TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Syafiq membalik tubuhnya ... Beberapa saat kemudian Syafiq tak terlihat lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pukul 5 Syafiq terbangun. Sebab berbagai pelik di otak, ia jadi kesiangan bangun pagi itu dan tidak menjalankan sholat malam. Dilihatnya Fura tak ada di pembaringan. "Ia pasti sudah di dapur," batin Syafiq.


Dalam otaknya seketika terlintas. "Apakah Shofi masih di rumah ini?"


Rasa penasaran yang cukup besar membawa ia perlahan berjalan ke arah depan sembari matanya melirik ke lantai atas. Syafiq ingin memastikan keberadaan mobil Shofi, apa masih terparkir di sana atau tidak. Memastikan keputusan Shofi tepatnya.


Syafiq membuka tirai dan terhenyak, Mazda kuning itu tak ada! Kegetiran memenuhi aliran darahnya. "Wanitaku benar-benar pergi!"


Menggenggam sesak Syafiq kembali ke kamar membersihkan diri dan menjalankan Qobliyah Subuh baru kemudian ibadah Subuhnya. Beberapa ayat Cinta Robb-Nya pun dilantunkan guna mengikis segala sesak.


05:45 Syafiq memutuskan kembali ke pembaringan, merehatkan kembali raga menjadi pilihannya. Hingga satu jam kemudian sepasang tangan kecil mulai bergerak-gerak di tubuhnya. Syafiq terbangun, seberkas senyum disunggingkan ke wajah polos dengan jilbab menutupi kepalanya.


Syafiq menarik tubuh kecil Hana duduk dipangkuan menghadap wajahnya. Syafiq menatap lekat wajah mungil itu, "Inilah wajah yang harus selalu kubahagiakan, wajah wanita kecil ini! Bukan wanita lain yang hadir memberi cinta sesaat dan menghilang."


Syafiq menciumi wajah Hana, hingga Hana tampak tertawa kegelian saat bulu-bulu halus Syafiq mendarat di wajah halusnya. "Abi sudah ayo kita sarapan! Umi sudah tunggu Abi," celoteh Hana. Syafiq mengangguk.


Syafiq keluar dengan menggendong Hana di punggungnya. Ia menatap wajah ayu Fura dikejauhan tengah tersenyum. "Wanita ini adalah rumahku yang sebenarnya, ia selalu siap menyambutku dengan senyumnya," bisik hati Syafiq.


"Lho kok digendong sih! Hana sudah besar, Sayang!" pekik Fura.


"Cepat turunkan Hana, Abi! Sebelum Umi jadi harimau!" Syafiq tertawa dan menurunkan tubuh Hana.


Fura memang tidak mau Syafiq terlalu memanjakan Hana, ia tidak ingin Hana menjadi manja dan lemah seperti dirinya. Papanya dulu terlalu memanjakannya hingga ia seperti sekarang. Tidak bisa mandiri, bahkan pekerjaan rumah semua ART yang melakukan. Jangankan memasak, masuk dapur pun Fura hampir tidak pernah sebelum menikah.


Syafiq mendekati Fura dan merangkum wajah itu, sebuah kecupan di daratkan di puncak kepala Fura. "Kenapa pagi tadi tidak membangunkanku, hem?" bisik Syafiq.


"Karena Jawza-ku terlihat sangat letih," lirih Fura.

__ADS_1


"Jangan lakukan itu lagi, seletih apapun tetap bangunkan aku, oke!" Fura mengangguk.


"Sudah ayo kita sarapan, Bi! Atau Hana akan kesiangan! Kamu berangkat hari ini, bukan?"


"Aku berangkat jam 9 hari ini langsung ke proyek! Meeting diadakan di sana!" ucap Syafiq mendaratkan tubuhnya ke kursi, hatinya berdesir melirik kursi di hadapan Omar yang kosong.


"Biasanya meeting di kantor!" seloroh Fura.


"Ini proyek baru, klien bosku meminta kami melihat ke lokasi untuk menentukan design dan arsitektur yang cocok!"


"Membuat bangunan baru, kah?" tanya Fura sembari menyendokkan nasi ke piring Syafiq.


"Bangunan lama yang di renovasi!"


