
"Tolong biarkan se-jenak, Sa-yang! Biarkan seperti i-ni! Aku takut esok tak bisa lagi melakukan-nya!" lirih Syafiq mendengus harum Shofi yang begitu menyamankannya. Harum yang banyak menemani malamnya. Shofi bergeming.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah beberapa saat, Shofi mendorong tubuh Syafiq menjauh. "Sudah, Mas! Tanganmu menyakitiku!" Syafiq menatap lekat sesaat dan mengangguk kemudian.
"Aku membawa teh panas, ayo kita nikmati di balkon!" Dengan sangat percaya diri Syafiq berjalan di depan dengan 2 buah cangkir. Shofi yang hatinya telah terpatri pada Syafiq seakan terhipnotis mengikuti.
"Duduklah, Shof," ucap Syafiq melihat Shofi berdiri mematung menatap suasana malam yang begitu nyaman di balkon kediaman Syafiq.
Jangan hanya berdiri, duduklah di sisiku!" Shofi menurut.
"Kenapa? Kamu suka tempat ini?"
"Nyaman!"
"Betul, menghabiskan malam di sini cukup menyenangkan, diiringi sejuk suasana malam Bandung, juga kerlap kerlip lampu pemukiman warga, semua tampak sempurna dari sini." Syafiq merebahkan kepala setelahnya di pangkuan Shofi membuat Shofi yang tanpa persiapan kaget.
"Mass ...!"
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku melepaskanmu, Shof?" lirih Syafiq.
Shofi tampak kaget tak menyangka Syafiq menanyakan itu. "A-ku ... mungkin a-ku akan pergi ke tempat yang ja-uh dari ka-lian."
"Ke mana?"
"A-ku belum memikir-kan-nya!" Shofi semakin bingung.
"Apa berpisah dariku sangat membahagiakanmu?"
"I-tuu ...."
__ADS_1
"Apa begitu sulit pertanyaanku?" Syafiq mengangkat tubuhnya menghadap Shofi.
"A-ku ...." Seketika Syafiq mendekatkan bibirnya, tangannya sudah menahan kepala Shofi agar tak beranjak. Ia menggigit bibir itu kecil-kecil dengan sangat lembut dan semakin dalam. Shofi yang awalnya menekan wajah Syafiq menjauh justru menekan wajah itu semakin dalam menjangkau rongganya. Saat Shofi mulai terbawa mengikuti, Syafiq melepaskan pagutan itu. Shofi kaget.
"Kamu masih ingin bersamaku, Shof!"
Shofi membalik badan, sebuah butiran jatuh. Syafiq membalik tubuh Shofi hingga mendarat sempurna dalam dekapannya. "Bukan ke sana arahmu, tapi ke sini! Jangan sembunyikan tangis itu, menangislah jika ingin menangis!" lirih Syafiq menyapu lembut bahu Shofi. Shofi berkali menarik panjang napasnya berusaha menahan butiran itu, tapi tetap lolos juga.
Suasana hening. Suara desir angin menyapa pepohonan seakan menjadi melodi kebersamaan mereka... menemani isakan yang terdengar lirih, seakan terus ditahan, namun justru membuat dadanya semakin sesak.
Syafiq merenggangkan raganya dan menyodorkan Shofi secangkir teh yang tadi di bawanya. Teh panas yang telah menghangat, desiran alam dengan cepat mengubah panas menjadi hangat. Hal yang diharap Syafiq terjadi pula pada hati Shofi. Berharap hati itu melunak seiring kebersamaan mereka.
"Terima kasih!" Shofi menerima teh itu, Syafiq masuk ke dalam kamar dan keluar dengan membawa selembar tisu. "Hapus dulu air matamu sebelum minum! Atau rasanya akan berubah!" Shofi melirik sekilas wajah Syafiq, lalu melakukan yang Syafiq ucapkan.
Keduanya sama-sama menyeruput teh dalam genggaman mereka dengan fikir mereka masing-masing yang tak sanggup terucap.
Hingga beberapa saat, Syafiq meletakkan cangkirnya dan kembali menghadap Shofi.
"Hem ...?"
"Maafkan aku mengecewakanmu! Aku tidak pantas menjadi suami wanita baik sepertimu! Aku pembohong!" Syafiq menunduk setelahnya. Shofi bergeming.
"Jika kamu berkeras ingin pergi, aku akan memudahkannya!" ucap Syafiq mengangkat wajahnya menatap sepasang nerta Shofi.
Sesak menyelimuti dada Shofi. Hal yang kemarin sangat ia inginkan, tapi hatinya ternyata tidak benar-benar siap saat mendengar langsung kalimat itu dari bibir Syafiq. Nerta mereka saling mengunci. Kesedihan itu muncul kembali membuat sepasang nerta itu kembali berkaca.
"Aku tidak memiliki tisu lagi! Tapi bahuku bisa menyapu air mata itu!" Shofi melirik netra Syafiq kemudian membuangnya ke hamparan langit. Syafiq seolah sedang mempermainkan perasaan Shofi. Setiap kata-katanya seakan menyadarkan Shofi bahwa dirinya tidak benar-benar siap berpisah.
"Jangan pergi terlalu jauh! Ingat anakku bersamamu! Berdosa menjauhkan seorang anak dari ayah kandungnya!" Shofi kembali melirik Syafiq, bahkan Shofi belum memutuskan. Tapi Syafiq berkata seolah sudah sangat siap berpisah. Kata-kata yang kemarin Shofi harap namun kini terasa sesak terdengar.
