TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Dua Puluh


__ADS_3

Di tengah kebahagaiaan Syafiq, ponselnya bergetar ....


📩Bii ... pulanglah! Hana terus merengek mencarimu, kamu menjanjikannya makan ice cream di Sweet Cantina di Jalan Braga katanya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"A-da apa, Mas?" tanya Shofi menyadari perubahan rahut wajah Syafiq setelah ia membuka ponselnya.


"A-ku harus ke-kantor, Shof ...! A-da design pentingku yang tertinggal," lirih Syafiq terbata. Jiwa Syafiq resah, sebuah kebohongan lagi-lagi ia ciptakan.


"Kenapa bingung? Kita bisa mampir ke kantormu sebelum pulang, Mas," lontar Shofi memberi solusi Syafiq.


"Ti-dak! Biar aku mengantarkanmu pulang dahulu baru aku ke kantor."


"Bukankah itu membuang waktu?"


"I-tu ... Hmm ... masalah-nya aku harus mengantarkan design i-tu setelahnya pada atasanku. Aku tidak ingin kamu letih, Sayang!" Syafiq masih berusaha meyakinkan Shofi.


"Aku tidak letih, Mas! Aku senang menemanimu!"


Seketika Syafiq menepikan mobilnya. "Daripada kamu bosan ikut denganku-----" Syafiq menyapu wajah Shofi. "Lebih baik kamu bersiap untuk menyenangkanku nanti malam! Kita mulai membuat Shofi kecil malam ini tanpa penghalang pil-pil itu! Bagaimana?" Ucapan yang seketika membuat Shofi merona dan mengangguk setelahnya.


"Pintar!" Syafiq berujar kembali. Ia membuang napas tenang setelah sebelumnya begitu gelisah.


_____________


Di bangunan bertingkat yang menjadi rumah utama Syafiq, Fura berkali-kali menengok jendela memastikan sang suami belum tiba. Mang Anto sang sopir masih menyelesaikan tahap akhir pendekorasian rumah majikannya tersebut.


Hari ini genap 29 tahun usia Syafiq. Awalnya Fura kecewa membaca pesan Syafiq yang tak bisa datang, padahal berbagai rencana telah ia buat. Tapi dengan alasan sang putri ia yakin Syafiq pasti berubah fikiran.


Pita-pita, balon dan bunga-bunga telah ditata sedemikian rupa di ruang keluarga. Terlihat mang Anto turun dari kursi setelah sebelumnya mengikat sebuah ucapan barakallohu fii umrik besar yang di gantung di satu sisi dinding ruangan tersebut. Hal yang menjadi tanda proses pemberian kejutan siap dilakukan, kini teh Rani sang perawat yang membantu aktivitas Fura mematikan seluruh lampu di ruangan tersebut. Tampak pula di sofa anak-anak begitu kegirangan dan turut antusias menanti kepulangan Abinya.


Tak berselang lama terdengar APV Syafiq masuk ke pelataran, Fura meletakkan telunjuk di bibir Hana dan omar bergantian sebagai permintaan jangan bersuara, mereka mengangguk.


Pintu terbuka, Syafiq tampak heran melihat suasana rumah yang hening, ia terus berjalan melewati ruang tamu dan menengok ke arah ruang keluarga yang gelap. Ia segera mencari saklar untuk menghidupkannya ... berhubung saat ini ba'da magrib, lebih baik lampu tidak dimatikan, itu menurutnya.


KLIK ... Saklar ditekan.


Syafiq kaget melihat selutuh penghuni rumah berkumpul di sana. Netranya langsung tertuju pada tulisan besar yang merupakan do'a di hari jadinya. Ia bahagia Fura mengingat hari ini, seketika ia mengarahkan pandangannya pada bidadari yang terlihat cantik dengan senyum mengembangnya. Syafiq mendekat.


Belum lagi sampai pada raga Fura, 2 buah hatinya sudah berlarian dan segera memeluknya. Syafiq membungkukkan badan menciumi satu persatu buah hati yang terlihat menggemaskan dan selalu dirindukannya itu.

__ADS_1


"Balokaloh Abi," ucap Omar yang masih cadel berbicara padanya. Syafiq tersenyum, ia mencium kening Omar dan menerima sebuah kado yang disodorkan sang putra.


"Barakalloh Abii ...," ucap Hana setelahnya langsung menyerbu wajah Syafiq. "Hana sayang Abi!" Sebuah kado diserahkan Hana pula kepada Syafiq. Syafiq menciumi Hana sang putri berambut keritingnya. Ia terlihat sangat manis dengan dress tanpa lengan membuat tubuh berisinya semakin menggemaskan Syafiq.


Mbak Kinan sang pengasuh mendekat, diangkatnya raga Omar dan digenggamnya jemari Hana menuju sofa. Syafiq mengarahkan pandangan dan kakinya kini ke arah Fura.


