TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Enam Puluh Delapan


__ADS_3

Bayangan akan masa lalu itu seketika hilang saat sebuah suara terdengar memanggilnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Omaaa ...." Gadis kecil itu seketika memeluk raga Fahira.


"Cucu Oma yang cantik bak bayangan uminya. Kamu tinggal bersama abimu rupanya. Kenapa Hana tinggal di sini, hem? Apa Hana tidak rindu umi?"


"Hana rindu umi tapi kata abi, umi sedang sibuk bolak-balik terapi jadi Hana di sini dulu!" celoteh Hana.


"Begitu rupanya. Pandai sekali abimu beralasan sekarang!" Netra itu melirik ke arah Syafiq. Syafiq bergeming.


"Hana masuk bersama Bunda dulu ya Sayang!" ujar Syafiq berfikir Fahira pasti datang untuk bicara dengannya.


Syafiq duduk di hadapan Fahira saat dua raga itu menghilang masuk ke kamar Hana. Syafiq yang begitu menghormati Fahira menundukkan kepalanya, baru ia berujar.


"Mama sudah lama datang?"


"Baru saja! Di sini rupanya kamu tinggal sekarang. Meninggalkan putriku yang kepayahan menyembuhkan diri dan kamu bersenang-senang dengan wanita keduamu!"


"Mama salah paham!"


"Oh ya, lalu apa yang benar!"


"Fura yang mengaharapkan ini."


"Dan kamu setuju?" Fahira mengelengkan kepala baru setelahnya berucap. "Hei abi Syafiq, kepala rumah tangga di sini adalah kamu! Entah apa yang terjadi pada kalian, tapi putriku itu memang terlahir terlalu baik dan cenderung bodoh. Ia senang mengorbankan kebahagiaannya untuk kebahagiaan orang lain. Dan orang lain di sini adalah kamu! Orang yang begitu dicintainya. Sungguh aku heran, bagaimana lelaki sekuat dan setegapmu bisa dengan mudah mengikuti keinginan tidak masuk akal wanita lemah seperti Fura!"


Syafiq menarik napas panjang baru menjawab perkataan Fahira. "Fura akan lebih bahagia bersama Billy, Ma! Sedang aku hanya bisa menyakitinya." Syafiq menunduk.


"Lalu di mana cintamu yang dulu kamu agung-agungkan untuk mendapatkan Fura? Jika kutahu kamu selemah ini, tak kan kubiarkan Fura menikah denganmu dulu!"


"Ma-af, Ma!"


"Maaf? Kata-kata apa itu? Aku tidak datang ke sini untuk mendengar kata maaf! Aku hanya ingin memastikan rasamu pada putriku, apakah masih sama atau wanita keduamu itu telah mengalihkan seluruh rasa itu untuknya!" Syafiq menunduk.


"Jawab Abi Syafiq!"


"A-ku cin-ta ... sangat cinta putri-mu, Ma!" Lagi-lagi Syafiq sulit mengucap rasa itu. Rasa yang selama ini ia pilih untuk disembunyikan dan dihindari, sebab merasa Fura telah memilih bahagia dengan yang lain. Ucapan yang teriring sesak tampak lirih terdengar dan terbata sebab dalamnya rasa yang tak tergambar.


Fahira mengangguk. Ia merasa puas dengan jawaban yang sesuai perkiraannya.

__ADS_1


"Jangan tutupi lagi rasa itu! Kejarlah putriku, rangkul lagi raga itu! Dan setelahnya jangan pernah biarkan orang lain bahkan istrimu sendiri mengendalikanmu! Wanita itu lemah! Ia menggunakan rasa berlebih dalam tindakannya. Dan tugas suamilah untuk membingkai rasa berlebih wanitanya dengan akal yang ia miliki!" lirih Fahira.


"Tapi, Ma. Ada Billy!"


"Kamu tenang saja Billy tak akan menjadi hambatanmu!"


"Mak-sud, Ma-ma?" bingung Syafiq.


"Billy dan Fura tak bisa bersatu!"


"Alasannya?"


Fahira menarik napas panjang. "Mereka 1 ayah!"


"HAHH ...."


