TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Semua terjadi sesuai rencana. Syafiq meninggalkannya dengan kacau, ia berkali-kali mengepalkan tangannya seraya mengumpat. Syafiq cemburu!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seorang gadis kecil berkali-kali mengintip ke dalam kamar Shofi yang sedikit terbuka. Shofi memang sejak pagi tak beranjak dari kamar, merasa asing untuk keluar. Ia menghabiskan waktunya termenung di depan jendela, menatap bunga-bunga yang bermekaran sangat cantik. Sesaat ia terhibur ... namun saat lagi-lagi ia merasa perutnya berkedut lantaran gerakan bayi yang samar terasa, hatinya teriris.


Entah berapa kali sudah Shofi menarik dan membuang napasnya perlahan berusaha menertalkan sesak yang ingin ia singkirkan, namun tak jua beranjak. Jauh di sudut hati, sang jiwa baik terus berbisik tak membenarkan perilakunya yang bersembunyi seolah menghindari masalah, namun ia pun belum siap untuk membuka semua luka yang Syafiq toreh sangat dalam.


Juga perihal ia yang kini tinggal bersama Raihan, ia sadar semua salah. Bagaimana pun ia wanita beragama, walau agama yang dimiliki belum sempurna sebab ia masih berproses belajar, tapi sedikit banyak ia tau hal apa yang tak disukai PenciptaNya. Dan tinggal bersama Raihan yang bukan muhramnya adalah salah satu yang tidak disukai-Nya.


Otaknya semakin berkecambuk banyak hal, ingin pergi dari rumah Raihan ... namun ia bahkan tak memegang uang sepeserpun. Kartu identitas, ATM, kartu kredit juga ponselnya semua tertinggal di rumahnya.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" gumam Shofi.


Shofi yang haus berbalik ingin mengambil air yang disediakan mbok Arum di atas nascash. Belum lagi cairan bening itu masuk ke mulut, ia menangkap wajah sang bocah kecil memperhatikannya. Ia membuka pintu namun raga kecil itu sudah berlari entah kemana. Shofi akhirnya menutup pintu seperti sebelumnya, dengan sedikit terbuka.


Agaknya Shofi mulai terhibur dengan perilaku Shofi kecil yang berkali tertangkap memperhatikannya. Ia pun bersembunyi di balik pintu, berusaha menggoda Shofi kecil. Hingga bayang Gadis kecil itu terlihat. Shofi kecil kembali mengarahkan pandangnya ke dalam kamar. Ia yang bingung tak melihat wanita yang terus ia amati sejak tadi memutuskan masuk kedalam. Dan saat Shofi kecil masuk, pintu seketika ditutup. Shofi membungkukkan badan tersenyum menatap wajah Shofi kecil yang tampak panik.


"Hai cantik, cari siapa?" lontar Shofi menyapu kepala dengan sebagian rambut diikat ke atas, sangat menggemaskan.


"A-ku hmmm----" Beberapa saat Shofi kecil menatap Shofi namun segera membuang wajahnya kebawah, ia menunduk.


Tangan Shofi mengangkat lembut dagu Shofi kecil. "Hem apa?" goda Shofi.


"A-ku-----


Belum lagi Shofi kecil menyelesaikan kalimat terbatanya, Shofi mencium pipi Shofi kecil hingga tampak memerah pipinya.


"Kamu cantik," ucap Shofi. Shofi kecil yang senang dengan perilaku Shofi mulai berani mengeksplor wajah Shofi, ia mengamati wajah Shofi.


"Tante juga cantik!" lontarnya tiba-tiba membuat Shofi tersenyum.


"Katakan apa kamu kesepian?" tebak Shofi. Shofi kecil mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk.


"Kita sama, Tante juga kesepian," lirih Shofi yang memang sedang tercekam pilu saat ini.


"Tante mau main dengan Shofi?" celoteh Shofi kecil membuat Shofi memiringkan kepalanya mengamati wajah Shofi kecil yang menggemaskan. Ia mengangguk setelahnya.


