
💔Maaf juga kesibukan dunia nyata membuat thor baru bisa melanjutkan kisah ini😊
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Matahari yang meninggi semakin memancarkan pesonanya, seakan ia berkata akulah yang paling cantik. Ya, itulah gambaran panas terik yang dirasakan Shofii.
Pukul 11:35, saat hembusan angin mulai menggoda matahari agar tak terlalu arogan menampakkan berkasnya. Desah dedaunan terus merayu agar mahatari menatap dengan sopan dan lembut. Tapi matahari tak bergeming .... Ia dengan maunya, tak terbujuk dan dengan sarkas memenuhi penjuru bumi dengan pancaran yang menghujam tiap pori-pori kulit makhluk yang bernyawa.
Shofii dengan tenang berada dalam Mazdanya. Ia melaju dengan sangat santai, dibelokkannya ke kanan dan kiri stir kemudi menerobos kemacetan siang itu. Dan kini ia tampak mengambil stir ke arah kiri menuju sebuah Mall untuk berbelanja kebutuhan rumahnya.
Aku belum tau masakan kesukaan mas Syafiq, aku akan berbelanja sayuran lengkap dan bertanya saat ingin memasak untuk mas Syafiq, batin Shofii.
Ia pun kembali mendorong troli dalam genggamannya, memasukkan barang-barang yang mulai habis di rumah, minyak sayur, gula, pasta gigi, sabun, pembersih wajah. Setelahnya ia memasukkan beberapa macam buah kedalam trolinya.
Mas Syafiq seorang pekerja, harus diimbangi buah untuk menambah nutrisinya, batin kembali Shofii.
Setelahnya Shofii menuju kasir untuk membayar semua belanjaan yang dibelinya. Hingga matanya tiba-tiba terhenti saat dilihatnya toko pakaian pria beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Dulu aku sering ke toko itu bersama mas Raihan, setelah ini aku akan kesana ... pakaian mas Syafiq tidak banyak, aku akan membeli beberapa pakaian untuknya. Memang sih aku tidak tau selera mas Syafiq tapi semoga saja mas Syafiq suka dengan pilihanku, batin Shofii.
Shofii memang tipikal wanita karir mandiri, dengan materi yang ia miliki dari hasil bekerjanya ia bisa membeli apapun yang ia butuhkan. Walau begitu, nilai-nilai yang pernah ditoreh kedua orang tuanya semasa hidup tetap ia pegang. Ia diajari tata krama dan kebaikan budi yang terus melekat.
__ADS_1
Walaupun ia pekerja karir, ia juga tak pernah meninggalkan perannya sebagai istri. Termasuk saat bersama Raihan, ia pun senantiasa menurut, waktunya setelah bekerja hanya ia habiskan di rumah. Memasak, bersih-bersih, dan semua untuk kenyamanan Raihan. Oleh karenanya ia heran mengapa Raihan tega memilih berpisah, apa salah didirinya bahkan Shofi pun tak pernah mendapat jawaban gamblang tentang itu.
Shofii telah menggenggam 3 buah kaos dan 2 buah kemeja untuk Syafiq. Warna-warna soft dipilih Shofii untuk menambah kesan bugar ditubuh Sang suami. Iapun ke kasir setelahnya.
12:50, saat Shofii telah kembali ke Mazda kuningnya. Shofii memang suka warna kuning, warna cerah yang menambah semangat dan gairah bekerja dipilih menjadi warna kendaraan hasil kerja kerasnya tersebut.
Dan Pukul 13:20 akhirnya Shofii sampai di rumahnya. Rumah kedua Syafiq lebih tepatnya, Rumah yang seketika dibeli saat Fura meminta membagi hati Syafiq. Rumah yang tidak terlalu besar memang tapi Shofii cukup bahagia. Rumah 1 lantai dengan luas 100 meter dengan 2 kamar tidur beserta kamar mandi di salah satu kamar tidur tersebut, 1 dapur, 1 kamar mandi belakang, 1 ruang tamu, juga terdapat lahan kosong di area depan untuk shofii menyalurkan hobi berkebunnya. Serta kolam renang yang tak terlalu luas, namun cukup unuk menyegarkan diri sang penghuninya.
Setelah sampai Sofii langsung menjalankan ibadah zuhur dan ia kedapur setelahnya. Opor ayam menjadi menu yang ingin ia masak hari ini, ditambah sambel goreng kentang. Hmm, yummy ... membayangkannya saja aku sudah lapar. Opor adalah makanan yang menjadi citra orang indonesia, mas Syafiq juga pasti suka, fikir Shofii beberapa saat sebelumnya hingga akhirnya ia memutuskan membuatnya.
14:30 saat ini dan dapur Shofii telah bersih kembali, dengan lauk yang sudah siap di meja makan, tenang sudah Shofii untuk merebahkan diri kini.
Ia berbaring menjulurkan kaki di ranjang. Ranjang yang masih tampak baru namun memberi kesan bahagia saat melihatnya. Ahh, malunya aku, batin Shofii.
Ditatapnnya ponsel dalam genggaman tangannya, "Tidak ada pesan dari mas Syafiq, mungkin ia sangat sibuk. Tapi apa ia sudah makan siang?" batin Shofii, iapun mengirim pesan pada Syafiq seketika.
📨Assalamu 'alaikum Mass. Bagaimana pekerjaanmu? Kamu sangat tega membuatku menunggu pesanmu, apa kamu tidak mengingatku sedikitpun? Mass ... aku merindukanmu ...
📩Wa'alaikumussalam. Maaf baru mengabarimu. Pekerjaanku lancar, aku sedang di kantor dan banyak tugas. Maaf kita lanjutkan obrolan kita nanti Shofii.
📨Baiklah, jangan sampai telat makan ya Mas ... aku menunggumu di rumah😙
__ADS_1
📩Assalamu'alaikumm ...
📨Wa'alaikumussalam ...
Hah, mas Syafiq sangat sibuk. Ia bahkan tak membalas emojiku, batin Shofii.
Shofiipun berusaha memejamkan matanya kini. Yang tanpa menunggu lama, ia telah terlelap dalam dekap sang mimpi.
•
•
•
Pukul 19:30, Shofii baru selesai menjalankan ibadah isyanya. Namun wajah rupawan yang ia rindukan tak jua terlihat, bahkan ponsel dalam genggamannya belum ada pesan baru. "Baik aku akan menunggu Mas Syafiq sembari mendengarkan kajian di radio," batin Shofii seraya merebahkan tubuhnya di sofa.
Dan bukannya mendengarkan kajian, seperti biasa Shofii yang mudah terlelap seketika tak sadar terbuai kembali pada sang mimpi ....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading❤❤
__ADS_1
💔Dan cerita ini hanya fiksi ya, jika ada kesalahan. Semua kesalahan dari thor😊