"Ryan ayah Billy adalah cinta pertamaku saat SMA. Aku kuliah di Jakarta setelahnya dan bertemu Swarna, ibu Billy. Kami menjadi sahabat. Hubunganku dan Ryan trus berjalan walau jarak membatasi kami. Hingga perjodohan itu terjadi! Swarna sahabatku dijodohkan dengan kekasihku. Aku dan Ryan tetap berhubungan di belakang Swarna hingga kami melakukan kesalahan, aku hamil. Seorang pria bersedia menerima kondisiku, ia yang begitu baik namun setelah kelahiran Fura berubah jadi sosok monter dan sering menyakitiku. Aku bercerai dan Swarna membantuku. Aku bertemu Ryan kembali dan getar cinta masa lalu kembali hadir. Terlebih saat Ryan mengetahui aku memiliki Fura darah dagingnya----


"Lalu ibu Billy?"


"Mereka bercerai dan Ryan menikah denganku hingga kini." Syafiq bergeming tak menyangka.


"Kenapa tidak Mama yang mengatakannya langsung!"


"Hanya cintamu yang bisa membawa Fura kembali! Fura itu setia, putriku sangat baik. Aku beri kau kesempatan kedua untuk membahagiakan putriku. Aku tak bisa lama di Bandung, kondisi Papamu tak memungkinkanku jauh lama darinya! Jemput Fura untukku dan untuk menghindari keburukan terjadi."


"Tapi ada hati Shofi yang harus kujaga!"


"Tanya pada hatimu, siapa yang sesungguhnya mendiami tempat itu!"


"Aku pergi!"




Dan Shofi mendengar semuanya, ia lagi-lagi melihat raut bimbang Syafiq. Kini kebimbangan itu karena kehadirannya ....


_______________


Syafiq tak keluar dari ruang kerjanya sejak Fahira pergi. Hingga setelah Isya ia memutuskan keluar rumah. Ya, ia telah mantap dengan keputusannya dengan harapan hubungan 2 hati akan ia coba jaga kembali dengan baik dengan memisahkan rumah mereka nantinya.

__ADS_1


Shofi diam-diam membuntuti Syafiq memastikan keputusan lelakinya. Ia menghubungi Kiran untuk datang menunggu Hana yang tertidur.


Dan benar saja APV Syafiq berhenti di muka rumah Fura. Shofi terus menetralkan sesaknya. Ia menunggu di luar melihat bagaimana rona itu saat keluar nanti.


_________________


"Ba-pak?"


"Mana ibu?"


"Baru saja masuk ka-mar, Pak!"


Sebelum menemui Fura, Syafiq memasuki kamar Omar. Tampak lelaki kecilnya itu telah terlelap. Diciuminya wajah itu yang terlihat lebih berisi dari terakhir mereka bertemu. Ia keluar setelahnya.


Pintu putih kokoh itu dirabanya, ada kegetiran memenuhi hatinya mengingat terakhir ia berada di sana dan berbagai tragedi itu terjadi. Membaca basmalah Syafiq mengetuk pintu yang membatasi raganya dan Fura.


TOK ... TOK ....


"Siapa?"


"Aku," lirih Syafiq menetralkan degup jantungnya.


Dada Fura seketika sesak mendengar suara itu. Hatinya ingin segera membuka pintu itu, tapi satu bagian hatinya yang lain melarang. Terbesit tanya ....


"Untuk apa mas Syafiq datang?"


TOK ... TOK ....


Dan ketukan itu terdengar lagi, menambah kebimbangan Fura. Ia masih di belakang pintu itu. Berusaha menyingkirkan banyak tanya dan fikir. Hingga panggilan itu terdengar.


"Juriyy ... tolong buka!"


Sapaan manis yang memanaskan otak akibat desiran itu begitu kuat terasa. Dan tangan itu spontan meraih gagang pintu dan memutarnya. Pintu itu terbuka, Fura menarik netranya ke atas menatap wajah itu. Menatap wajah yang memang lebih tinggi dari wajahnya. Netra itu terkunci ...


Sesak itu semakin terasa saat jarak itu semakin dekat. Syafiq mendorong tubuh Fura dan menutup pintu itu. Ia menghempaskan tongkat yang menahan tubuh Fura hingga tubuh itu kehilangan penopang. Sepasang jemari dengan cepat mencengkram bahu Syafiq.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


💔Makasih yang masih bertahan dengan cerita ini. Beberapa bab lagi end❤❤

__ADS_1


__ADS_2