
"Mass ... Ahh ...!" decak Shofi saat tubuhnya terpental dan mendarat sempurna di kasur nan empuk itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepasang kaki kokoh mengukung kaki jenjang Shofi. Hingga lengan itu tampak tegak di sisi wajah Shofi. "Mas, kamu mau apa? Kamu bisa menyakiti anak kita!" Syafiq tersenyum. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping raga Shofi setelahnya.
Degup jantung yang memompa cepat beberapa saat lalu mulai stabil. Keduanya menatap langit-langit, hingga tiba-tiba Syafiq memiringkan tubuh dan tangannya berpindah mengukung bahu Shofi. Syafiq merekatkan wajahnya ke wajah Shofi. "Terima kasih telah kembali dan tetap di sisiku!" bisik Syafiq, lalu menjatuhkan wajah nya kebahu terbuka Shofi.
"Kamu hampir membuatku berhenti bernapas saat tak mendapati mobilmu di pelataran tadi pagi!" Syafiq mengangkat wajahnya menatap Shofi.
"Kemana kamu tadi pagi, hem? Kamu hendak mengujiku, kah? Seolah pergi dan tiba-tiba muncul kembali! Nakal!" Sebuah sapuan bermain di wajah Shofi.
"Tidak ada yang mengujimu! Pagi tadi aku sangat ingin berziarah ke makam bapak ibuku," ucap Shofi.
"Kenapa tidak ajak aku!"
"Aku takut mengganggu kebersamaanmu dan mbak Fura." Syafiq menggelengkan kepala.
"Lain kali ajak aku mengunjungi mereka!"
"Tentu."
"Sekarang katakan! Kamu kembali untukku bukan?"
"Bukan!" Syafiq kaget.
"Hmm .... Kalau begitu pasti untuk anakku!" yakin Syafiq dengan jemari yang sudah berada di tepi handuk yang terselip di tubuh Shofi.
"Masih salah!" ujar Shofi menahan aktivitas jemari Syafiq.
"Kenapa aku tak dibiarkan membukanya? Bukankah dengan tetap di sini, keputusanmu untuk mendampingiku jelas!"
"Hem," gumam Shofi sembari mengangguk mengiyakan.
"La-lu?"
"Ada yang harus kubicarakan sebelum kita memulai langkah kita kembali." Shofi mengangkat tubuhnya bersandar di head board ranjang.
"Katakan!" lontar Syafiq saat raganya telah nyaman dengan posisi duduknya.
"Aku bertahan untuk istri pertamamu!"
"Fura?" Shofi mengangguk.
"Aku akan menyembuhkan Fura baru setelahnya beranjak dari hidupmu!"
"Pernyataan apa ini!"
"Cukup jelas bukan! Aku ingin Fura sembuh! Dan aku ingat perkataanmu tidak akan memaksaku! Jika Fura sembuh, kamu harus siap dengan kepergianku!"
__ADS_1
"Ayolah lupakan hal semacam ini! Semua hanya alasanmu bukan? Bahkan prosentase kesembuhan Fura sangat minim!"
"Kamu hanya cukup mengatakan ya, dan aku akan berusaha keras menyembuhkan istrimu! Katakan kamu senang bukan Mas, jika Fura bisa berjalan dan melayanimu lagi?" Shofi menatap lekat Syafiq.
"Tentu, tapi kemungkinan itu sangat kecil!"
"Kecil bukan berarti tidak ada!"
"Aamiin. Tunggu! Dan kamu akan pergi saat itu?"
"Sesuai niat awal aku di sini!" Syafiq bergeming.
"Mengapa Shofi bisa begitu yakin, tentu aku senang jika Fura pulih, tapi membayangkan Shofi akan pergi aku tak bisa. Namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyanggah, Shofi bisa putar haluan dan pergi saat ini juga jika aku tak mendukung inginnya. Lagipula kesembuhan Fura juga belum bisa dipastikan, setahun ... dua tahun, entah kapan itu! Yang jelas hari ini mereka berdua ada bersamaku, aku akan syukuri hari ini! Hitungan bulan anakku akan lahir, dan ia akan di dekatku. Untuk yang terjadi esok, kita lihat saja nanti------
"Mass ...."
"Oh, iya," Panggilan Shofi mengaburkan lamun Syafiq.
"Bagaimana? Kamu tak akan menahanku jika saat itu tiba, bukan?"
"Aku sedih kamu selalu berfikir untuk jauh dariku, tapi baiklah sesuai inginmu!" Keinginan bermesraan itu mendadak hilang. Syafiq mengangkat tubuhnya dan berdiri.
