Sakit tempat ia merintis karirnya? Dan ucapan Karin kembali terngiang ... Shofi sungguh tak ingin kelak sulit memiliki anak jika ia terus menundanya. Ia tidak ingin pil-pil KB yang dikonsumsi mengeringkan rahimnya. Dalam kebimbangan ia terus menatap wajah Syafiq yang mengiba, ia menyapu lembut wajah Syafiq kini.


"Setiap pria yang tulus mencintai kita, ia pasti ingin memiliki anak dari rahim kita!" Kata-kata Karin kembali terngiang.


"Kasihan mas Syafiq jika aku terus menolak memiliki anak dengannya ...," batin Shofi.


Masih menyapu wajah Syafiq, Shofi bertanya, "Kamu sungguh ingin memiliki anak dariku, Mas?"


"Sangat ingin!" jawab Syafiq mantap menarik kepala Shofi dan mengecup keningnya.


Shofi menarik napas panjang ... "Baiklah, aku setuju! Tapi aku baru akan resign jika aku jelas positif!"


"Tentu ... tentu saja! Semua sesuai inginmu!" Netra syafiq berbinar, ia sangat bahagia, diciuminya setiap inci wajah Shofi.


"Kita pulang sekarang! Aku ingin segera menyingkirkan pil-pil itu dari kamar kita!"


Di tengah kebahagaiaan Syafiq, ponselnya bergetar ....


📩Bii ... pulanglah! Hana terus merengek mencarimu, kamu menjanjikannya makan ice cream di Sweet Cantina di Jalan Braga katanya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


💔Jangan lupa komen ya😊


Love Bubu❤

__ADS_1


__ADS_2