
"Kenapa kita tidak mempermudah suami kita dengan hidup berdampingan dengan baik?"
"Apa mbak yakin mas Syafiq bisa adil pada kita?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Itulah tugas kita di sisinya yang harus mengingatkan jika ia mulai lengah. Kemarin ia sulit adil karena kebohongan yang ia tutupi, tapi kini semua sudah terbuka. Kita sudah sama-sama tau yang terjadi. Dengan keikhlasan kita, akan mempermudah mas Syafiq berlaku adil!" lugas Fura.
"Lalu bagaimana tentang hati? Raga kita bisa seolah berperilaku ikhlas, tapi hati tak bisa dibohongi. Apa mbak yakin tidak akan cemburu saat mas Syafiq menghabiskan waktu bersamaku?"
"Aku mulai terbiasa sejak pernikahan kalian. Kecemburuan tetap ada tapi aku luruskan kembali niatku memilih jalan ini!" Fura mendorong kursinya mendekati nacash dan meminum air dari gelasnya.
"Mbak wanita hebat bisa seperti itu. Tapi aku bukan mbak! Aku tidak bisa!"
"Bahkan mbak Shofi cemburu pada wanita cacat sepertiku? Bahkan yang aku beri tak sebanding dengan yang mbak Shofi beri!" Fura tersenyum getir.
"Tapi kalian sudah lebih lama bersama, menjalani hal indah, ada 2 buah hati pula yang akan terus mengikat kalian! Dan satu lagi, pernikahan kalian resmi, tidak sepertiku!"
"Kalian juga akan memiliki buah hati, bukan? Tentang pernikahan ... mas syafiq pasti akan menikahi mbak Shofi karena ia juga tak ingin kehilangan Mbak!"
"Apa Mbak bicara padaku seperti ini karena keinginan mas Syafiq?"
Fura menggeleng tak menyangka Shofi berasumsi demikian. "Aku melakukan ini karena inginku sendiri tanpa tekanan siapapun!" Keduanya sama-sama bergeming setelahnya.
Beberapa saat, Fura angkat bicara kembali. "Jadi bagaimana? Mbak bersedia bukan berdampingan denganku dan memudahkan urusan suami kita?"
Shofi tersenyum getir penuh kebimbangan. Haruskah ia membuang prinsipnya atas nama cinta dan pengorbanan. Ia masih bergeming menatap nanar ke luar jendela.
"Jika mbak Shofi bimbang, pikirkanlah semua untuk anak dalam kandungan Mbak! Ia membutuhkan sosok ayah!"
"Aku butuh waktu untuk berfikir!"
"Iya, berfikirlah. Terkadang kita harus meletakkan ego di bawah akal dan hati! Maaf, bukan menggurui ... sekedar saran." Fura memutar kembali rodanya membuka pintu kamar. Tampak wajah penuh tanya Syafiq tertangkap netranya.
Pintu tertutup, Syafiq mendorong kursi roda fura mendekati sofa yang terdapat Shofi duduk di sana.
"Bisa kuketahui apa yang kalian bicarakan?" ucap Syafiq menatap dua wajah bergantian. Dua wajah yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Bii ... jika kami berdiri berdampingan bersamamu, apa kamu bisa adil?" lirih Fura mempertanyakan hal yang sempat diragukan Shofi beberapa saat lalu.
Syafiq menarik napas panjang. Baru kemudian kembali menatap 2 wajah itu bergantian. Ia memfokuskan menatap Fura dan menggenggam jemari Fura setelahnya. "Sebelum kujawab, aku mohon maaf sebesarnya padamu Juriyy, selama ini aku banyak bersama Shofi. Kamu pasti tau mengapa aku melakukannya!" Rasa perih itu tak tergambar, air mata itu seakan kelu. Entah karena keikhlasan telah terpatri atau air matanya telah menyusut seiring banyak malam selalu ia tumpahkan. Fura mengangguk dengan seberkas senyum terpancar, hal yang menenangkan Syafiq melihatnya.
__ADS_1
Syafiq meraih jemari Shofi pula setelahnya, menatap kedua wajah itu bergantian. "Tidak ada manusia yang bisa adil sepenuhnya, tapi aku akan berusaha melakukannya! Tolong ingatkan jika aku lebih condong pada salah satu dari kalian!" Syafiq menunduk sesaat baru menatap kembali dua wajah itu dengan rona pengharapan.
Shofi melepaskan eratan jemari Syafiq. Syafiq kaget. "Mbak, aku bahkan belum menjawab setuju, bukan?"
Perkataan yang seolah menjatuhkan angan Syafiq yang sebelumnya melambung. "Maksudnya?" bingung Syafiq.
