
Raihan yang berada di parkiran pula menuju jeepnya seketika kaget melihat raga Shofi tak sadarkan diri. Ia yang bingung membawa Shofi masuk ke jeepnya. Ia menelepon Yoga sang asisten dan memintanya mencari informasi alamat Shofi yang merupakan dokter gigi di Rumah Sakitnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Raihan membaringkan Shofi di bagian tengah jeepnya, sebagai seorang dokter penting untuknya mengecek kondisi Shofi. Wajah Shofi yang pucat, keringat dingin yang keluar, bibir yang sedikit membiru membuat Raihan khawatir.
"Apa mungkin kamu begitu kelelahan, Shof? Atau telat makan? Atau ada hal lain yang menyebabkanmu seperti ini?"
Raihan terus menerka hal apa yang memicu penurunan tekanan darah dan detak jantung Shofi, sehingga asupan darah ke otak berkurang dan mengakibatkannya mengalami penurunan kesadaran seperti saat ini.
Raihan khawatir Shofi mengalami sesak nafas, nyeri dada atau pusing berlebih yang menandakan indikasi penyakit lain. Sebab jika itu sampai terjadi, Shofi perlu mendapatkan penanganan khusus.
Beberapa kali Raihan terus memanggil Shofi, namun Shofi masih tak merespon. Ia meletakkan jemarinya di leher Shofi, setelah memastikan Shofi masih bernafas melalui denyut nadi di lehernya. Ia memberi bantalan pada kaki Shofi setelahnya menggunakan bantal tidur di mobilnya, agar aliran darah Shofi kembali ke otak. Ia merenggangkan pula ikat pinggang yang Shofi kenakan dan peniti di dagu Shofi. Batinnya berbisik lirih, "Maaf ... jika aku lancang, ini sebatas penanganan profesionalku, Shof ...!"
Beberapa saat, terdengar dering ponsel dari tas Shofi. Raihan mulai bermonolog. "Haruskah aku mengangkat panggilan tersebut? Atau sebaiknya kuabaikan? Tapi bagaimana jika panggilan itu penting?" bimbang Raihan. Ia berfikir dan akhirnya memutuskan mengangkat ponsel tersebut dengan dalih niat membantu Shofi.
Perlahan Raihan membuka tas Shofi dan mengambil ponsel dari sana. Nama seorang pria langsung tertangkap netra Raihan, hal yang membuat hatinya seketika tak karuan.
Ia masih menggenggam ponsel Shofi hingga dering itu berhenti. Tampak 5 panggilan tak terjawab dari Syafiq tertera.
"Ada hubungan apa pria bernama Syafiq dengan Shofi? Mengapa ia terus menghubungi Shofi?" batin Raihan.
Panggilan di ponsel Shofi tak terdengar lagi. Raihan kembali memasukkan ponsel Shofi ke dalam tas dan ia melihat botol minyak kayu putih di dalam tas milik Shofi, sesuatu yang bisa membantu memulihkan kesadaran wanita di hadapannya.
Raihan membalurkan minyak kayu putih pada bawah hidung dan pelipis Shofi, panggilan ia lontarkan pula untuk menyadarkan wanita yang pernah menjadi pengisi hatinya tersebut. Hingga beberapa saat Shofi tersadar.
Ia kaget melihat posisinya di dalam sebuah mobil saat ini, terlebih ada Raihan di dekatnya. Dan hijab yang tak beraturan membuatnya semakin dipenuhi tanya.
"Mas, mengapa aku di sini? Apa yang terjadi pa-da-ku?" lirih Shofi menematkan peniti menutup kembali hijabnya.
"Tadi kamu pingsan Shof! Aku spontan membawamu masuk ke mobilku, syukurnya kamu sudah sadar. Apa yang terjadi padamu, Shof? Apa kamu telat makan? terlalu letih? Atau ada alasan lain?" tanya Raihan bertubi.
"Kamu tidak seharusnya melakukan hal ini padaku, Mas! Kamu bisa memanggil satpam dan membawaku ke UGD untuk mendapat penanganan petugas medis!" lontar Shofi sambil membenarkan posisi ikat pinggangnya.
"Kamu lupa bahkan aku pun seorang tenaga medis! Aku profesional melakukannya!"
"Ta-pi ki-ta-----
"Tak ada hubungan lagi? Atau bukan muhrim? Jangan lupa Shof ...! Menolong itu tak membedakan gen dan status, kita menolong untuk mencegah suatu hal buruk pada orang yang kita tangani tulus tanpa embel-embel lain, dan itu alasanku melakukan semua ini padamu!" sela Raihan. Shofi bergeming membenarkan ucapan Raihan.
"Sekarang berikan lenganmu!"
"Mas ma-u a-pa?"
__ADS_1
"Please Shof, aku hanya ingin mengecek nadimu!"
Perlahan Shofi mengulurkan lengannya, Raihan dengan sangat lihai meletakkan jemarinya ke nadi shofi, tak sampai di sana Raihan mengecek nadi shofi dengan keempat jarinya pula untuk memastikan sesuatu, tampak denyut yang sangat cepat teraba oleh keempat jemari Raihan. Sesuatu yang biasanya menandakan gejala kehamilan. Raihan bungkam, ia hanya menatap Shofi kini.