"Tante tunggu sini, ya! Shofi ke kamar dulu!" Dalam sekejap bayang Shofi kecil menghilang. Rasa sepi kembali menyelimuti Shofi. Hingga sebuah suara mengagetkannya.


"Tanteee .... Tolong aku!" Shofi dengan cepat keluar. Shofi kecil tampak dibantu Mbok Ratih wanita paruh baya pengasuhnya sedang menarik box besar berisi banyak lego. Shofi segera menuju posisi Shofi kecil dan membantunya. Setelahnya keduanya tampak asik membuat banyak bentuk dari lego dan menjejerkannya.




Satu jam setengah berlalu, adzan Zuhur berkumandang. Shofi menjalankan ibadah Zuhur di sisi ranjang tak jauh dari Shofi kecil bermain. Sebuah ketukan terdengar setelahnya, mbok Ratih pengasuh Shofi kecil datang.

__ADS_1


"Non ... udah dulu mainnya! Kita makan sambil nonton kartun, yuk!" mbok Ratih yang khawatir tamu tuannya terganggu mengajak Shofi kecil keluar, namun Shofi kecil terus menggeleng.


"Gpp, Mbok!" Shofi yang memang menyukai anak kecil meraih piring yang dibawa mbok Ratih dan mulai menyuapi Shofi kecil. Perilaku Shofi yang lembut, membuat Shofi kecil nyaman.


"Tinggalkan saja, Mbok! Biar Shofi bersamaku!" Awalnya mbok Ratih terdiam, namun melihat interaksi keduanya ia mengangguk.


Tak berselang lama mbok Arum datang membawa makanan. "Ibu pasti nggak mau ke ruang makan. Jadi saya bawakan!" Shofi tersenyum. Melihat setiap orang di rumah Raihan begitu memperhatikannya, ia melupakan sejenak bebannya. Ia merasa nyaman.


Kedua Shofi telah sama-sama kenyang, Shofi mengajak Shofi kecil tidur bersamanya.


_______________


Sore menjelang Raihan pulang dari aktivitasnya. Ia yang mendapat informasi Shofi kecil sejak siang menghabiskan waktu bersama Shofi merasa senang. Ia membuka sedikit daun pintu kamar Shofi, ia tersenyum melihat Shofi kecil tampak nyaman tidur memeluk Shofi yang notabene adalah mantan istri yang masih memiliki hatinya.






Waktu terus berjalan hingga pukul 20:30 kini. Raihan mengetuk kamar Shofi. Shofi membukanya.


"Mas ...," lirih Shofi.


Baru saja Raihan ingin menyelonong masuk, Shofi berdiri di hadapannya, menahan jalan. "Maaf Mas, kita bukan muhram. Lebih baik kita saling menjaga!"


"Bagaimana jika kita bicara di ruang tamu! Akan lebih baik dan tidak menimbulkan fitnah."


"Baiklah," lirih Raihan seraya mengangguk.


Melihat tuannya di ruang tamu, mbok Arum menyajikan 2 teh hangat, Raihan pun bicara.


"Bagaimana keadaanmu hari ini, Shof? Kudengar putriku terus mengganggumu?" Shofi tersenyum getir.


"Alhamdulillah aku lebih baik, Mas. Putrimu tidak menggangguku. Justru aku senang, kehadirannya sangat menghiburku." Raihan tersenyum.


"Apa kamu sudah mulai memikirkan langkah yang akan kamu ambil atas hubunganmu bersama Syafiq?"


"Yang jelas kami tak mungkin bersama lagi!"


"Aku setuju, ia jelas memiliki istri, seharusnya ia tidak membohongimu seperti itu! Dan lagi istrinya sedang sakit, harusnya ia menjaga perasaan----- "


Walau Shofi kecewa dengan perilaku Syafiq, tapi mendengar orang lain menghakimi suaminya hatinya tak suka. Permasalahan ini adalah masalahnya bersama Syafiq, ia tak suka Raihan masuk terlalu jauh!


