TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

Sesak itu semakin terasa saat jarak itu semakin dekat. Syafiq mendorong tubuh Fura dan menutup pintu itu. Ia menghempaskan tongkat yang menahan tubuh Fura hingga tubuh itu kehilangan penopang. Sepasang jemari dengan cepat mencengkram bahu Syafiq.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bii ...."


"Zuriyy ...." Lengan kekar itu mengunci tubuh Fura hingga wajah Fura masuk ke dadanya. Jemari Syafiq mengarahkan dua lengan Fura untuk dilingkarkan pada pinggangnya.


Beberapa saat Fura terhanyut dalam rindu yang selama ini dirasakannya. Ia membiarkan raga itu mengeksploitasi tubuhnya. Hingga ia sadar ada hati Billy yang harus ia jaga, juga terbayang 7 bulan belakangan lelaki ini membiarkannya tertatih sendiri.


Sebelah tangan itu kini berpindah menahan dada Syafiq untuk menjauhi raganya. Sedang tangan yang lain masih di pinggang itu mencari penopang. Syafiq yang mengawang merasa Fura membalas pelukannya beberapa saat lalu kaget saat jemari itu terus menekan dadanya.


"Juriyy ...?"


"Ini salah! Berikan tongkatku, Bi!"


"Tidak ... kamu tidak akan kubiarkan menjauh lagi!"


"Bii. Ingat! Kita sedang dalam proses perceraian. Prilaku ini tidak baik!"


"Baru sedang dalam proses, kan? Kita belum bercerai dan tidak akan kubiarkan perceraian itu terjadi. Kamu milikku!"


"Tidak Bii! Aku akan membangun mimpi bersama kak Billy. Kamu terlambat!"


Syafiq seketika teringat Billy. Ia menuntun raga Fura ke tepi ranjang, dengan sangat hati-hati Syafiq mendudukkan raga itu di sana. Ia duduk setelahnya di samping wanitanya.


"Masalah Billy, ada yang perlu kamu tau, Juriyy!"


Netra itu menatap lekat Syafiq. "Ada apa dengan kak Billy?"


"Tadi siang mama datang memberitahu semua. Perihal masa lalu antara dirinya dan ibu Billy juga Papa Ryan."


"Masalah itu tentu aku dan kak Billy telah tau dan kami sepakat melupakan masa lalu itu!"


"Tapi ada kenyataan yang belum kamu tau!"


"Hem?" Wajah Fura menatap Syafiq penuh tanya.


"Kamu dan Billy, tak bisa bersatu!"


"Kenapa tidak bisa? Kak Billy tidak terikat dengan wanita manapun, aku juga akan lepas darimu, Bii!"

__ADS_1


"Bersatunya kalian adalah kesalahan besar dan tidak boleh terjadi!"


"Apa yang hendak kamu katakan? Jangan mengada-ada hanya untuk mendapatkanku lagi!"


"Mendapatkan kembali itu untuk sesuatu yang telah hilang. Dan kamu belum hilang! Walau raga kita berjauhan, aku yakin hatimu masih milikku."


"Kamu terlalu percaya diri, Bi!" Fura menoleh membuang wajahnya namun dengan cepat Syafiq merangkum rahang Fura.


"Dengar! Mama memintaku menyampaikan kenyataan tentangmu dan Billy. Kenyataan yang membuat kalian selamanya tak bisa bersatu. Tentang ka-mu dan Billy ya-ng memiliki da-rah yang sa-ma. Darah Papa Ryan Ardiansyah. Kalian sedarah, Juriyy!"


"Tidak ... kamu bohong Bii! Kamu mengatakan ini semata-mata agar aku berbalik, bukan?"


"Ini kenyataan yang sesunguhnya, Juriyy!" Raga Fura telah masuk dalam dekapan Syafiq kembali.


"Hahh ... kenapa aku tak dibiarkan dicintai. Aku senang dengan cinta kak Billy yang selalu utuh untukku. Tapi nyatanya dia ka-kakku, kah?" Kepala Syafiq bergerak naik turun, ia mengangguk. Dan seketika bulir itu lolos dari netra Fura.


"Please jangan kemana-mana! Rumahmu itu ada di hatiku, sebaliknya rumahku cuma kamu! Kita perbaiki dan jalani semua kembali, oke!"


"Rumahmu bukan aku, tapi Shofi!"


"Tidak! Perpisahan kemarin menyadarkanku bahwa hati ini hanya milikmu. Aku sakit jauh darimu, Juriyy ... Keinginan datang itu selalu hinggap. Tapi bayangan aku selalu menyakitimu dan sosok Billy akan memberi bahagia lebih padamu memberatkan langkahku!"


"Sungguh. Ada kekuatan kembali saat mama mengatakan kebenaranmu dan Billy. Jangan fikirkan perpisahan. Kita batalkan! Kita jalani ini lagi. Fikirkan anak-anak. Jangan beri jarak dua hati kita yang ingin selalu dekat, hem?"