"Kenapa kamu melihatku seperti i-tu?" bingung Shofi.
"Bukan apa-apa, syukurlah semua baik. Sekarang katakan di mana rumahmu, biar aku mengantarmu pulang!"
"A-ku bisa pu-lang sendiri!" ucap Shofi.
"Jangan menolak Shof! Aku ingin memastikan kamu sampai dengan selamat!"
Shofi yang merasakan tubuhnya masih lemas, akhirnya mengangguk lirih menerima tawaran Raihan.
•
•
Sepuluh menit berlalu, bangunan minimalis berdominasi putih gading dan batu marmer disertai beberapa pastisi kuning di sisi sampingnya berada di hadapan Raihan saat ini.
Ia yang tau betul Shofi menyukai warna kuning tersenyum, ia memang selalu menyukai selera Shofi, kesederhanaan nan elegan. Dalam benaknya merasa bangga 2 tahun berpisah dengannya ternyata Shofi bisa memiliki rumah seindah ini.
"Sudah, sampai sini saja, Mas!" utar Shofi. Ia memaksa keluar dari mobil namun tubuhnya masih tak seimbang, ia menyandarkan tubuhnya di sisi jeep Raihan. Raihan yang menangkap kondisi Shofi turun dan tanpa permisi merangkulkan tangan kanannya ke bahu Shofi.
"Mass ...!"
"Anggaplah aku dokter yang tak ingin terjadi sesuatu pada pasiennya, aku ingin memastikan sang pasien selamat masuk ke dalam rumah!"
Shofi tak berkutik, ia pasrah dan terus bertopang pada tubuh Raihan hingga pintu terbuka dan mereka masuk ke dalam.
"Fantastic, good yellow house! It's you!"
"Thanks ... dudukkan saja aku di sofa dan kamu segera pergilah!"
"Tidak bisakah aku meminum sesuatu di sini dahulu! Tubuhmu kini tampak lebih berat dan berisi dibanding dulu!" Tak menunggu respon Shofi, Raihan menuju dapur dan langsung mencari minuman di sana. Shofi menggeleng-gelang kepala. Ia berharap Raihan seger minum dan pulang. Akan tak baik jika Syafiq mengetahui keberadaan Raihan di rumah mereka.
"Mass ... kenapa lama? Cepat minumnya dan pulanglah!" teriak Shofi.
Raihan bergeming, ia yang melewati ruang keluarga terhenyak saat mendapati foto besar Shofi dengan seorang pria dengan balutan kebaya putih.
__ADS_1
Ia kembali ke ruang tamu dan mendapati Shofi terlihat gelisah menangkap hadirnya. Raihan menatap lekat Shofi. Ia melontar tanya.
"Shof, aku melihat fotomu dengan pria saat aku melewati ruangan di sisi dapur. Jujurlah! Apakah i-a?" Shofi menunduk.
"Ia suamiku, Mas!"
"Haahhh! Tapi bukankah dalam kontrak kerja dilarang----
"Kita dulu juga menerjang batas itu! Kamu lupa?"
"Pernikahan siri?" Shofi mengangguk.
Hati Raihan gusar, ternyata Shofi telah menikah. Ia terus menatap lekat Shofi saat ini.
"Kamu direktur Rumah Sakit saat ini! Esok kamu sudah bisa melayangkan surat pemecatanku, Mas! Karena kamu sudah tau statusku!"
"Siapa laki-laki itu? Apa ia pria baik? Pernikahan siri tak baik, Shof. Terlebih untukmu wanita!"
"Ia pria baik dan tak sepertimu, Mas!"
"Oke. Aku senang mendengarnya, aku juga mengucapkan selamat!"
"Selamat?" bingung Shofi.
"Kemungkinan besar kamu sedang hamil! Jagalah kondisimu dengan baik! Beberapa hari ini kamu tak perlu ke Rumah Sakit!"
"Sungguhkah? A-ku ha-mil?"
"Itu hasil pengecekanku atas nadimu tadi, untuk jelasnya kamu pasti tau apa yang harus dicek! Dan pastikan suamimu bahagia akan kehamilanmu!"
"Tentu ... kami memang menunggu momen ini! Oh ya, bagaimana mengenai surat pemecatanku!"
"Aku tau perjuanganmu sampai ke titik ini, Shof. Walau sebetulnya aku kecewa ... kalaupun kamu memilih menikah siri lagi, harusnya kamu bisa menjaga ramimmu tetap kosong seperti saat bersamaku dulu!" Shofi bergeming.
"Kamu masih bisa tetap bekerja selama tak mempengaruhi pekerjaanmu, anggaplah aku belum mengetahui status dan kehamilanmu!"
"Terima kasih, Mas!"
"Aku pulang! Jagalah kondisimu dan calon bayimu!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1
💔Ditunggu komen kalian❤❤