TERNYATA AKU ORANG KETIGA

TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Raihan tak menanggapi panggilan Karin, ia menuju jeepnya dan tak lama mobilnya tak terlihat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah Karin beranjak ke kamar mandi, tak menunggu lama Shofi segera melakukan panggilan pada Raihan. Melihat perilaku Syafiq yang pencemburu, akan tak baik jika Raihan terus melakukan aksi suka-sukanya seperti tadi.


Shofi merasa semua tak benar, ia ingin mengetahui apa maksud Raihan sebetulnya. Ia yang jelas telah mengetahui Shofi telah berumah tangga tapi mengapa bisa nekat datang ke rumahnya.


Setelah beberapa kali ponsel Raihan kerap sibuk, akhirnya panggilan itu tersambung. Shofi memulai pembicaraannya.


📞Assalamu'alaikum.


📲Wa'alaikumsalam, bagaimana kondisimu, Shof?


📞Tadi kamu ke rumahku, Mas?


📲Iya.


📞Untuk apa? Apa kamu ingin menpersulit hidupku? Sudahi perilakumu yang tak benar itu, Mas! Aku telah berkeluarga, hidup kami bahagia ... tolong jangan memperkeruh dengan kedatanganmu yang tak jelas!


📲Ayolah, Shof ... kenapa fikiranmu jadi sepicik ini sekarang? Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu! Walau tidak ada hubungan diantara kita dan kamu pun telah berkeluarga, tapi aku sangat berharap kita bisa tetap berteman!


📞Aku tidak butuh teman, Mas!


📲Kamu pasti akan membutuhkannya suatu hari nanti!


📞Tidak!


📲Ayolah Shof, terserah jika kamu bersikeras! Tapi aku akan selalu membantumu jika kamu membutuhkan teman berbagi! Teman! Aku hanya menawarkan pertemanan, Shof!


📞Sudahlah, Mas! Sekali lagi ... menjauhlah!


📲Kamu lupa bukan istriku lagi, Shof ...! Kamu tak berhak mengatur apa yang harus dan tidak kulakukan!


📞Tapi aku terganggu! Aku dan suamiku akan terganggu! Aku hanya akan memastikan tidak ada hal yang akan menjadi beban suamiku, kuharap kamu memahamiku!


Shofi memutus panggilan teleponnya.


_____________

__ADS_1


Di rumah sakit Raya Kopo seorang pria resah, hatinya tak tenang melihat panggilan bertubi dari Shofi, istri keduanya. Ia yang berusaha meminta izin dengan jujur tapi tak diterima Fura, akhirnya mencari cara lain untuk sejenak bertemu Shofi dan memastikan kondisinya. Cara itu tak lain adalah hal yang dulu sangat Syafiq hindari dalam sebuah hubungan, kebohongan! Namun kini ia sudah semakin akrab dengan semua itu.


Syafiq menghampiri Fura yang baru saja memberi obat pada Hana.


"Apa yang Hana rasa? Apakah masih terasa pusing, Sayang?" tanya Syafiq. Hana menggeleng.


"Suhu tubuhnya yang masih tak stabil, Bi ... jadi setiap jam perawat masih datang mengecek suhu tubuh Hana. Makannya pun masih tak berselera," terang Fura.


"Tapi biskuit masih mau, kan?" tanya Syafiq.


"Iya masih, walau tak banyak."


"Alhamdulillah, setidaknya perutnya tidak kosong, lagipula nutrisi juga diberikan dokter melalui selang infusnya." Fura mengangguk. Terlihat mata Hana terlelap kembali setelah meminum obat.


"Juriyy ...."


"Hem ...?"


"A-ku akan ke kantor se-jenak! Zuhur aku kembali, kamu tidak apa kan di sini dulu bersama teh Rani?"


Fura menatap Syafiq dalam, ia tau betul suaminya sedang berbohong. Tapi ia juga tak bisa terus menahan sang suami, apalagi ia melontrakan alasan pekerjaan. Ia memilih berpura mempercayainya, Fura mengangguk.