"Kamu mengatakan ini pasti karena aku ternyata bisa pulih, benar begitu Bii?"


"Bukan begitu!" Jemari Syafiq terus menyapu wajah Fura.


"Aku sangat mencintaimu Juriyy ... sangat! Rasa itu tetap sama sejak dulu. Rasa pada Shofi hanya ***** sesaatku saja. Hanya kamu yang sesungguhnya mendiami hati ini. Kamu yang tulus dan selalu rela melakukan apapun untuk bahagiaku! Cuma kamu Sayang ... mawar jinggaku." Syafiq menautkan bibirnya. Fura terbawa setiap prilaku Syafiq. Hatinya yang juga memiliki rasa yang besar untuk lelaki di hadapannya akhirnya membalas tautan itu. Setelah beberapa saat Fura melepaskan pagutannya. "Hem?" Kaget Syafiq.


"Kamu pasti akan menyakitiku lagi, Bii!" lirih Fura.


"Aku akan lebih tegas menjaga hak kalian. Please! Beri aku kesempatan lagi! Aku tak bisa jauh darimu!" Bibir itu sudah mencecap kembali dengan jemari yang semakin kuat menekan tengkuk Fura. Tubuh Fura jatuh ke ranjang, dan raga kekar itu sudah di atasnya.


"Bii ...."


"Kita masih halal, kamu masih istriku!"


______________


Shofi yang tak jua mendapati Syafiq keluar merasa gelisah. Ia menguatkan tekat untuk masuk dan memastikan yang terjadi di dalam.

__ADS_1


Mang Anto kaget melihat kedatangan Shofi, tapi ia tak bisa tentunya melarang wanita kedua tuannya yang juga pernah tinggal di sana untuk masuk. Ia membiarkan raga semampai itu melewati pintu utama akhirnya.


Suasana tampak hening, melihat majikannya tak membutuhkan apapun lagi, Santi dan Kinan turut merehatkan diri. Shofi menyisir ruang demi ruang dalam rumah tersebut, ia bingung semua tampak redup dan tenang seakan tak ada kehidupan. Hingga ia ingat kamar Fura.


"Mungkin-kah mas Syafiq di sana?"


Perlahan Shofi mendekati pintu itu. Di arahkan telinganya pada pintu itu hingga suara-suara itu di dengarnya. ******* tertangkap indranya. Batinnya sesak, kakinya seketika lemas.


"Me-reka ber-sama!"


Beberapa saat Shofi lungkai di muka kamar itu. Hingga ia sadar kehadirannya di sana tak benar! Shofi terus menundurkan tubuhnya. Ia berbalik menuju ke luar dan meraih Mazdanya.


______________


Pukul 04:00 Fura terbangun, batinnya teriris merasa luluh kembali pada Syafiq. Bahkan rasa sakit itu masih begitu kuat walau terbingkai cinta yang dalam menyertainya.


Hampir 4 tahun mereka tak melakukan hubungan itu. Dan semalam ia bisa melayani Syafiq lagi. Kehangatan yang justru terbingkai sesal setelah penyatuan itu selesai dilakukan.


Ya, ada ketakutan dalam hati Fura jika Syafiq tak bisa adil sehingga membuat hatinya dan hati Shofi kembali terluka. Fura bergeming di sudut jendela. Ia bimbang.


Bulir itu terus lolos dari matanya ... sungguh ia takut hubungan 3 hati ini bukan menghantar pada kebaikan justru menghantar pada keburukan. Ia terus teringat 1 kata. Satu ratu! Sejatinya ketenangan akan ada jika hanya ada 1 ratu yang bertahan dalam sebuah mahligai.


Ia pun dengan berat memutuskan 1 hal ...


______________


Di rumah berbeda sesosok jiwa hancur. Ia yang nyatanya sejak awal adalah orang ketiga merasa kecewa mendapati lelaki yang ia fikir sudah memilihnya menjadi satu-satunya, mendapati hal yang tak diduganya terjadi di depan matanya. Hal yang meluluh-lantahkan mimpi yang tersisa. Bahkan beberapa jam telah berlalu raga lelaki tersebut belum juga terlihat di kediamannya.


Ia bergeming ...


"Haruskah rasa seperti ini terus kurasa? Merasa sesak dibagi ... bahkan raga yang bersamaku kini seakan Syafiq yang berbeda."


Luapan air mata menganak sungai, teringat berbagai keputusan yang ia ambil namun kemudian ia ingkari. Ia benci pada dirinya. Merasa cinta menggerogoti prinsip dan kekuatannya. Bahkan setelah banyak kejadian yang seolah memporak-porandakannya ia masih bertahan.


"Wanita apa aku? Aku sungguh tak memiliki hati!" Ia lagi-lagi terisak.


Ia bergeming dan merasa harus menyudahi ini semua ....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2