Raga mereka sudah sangat dekat, Syafiq memeluk kepala Fura hingga mendarat ke pinggangnya, ia menunduk mencium puncak kepala Fura. "Terima kasih, kejutan yang sangat indah, Juriyy," bisik Syafiq.


Fura mengangkat kepalanya menghadap wajah Syafiq. "Terima kasih sudah datang, barakallohu fii umrik, Bii ...!" Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Fura, Syafiq sebetulnya ingin berlama tapi ia sadar banyak mata lain menatap mereka.


"Potong kuenya, Abii ...!" Hana tampak mendekat dengan mata tak terlepas dari kue bertingkat di hadapannya.


Syafiq segera memotong kue dibantu Fura, ia meletakkan potongan kue di piring-piring kecil dan menyerahkannya pada putra-putri dan para ART di rumahnya termasuk pada mang Anto yang sejak tadi tak berhenti tersenyum melihat keharmonisan yang tertangkap matanya.


Syafiq mengarahkan suapan dari piringnya pada Fura, Fura menerima dan tersenyum. Keduanya saling menyuapi, hingga Syafiq menyadari semua raga sibuk memakan kue. Dengan nakal Syafiq mengarahkan bibirnya pada bibir Fura yang terdapat ceceran cream di sana. Ia meluma*tnya lembut dan semakin dalam, jemari Fura yang menahan tak dihiraukan. Hingga Syafiq merasa puas, ia melepaskan pagutannya. Sebuah cubitan mendarat setelahnya di lengan Syafiq. Syafiq tersenyum.


"Mbak Kinan setelah anak-anak selesai memakan kue, langsung bawa mereka ke kamar!" Mbak Kinan mengangguk.


"Untuk yang lain, silahkan sepuasnya menyantap kue ini. Kami ke dalam lebih dulu!" Kini para ART yang mengangguk bersamaan dan tersenyum, mereka memahami hal yang akan terjadi selanjutnya antara 2 majikannya.


________________


"Apa Shofi sudah memberi do'a untukmu?"


"Kamu selalu senang menyakiti diri dengan pertanyaanmu sendiri!" Syafiq kini menelusuri leher putih Fura dan mulai memberi tanda di sana.


"Ahh ... geli, Bii. Ia wanita karir pasti memberi banyak hadiah untukmu, bukan?" Fura kembali melontarkan tanya dengan tangan terus menyapu rambut Syafiq. Syafiq tersenyum.


"Juriyyku seperti detektif!"


"Dan Jauzaku pintar mengalihkan tanya sang detektif!"


"Hentikan berbicara tentang wanita lain, Juriyy!" Syafiq mulai membuka satu persatu kancing pada tunik yang dikenakan Fura. Ia bermain-main di sana setelahnya.




Beberapa saat berlalu ....


Syafiq masih memeluk tubuh Fura yang berbaring di sampingnya. Fura terus menatap wajah Syafiq yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


"Jangan banyak memikirkan sesuatu yang akan menyakitimu, Jurriy!" Syafiq lagi-lagi mencium puncak kepala Fura. Syafiq sadar Fura banyak berkorban untuknya. Terkadang Syafiq menyesal membagi hati dari wanita tercintanya tersebut, tapi ia pun tak kuasa menyalahkan Fura yang dulu dengan gencar menyeretnya dalam arus yang ia hindari, namun kini membuatnya terbawa dan semakin menikmati setiap gelombang yang ada.


"Sebesar apa rasamu pada Shofi, Bii?"


"Kenapa bertanya itu?"


"Aku khawatir ia merebut seluruh hatimu!"


"Juriyyku tetap yang utama ...!" Syafiq memainkan jemarinya di kening Fura.


"Iya di-sini. Namun di sana Shofi lebih utama!" lirih Fura.


"Hentikan membahas ini!"


"Kapan kamu akan mempertemukan kami, Bii?"


"Maaf belum saat ini, Juriyy. Tapi aku akan mulai memberitahunya perlahan!"


"Apa kamu takut ia marah dan meninggalkanmu?" Syafiq bergeming.


"Jika ia memintamu memilih, siapa yang akan kamu pilih, Bii?"


"Sudah kukatakan jangan membahas hal yang seolah membandingkan kalian berdua!" Syafiq yang sedikit gusar merenggangkan tubuhnya dari tubuh Fura.


Fura menahan tubuh Syafiq. "Jangan pergi, Bi! Aku tak akan membahas Shofi lagi."


Syafiq menatap netra mengiba Fura, ia kembali memeluk Fura.


"Boleh aku minta satu hal padamu, Bii?"


"Juriyyku berhak meminta apapun di luar membahas hal yang tak aku suka!"


"Aku ingin kamu menemaniku malam ini, Bii! Tetap memelukku seperti ini dan ja-ngan ke-sana!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


💔Kalau berlebihan monggo disentil😑


💔Jangan lupa tuangkan komen terbaik kalian😊❤

__ADS_1


__ADS_2