TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Enam Puluh Empat


__ADS_3

💔5 Bulan Kemudian


"Bagaimana sudah siap semua? Yakin tidak ada yang tertinggal?" Wajah itu terus menggeleng.


"Ahhh ...."


"Kenapa? Hati-hati, Sayang!" Wajah itu tersenyum sembari membetulkan letak kayu penyangga di ketiaknya.


"Kita berangkat sekarang?"


"Sebentar, Kak!"


TUK ... TUK ...


Dia berjalan ke setiap sisi dan ruangan rumahnya. Suasana tampak hening. Ada kehampaan di sudut hati itu, hatinya masih ingin di sana dan menanti ... tapi desiran sesak seketika muncul. Penantian itu seakan angan.


Ia melewati ruang keluarga dan memasuki kamarnya. Kamar yang menyimpan banyak cerita, bahagia, sedih, kehangatan juga kehampaan. Disapunya figura besar berukir cantik dengan silver sebagai pilihan warnanya. Ia yang terlihat cantik terbalut busana adat tampak memancarkan aura bahagia yang tak mampu terucap kata, tampak di sisinya pria tegap dengan busana adat pula sedang berpose seolah sedang meliriknya.


Ia tersenyum menatap gambar pria tampan itu, sosok yang telah mencuri hatinya 6 tahun silam, tidak ... hampir 7 tahun. Seperti baru kemarin hal itu terjadi, tapi ternyata sudah berjalan lama dengan berbagai hal membingkainya. Senyum itu seketika berubah menjadi sesak ... Pilu yang teramat. Renyuh dan duka menyelimuti, hingga bulir itu keluar kembali akhirnya. Ia masih menatap wajah itu ... Pria tampan yang selalu ia rindu kehadirannya, namun tak jua hadir setelah hari itu.


💔FLASHBACK ON


"Pakk ... Pak Syafiq ... Ibu Fura, bangun Pak, Buu!!" Suara dengan nada cukup tinggi akhirnya membangunkan dua raga yang masih saling berpeluk.


Pukul 04:30 hari itu sebuah kejadian yang menghantarkan keretakan dimulai.


Syafiq bangkit setelah sebelumnya terus menciumi wajah itu, raga di sisinya harus terbangun agar ia bisa mengangkat lengan yang berada di bawah tubuhnya.


"Bii ...." Ia terbangun.


"Mbok Santi terdengar panik! Aku keluar dulu, Juriyy!" Fura adalah wanita itu, ia mengangguk.


Pakaian telah lengkap disematkan hingga Syafiq membuka pintu dan menutupnya.


Dan itulah terakhir kali raga tegap Syafiq memasuki kamar Fura, istri pertamanya.


______________

__ADS_1


"Ada apa, Mbok?"


"Ibu Shofi, Pakk!" wanita paruh baya itu menangis.


"Shofi?" Syafiq dengan cepat mengarahkan kaki-kaki panjangnya menaiki tangga hingga ia masuk ke kamar itu. Kamar itu sepi. Ia mencari bayang wanita kedua yang semalam tak ia temani lantaran hasratnya ingin bersama mawar jingganya.


Syafiq menuju balkon, tak ada jejak Shofi, ia menuju kamar mandi yang terbuka sedikit. Seketika gerakannya melambat, kegamangan memenuhi otak. Hal buruk seketika merayap sanubarinya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu itu. Dan ....


"Hahhh ...."


Raga polos meringkuk di lantai tertangkap netranya. Jantungnya seolah berhenti menangkap pemandangan yang mengirisnya. Wanita keduanya terlihat sangat pucat dengan seluruh tubuh dingin. Ia mengangkat raga itu ke pembaringan dan menematkan pakaian ke tubuh dengan perut buncit yang menonjol tak beraturan.


Syafiq mengangkat raga itu dan membawanya dengan cepat ke lantai bawah.


"Mang Antoo!! Siapkan mobil!' pekik Syafiq yang membuat semua penghuni rumah terkesiap dan bangun dari tidurnya. Ia Fura pun kaget, ia menekan tombol panggilan untuk teh Rani. Hingga beberapa saat tubuh wanita kekar itu masuk.


"Bantu aku, Teh! Ada apa di luar!" ujar Fura.