Nasi di piring Syafiq, anak-anak, dan piringnya sendiri telah tersaji. Kini Fura membuka penutup wadah lauk di hadapannya. Aroma yang langsung menyengat indra Syafiq, opor ayam. Makanan kesukaannya telah tersaji di pagi hari seperti ini. Ia berbinar saat potongan paha ayam dengan kuah kuning disatukan Fura dengan nasi di piringnya. Kentang balado tak lupa melengkapinya.


"Terima kasih telah bersusah payah menyajikan makanan kesukaanku pagi ini, Mbok!" lontar Syafiq ke arah mbok Santi yang tengah meletakkan teko ke meja. Mbok Santi bergeming, ia menatap Fura. Fura mengangguk meminta wanita paruh baya itu beranjak.


"Mungkin saja," senyum Fura. Tampak anak-anak telah makan dengan lahap tak menghiraukan kedua orang tua masih saling berbisik.


"Sudah ayo makan, Bi! Kasihan ayam di piringmu tak juga kamu sentuh," lirih Fura. Syafiq tersenyum.


Syafiq mulai memasukkan satu suapan ke mulutnya. Rasa yang melekat di lidahnya sangat tak asing, membuat ia bersusah payah menelannya karena terselip sesak disetiap kunyahannya. Syafiq menatap Fura setelah bibirnya selesai menelan. "Siapa yang memasak ini, Juriyy?" lirih Syafiq dengan pandangan gelisah.


Fura menatap lekat rona itu, baru kemudian menjawab. "Orang yang memasak ada di lantai atas!"


"Mak-sud-mu. Sho-fi, masih a-da di-sini?"


Fura mengangguk.


Dada Syafiq sesak. Ia mengangkat tubuhnya dan dengan langkah cepat beranjak ke ruang tamu membuka tirai. Mazda kuning itu kembali pada tempatnya, ia terparkir cantik di sisi Avanza putih Fura. Sepasang kaki panjang tak menunggu lama segera menaiki satu persatu anak tangga hingga dalam hitungan detik raganya telah mematung di muka kamar dengan pintu putih berlist ungu.

__ADS_1


Syafiq menarik panjang napasnya baru ia meletakkan jemarinya ke handle pintu dan memutarnya perlahan. Pintu itu perlahan terbuka. Hal yang pernah terjadi sebelumnya seakan terulang. Waktu yang berbeda, namun ia melihat gambaran kejadian yang sama.


"Astagfirulloh, Mas! Kamu mengagetkanku!" Shofi yang baru keluar kamar mandi dan masih dengan balutan handuk kaget melihat Syafiq memasuki kamarnya.


Shofi mendorong raga Syafiq menuju pintu. "Setelah rapi aku akan membuka pintu!"


Syafiq menggelengkan kepala. Merasakan dorongan jemari Shofi menekan tubuhnya dan teringat potongan kejadian hari kemarin saat Shofi membiarkannya menunggu di luar kamar dengan alasan masih menjaga jarak dengannya.


"Tidak ... ini bukan hari itu!"


Syafiq meraih jemari Shofi, menggenggamnya dan melakukan gerakan bertolak arah. Syafiq mendorong tubuh Shofi perlahan dan menghentikannya di muka ranjang. Mata Shofi terbelalak.


"Mass ... Ahh ...!" decak Shofi saat tubuhnya terpental dan mendarat sempurna di kasur nan empuk itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Apa yang terjadi sesaat sebelumnya hingga Shofi membuang ego dan prinsipnya ada di bab setelah ini ya❤


💔Mohon maaf jika keputusan akhir yang Shofi ambil akan memicu kekecewaan banyak reader. Semua sesuai alur dalam otak Bubu🙏


💔Sebelum membaca, dari judul sudah jelas bahwa ini kisah pria yang mendua. Jadi, jika ada yang belakangan tak suka dengan kisah semacam ini, terima kasih terus mengikuti dan penasaran hingga masih mengikuti akan di bawa kemana akhirnya kisah ini.


💔Masih ada kejutan-kejutan di depan.


💔Komen kalian baik pro dan kontra selalu menjadi semangat Bubu dan menjadi hal yang selalu ditunggu dan tak lepas dari pengamatan Bubu, alias pasti Bubu baca😘


💔Terima kasih supportnya selalu, semoga mood Bubu tetap melekat hingga akhir cerita yang babnya nggak akan Bubu buat panjang seperti novel Bubu yang lain😉


Wasallam ...


Big Hug for you all ❤❤

__ADS_1


__ADS_2