"Bangunlah kita sarapan bersama! Aku akan menunggumu di bawah!" Shofi mengangguk, ada sedikit kekecewaan Syafiq begitu cepat meninggalkan kamarnya.
______________
"Mana yang lain, Mbok?" tanya Syafiq mengarahkan wajahnya pada Santi yang tengah berbenah.
"Non Hana sudah berangkat ke sekolah, sedang ibu bersama den Omar di kamar."
"Astagfirulloh ...." Tiba-tiba Syafiq sadar, karena begitu senang ia meninggalkan Fura dan anak-anak yang sedang makan bersamanya beberapa saat lalu, ia segera menuju kamar.
"Sayang ... maaf," lirih Syafiq meraih tubuh Fura dari belakang.
"Iya tidak apa-apa! Kamu pasti sangat senang Shofi tetap di sini!" Syafiq tersenyum getir.
"Hai jagoan Abi ... Omar main bersama mbak Kinan dulu, ya! Abi ingin bicara pada Umi!" Omar menurut, ia keluar kamar dan menutupnya kembali.
Dengan cepat Syafiq menarik kursi roda Fura hingga ke tepi ranjang. Syafiq duduk di hadapan Fura dan melingkarkan tangannya di leher wanita pertamanya tersebut sambil menatap intens. "Maaf," ucap Syafiq kembali. Fura tersenyum.
"Kenapa begitu cepat kamu keluar kamar, Bii? Tidakkah kamu ingin meluapkan kerinduanmu pada Shofi!" lirih Fura menyapu kepala Syafiq.
Syafiq mendekatkan wajahnya ke pelipis Fura. "Terima kasih, sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku ingat harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak kita!" bisik Syafiq, Fura menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Juriyy ...."
"Hem ...?"
"Kenapa kamu begitu baik!" tanpa aba-aba Syafiq mencium lembut bibir Fura. Mereka saling berbalas hingga beberapa saat Fura melepasnya.
__ADS_1
"Sudah, Bii! Kamu belum sarapan, sarapanlah bersama Shofi. Aku akan ke taman!" Syafiq tersenyum. "Aku akan mengantarmu!"
Syafiq mendorong kursi roda Fura dari arah kamar berpapasan dengan Shofi yang hendak ke dapur. Shofi dan Fura saling melempar tersenyum.
"Aku akan ke taman sendiri, Bii!"
"Aku akan mengantarmu!"
"Shof, tunggulah aku di meja makan! Aku segera datang!" Shofi mengangguk.
_______________
"Masakanmu selalu enak, dan lidahku merasa nyaman dan hafal dengan perpaduan bumbu yang disertai cinta di dalamnya ini!" Syafiq menggenggam jemari Shofi sambil menyendok makanan ke mulutnya.
"Lepas! Tidak baik dilihat ARTmu! Juga Fura bisa tiba-tiba datang, ada Omar pula!" Syafiq tersenyum dan melepaskan jemarinya.
Mereka makan dengan tenang setelahnya. Melihat makanan di piring mereka telah habis, Shofi melontar kata, "Aku akan menghubungi mas Raihan nanti untuk memulai terapi pada Fura, Mas!"
Huk ... Huk ...
Syafiq yang tengah menyesap Teh seketika kaget. "Lakukan apa yang ingin mau lakukan, tapi tidak dengan Raihan, jangan dia," lugas Syafiq.
"Kenapa? Jangan campuri urusan pribadi dengan ihtiarku menyembuhkan Fura, Mas ...."
"Kubilang cari dokter syaraf lain! Tidak kuizinkan Raihan memasuki rumahku!"
"Tapi, Mas!"
"Aku akan bersiap!" Syafiq yang marah meninggalkan Shofi yang tengah mengatur napas, kaget dengan reaksi Syafiq.
•
•
Beberapa saat kemudian Syafiq bersiap berangkat, ia mengecup puncak kepala kedua wanita tercintanya. Baru kemudian beranjak. Shofi mendorong kursi roda Fura ke arah luar mengantar kepergian Syafiq. Hingga bayang mobil Syafiq tak terlihat, Fura meraih jemari Shofi yang masih berada diatas kursi rodanya.
Shofi kaget, ia berpindah posisi hingga wajah mereka saling bertatap.
"Terima kasih, mengikuti inginku!" ucap Fura. Shofi duduk di kursi tepat di muka rumah mereka.
"Aku memutuskan ini untuk diriku sendiri! Menghindari penyesalanku jika mas Syafiq sampai mencari Shofi lain jika aku pergi!" lirih Shofi.
"Apapun alasanmu aku berterima kasih!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Jujur Bubu pribadi nggak banget dengan hubungan macam ini. But this just a story, enjoy it🙏❤❤
__ADS_1