TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

"Beri kami waktu untuk memikirkannya, Dok! Aku akan meminta pertimbangan suamiku!"


"Oh oke tentu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak terasa sebulan sudah fisioterapi Fura dilakukan. Sesuai persetujuan Syafiq, fisioterapi dilakukan di Rumah Sakit sepekan 3 kali selama 90 menit per hari.


Teh Rani dan Shofi selalu turut pada fisioterapi yang dilakukan Fura, sebaliknya Syafiq sekalipun belum pernah mendampingi lantaran hari pelaksanaan terapi memang bertepatan dengan aktivitasnya di kantor. Hal itu membuat Billy belum juga mengenal siapa suami Fura.


Tapi hal itu agaknya tak terlalu dipermasalahkan Billy, sebab kesembuhan Fura adalah yang utama. Untuk kehidupan pribadi Fura ia kurang peduli, walau tak memungkiri ada sedikit penasaran di hatinya tentang siapa pemilik hati teman kecil yang ia biarkan duduk dengan tenang di hatinya tersebut.


Kegiatan fisioterapi harusnya didampingi oleh dokter fisioterapi khusus, tapi karena Billy pernah mengambil spesialis pendidikan kedokteran fisik dan rehabilitasi medis, ia pun memiliki kemampuan melakukannya. Hal yang menunjang pendidikan syaraf sesuai bidangnya.


Sebulan ini latihan Fisik dan latihan gerak dilakukan Billy terhadap Fura. Latihan fisik ditujukan untuk meningkatkan fungsi anggota gerak dan mobilitas bagi penderita paraplegia. Penderita melakukan latihan yang dirancang demi meningkatkan kekuatan otot-otot, terutama pada anggota badan yang mengalami disabilitas.


Terapi fisik mengajari otak dan saraf tulang belakang untuk beradaptasi dengan kerusakan, dan menemukan cara agar dapat memulihkan cedera serta fungsi tubuh semaksimal mungkin. Billy menyusun program latihan yang bisa dilakukan agar Fura tetap aktif secara fisik. Latihan yang diharap dapat membantu kemandirian juga semangat dalam memperbaiki kualitas hidupn yang selama ini banyak bergantung dengan orang sekitar.


Dimulai dengan memiringkan tubuh sendiri, bangun dari posisi berbaring juga menangani saat dirinya hendak buang air.


Sifat Billy yang menyenangkan membuat terapi yang dilakukan Fura terasa enjoy. Billy dalam hal ini selalu dibantu teh Rani yang selalu hadir dan masuk melihat proses terapi, karena bagaimana pun profesi pendamping pasien seperti dirinya tidak bisa sembarangan menggerakkan tubuh pasien yang dikhawatirkan menambah masalah yang terjadi.


Setelah berbagai program latihan fisik, pekan ini Billy menjadwalkan terapi manual untuk Fura. Pada terapi jenis ini, Billy akan menggunakan tangannya untuk memanipulasi, memobilisasi, dan memijat jaringan tubuh. Hal ini bertujuan meredakan rasa sakit dan kaku pada otot serta sendi. Terapi manual dengan pijat juga bermanfaat dalam memperbaiki sirkulasi darah, meningkatkan kemampuan gerak, serta menimbulkan perasaan rileks.


_______________


Hari yang ditunggu Billy tiba. Setelah beberapa hari tak bersua, ia sangat ingin bertemu Fura. Belasan tahun mereka berpisah dan waktu mempertemukan mereka kembali, ada ketakutan Billy akan kehilangan bayang Fura lagi, kendati status Fura memang sudah bersuami kini.


Billy hadir lebih awal. 5 menit, 10 menit hingga 30 menit berlalu, namun Fura tak jua terlihat. Siang ini memang hanya ada jadwal terapi Fura. Melihat ketidakhadiran Fura, Billy bergeming. Kekecewaan menyelimutinya hingga ia memutuskan mencari tau alasan ketidakhadiran Fura.


________________


Fura sejak pagi mual, maagnya kambuh. Fura yang menyukai mangga kweni, mendadak senang saat Santi sang ART datang membawa sekantong kweni hasil panen di pohon depan rumahnya. Fura meminta Santi men-jus semua kweni tersebut. Fura seperti kalap, ia mondar mandir menuju kulkas menyesap jus favoritnya itu. Dan kini ia merasakan perutnya sakit.


Entah sudah berapa kali Syafiq menelepon ke rumah, ia khawatir atas kondisi Fura, namun ia pun memiliki tanggung jawab yang tidak bisa di tinggal di kantornya.


Beberapa waktu lalu Shofi meresepkannya obat, ia meminta Mang Anto menebus obat tersebut di apotik. Setelah meminum obat tampak kondisi Fura lebih baik, ia tampak tertidur saat ini. Hingga sebuah panggilan mengganggu tidurnya. Mengenyampingkan rasa kantuk, Fura mengangkat ponselnya.


"Haii adik manis, kenapa tak datang terapi?" seketika suara yang dikenalnya terdengar.


"Aku kurang sehat, Kak ... maaf lupa mengabari!"


"Kamu sakit? Sakit apa? Kirim alamatmu, aku akan datang!" ucap spontan Billy.


"Bukan sakit berat, Kak. Hanya maagku kambuh."


"Kebiasaan! Kamu pasti telat makan? Atau malas makan? Atau terlalu banyak makan asam? Ayo jujur padaku!"


"Terlalu banyak makan asam, Kak ...."