"Mbak Shofi meminta waktu untuk menjawab, Bii. Kamu bisa menunggu, bukan?" Syafiq tersenyum getir menatap Shofi.
"Bawalah koper Mbak Shofi ke atas, Bi! Ia pasti letih, biar ia beristirahat di sana!"
"Maaf, aku tidak bisa menginap di sini! Aku sudah bisa memperoleh dompetku, bukan?"
"Mbak harus tetap di sini, dompet Mbak akan aku beri setelah mbak Shofi menjawab permintaanku!" Fura menatap lekat Shofi penuh pengharapan.
"Tapi?"
"Maaf ... tapi aku harus memastikan anak dari suamiku memperoleh nutrisi dengan baik!" Shofi menggeleng-geleng dan bergeming setelahnya merasa tak ada pilihan.
"Ke ataslah Bii, aku sudah siapkan kamar mbak Shofi di sana!"
"Kenapa di atas? Aku di bawah saja!" Naik ke atas serasa tak sopan untuk Shofi. Terlebih ia tau kamar Fura bahkan di bawah.
"Tapi, Mbak?" Shofi menatap Fura baru menatap Syafiq setelahnya. Tampak Syafiq mengangguk.
"Maaf, tapi kamar di bawah semua penuh!"
Kedua raga tampak keluar dari kamar, Syafiq mengangkat koper dan kaki-kaki itu perlahan menaiki satu persatu anak tangga. Hingga anak tangga terakhir lolos dan berjalanlah kedua raga menuju sebuah pintu besar berwarna putih dengan list berwarna ungu yang lembut. Syafiq memutar kunci dalam genggamannya hingga pintu besar itu akhirnya terbuka.
"Ini kamarmu mulai hari ini!"
Dada Shofi sesak melihat kamar besar tersebut. "Ini pasti kamar kalian dulu?" Syafiq mengangguk.
"Dua setengah tahun lalu, namun sudah lama kosong tak ada yang menempati."
"Mbak Fura menyukai warna ungu?" Syafiq lagi-lagi mengangguk. Setelah segalanya terbuka tak ada alasan ia menutupi apapun.
"Kamu bisa memanggilnya Fura saja, ia lebih muda darimu!"
"Yah aku memang sudah tua!"
__ADS_1
"Shof, please! Oh ya, aku akan mendekorasi ulang kamar ini segera dengan warna kuning kesukaanmu!"
"Tidak perlu, aku belum tentu akan menetap di sini!"
Sesak menyelimuti dada Syafiq mendengar jawaban Shofi. "Duduklah!" Syafiq duduk di tepi ranjang dan menepuk tempat di sampingnya. Shofi menurut.
Dalam hitungan detik jemari Shofi sudah dalam tautan jemari Syafiq. "Jangan pergi! Tolong jangan pergi! Tetap bersamaku!" Syafiq berkali mencium jemari Shofi.
"Tidak baik ada 2 ratu dalam satu rumah, Mas!"
"Kita akan membuatnya baik. Kamu tega meninggalkanku, Shof!"
"Kamu memiliki mbak Fura, maaf Fura maksudku. Kamu tidak akan kesepian!"
"Tapi setengah hatiku akan kosong. Aku membutuhkanmu, Shof!"
Shofi tersenyum getir, "Tidak ada yang memuaskan hasratmu, kah?"
"Shof ayolah! Tidak hanya tentang itu. Kita akan memiliki anak, kita hidup bersama-sama, membesarkan anak-anak. Kita bangun mimpi bersama!"
"Mimpi siapa yang akan Mas bangun? Mimpiku atau mimpi Fura?" lugas Shofi.
"Mimpi kalian. Kita jalani mahligai ini bersama!"
"Egois!"
"Terserah jika itu pendapatmu! Tapi ini masalah 2 hati yang ingin selalu aku jaga, tentang hatiku yang membutuhkan kalian, juga tentang tanggung jawabku di depan Robku saat menikahi kalian. Ingat perpisahan bukan hal yang dianjurkan dalam agama, Shof!"
"Berbohong juga tidak dibenarkan!"
"Kamu belum ikhlas memaafkan suamimu, Shof?" Shofi bergeming.
"Keluarlah aku ingin istirahat!"
"Tolong fikirkan segalanya dengan kepala dingin! Fikirkan calon anak kita dan masa depannya! Hidup dengan anak tanpa status pernikahan legal bukan hal yang mudah! Kamu bersikeras terus berpisah, tapi sudahkah kamu tanya pada hatimu, apakah ia sudah siap menghilangkanku!"
Syafiq menghilang dari balik pintu setelahnya, meninggalkan bulir yang terus memaksa keluar dari pelupuk mata Shofi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1