TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

"Inikah balasan untuk ketidakadilanku ya Rabb ... Kau menjauhkanku dengan raga-raga yang kucintai. Ampuni aku ya Rabb ...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔18 BULAN KEMUDIAN


Raga cantik tampak cekatan meletakkan bayi berusia 9 bulan dalam gendongan depannya. Ia memasukkan kardus-kardus berisi cake ulang tahun setelahnya dalam sebuah kontainer besar yang di letakkan di bagian belakang jok maticnya. Ia menggunakan helm dan siap memegang kemudi, hingga raga kecil dengan helm bergambar captain amerika dan botol air minum yang disilangkan di tubuhnya seketika mendekat dan naik ke belakang tubuh sang wanita dan merangkul erat tubuh itu setelahnya.


Roda matic menembus kemacetan kota Bandung. sinar matahari yang merangkak naik, membuat peluh itu mulai keluar dari pori kulitnya dan dua buah hati yang mengiringinya.


Sebuah toko kue dengan papan besar bertulis "MAYLEERA CAKE & BAKERY" berada di hadapannya. Seorang pramuniaga seketika ke luar dan menghampirinya. Mengambil kotak-kotak kue ulang tahun dari kontainer dan membawanya masuk dan meletakkan di etalase tokonya. Tak lupa sang pramuniaga tampak mengajak berceloteh bayi menggemaskan dalam gendongan uminya tersebut.


"Masuk dulu yuk, Mbak! Ngeteh," ucap pramuniaga itu ramah.


"Terima kasih, tapi aku sedang ada urusan. Lain kali ya!" ujar sang wanita.


"Okelah. Hati-hati ya, Mbak! Seperti biasa aku transfer sore ya!"


"Iya sip, gampang!"




Wanita itu kembali menerobos kemacetan lalu lintas setelahnya. Membawa maticnya melewati persawahan hingga tembus ke sebuah perumahan elit di sana. Rumah bertingkat dua dengan paduan warna hijau olive dan soft orange menjadi tujuannya.


Ia memang ada janji dengan kerabatnya pagi menjelang siang itu. Janji meluapkan rindu yang harus ia penuhi sebelum sang kerabat kembali ke Jakarta dengan rutinitasnya di sana. Ya, sang kerabat memang bekerja di Jakarta dan mengunjungi Bandung setiap ia libur saja.


Gerbang besar itu terbuka, maticnya segera mendarat cantik di pelataran. Tanpa permisi ia seketika masuk ke dalam rumah. Tampak ia yang dirindukan baru saja ke luar dari kamarnya.


"Heiii ... jagoan Uncle!" pekiknya. Raga tegap itu seketika mendekat dan meraih tubuh lelaki kecil yang tampak tampan dengan celana chinos dan kaos hitam bergambar captain amerika itu.


"Uncle turunkan aku! Aku sudah besar sekarang, tidak boleh di gendong kata Umi!"


"Hooo... oke oke, sana ke kamar Uncle, Uncle punya hadiah untukmu di atas ranjang!"


"Yeaa ...!" teriaknya antusias dan bayangnya pun tak terlihat lagi.


"Kakak ...!" Dan sang wanita akhirnya mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Adikku yang manis! Apa kabar, Sayang!"


"Baik, Kak."


"Waw, baru saja 2 pekan tak bertemu. Tubuh Nura tampak lebih berisi. Ia cantik sekali sepertimu, Fura!"


Ya, wanita itu adalah Fura. Nuha Shafura. Sang istri pertama yang memilih pergi. Ia tak menyangka hubungan yang dilakukan sebelum kepergiannya itu meninggalkan benih yang tumbuh menjadi janin. Ia hidup setelahnya di bantu Billy yang merupakan kakaknya.


Fura tersenyum getir. "Terima kasih, Kak. Nura cenderung mirip Hana saat bayi." Dan tiba-tiba netra itu berkaca saat teringat sang putri yang hidup jauh darinya.


Billy membuang napasnya kasar. "Kembalilah Fura, sudahi semua ini! Jika kamu tidak mau melakukannya demi lelaki itu, lakukanlah demi anak-anak kalian!" Fura menggeleng.


"Aku ingin dia sendiri yang menemukanku! Bukan aku yang kembali!"


Napas kasar itu kembali lolos dari indra Billy. "Terserah jika itu maumu. Tapi agar kamu tau, kondisi lelaki itu terlihat tidak baik!" Netra itu membulat. Hingga hatinya mengirim sinyal pada otaknya untuk bertanya lebih jauh.


"Mak-sud, Kakak?"


"Rambut gondrong yang di cepol ke belakang, kumis dan jenggot, serta bulu-bulu di wajah yang dibiarkan tak terurus. Sungguh kamu tak akan mengenali suamimu itu jika kalian bertemu!" Fura bergeming, ia menetralkan sesak yang seketika hinggap.