"Setelah kamu melahirkan aku akan membuatkan tempat praktek gigi untukmu!" Pandangan itu belum beranjak dan semakin membuat Shofi tak habis fikir dengan setiap katanya.
"Apa mas Syafiq sudah benar-benar berhenti memperjuangkanku? Rasa apa ini? Kenapa aku tak suka setiap kata yang terlontar dari bibirnya?" gemuruh batin Shofi.
__ADS_1
"Kenapa diam? Bicaralah!" lirih Syafiq. Shofi kembali membuang wajahnya menatap hamparan kerlap-kerlip lampu di hadapannya. Ia berkata kemudian. "Tidak perlu mengasihaniku! Aku bisa mencari pekerjaan sendiri, tidak perlu mengabiskan uang membuatkan tempat praktek untukku!" lugas Shofi mengedepankan egonya.
"Aku hanya melakukan hal yang pernah kujanjikan padamu! Bukankah karena aku kamu kehilangan pekerjaan!"
"Semua keputusanku sendiri! Tidak perlu memikirkan bagaimana aku hidup nanti!" ucap Shofi menahan sesaknya. "Mas Syafiq benar-benar akan melepasku-kah?" monolog Shofi.
"Aku sungguh ingin kamu tetap di sisiku Shof, tapi alangkah egois jika aku memaksakan sesuatu yang tak ingin kamu lakukan dan bertolak dari prinsipmu! Fura jelas tak bisa kulepaskan! Memang tidak ada wanita yang siap berbagi. Tapi jika kamu merubah prinsipmu, entah demiku atau demi anak kita. Aku akan begitu bahagia. Namun lakukanlah dengan menyertakan keikhlasan di dalamnya. Aku akan berusaha lebih baik dan adil pada kalian! Tapi aku juga tak ingin memaksa!" Syafiq masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan Shofi yang masih bergeming.
Beberapa saat kemudian, Syafiq kembali membawa barang yang Shofi kenal. Bukan antusias, justru Shofi semakin sesak. "Ini titipan dari Fura, ia meminta maaf telah menggunakan ini untuk menahanmu! Kekanakan memang ... aku pun bingung dengan cinta yang ia miliki. Ahh ... maaf aku jadi membahasnya!"
"Kalian berdua sepertinya sudah sangat si-ap membiarkanku per-gi!" ucap Shofi.
"Memaksa siap tepatnya! Aku sadar hubungan semacam ini tak bisa dilakukan dengan keterpaksaan, ada dua raga dan dua hati yang harus kujaga, keikhlasan kalian akan memudahkanku. Namun jika semua terjadi tanpa itu, aku hawatir kecurangan akan terjadi lagi. Tentu kamu tak ingin 'kan, suamimu dibangkitkan dalam keadaan miring dan mendapat hisab dari kecurangannya?" Shofi menunduk, kata-kata Syafiq seakan menyentilnya.
"Keputusan ada padamu! Jangan fikir aku tak sedih! Tapi aku tak ingin kamu menjadikan hubungan ini beban dan menganggapnya keburukan! Ini kunci mobilmu, aku sudah meminta mang Anto mengambilnya tadi dari rumah kita dan sekarang terparkir di pelataran. Setelah anak kita lahir aku baru akan menjatuhkan talak padamu. Aku akan tetap mentransfer hakmu! Tinggallah di rumah kita yang lama. Aku janji tidak akan datang ke sana! Aku hanya ingin memastikan kalian berlindung di tempat yang nyaman dan tidak meminta pertolongan dari mantan suamimu itu lagi!" Shofi menatap lekat Syafiq. Dadanya sesak, Syafiq terlalu banyak bicara malam ini.
"Aku sudah mendengar semua ucapanmu! Kamu bisa pergi, Mas! Besok pagi saat kamu bangun kupastikan kamu tidak akan melihatku!"
Netra Syafiq terpejam beberapa saat. Ia mendekat ke arah Shofi, sepasang tangan direntangkan hingga tubuh Shofi kembali masuk dalam dekapannya. Shofi membiarkan raga Syafiq lagi-lagi mengintimidasi tubuhnya.
Syafiq bersimpuh setelahnya ke arah perut Shofi. "Maaf aku bukan Abi yang baik untukmu, Nak! Kamu harus jadi anak hebat dan menjaga ibumu dengan baik! Jangan tiru keburukan Abimu!" Syafiq mencium perut Shofi setelahnya.
Keduanya saling beratap dan kembali menyatukan tubuh mereka. "Kamu ikhlas memaafkan segala kesalahanku bukan, Shof?" Shofi mengangguk.
"Terima kasih. Aku tenang! Setidaknya aku tidak ada beban jika malaikat menjemputku setelah ini!" Shofi tidak menyukai ucapan Syafiq, ia membungkam bibir Syafiq dengan bibirnya. Rasa cinta membuncah dalam hati masing-masing membuat pagutan itu tak ingin cepat mereka akhiri, terbawa penuh emosi.
"Itu ciuman untuk kasih sayang yang Mas beri untukku! Sekarang pergilah!"
Syafiq membalik tubuhnya dengan sesak yang tak kalah hebat dari yang Shofi rasa. Beberapa saat kemudian Syafiq tak terlihat lagi ....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
__ADS_1