"Sekarang bagaimana kondisimu? Sudah makan? Sudah minum obat?"

__ADS_1


"Makanan belum masuk, Kak. Tapi aku sudah minum obat yang diresepkan mbak Shofi. Nyeri nya sudah berkurang."


"Tunggu! Apa rumahmu berdekatan dengan rumah dr. Shofi? Sepertinya ia sangat sering bersamamu!"


"Kami satu atap, Kak." Billy bergeming.


"Seorang sahabat berada dalam satu atap dengan keluarga sahabatnya. Beda atap berdekatan saja bisa terjadi hal buruk, dan ini satu atap? Ohh, Fura ... mengapa aku tiba-tiba terus terfikir rumah tanggamu. Tidak, ini kisah berbeda, Fura pasti bisa mengatasi segalanya. Tapi dengan kondisinya saat ini ...! Sial, aku benar-benar tak tenang! Aku harus memastikannya!"




Pukul 14:05 saat sebuah Livina berhenti di muka kediaman Syafiq. Matanya awas mengamati rumah yang berada di hadapannya sambil sesekali melihat smartphonenya, memastikan alamat yang didatangi tepatnya.


Saat memastikan alamat itu benar, pria yang berada dalam mobil tersebut turun, dipanggilnya pria paruh baya yang tengah menyiram tanaman di sana.


"Pakk ... Pak, permisi, Pak!" ujarnya.


"Ada perlu apa ya?" ujar mang Anto pria yang merupakan laki-laki penyiram bunga.


"Benar ini kediaman ibu Fura?"


"Be-tul. Ba-pak siapa, ya?"


"Saya Billy, dokter terapinya, bisa saya bertemu ibu Fura?"


"O-h ... tung-gu sebentar, Pak!" Bayang mang Anto menghilang, ia masuk meminta izin Fura majikannya, untuk membiarkan atau tidak pria yang mencarinya itu masuk.


"Silahkan duduk dulu ya, Pak! Ibu sebentar lagi ke luar!" Billy mengangguk.


Wanita dengan setelan tunik atas bawah berbahan rayon duduk di atas kursi roda di dorong oleh perawatnya. Wajahnya berbinar menatap sosok yang berada di ruang tamu rumahnya. Setelah bayang perawatnya menuju dapur ia melontar tanya.


"Kakak kenapa bisa sampai ke rumahku?"


"Kenapa tidak, ini rumahmu? Bagus!"


"Terima kasih."


"Bagaimana kondisimu? Kamu sudah makan? Lihat apa yang kubawa!" ujar Billy dengan wajah tak kalah berbinar.


"Yeaa, pisang bolen ... aku suka sekali, Kak! Terima kasih!"



"Tunggu dulu! Ada satu lagi!"



"Hahh ... Surabi keju? Kakak masih ingat makanan kesukaanku?"


"Tentu saja aku ingat! cepat makan!"

__ADS_1


"Bik Santi ...!"


"Iya, Bu!"


"Tolong sajikan ini di piring!"


Tak menunggu lama Santi mendekat dengan 2 buah piring di tangannya.


"Ayo cepat makan!"


"Tunggu Kak! Ada orang lain yang juga menyukai makanan-makanan ini!" Billy menarik alisnya bingung.


"Omar ... Hana ...!"


"Anak-anakmu?" Fura mengangguk.


Seorang bocah laki-laki datang dari ruang keluarga dengan mata tak melepas pandang ke arah Billy.


"Jagoan sini! Mana Kakak?"


"Kakak tidur di kamar tante!"


"Ohh, ya sudah ... lihat ada apa di sini, Sayang! Yee ... Surabi keju kesukaan Omar! Ayo makan bareng Umi, ya!" Fura tampak menciumi Omar, sebaliknya Omar yang asing dengan sosok pria dewasa di rumahnya terus bergeming.


"Heii ... kenapa bengong? Jangan melihat seperti itu pada teman Umi. Oh ya kenalkan, ini Om Billy! Waktu kecil Umi dan Om Billy sering main bersama!" Omar masih bergeming.


"Sayang, senyum dong! Ayo buka mulut Omar, A." Omar membuka mulutnya. Dan satu suapan surabi tampak masuk ke mulutnya dan dikunyah dengan lahap. "Enak?" Omar mengangguk.


Fura dan Omar saling bersuapan, hingga menyisakan 1 surabi untuk Hana.


"Andai kutahu anakmu juga suka, aku membawakan lebih banyak tadi!" Fura tersenyum. "Sudah cukup kok, Kak!" Setelah mengambil 1 bolen Omar berlari meninggalkan ruang tamu.


"Tampan, berapa usianya?"


"Tiga tahun. Ia fotocopy abinya!" Mulut Billy membulat.


"Dan yang satunya?" Billy yang beberapa saat lalu mendengar nama seseorang, ingin memastikan.


"Yang besar perempuan. Hana namanya, tapi katanya ia sedang tidur bersama mbak Shofi."


"Ternyata benar nama yang kudengar tadi, Hana?"


Seketika otak Billy dipenuhi pertemuannya dengan gadis kecil bernama Hana dengan mata yang saat itu tak asing untuknya. Mata berbinar Fura.


"Ahh ... apa ini? Hana yang saat itu menyebut dirinya anak Syafiq tak la-in anak Fu-ra? Dan Syafiq saat itu dengan posesifnya memperkenalkan Shofi istrinya? Fura ... ada apa ini?"


Billy terus menggeleng menyesalkan semua jika apa yang di otaknya memang benar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2