TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tiga Puluh


__ADS_3

Ponsel Syafiq yang kerap sibuk membuatnya tak bisa meminta izin, tapi Fura yakin Syafiq pasti mengizinkan, karena ia memang pergi ke tempat yang baik dan bukan untuk macam-macam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Matahari semakin meninggi, sengatan teriknya tak menghalangi niat Shofi untuk datang ke kajian siang ini.


Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 11:15 tapi ia sudah tampak cantik dengan balutan gamis navy berbahan katun berpadu cardigan panjang tanpa lengan merk brand ternama, menjadikan tampilannya syar'i namun tetap modis. Akhir pekan kemarin memang Syafiq membawakan Shofi beberapa gamis. Dengan kondisi perutnya yang mulai membuncit, Syafiq menyarankan agar Shofi menggunakan gamis agar calon bayi mereka nyaman bergerak.


Shofi yang ingin mampir ke Braga Art Cafe membuat ia sengaja berangkat lebih awal. Bayangan chicken parmigiana sudah membuat ia berkali menelan kasar salivanya. Semenjak mualnya hilang, ayam fillet dengan taburan saus keju mozarella memang menjadi makanan favoritnya.


Shofi melajukan santai Mazdanya. Ia membuka kaca jendela di sisinya, merasakan desiran angin yang berpadu dengan terik yang semakin meninggi disertai pemandangan pepohonan di antara dua jalan yang berbaris teratur sungguh merefresh otak Shofi.


Hingga di pukul 11: 40, Shofi sampai ke bangunan yang mengusung konsep vintage pada dekorasinya. Ia segera masuk dan memesan menu yang berada dalam otaknya. Menu pun tiba, ia dengan lahap menyantap hidangan hingga tak tersisa. Ia menyesap strawberry mix apple juice setelahnya. Benar-benar kenikmatan yang hakiki. Ia tampak memfoto dirinya dan piring kosong di hadapannya lalu memposting di beberapa akun media sosialnya.


Beberapa saat setelahnya adzan Zuhur berkumandang, Shofi beranjak menuju masjid tempat kajian diadakan.


Suasana masjid tampak masih lenggang, beberapa panitia tampak cantik menggunakan gamis senada dan name tag di dada kanannya. Mereka terlihat masih mempersiapkan acara. Shofi bergegas ke dalam menjalankan ibadah zuhur. Sembari menunggu, ia mengeluarkan mushaf kecil dari dalam tas dan membacanya lirih.


______________


Di tempat berbeda, Fura dibantu teh Rani masih mempersiapkan diri. Ia memilih gamis katun yang dibelikan Syafiq sepekan lalu yang belum sempat ia pakai. Gamis katun navy dengan variasi cardigan abu-abu melengkapi penampilannya. Ia seperti biasa memberi riasan tipis di wajah yang memang telah cantik kini semakin bertambah cantik.


"Mbak Fura cantik!" lontar teh Rani sembari merapikan gamis yang dipakai Fura. Fura tersenyum. Wanita yang nyatanya telah diduakan itu selalu berusaha bahagia. Ia selalu bisa merangkai kembali hatinya yang setiap malam hancur lantaran harus membagi raga suaminya dengan wanita lain. Kepedihan buah dari keputusannya yang ingin membahagiakan sang suami, namun ternyata begitu sakit terasa.


"Umi ...! Umi sudah siap, kan? Ayo kita berangkat Umi! Hana mau foto dengan Marsya!"


Ya, berhubung lokasi alun-alun dekat dengan Jalan asia afrika yang dipenuhi cosplay dengan berbagai kostum, membuat Hana begitu antusias akan bertemu dengan tokoh kartun kesukaannya.

__ADS_1


Tak berselang lama seluruh raga menaiki Avanza yang sudah dipanaskan mang Anto. Mang Anto dengan semangat melajukan Avanza ke tempat yang ingin dihadiri majikannya.


Pukul 12:55 Avanza yang membawa Fura sampai. Tampak suasana masjid telah ramai dipadati jamaah yang hendak menimba ilmu. Mang Anto dengan cekatan menyiapkan kursi roda yang akan digunakan Fura. Setelahnya teh Rani dan mang Anto meletakkan Fura dengan sangat hati-hati ke atas kursi rodanya. Mbak Kinan langsung menggenggam 2 jemari kecil Hana dan Omar.


"Mang ... ikutlah mendampingi mbak Kinan menjaga anak-anak! Pukul 2 nanti kuharap kalian sudah di mobil!" ucap Fura.


"Siap, Bu," lugas mang Anto.


"Jika ada makanan yang ingin kalian beli, gunakanlah uang yang kuberi pada mbak Kinan!"


"Iya, Bu ...," jawab mbak Kinan.


"Mbak .... Ayo, Mbak ...!" Hana yang tak sabar terus merengek, sedang Omar tampak memperhatikan Fura.


"Ada apa, Sayang?" lontar Fura pada sang putra kecil.


"Tapi di sana nanti ada doraemon dan spongebob, yakin Omar nggak mau ikut kak Hana?" Omar tampang bingung.


"Umi ngaji dulu ya, Sayang! Kalau Omar ikut Umi, nanti Omar bosan, hem?" Akhirnya Omar mengangguk. Tak berselang lama raga putra-putrinya tak terlihat.


