TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

Sepasang manusia duduk bersimpuh di sisi sebuah gundukan. Setelah memanjatkan doa, sang wanita terus menatap lekat batu nisan yang terukir namanya tersebut.


 "Itu nama panjangmu?" Wanita itu mengangguk.


"Keluargamu pasti sedih kehilanganmu?" Wanita itu tersenyum getir.


"Sayangnya aku tidak memiliki keluarga!"


"Suamimu?" Lagi-lagi ia tersenyum getir.


"Mungkin maksud Om mantan suami. Kami sudah tidak berhubungan lama, bahkan ia pun pasti menganggapku sudah meninggal. Bukankah di mata agama kami sudah bercerai? Bahkan pernikahan kami pun hanya siri tidak terdaftar negara!" Pria di sisi wanita mengangguk.


"Baiklah hari semakin terik, kita pergi sekarang!" Wanita itu mengangguk.


"Kita belum sarapan tadi, bagaimana jika kita cari makan?"


"Boleh, Om ...."


"Mau makan apa?"


"Seperti biasa saja!"




Beberapa saat setelahnya ...


"Enak?"


"Enak, Om! Sepertinya aku mulai menyukai makanan ini!" Sang pria tersenyum.


"Om ... berhenti menatapku seperti itu saat aku sedang makan!"


"Aku senang menatapmu!"


"Karena wajahku adalah wajah istri Om!" Seketika rahut kesedihan tampak di wajah pria matang yang memiliki pancaran ketulusan itu.


"Maaf jika kamu tak suka dengan wajahmu sekarang!"


"Om bicara apa! Wajah ini cantik, aku suka. Aku mendapatkan hidup kedua dari Om. Bagaimana aku akan menyalahkan keputusan Om memberi wajah ini," ucap sang wanita sungguh-sungguh. Pria itu tersenyum.


"Om ... apa pemilik wajah ini begitu Om cintai?"


"Sangat!" ucapnya setelah sebelumnya menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Hmm ... boleh kuketahui bagaimana sifat pemilik wajah ini?"


"Baik ... ia sangat baik, juga lembut. Sudah! Jangan bicara lagi! Lekas habiskan makananmu!"


"Iya, aku akan habiskan makananku, tapi Om juga harus habiskan nasi goreng seafood Om!" Pria itu tersenyum.


"Tentu saja!" Dan keduanya melanjutkan makan setelahnya.




Beberapa saat acara makan mereka selesai, tanpa aba-aba sang pria mengambil tisu dan menyapu bibir yang terdapat sedikit bumbu kacang itu.


"Hee ... maaf makanku berantakan! Berikan tisunya Om, aku bisa membersihkan bibirku sendiri!"


"Maaf, aku spontan melakukannya. Kadang aku merasa kamu adalah dia!" lirih sang pria. Ia menunduk beberapa saat dan melontar kata kembali setelahnya.


"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi setelah ini?"


"Apa Om tidak ke kantor hari ini?"


"Hari ini aku libur dan menghandle pekerjaan dari rumah. Toh aku hanya memegang dua toko saat ini."


"Bukankah Om memiliki toko di Ausie? Maaf, aku tidak sengaja mendengar saat asisten Om bernama Aldo itu ke rumah."


"Sekarang jawab, kita akan ke mana setelah ini?"


"Aku ingin ke rumah Ibu Suswati! Jika Om letih, aku bisa ke sana sendiri."


"Butuh 1,5 jam ke sana. Aku akan mengantar!"


"Terima kasih, Om."


_________________


Bangunan sederhana berada di hadapan mereka saat ini. Tampak wanita paruh baya sedang menjemur opak di muka rumah. Seorang gadis 17 belas tahun di sisi rumah sedang mengerjakan tugas sekolah, sedang seorang bocah laki-laki 12 tampak sedang asik bermain bola di halaman. Ya, ini memang hari minggu dan sekolah sedang libur.


Netra berkaca mewarnai wajah sang wanita melihat pemandangan itu. Hingga ia memutuskan untuk turun, dan sang lelaki membuntuti dari belakang.


"Assalamu'alaikum ...." ucap salamnya.


"Wa'alaikumsalam, eh ... ini temannya Kiran, kan? Ayo masuk, Teh, Pak!"


"Bagaimana kabar ibu dan adik-adik?"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Teh. Makasih banyak ya Teh, setahun ini Teteh selalu bantu perekonomian ibu. Emang kebangetan Kiran, katanya kerja di Kota. Eh malah setahun setengah ini boro-boro nengok, telpon aja udah nggak pernah Teh. Ibu sebetulnya ingin cari Kiran, pengen tau kabarnya. Tapi anak-anak di rumah nggak ada yang jaga. Kiran ... Kiran ... ibu cuma bisa doain kamu Nak. Biar berjaya dan dalam keadaan baik di rantau." Mata paruh baya itu berkaca menggambarkan kerinduan yang dalam pada sosok putrinya.


