TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

"Jadi Shofi tengah ha-mil, kah?" gemuruh batin Fura.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Fura duduk di tepi jendela merangkum pilu diri. Air mata yang biasanya selalu bisa ia tahan seketika tak terbendung. Bulir itu mengalir tak terjeda.


"Shofi tengah hamil ... kini kutau mengapa mas Syafiq mulai jarang pulang ke sini. Alasan lembur yang ia ucapkan ternyata kebohongan. Bagaimana ini? Bukan lagi raga Shofi yang mengalihkan suamiku, bisa jadi anaknya pun akan mengalihkan perhatian mas Syafiq dari Hana dan Omar. Tidak! Mas Syafiq tidak mungkin seperti itu! Tapi kenapa ia tak jujur padaku! Kufikir selama ini ia hanya berbohong pada Shofi, tapi ternyata ia juga mulai membohongiku! Dan Shofii ... walau kami baru beberapa kali bertemu, aku yakin dia wanita baik. Kalimatnya sebetulnya logis, hanya saja ia tak berada di kursi roda sepertiku, jadi mudah bicara seperti itu. Dan sarannya .... Sepertinya aku akan mengikuti sarannya, saran maduku ...."


Fura menyelesaikan monolognya dan menatap kertas dalam eratan jemarinya. Kertas yang Shofi berikan sebelum keduanya berpisah tadi siang. Kertas yang tertulis nama seorang dokter syaraf beserta nomer ponselnya.


Kertas itu seketika digenggamnya saat pintu kamarnya terbuka. Sosok belahan jiwanya muncul, ia terlihat gagah seperti biasa. Fura menatap dalam nerta dan senyum yang terlukis dan masih terlihat sama sejak pertemuan pertama mereka dulu. Kini wajah itu sudah sangat dekat hingga tak berjarak di wajah Fura, desiran sesak seketika menenuhi aliran darah Fura saat mengingat pria yang mulai mendekap tubuhnya ini telah berbohong padanya. Fura yang merasa sakit atas kebohongan Syafiq mendorong raga kekar itu menjauh.


"Ada apa, Juriyy?" kaget Syafiq atas penolakan Fura.


"Jauzaku sudah berubah! Aku tidak suka dekat dengan pria yang mulai tak jujur padaku!" Fura melirik Syafiq sesaat kemudian mengalihkan pandangnya.


Syafiq mendekat. "Apa yang sedang Juriyyku fikirkan, hah?" Syafiq menyapu kepala Fura dengan sebelah tangan lainnya merangkum rahang Fura. Ia menarik kepala itu setelahnya mendarat ke tubuhnya. Syafiq memeluk erat kepala Fura dan menciumi puncaknya.


Sesaat Fura terlena dengan perlakuan Syafiq, namun seketika ia sadar. Ia mendongakkan wajahnya ke atas menatap wajah Syafiq. Fura berujar setelah menyadari Syafiq menangkap tatapannya.


"Jauzaku mulai pandai berbohong pada Juriyynya!" ucap Fura.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Juriyy?"


"Shofi tengah hamil, bukan?" tegas Fura.


Syafiq melonggarkan dekapannya dan menatap lekat Fura, kaget! "Darimana Juriyyku mengetahui hal itu?"


"Tak perlu tau darimana aku mengetahuinya! Tapi jawablah, Bi! Kenapa berbohong?" gusar Fura.


"I-tu a-ku ... Akhhh ...." Syafiq menyugar rambutnya dan duduk di tepi ranjang dengan resah. "Ma -af, Sa-yang!" ucapnya lirih.


"Rupanya ini alasanmu lebih sering bersamanya!" Syafiq mengangguk.


Fura memutar roda pada kursi rodanya mendekati raga Syafiq. "Tatap aku, Bi! Sebesar apa tempatku kini di hatimu? Apa Shofi telah menguasai seluruh tempat i-tu?"


Syafiq mengangkat wajahnya menatap Fura. "Tentu tidak! Juriygku dan Shofi memiliki tempat yang sama besar di dalam sini!" Syafiq menyentuh dadanya.

__ADS_1


"Sungguhkah begitu? Bii, jika rasa itu telah hilang tak tersisa, kembalikan saja aku dan anak-anak ke tempat orang tuaku!" lugas Fura.


Syafiq merangkum wajah Fura. "Apa ini? Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku! Selamanya kamu adalah Juriyyku, mawar jingga yang meluluhkanku!"


"Bohong! Nyatanya kamu tak adil padaku, Bi! Kamu lebih sering menghabiskan waktu dengannya yang bisa melayanimu! Bii ... aku bersedia mundur daripada perilakumu yang tak adil akan memberatkan hisabmu kelak!"


"Sayang .... Semua karena aku tak mampu menolak keinginan Shofi yang sedang tertatih mengandung benihku!" Fura tersenyum getir.


"Jika kamu masih menghargai pernikahan ini, jujurlah pada Shofi, Bi! Sudahi semua! Aku siap hidup berdampingan dengannya. Kamu pun tak perlu berbohong lagi menemuiku dan anak-anak. Bukankah selama ini kamu tak nyaman?" Syafiq bergeming dalam hatinya membenarkan semua ucapan Fura. Ia pun berujar setelahnya.


