TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

"Sudah terlalu larut. Kamu butuh istirahat. Terlebih besok harus mengantar Hana pula ke sekolah, bukan?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terpogoh-pogoh wanita paruh baya menerobos gerbang hitam menjulang kediaman Fura. Wanita cantik dengan ketegasan di wajahnya nampak sedang dipenuhi amarah. Ialah Fahira, tak lain wanita yang menghadirkan Fura ke dunia.


Mang Anto tampak menunduk menangkap kehadirannya. Ia seketika berjalan cepat mengimbangi langkah nyonyanya. Ia membukakan pintu putih yang membatasi raganya dengan para penghuni rumah yang didatangi.


"Fura ... Furaa ...," pekiknya.


Ya, Fura memang masih mendiami rumah bertingkat tersebut lantaran pengacara yang mengurus perceraiannya meminta Fura tak pergi ke manapun sampai proses perceraiannya selesai.


Wanita cantik berbalut celana bahan dan tunik selutut keluar dengan sebuah tongkat. Ya, Fura kini hanya memakai 1 tongkat untuk membantunya berjalan. Ia terhenyak melihat kehadiran wanita yang selama ini menetap di Jakarta kini ada di hadapannya.


"Ma-ma?" lirih Fura.


"Duduk!" Bukannya mencium putri satu-satunya yang lama tak bersua Fahira justru mencecar Fura dengan berbagai tanya.


"Apa benar berita yang Mama dengar bahwa Syafiq memiliki wanita lain selainmu? Tentang ia yang juga memiliki anak dengan wanita itu, juga tentang kalian yang sedang dalam proses perceraian?" Fura bergeming.


"Pasti teh Rani yang memberitahu Mama, teh Rani ada di rumah ini memang atas bawaan Mama. Dan setelah aku semakin membaik, aku memang memintanya kembali ke Jakarta, tepatnya kembali ke Yayasan yang menaunginya dulu," monolog Fura.


"Kenapa diam! Jawab Mama!" Fura akhirnya mengangguk.


"Hahh ...!" Nafas kasar itu lolos dari bibir Fahira. Ia terdiam beberapa saat baru mengeluarkan cercanya lagi.


"Bagaimana itu bisa terjadi, Fura? Tega sekali! Masih teringat di otak Mama bagaimana Syafiq memohon-mohon untuk bisa menikah denganmu, Mama dan Papa melihat cinta yang besar dari sorot matanya hingga akhirnya merestui kalian. Tapi apa ini! Hatinya berubah? Kurang ajar Syafiq!"


"Ma ... hentikan mencerca mas Syafiq. Semua tidak sepenuhnya salah dia!"


"Kau masih membela lelaki itu setelah perlakuannya padamu, hem? Ini tidak benar, Sayang!" Fahira menarik dagu Fura hingga terangkat ke atas.


"Semua juga salah Fu-ra, Ma!" netra penyesalan itu tampak.


"Bagaimana bisa semua salahmu? Jangan rendahkan dirimu untuk lelaki yang menghianatimu, Fura!" geram Fahira.


"Sebab Fura yang meminta mas Syafiq menikah lagi saat i-tu, Ma ...."


Tubuh semampai Fahira melemah hingga mendarat ke sofa. Ia kaget dengan yang didengarnya, hingga beberapa saat ia berdiri dengan emosi yang kembali mencuat.

__ADS_1


"Syafiq pasti mengancammu! Benar bukan? Katakan yang sejujurnya pada Mama dan jangan ada yang ditutupi!"


Fura menggeleng. "Tidak seperti itu, Maa!"


"Berhenti membelanya Fura!"


"Fura yang salah, Ma! Sekarang Mama ingat kondisi Fura 1,5 tahun lalu, Fura lumpuh Ma! Tidak bisa melayani ... jadi Fura meminta mas Syafiq menikah lagi kala itu!"


Fahira mendekat mengarahkan jemarinya pada kedua bahu Fura dan menghentak-hentakannya. "Kenapa kamu begitu bodoh! Kamu adalah anak Fahira Mumtaz, wanita yang tidak pernah takut apa pun dan tidak suka di intimidasi! Kamu harusnya tidak selemah itu! Anak bo-do*h!" Jemari itu mendorong tubuh Fura hingga tongkat penyangganya jatuh, tak berselang lama tubuh itu kehilangan keseimbangan. Hampir saja tubuh itu tersungkur namun sebuah lengan dengan cepat meraihnya.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang!" Fura menggeleng.


"Apa ini! Siapa lelaki tidak beretika ini yang tiba-tiba bisa masuk ke rumahmu tanpa permisi! Lepaskan tubuh putriku!"


"Aku hanya menolong putrimu yang hampir terjatuh, tante Fa-hira!"


Fahira terbelalak, bukan saja pria di hadapannya berani membantahnya, ia nyatanya juga mengenalnya.


"Siapa kamu? Bagaimana kamu mengetahui namaku?" gusar Fahira.


"Sungguh tante lupa padaku, kah?" Setelah mendudukkan Fura ke sofa, Billy mendekat ke arah Fahira.


Fahira bingung, ia menatap Billy dari atas ke bawah. Ia bergeming setelahnya tak dapat menerka siapa pemuda itu.