Pancaran pilu itu juga dirasakan sang wanita yang duduk di hadapan ibu itu, rasa bersalah besar menyelimuti otaknya. Batinnya berbisik. "Bagaimana jika ibu Suswati tau kalau ternyata Kiran putrinya sudah tiada. Dan parahnya putrinya dikebumikan dengan nisan bertulis namaku." Dada itu sesak. Teramat sakit hingga bulir-bulir itu terus keluar.


"Teh ... Teteh baik-baik saja, kan?" tanya ibu Suswati heran melihat tamu yang sering menolongnya mendadak terlihat sedih.


"Bu, sepertinya kami harus pulang! Ini ada sedikit uang untuk membantu biaya sekolah anak-anak!" ucap sang pria sembari menyodorkan sejumlah uang dari dompetnya.


"Aduh Pak ... kami jadi merepotkan kalian. Kalian itu sebetulnya siapa? Kenapa begitu baik dengan keluarga ibu?"


"Ibu tidak perlu banyak berfikir. Ini rezeki dari Alloh!"


"Nuhun Teh, Pak. Semoga Alloh yang membalas kebaikan kalian."


Pria itu membantu sang wanita berdiri, kesedihan telah membuat raganya melemah.




"Terima kasih, Om! Lagi-lagi aku merepotkan, Om! Setelah menemukan cara untuk mengambil uang simpananku di Bank, aku akan membayar semua hutangku pada Om!" Pria itu tersenyum.


"Jangan fikirkan itu! Bisa melihat wajah mendiang istriku di wajahmu. Itu lebih dari cukup."


"Istri Om sungguh wanita beruntung yang memiliki cinta penuh dari Om, bahkan saat nyawanya telah tiada."


Tarikan napas panjang itu dilakukan, tampak Sang pria terus menertalkan emosi yang seketika menyeruak mengingat kejadian 5 tahun silam yang merenggut nyawa pemilik hatinya.


Malam itu segalanya tampak normal, ia dan sang istri seperti biasa selalu menyempatkan berbincang banyak hal sebelum tidur. Mengingat awal-awal pertemuan keduanya, perpisahan yang harus mereka lalui hingga akhirnya waktu mempertemukan keduanya kembali, kelahiran kembar anak pertama yang diselimuti banyak pilu sebab sang putri nyatanya terlahir dalam kondisi tak baik, penculikan yang menyebabkan depresi panjang teruntuk istrinya dan banyak lagi hal yang mereka utarakan malam itu.


Dan pagi itu langit di belahan Northern Territory tampak kelabu. Sang istri yang biasa terbangun lebih dulu tampak masih nyaman berselimut. Hingga setengah jam berlalu raga itu tak jua terjaga. Ia bergeming saat panggilan demi panggilan, sapuan, juga kecupan di daratkan ia tetap tak merespon.


Pagi itu bertambah kelabu saat dirasakan tak ada denyut dalam nadi itu, dada yang biasa bergerak naik turun tak menandakan pergerakannya. Raga itu seketika hancur, kacau dan pilu menyeruak saat sang dokter yang didatangkan menyatakan raga itu tak lagi bernyawa.


Sungguh malaikat menjemput dengan sangat cantik pada bidadarinya, senyum indah itu benar-benar membuat seisi rumah tak menyangka bahwa ruh itu telah berpisah dari jasad.


Sejak hari itu sang pria memutuskan kembali ke negaranya mengikut-sertakan raga sang istri yang akan dikebumikan di tempat ia tumbuh dan dekat dengan orang-orang tercintanya.


Sejak saat itu raga rupawan yang telah berusia matang namun tetap memancarkan pesonanya berubah 180° menjadi pribadi tertutup dan senang menyendiri. Separuh jiwanya seakan ikut terbang bersama jiwa kekasihnya.


Ia abai dengan sekitar, hidupnya hampa dan sepi. Beruntung keempat anaknya tetap mengenggam separuh jiwanya yang lain. Hingga seiring waktu ia kembali menjalani aktivitasnya walau kekosongan itu tetap dirasakan.


Pagi itu satu setengah tahun lalu adalah awal ia kembali tau ada bentuk ekspresi wajah yang bernama senyum dan ada sebuah rasa yang bernama bahagia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


❤Happy reading😘


__ADS_2