"Sungguhkah mas Syafiq seperti itu kini?" batin Fura.


"Mau jadi seperti apapun dia, itu pilihannya, Kak!" lirih Fura yang sebetulnya dadanya merasa sesak.


"Terima kasih, Kak! Oh ya, Kak ... bagaimana Kakak bisa tau kondisinya seperti itu? Dan apakah Kakak melihat Hana pula? Seperti apa Hana putriku sekarang, Kak?" Wajah antusias itu tak bisa dibohongi.


"Bibirmu bicara tidak peduli namun hatimu memikirkannya, Sayang! Seperti biasa ia ke rumah ini saat tau aku sedang di Bandung. Entah tau darimana dia. kemungkinan dari medsos-ku. Ia kesini bersama Hana 2 pekan lalu setelah kamu pulang. Ia lagi-lagi menanyakan keberadaanmu. Ia masih yakin jika aku tau kamu di mana. Tapi jawaban yang sama lagi-lagi sesuai permintaanmu. 'Aku tidak tau!' Betul bukan jawabanku?" Billy memastikan hal yang diucapkannya pada Fura yang tampak gelisah. Fura bergeming, namun beberapa saat setelahnya ia mengangguk.


"Dan kondisi Hana?"


"Ia bertambah cantik, pipinya berisi, terlihat sehat."


"Syukurlah dia bisa mengurus putrinya," datar Fura.


"Mengurus itu tidak sulit, Fura. Mudah saja untuknya menyuruh orang menjaga Hana. Tapi bagaimana kabar hatinya yang kosong tanpa kasih sayang ibunya!"


"Ka-kak ...." Dada Fura sesak mendengar ucapan Billy.


"Aku bicara apa adanya. Seperti aku dulu yang merindukan sosok papa saat aku menginjak remaja. Aku tumbuh sehat dan pintar tapi ruang itu kosong. Ingin aku bercerita dengan papa, bermain permainan laki-laki, berdiskusi tapi aku tak mendapatkannya." Billy tampak meletakkan Nura ke lantai dan bayi kecil itu dengan cepat merangkak ke sana ke mari terus mengejar Omar yang mengganggunya.

__ADS_1


"Karena papa sedang bersamaku!"


"Sudahlah jangan bahas itu. Yang terpenting hubungan kita sekarang baik. Juga Papa, walau ia belum bisa bicara sempurna tapi setidaknya ia sudah bisa berjalan setelah struk separuh tubuh yang ia derita."


"Terima kasih, setelah memulihkanku Kakak juga membantu memulihkan papa!"


"Jangan lupa papamu juga papaku, hem?" Tangan Billy merangkul bahu Fura, ia terus menyapu bahu adik yang dulu pernah begitu dicintainya.


"Oh ya, di mana Kak Mayra? Bukankah ia juga ke Bandung?" Fura menanyakan sosok wanita yang sedang dekat dengan Billy 1 tahun belakangan ini.


"Apa maksud ucapanmu ini adik nakal! Mana mungkin Mayra di sini. Kami tentu tau batasan kami. Ia ke vila ayahnya sejak kedatangan kami kemarin. Sekarang ia sedang dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai ...." Baru saja bibir Billy menutup, sebuah Jazz silver tampak masuk ke pelataran.


"Panjang umur, itu Mayra tiba! Sebentar aku ke luar dulu!" Fura tersenyum dan mengangguk.


Beberapa saat setelahnya dua wanita cantik dengan garis wajah yang hampir mirip tampak asik bermain-main di dapur. Ya, memang Billy menyukai model wajah seperti Fura. Mayra dengan cekatan memotong-motong sayuran, ia ingin membuat sop dengan bahan yang sudah disiapkan Billy. Fura yang tak pandai memasak tampak membantu Mayra mencuci sayuran yang sudah di siangi Mayra.


Di kejauhan, sembari menjaga dua keponakan kecilnya Billy terus tersenyum melihat aktivitas dua wanita yang mendiami hatinya, adik dan kekasih yang sepekan lagi akan bertunangan dengannya.


Beberapa saat setelahnya hidangan tampak telah tersaji di meja makan. Baru saja hendak menyantap makanan, Mang Aryo penjaga rumah Billy masuk.


"Pak Billy ... ada tamu di luar!"


"Siapa Mang?"


"Biasa, lelaki yang wajahnya berewokan itu!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


💔Udah di up 3 bab ya ... hayo siapa yang lupa tekan tombol like? jangan lupa walau di kasih double up Bubu selalu tunggu like dan komen kalian tiap bab. Vote juga boleh tapi nggak maksa😉


💔Ada yang inget tokoh Mayra?😄


💔Dan apa Shofi benar-benar meninggal? Kita tunggu di bab-bab berikutnya ya❤❤



💔Omar dan baby Nura

__ADS_1



💔Mayra Khansa Putri Anggoro


__ADS_2