
"Aku ingin kamu menemaniku malam ini, Bii! Tetap memelukku seperti ini dan ja-ngan ke-sana!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah tadi Syafiq membersihkan diri dan menjalankan ibadah, Syafiq akhirnya merebahkan diri kembali di sisi Fura. Hingga di pukul 00.05 Syafiq terbangun teringat janjinya pada Shofi. Ia bergegas dan meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf pada Fura.
Di tempat berbeda, Shofi segera menjalankan ibadah dan bersiap setelah mendengar adzan isya berkumandang, ia khawatir Syafiq tiba-tiba datang dan mendapatinya tak segar.
Beberapa saat berlalu, bunyi APV Syafiq tak jua terdengar. Berkali-kali dilihatnya jam dan pesan di ponselnya mungkin saja ada kabar dari Syafiq, tapi nihil. Ia mulai gelisah!
Shofi sama sekali tak berfikir Syafiq dengan wanita lain, melainkan ia khawatir terjadi hal buruk pada Syafiq sehingga ponselnya tak bisa dihubungi.
Shofi mengambil air wudhu kembali, dilantunkan ayat demi ayat dalam mushaf kecilnya berharap gelisah yang memenuhi otaknya lenyap. Tapi tak terjadi! Gelisah tetap nyaman dan semakin menguasai fikir buruknya. Shofi bingung harus menanyakan keberadaan Syafiq pada siapa, bahkan teman-teman Syafiq tak ada yang ia tau.
Hingga jam dinding menunjukkan pukul 23:00, mata Shofi mulai mengantuk, ia merebahkan diri si sofa ruang tamu menunggu Syafiq. Hawa dingin yang menerjang tak ia pedulikan, Hembusan angin yang terus menelisik pori seakan kelu di tubuhnya yang hanya terbalut lingeri tipis. Ia terlelap.
Pukul 00:30 APV Syafiq menemukan rumah keduanya. Ia membuka pagar besi perlahan tak ingin mengganggu suasana sunyi perumahan yang ia tempati. Ia segera menutup pagar kokoh kembali setelah APVnya terparkir nyaman.
Pintu dibuka, pandangan Syafiq langsung menangkap kaki jenjang Shofi yang saling mengait menahan hawa dingin menyeruak. Desiran rasa bersalah memenuhi batinnya. Shofi ternyata menjalankan titahnya dengan sangat sempurna, ia bersiap sangat cantik bahkan menunggu kedatangannya hingga tertidur.
Syafiq mengangkat tubuh semampai Shofi masuk ke pembaringan. Aroma cherry blossom berpadu wewangian cendana dan bunga vanili yang lembut langsung tertangkap indra penciuman Syafiq. Segar dan memberi kenyamanan setiap raga yang memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
Syafiq menutupi tubuh Shofi dengan selimut. Ia membuka outfit luarnya baru kemudian ikut masuk dalam selimut merehatkan diri. Syafiq menahan desiran yang berpacu memenuhi aliran darahnya tatkala kulitnya bersentuh dengan kulit halus Shofi. Dipandanginya wajah dengan polesan pewarna tipis namun begitu indah di mata Syafiq, Syafiq tersenyum ... wajah Shofi terlihat sangat polos saat tertidur, ia seakan melihat Hana dalam wujud dewasa, putri kecil yang selalu ingin ia cium sebab kepolosan dan wajah menggemaskannya.
Terbesit ingin membangunkan Shofi tapi ia urungkan, bagaimana pun istrinya itu pekerja dan esok ia harus berjibaku di Rumah Sakit. Syafiq yang tak ingin mengganggu Shofi yang terlihat begitu pulas, memilih memejamkan matanya kini.
Belum lagi bunga tidur masuk ke otak Syafiq, sebuah rangkulan dirasakannya. Dengan tubuh, tangan dan kaki Shofi yang menempel bak memeluk guling, sungguh membangkitkan jiwa kelakian Syafiq. Berusaha memejamkan mata dan berupaya untuk terlelap semakin sulit ia lakukan, otaknya semakin meracau. Ia yang tak tahan akhirnya memilih menyapu bahu Shofi.
"Sayangg ...," lirih Syafiq.
"Hemm ...." Hanya gumaman dengan mata terpejam Syafiq terima.
"Shoff ... Shofii ...!" Syafiq berusaha membangunkan Shofi kembali, justru eratan yang semakin kuat ia rasa.
Syafiq memiringkan tubuhnya kini. Diraihnya wajah Shofi, ia menciumi wajah Shofi hingga sang pemilih wajah akhirnya membuka mata. Shofi kaget sosok yang dikhawatirkan ada di sampingnya. Ia mencubit lengan Syafiq.
"Mas kemana saja? Aku sangat takut terjadi sesuatu!" ucap Shofi membenamkan wajahnya ke bahu Syafiq.
"Maaf membuatmu lama menunggu ....!"
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang Mas sudah ada di sampingku, aku tenang!" ucap Shofi.
"Kamu sudah makan, hem?" tanya Syafiq setelahnya.
__ADS_1
"Karena lama menunggu Mas, aku memesan sate kelopo melalui ojek online tadi. Mas sendiri sudah makan?" Syafiq mengangguk.
"Syukurlah!" lirih Shofi.
"Tapi aku sudah lapar lagi sekarang!"
"Sate kelopo masih ada, aku akan siapkan untuk Mas ...!" Shofi yang hendak beranjak segera ditahan Syafiq.
"Mass ...?" lirih Shofi bingung.
"Aku tidak mau makanan itu!"
"Lalu?"
"Aku mau kamu!" Sebuah kerlingan menggoda membuat Shofi merona dan memahami keinginan sang suami.
Keduanya saling melayani tanpa penghalang pil-pil seperti sebelumnya, melakukan dengan ikhlas dan cinta membuncah. Terselip doa dalam setiap hentakan semoga benih yang akan ditanam berhasil mewujudkan ingin keduanya akan hadirnya buah hati. Kehadiran yang diharap menjadi penguat hubungan mereka selamanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1
💔Like dan komen kalian membahagiakan Bubu❤