"Billy?"


"Ya aku Billy. Tentu tante Fahira mengingatku, bukan? Aku putra pasangan Swarna Safitri dan Ryan Ardiansyah. Laki-laki yang kini hidup bersamamu!"


"Oh ya satu lagi! Kebetulan tante di sini, sekalian aku ingin meminta restu padamu! Setelah gugatan perceraian Fura dikabulkan hakim. Kami ... aku dan Fura akan segera menikah! Tante, merestuinya, bukan?"


Fahira kaget! Dadanya seketika sesak. Ia terus memundurkan tubuh hingga bersandar dinding.


"Billy dan Fura ... menikah? Tidak i-ni tidak benar! Mereka tak bisa bersatu!" Tubuh itu lunglai dan seketika tak bergerak. Fahira pingsan!


_______________


Satu jam setelahnya raga itu bangkit, ia langsung mencari keberadaan putrinya. Ia tak suka pernikahan itu terjadi. Tidak boleh terjadi lebih tepatnya.


Ia mencari ke setiap sudut rumah yang dihuni putrinya tersebut namun tak jua mendapati raga yang dicarinya. Hingga ia bertemu mbak Kinan di dapur.

__ADS_1


"Nyonya sudah sa-dar?"


"Katakan di mana ibu Fura?" tanya Fahira seketika.


"Ibu baru saja ke luar dengan dokyer Billy juga den Omar. Ada apa ya, Bu?"


"Kamu tau mereka pergi ke mana?" Kinan menggeleng.


Fahira semakin kacau. Bayangan kebersamaan Billy dan Fura membuatnya gelisah. Hingga ia mengingat satu nama, Syafiq


"Pernikahan itu tak boleh terjadi! Akan terjadi bencana besar jika batasan itu sampai terlewati. Aku harus membujuk Syafiq untuk membatalkan perceraian mereka. Harus!"


Tanpa menunggu lagi, Fahira meminta mang Anto mengantarnya ke kediaman tempat tinggal Syafiq. Berbagai hal berkecambuk di otaknya. Hal yang tak pernah sedikit pun terfikir kini nyata di hadapannya. Billy putra suaminya dengan sahabatnya muncul. Terlintas tanya, bagaimana bisa Fura dan Billy saling menyukai. Belum lagi entah bagaimana jika Ryan sang suami sampai tau. Kondisi struk yang saat ini diidapnya tentu akan semakin memburuk.


15 Menit berlalu, bangunan sederhana berdominasi kuning di hadapannya.


"Jadi ini rumah Syafiq dengan wanita keduanya? Biasa saja! Aku penasaran bagaimana rupa penggoda itu! Apa aku berlebihan menyebutnya penggoda? Tentu tidak bukan! Walau Fura yang menyarankan hubungan itu, jika wanita itu tak menggoda mana mungkin Syafiq akan membagi hatinya. Aku tau betul bagaimana rasa cinta Syafiq yang begitu dalam pada Fura!"


Fahira mendekat pada gerbang besar berwarna putih. Ditekannya bel di hadapannya dan tak lama pintu itu terbuka. Wanita semampai berbalut longdress batik keluar. Ia tampak bingung melihat sosok yang tak dikenalnya menghampiri rumahnya.


"Ma-af cari siapa, Bu?" tanya Shofi.


"Mencari menantuku, Syafiq!" Bibir Shofi membulat. Ia yang menyadari posisinya langsung menampilkan wajah gelisah, dipaksanya bibir itu tersenyum dan berucap.


"Maaf tapi mas Syafiq sedang keluar, Bu," ucap Shofi.


Fahira yang masih melihat Shofi dari atas ke bawah lantas berucap. "Aku akan menunggu menantuku di dalam! Sekalian aku ingin bicara padamu!" Tanpa aba-aba sepasang kaki itu melewati Shofi berada dan masuk ke dalam. Shofi yang tak ingin mencari masalah, memilih membuntuti Fahira masuk.




"Jadi sepertimu orang kedua yang menghancurkan pernikahan putriku! Heran, kamu seperti wanita berpendidikan mengapa mau berada pada posisi seperti ini!" decak Fahira. Shofi menunduk.


"Tapi agar kamu tau saja, cinta Syafiq hanya ada pada putriku. Sejauh apa pun raga mereka berada, hati mereka dekat. Jadi kamu jangan berbangga telah menyingkirkan Fura, sebaliknya kamu harusnya sedih memiliki raga itu tanpa hati!" Fahira menaikkan satu sudut bibirnya. Senyum itu seolah meremehkan Shofi. Shofi bergeming.


"Aku bisa bicara seperti ini sebab Syafiq tak ubah seperti Ryan. Walau nyatanya takdir menyatukan Ryan dan Swarna berkat perjodohan itu, namun nyatanya hati Ryan hanya untukku. Terserah dunia menyatakan aku orang ketiga di pernihakan Ryan dan Swarna. Yang terpenting aku dan Ryan sama-sama tau, siapa orang ketiga itu sesungguhnya!"


Bayangan akan masa lalu itu seketika hilang saat sebuah suara terdengar memanggilnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


__ADS_2