"Ma-sa-lahnya, aku belum siap jika Shofi memilih meninggalkanku saat ia mengetahui segalanya!" Fura menutup rapat matanya dan menarik panjang napasnya, sungguh kata-kata yang sesungguhnya tak siap ia dengar. Pujaan hatinya mengatakan dengan gamblang bahwa ia takut kehilangan wanita lain.


"Aku akan membantumu menjelaskan segalanya pada Shofi, Bi! Aku yang memulai ini semua dan akan memperbaikinya!" Dengan segala hal yang Fura alami selama ini, ikhlas bertahan menjadi pilihannya.


Syafiq menunduk. "Juriyyku sungguh wanita yang baik!" Beberapa saat setelahnya ia dengan cepat meraih wajah Fura dan menciuminya.


"Kamu menciumku karena begitu bahagia aku membantumu, Bi?" lirih Fura.


"Aku begitu bahagia karena memilikimu!" bisik Syafiq lembut.


"Bii ... tapi ada satu hal yang aku inginkan!" utar Fura.


"Aku ingin menjalani terapi lagi!"


"Ahhh ...." Seketika wajah Syafiq berbinar hingga kedua sisi bibirnya terangkat. "Sungguh?" Fura mengangguk. Memang Syafiq sejak dulu selalu menyuport berbagai cara agar Fura bisa pulih, tapi Fura yang letih berbagai terapi seakan tak membuahkan hasil merasa menyerah dan enggan datang dan melanjutkan terapinya.


"Oke, baik aku akan mencari dokter terbaik untukmu!"


"Aku sudah mendapatkan dokter itu!"


"Oh, ya?" kaget Syafiq.


"Besok di jam makan siang aku sudah membuat janji di sebuah resto dengannya. Kuharap kamu bisa menemaniku bertemu dengannya, Bi!"


"Tentu, Sayang!"


_______________

__ADS_1


Sengatan matahari menyergap dengan kasar, merasuk pori dan meluap menjadi butiran peluh. Syafiq turun dari APVnya menuju bangunan bertingakat tempat Fura dan kedua buah hatinya menyamankan diri. Syafiq segera ke kamar, ia menatap Fura di muka cermin sedang meletakkan hijab ke atas kepalanya. Syafiq mendekat dan meletakkan dagunya di puncak kepala Fura. Ia menatap dan tersenyum. Ia merunduk setelahnya mengarahkan bibir ke puncak kepala Fura.


"Bii, minggirlah dulu! Jangan mengganggu ... biar aku bersiap!"


"Katakan! Apa dokter yang akan kita temui seorang laki-laki atau ia perempuan?" bisik Syafiq.


"Dari namanya ia seorang laki-laki," jawab Fura sembari menematkan peniti kecil di tepi hijab di dagunya.


"Apa ia tampan?"


"Ini pertama kali kami bertemu, Bii!" ucap Fura membalik wajahnya.


"Jika tampan, kita cari dokter yang lain saja!"


"Apa Jauzaku sedang cemburu?" Fura menarik kedua alisnya sembari tersenyum.


"Tentu saja aku cemburu! Aku takut ia akan menyukai Juriyyku yang sangat cantik ini!" Syafiq merekatkan bibirnya ke pelipis Fura. Fura tersenyum, kata-kata Syafiq membuatnya melambung. Hingga tiba-tiba Fura mengingat Shofi, moodnya seketika berubah.


"Bii ... katakan siapa yang lebih cantik antaraku dan Shofi?"


"Jangan berfikir sesuatu yang menyakiti dirimu, Juriyy!" Jemari Syafiq sudah berada pada tengkuk Fura, seketika bibirnya sudah bermain cantik di tempat yang sangat ia sukai.


"Nakal!" ucap Fura setelah pagutan itu selesai.


"Aku tidak suka warna lipstik mencolok seperti tadi!"


________________


Pukul 13:10, Syafiq dan Fura sampai ke restoran bergaya sunda yang berada di Jalan Maribaya Timur. Tampak seorang pria dengan kemeja denim duduk membelakangi pintu utama. Syafiq dan Fura mendekat.


"Dengan Dokter Raihan?" lontar Fura seketika. Syafiq kaget mendengar nama yang dilontar Fura, nama yang membuatnya gusar namun seketika ditepisnya. "Bukankah ada banyak nama yang sama di bumi ini," batin Syafiq.


Raihan berdiri menghadap Syafiq dan Fura. Ia kini yang tertegun. Wajah di hadapannya seakan tak asing dan merasa pernah dilihatnya. Raihan terus mengingat-ingat hingga beberapa saat otaknya merespon.


"Wajah ini sama persis dengan pria di foto itu. Foto besar di ruang keluarga rumah Shofi! Tapi ... ada hubungan apa ia dengan wanita di atas kursi roda ini?" monolog Raihan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


💔Happy reading😊❤


__ADS_2