Teh Rani dengan sabar mendorong kursi roda Fura hingga pelataran. Berhubung Fura menggunakan kursi roda, ia hanya dapat mendengar dari luar masjid, sedang teh Rani menemani duduk di undakan masjid.


Acara dimulai, tampak moderator membuka acara dilanjut lantunan ayat suci Al Qur'an diperdengarkan. Setelahnya moderator memanggil sang ustad ke depan. Walau berada di luar, Fura tak malu atau mempermasalahkan, asal ia tetap bisa mendengar jelas materi yang dibawakan.


Sama halnya dengan Fura, Shofi yang duduk dibarisan tengah pun tampak mendengarkan dengan seksama. Netranya tampak antusias menunggu materi yang akan ia dengar. Selalu ada desiran berbeda tatkala duduk di bangunan masjid seperti saat ini, melihat raga-raga pencinta sang Esa yang juga sedang merindu berkah serta pahala seperti dirinya.


Materi 8 amalan sunnah sehari-hari Rosulullah yang mengandung Rahmat tampak mulai dibawakan sang ustad. Diantaranya adalah bangun lebih awal, tersenyum, bersiwak, berbicara baik atau diam, tidur menghadap kanan, makan dan minum sambil duduk, mengucapkan salam ketika hendak masuk rumah dan bersedekah.

__ADS_1


Tampak sang Ustad menjabarkan satu persatu dengan rinci dan sangat lengkap. Hingga masuk poin kedelapan atau terakhir yaitu bersedekah, sang Ustad membawakan materi tersebut dengan rinci pula. Setelahnya tampak moderator memberi waktu jamaah yang ingin bertanya untuk mengangkat tangan.


Beberapa jamaah tampak mengangkat tangan, pertanyaan dilontarkan dan sang Ustad tampak menjawab dengan lugas pertanyaan tersebut. Setelahnya tampak moderator memilih kembali seorang jamaah dari sekian banyak tangan yang mengacung.


Jamaah selanjutnya tampak bertanya sesuatu yang sangat sensitif dan sedikit melenceng dari materi yang dibawakan. Sesuatu yang merupakan sunnah Nabi pula, tapi sering menjadi polemik dikarenakan ada yang setuju akan sunnah ini, namun tak sedikit yang memilih tidak bersinggungan dengan sunnah tersebut.


Hati Fura seketika berdesir saat ia mendengar jamaah tersebut bertanya. Jantungnya berdegup cepat hingga menimbulkan sesak saat hal yang ditanyakan secara tidak langsung menyadarkan posisinya yang telah terbagi.


Sunnah tersebut tak lain adalah poligami. Hal yang dijalankan Rosulullah di zamannya namun hanya dianjurkan bagi mereka yang mampu berlaku adil.


Sang jamaah bertanya tentang bagaimana jika ada suami yang meminta menikah lagi. Pertanyaan yang seketika dijawab oleh ustad dengan lugas. Tentang apa motif dari pernikahan tersebut, alasan sang suami, juga kemampuan suami berlaku adil. Tentunya setiap prilaku Rosulullah adalah tauladan bagi umatnya. Tapi apakah sosok kita manusia yang dipenuhi cela bisa disamakan dengan Rosulullah yang memang hatinya sudah dibersihkan dari keburukan.


Sang Ustad pun menjelaskan, bahwa Rosulullah berpoligami saat itu memiliki alasan dan tujuan yang tentunya tidak bisa disamakan dengan alasan manusia pada masa kini yang lebih banyak menitikberatkan kebutuhan hasrat semata namun berkedok sunnah. Bahwa setiap yang dilakukan Rosul adalah titah sang Esa yang akan menjadi pelajaran untuk umatnya di masa kini.


Sang Ustad menganjurkan seluruh jamaah, para istri khususnya untuk mengingatkan sang suami akan dosa yang ditimbulkan jika ia tak mampu bersikap adil setelahnya, ia juga menyebutkan dalil menurut HR. Tirmidzi dan Abu Daud bahwa suami yang tidak bisa berlalu adil akan dibangkitkan dengan kondisi punggung yang tidak rata/miring. Bahwa setiap ganjaran sesuai perbuatan.


Dan belum lagi penjelasan sang ustad selesai, seorang wanita di barisan tengah tampak mundur perlahan dan mengambil arah ke sudut, hingga akhirnya ia berdiri dan berlalu dari bangunan masjid tersebut. Wanita tersebut tak lain adalah Shofi.


Shofi menuju keluar, namun tiba-tiba netranya menangkap sosok yang tak asing untuknya. Sosok wanita dengan kursi roda yang masih ia ingat jelas cantik wajahnya. Sosok yang saat itu hampir terjatuh ketika ingin mengambilkan buku untuk putri kecilnya.


Shofi mendekati Fura yang juga sedang kaget menangkap bayangnya. Kedua netra itu saling mengunci, hingga akhirnya mereka saling tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Happy reading😘


💔Jika ada penyampaian yang salah semua kesalahan Bubu pribadi. Terima kasih yang masih mengikuti kelanjutan kisah ini❤❤

__ADS_1


__ADS_2