"Saya juga baru bangun, Buu! Yang saya lihat Bapak menggendong Bu Shofi ke luar."


"Shofi?"


•


•


Di dalam sebuah mobil, Syafiq terus menciumi wajah tak sadar di pangkuannya. "Sayang ... please! Semua harus baik-baik saja. Bertahan-lah!"


_______________


💔05:15 Tubuh semampai mendapatkan penanganan, dokter Catrina yang biasa menangani shofi terus di hubungi Syafiq. Hingga sepuluh menit tampak wanita yang tak sempat memberi pewarna wajah itu berjalan cepat sambil menematkan almameter dokter sepanjang jalan menuju UGD.


Ia langsung menangani Shofi, ia terhenyak dengan keadaan buruk pasiennya tersebut.


"Bagaimana istri saya, Dok?"


"Kita bicara nanti, operasi caesar harus segera dilakukan!" Syafiq lunglai, ia menyadari pasti ada hal yang tak beres.

__ADS_1


"Lakukan apa-pun ya-ng ter-baik, Do-k!!" Ranjang itu dibawa beberapa perawat setelahnya.


•


•


15 Menit berlalu, seorang perawat keluar membawa seorang bayi.


"Sus, Suss ... bagaimana bayi saya, Sus?" Syafiq terus mengejar perawat yang berjalan dengan cepat. "Berdoa saja, Pak. Kami sedang berusaha!" ucap Suster memasuki sebuah ruangan lantas menutupnya.


Dada Syafiq sesak, bahkan Shofi belum keluar dari ruangan operasi. Keadaan dua orang yang dicintainya masih samar. Ia memutuskan mencari mushola, menjalankan ibadah yang belum terlaksana sembari memohon pertolongan Rabb-nya.


Hingga 45 menit kemudian ranjang yang membawa tubuh semampai itu keluar. Sang dokter segera memanggil Syafiq.


Di dalam sebuah ruangan Dokter Catrina terus mencari jawab bagaimana kondisi pasien bisa seperti itu, Syafiq menjelaskan dengan gamblang semua yang terjadi hingga ia menemukan raga Shofi tadi pagi di kamar mandi.


Dokter Cartina membuang napas kasar sebelum akhirnya ia bicara.


"Kondisi Mom sangat buruk! Mendengar dari kondisi ditemukan, kemungkinan besar ia menggigil setelah membersihkan diri tadi malam. Yang sangat disayangkan ialah ia menghadapi kondisi itu sendiri. Entah dimana Dad berada. Tapi saya kecewa dengan model Dad seperti anda, calon Dad yang tidak peka dan siaga di saat-saat menjelang persalinan istrinya!" Syafiq menunduk dan menetralkan sesak. Berbagai rasa berkumpul, sedih, menyesal, marah. Ia mengutuki dirinya.


"Suhu tubuh Mom kemungkinan menurun drastis secara tiba-tiba sehingga menyempitkan pembuluhnya. Akibatnya, aliran darah yang mengandung oksigen gagal diantar sampai ke tubuh janin, sehingga janin kekurangan oksigen di dalam rahim Mom!"


"Ja-di, bagaimana kondisi istri dan bayi saya, Dok?"


"Bayi bernapas sangat lemah. Warna kulit kebiruan dan pucat. Frekuensi denyut jantung rendah di bawah denyut normal, yaitu 120 denyut per menit. Ototnya lemah. Beruntungnya bayi anda masih hidup, kita berdoa semoga ia bisa melewati dan menerima segala penanganan yang kami lakukan. Tapi tidak menutup kemungkinan terburuk itu!"


"A-pa, Do-k?"


"Kemungkinan cacat itu ada, kami sedang mengecek kondisi organnya. Tapi positif thinking tentu harus, kita berdoa semoga bayi anda cukup kuat dengan segala tindakan pemulihan!"


"Dan istri sa-ya?"


"Mom juga sedang kami tangani, namun penanganan utama adalah pada diri anda. Bagaimana Dad menguatkan mental Mom untuk kemungkinan buruk yang terjadi pada bayinya!"


Dan tubuh Syafiq seketika lemas mendengar segala penuturan dokter.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


💔Segini dulu yaa😉


💔Happy reading😘


__ADS_2