TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Raga cantik menyambut dengan pelukan tulus. "Akhirnya kamu pulang, Bii ...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Matahari pagi perlahan merangkak naik ke angkasa, jiwa-jiwa memulai aktivitasnya seperti biasa. Pukul 08:00 Shofi kecil sudah berangkat les bersama Mbok Ratih. Sedang Raihan memulai aktivitasnya di jam 09:00, ada pertemuan para direktur Rumah Sakit di sebuah Hotel ternama di Bandung.


Tinggallah lagi-lagi Shofi bersama mbok Arum. Empat hari sudah Shofi berada di rumah Raihan, kini ia mulai berani keluar kamar terlebih pagi tadi Shofi kecil menjemputnya sarapan bersama pula dan ia tak bisa menolaknya.


Ia sedang duduk di kursi taman merasakan sengatan matahari berkah gratis dari sang Esa, saat matanya menangkap mbok Arum menjinjing sebuah tas rotan hendak ke Pasar. Mata mbok Arum melihat ke kanan dan kiri mencari keberadaan Shofi, tampak wajahnya merona saat menemukan raga Shofi sedang berjemur di taman.


Mbok Arum mendekat. Ia memberitahu Shofi perihal kepergiannya ke Pasar. Ia tersenyum melihat rona wajah Shofi semakin segar dari pertama kali datang. Shofi mengangguk hingga akhirnya bayang wanita tua dengan rambut di sempol ke belakang itu menghilang dari balik pagar besi yang menjulang.


Kondisi rumah sepi kini, dibenak Shofi terlintas untuk pulang ke Rumahnya, mengambil kartu identitas dan beberapa kartu penting lain. Ia pikir sudah cukup berleha dan menghindar dari segala permasalahan hidup. Jiwa dan raganya sudah cukup kuat kini untuk menghadapi semua.


Ia masuk ke kamar, menggunakan celana hamil dengan model pensil yang agak longgar berpadu tunik panjang sedengkul berwarna army yang ia peroleh dari Raihan kemarin sore. Wajahnya natural tanpa riasan pewarna wajah, namun tak menghilangkan pesona ayu yang melekat sejak hadirnya di muka bumi. Sebelum beranjak keluar kamar, ia meminum vitamin hamil, asam folat dan sebuah pil untuk menenangkan jiwanya.


Kondisi tiap malam yang sulit tidur, membuat ia membutuhkan obat penenang tersebut untuk merehatkan letihnya. Obat yang sangat ringan dan ia tau betul tak akan memperburuk janinnya.


Setelahnya ia berjalan melewati pintu kokoh putih tanpa tas, dompet dan ponsel. Ia akan membayar ojek yang mengantarnya saat sampai di rumah nanti, begitu fikirnya.


Dengan lenggang Shofi keluar dari gerbang hitam, inilah waktu yang tepat, saat tak ada seorang pun di rumah yang akan menahannya untuk keluar seperti sebelumnya.

__ADS_1


Shofi terus berjalan hingga melewati gerbang masuk perumahan rumah Raihan. Sebuah pengendara motor yang melihat ia berjalan sendiri tiba-tiba berhenti. Ia menawarkan jasa mengantar, Shofi mengiyakan. Dilontarkannya alamat tempat tinggalnya dan dengan cepat pria dengan motor beat itu langsung menuju lokasi yang disebutkan.


Berkat kepiawaian sang driver mencari jalan yang jauh dari kepadatan kendaraan, 10 menit sampailah Shofi ke kediamannya. Shofi meminta sang driver menunggu, ia dengan cepat melewati gerbang tinggi berwarna putih. Meraba sejenak Mazdanya baru beranjak mengambil sebuah kunci dari salah satu pot yang berjejer cantik di muka rumah. Ia segera memutar kunci tersebut, hingga terbukalah pintu besar itu.


Tak ingin sang driver lama menunggu, ia segera ke kamar membuka sebuah laci di mana ia meletakkan beberapa lembar uang dan segera keluar menyerahkan uang tersebut pada sang driver. Setelah memperoleh haknya, sang driver beranjak.


Shofi menatap bangunan minimalis dengan tiga partisi kuning itu, bangunan yang sebelumnya menjadi saksi berbagai kebahagiaan yang ia rasa, kini nyatanya ia adalah saksi bisu kebohongan demi kebohongan yang lolos dari mulut suaminya.


Shofi menghela napas kasar sebelum akhirnya ia kembali masuk ke rumah tersebut. Berbagai ruangan ia telusuri sehingga berbagai cuplikan kebersamaannya bersama Syafiq muncul. Ia menahan bulir yang hampir saja membasahi pipi.