"Cukup, Mas!" sela Shofi. Mulut Raihan membulat kaget Shofi menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


"Ma-af aku hanya terbawa perasaanku." Shofi bergeming. Beberapa saat ia berkata.


"Boleh aku meminta bantuanmu sekali lagi, Mas?"


"Katakanlah!"


"Aku tak membawa uang sepeserpun dari rumah. Pinjami aku uang, Mas! Aku harus mencari tempat tinggal dan mulai merencanakan hidupku ke depan bersama anakku!" ucap Shofi dengan tatapan sayu yang letih namun harus tetap tegar.


"Kenapa mencari tempat lain? Tinggalah di sini! Shofiku sepertinya sangat nyaman denganmu. Atau jika kamu setuju, aku siap menjadi Ayah untuk calon anakmu, Shof!" ucap Raihan penuh kesungguhan. Shofi tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mencintaimu lagi, Mas. Hubungan apa yang dibangun tanpa cinta!"


"Kita akan menumbuhkan rasa itu lagi! Atau anggaplah ini simbiosis mutualisme, kita berdua sama-sama diuntungkan. Shofiku memperoleh ibu dan bayimu memiliki ayah. Logis bukan?" Shofi lagi-lagi tersenyum.


"Aku kecewa pada pemikiranmu, Mas! Apa bedanya kamu dengan dia yang mempermainkan suatu hubungan!" Shofi membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Oke, maaf Shof! Sebaiknya kita sudahi pembicaraan ini. Kamu harus tenang dan sebaiknya jangan berfikir macam-macam dulu dan tetap di rumah ini, please!"


Shofi berdiri. "Aku ingin istirahat, Mas!"


_______________


Shofi masih duduk mematung di head board ranjang. Ia terus berfikir ....


"Jika mas Raihan tak bisa meminjamkanku uang. Aku harus ke rumahku dan mengambil kartu-kartuku! Mencari tempat tinggal dan keluar dari rumah ini adalah hal pertama yang harus kulakukan! Setelahnya ... aku baru akan menemui Dia ...."


"Dia .... Ma-s Sya-fiq ... kenapa kamu begitu te-ga, Mas! Sedang apa kamu sekarang? Apa kamu kehilangan dan merindukan-ku. Astagfirulloh ... Hahh ... bodoh! Bahkan aku masih memikirkannya ...."


________________


Fura masih berkutik dengan ponselnya. Nomer yang sama terus menjadi tujuannya. Panggilan tanpa jawab membuat hatinya kian resah akan keberadaan sang tambatan hati yang nyatanya telah mendua tapi rasa untuknya tak pernah berkurang sedikit pun.


________________


Laju mobil yang dikemudikan Syafiq tak terarah ... Ponsel yang terus berdering ia abaikan, batinnya kacau. Pekerjaan yang dilakukan hari ini tidak beres. Perkataan asisten Raihan terus mengikutinya.


"Kenapa Shofi pergi bersama Raihan? Kenapa menghindar Sayang ... kita harus bicara. Kamu harus tau pada awalnya aku juga tersiksa dengan hubungan ini, setiap kebohongan ... ya, aku bersalah! Tapi aku tak akan membiarkanmu pergi dariku! Aku tidak akan mengakhiri ikatan ini sampai kapan pun! Shofi ... aku sungguh merindukanmu! Tak bisa kehilanganmu ...."


Entah mengapa jemari Syafiq terus mengarahkan kemudi ke tempat ini, bangunan ini. Hingga gerbang terbuka dan APVnya berhenti. Kakinya terus melangkah hingga pintu besar seketika terbuka.


Raga cantik menyambut dengan pelukan tulus. "Akhirnya kamu pulang, Bii ...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


💔Terima kasih supportnya selalu, inginnya bisa up 2x sehari, tapi semua tergantung kondisi rumah. Maklum seperti kebanyakan kalian, Thor juga ibu2 dengan berbagai aktifitas dan daring 2 jagoan super aktif pula. Mohon pengertiannya🙏❤❤

__ADS_1


💔Sambil menunggu up, mungkin berkenan mampir ke karya Thor yang lain😊



__ADS_2