"Tidak ... tidak lagi! Tidak boleh menangis. Sudah cukup calon bayiku merasakan getar perih yang kurasa," batin Shofi.


Ia melangkahkan kaki kini ke kamar dengan dominasi kuning nan indah. Dirabanya satu persatu barang yang ada di sana. Hati kecilnya berdesir merindukan saat-saat itu, saat ia merasa menjadi ratu di sana. Dibukanya jendela kamar agar pertukaran udara dapat berlangsung. Disemprotnya sebuah pengharum ruangan setelahnya. Kini kamar tersebut kembali memiliki harum sesuai identitasnya.


_______________


Empat hari sudah raga kekar itu menanti dan menahan kerinduan yang membuncah. Setiap malam dipakainya untuk berkeliling mencari keberadaan sang istri yang tengah mengandung benihnya. Hingga di kantor pun ia selalu mengantuk dan pekerjaannya tak beres.


Sang atasan yang melihat gelagat letih sang bawahan meminta Syafiq pulang dan beristirahat, Syafiq mengangguk. Dengan gontai ia meraih APVnya, Syafiq yang tak memiliki tujuan pasti menatap nanar ke arah kemudi sambil otaknya terus berpikir, siapa lagi yang mungkin mengetahui keberadaan Shofi.


Raga letihnya tak bisa diajak kompromi, ia butuh rehat saat ini. Hingga bayangan rumahnya bersama Shofi tiba-tiba terlintas di otaknya. Rumah yang tak pernah ia kunjungi lagi setelah hari itu. Berada di sana selalu mengingatkan akan perilaku jahatnya pada Shofi. Kebohongan demi kebohongan yang kerap ia ucapkan, juga besarnya keriduannya yang kerap menyesakkan hatinya. Namun pikir itu kali ini ia abaikan, karena hanya tempat itu yang ia rasa cocok untuk merehatkan diri dalam kesunyian.

__ADS_1


Gerbang kokoh dibuka, mazda kuning Shofi menjadi hal yang pertama ia tangkap. Mobil yang hampir sepekan menjadi penghuni rumah tersebut, dan pasti juga merindui pemiliknya tetap bergeming cantik di sana. Hingga APV Syafiq berhenti dan Mazda Shofi kini tak sendiri lagi.


Syafiq melangkahkan kaki kembali, berusaha membuka pintu dengan kunci yang dimiliki, namun ia kaget pintu tak terkunci. Seketika dadanya merasakan sesak hebat, jantungnya tak teratur.


"Mungkinkah ...?"


Dengan cepat Syafiq beranjak ke setiap ruangan mencari bayang wanita yang begitu ia rindukan dan mungkin ada di rumah tersebut. Syafiq menghela napas kasar saat segala hanya khayal. Tak nampak raga Shofi. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


"Mungkin aku lupa menutup pintu saat terakhir ke sini!" batin Syafiq membuang asumsinya.


Dengan landai Syafiq menuju kamar, tidur dan merehatkan diri adalah hal yang dibutuhkan tubuhnya saat ini. Ia membuka pintu ... dan ia terperanjat!


Wanita berhijab dengan kaki-kaki jenjang yang sangat dihapalnya ada di sana. Jantungnya kembali berdetak cepat, perlahan Syafiq mendekat berusaha memastikan yang dilihatnya.


Dua sudut bibirnya terangkat saat melihat jelas wajah itu, wajah wanita yang sedang dinantikannya. Ia membungkuk di lantai menelusuri wajah Shofi, bulir membasahi wajahnya. "Bidadariku telah pulang ...," gumam Syafiq.


Syafiq baru saja hendak mengecup kening itu, tapi ia urungkan. Tak ingin Shofi terbangun. Dipandangnya pula perut yang semakin membuncit dari terakhir mereka bertemu. Syafiq tersenyum ... ada buah cintanya bersama Shofi tumbuh di sana. Ingin membelai perut itu namun lagi-lagi ia urungkan.


Syafiq memilih bangkit dan perlahan merangkak naik ke pembaringan. Ia masih menatap wajah itu, dadanya sesak melihat wajah itu telihat lebih tirus. Ia sungguh telah menyakiti Shofi sangat dalam, membayangkan hari-hari Shofi yang tak mudah belakangan ini, bulir kembali keluar dari sudut mata Syafiq. Ia terus menatap wajah itu, hingga perlahan netranya terasa berat, kelopak matanya perlahan menyipit dan kemudian menutup sempurna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


💔Maaf upnya nggak terhambat, hari ini Bubu mudik saudara nikah🙏


💔Happy reading😘


__ADS_2