______________


Pukul 09:45 APV Syafiq berhenti di muka rumah keduanya. Ia sedih tak mendapati mobil Shofi di pelataran. Syafiq berfikir Shofi telah berangkat ke Rumah Sakit. Dengan lunglai ia menuju kamar, suasana kamar terlihat rapi dan harum seperti biasa, ia merebahkan diri dan mencari harum tubuh Shofi di sana. Ia yang merasa haus hendak menuju dapur, namun netranya menangkap sesuatu di atas nacash. Tes pack!


"I-ni? Hahh ... benarkah ...? Shofi sedang mengandung calon a-nakku, kah?" gumam Syafiq. Walau ini bukan kali pertama ia akan memperoleh anak, tapi desiran itu tetap sama, desiran kebahagiaan dan haru yang membuncah. Rasa dipercaya dan diamanahi oleh sang Pencipta sungguh tak tergambar.


Keinginan segera bertemu dan mempertanyakan semua pada Shofi semakin kuat, ia mengambil ponselnya hendak menghubungi Shofi, namun ia kaget saat mendengar dering ponsel Shofi berada di ranjang. "Shofi pasti lupa membawa ponselnya," lirih Syafiq.


Hingga telinganya tiba-tiba mendengar percikan air serta tawa dari area kolam renang. Syafiq bingung, "Suara siapa barusan? Apa ada orang asing di rumahku?" Syafiq yang belum menyadari Shofi ada di rumah, segera berjalan ke arah belakang mencari sumber suara dan memastikan siapa orang yang lancang memasuki rumahnya.


Ia melihat bayang wanita sedang berenang di kolam, ia menuju dapur dan mendekat, hatinya kembali berdesir dengan kuat saat menyaksikan bahwa Shofi sendirilah yang saat ini tengah berenang di rumahnya. Pintu geser dominasi kaca dan kayu jati itu seketika dibuka, tanpa membuka outfit yang dikenakan, ia langsung menceburkan diri dan mendekati raga Shofi.


Shofi kaget sebuah eratan seketika menguncinya. Ia yang sebelumnya sedang berenang berlawan arah dari posisi kedatangan Syafiq tak menyangka sang suami kini tengah di dekatnya. Netra keduanya bertemu dan saling mengunci, tatapan kerinduan dan kebahagiaan terpancar. Syafiq menahan kepala Shofi dan menciumi wajah istri keduanya tersebut. Ia memeluk erat Shofi setelahnya.


"Aku sudah melihatnya, terima kasih ... terima kasih, Sayang!" bisik Syafiq merapatkan sisi wajahnya di wajah Shofi sambil menyapu lembut perut rata Shofi. Shofi mengangguk dengan bulir mulai membasahi wajahnya.


"Heii ... kenapa menangis?" ucap Syafiq menyapu air mata Shofi.

__ADS_1


"A-ku sangat baha-gia, Mas ...," lirih Shofi.


Syafiq merangkum wajah Shofi dan menciumi lagi wajah ayu tersebut. Ia mendekatkan bibirnya kini. Shofi menahan. "Kenapa?" kaget Syafiq Shofi menolaknya.


Shofi berisyarat dengan wajahnya agar Syafiq melihat ke sudut kolam, tampak seorang wanita muda yang terlihat malu tertangkap menyaksikan adegan pertemuan dua sejoli beberapa saat lalu.


"Siapa dia?" tanya Syafiq.


Shofi menggenggam lengan Syafiq dan mengajaknya berenang mendekati Karin. "Ia sahabatku di Rumah Sakit, kamu harus berterima kasih padanya sebab ia menjaga istri dan calon anakmu semalaman!"


"Semalam ka-mu sa-kit, Sayang?" Shofi mengangguk lirih.


"Terima kasih Mbak-----


"Karin, namanya Karin, Mas!" sanggah Shofi.


"Terima kasih Mbak Karin." Syafiq mengulang ucapannya sembari tersenyum ke arah Karin. Karin membalas senyuman itu. Ia yang melihat Syafiq dan Shofi saling bertatapan setelahnya merasa harus undur diri dan pergi dari sana, karena memang sudah ada Syafiq yang menjaga Shofi.


Sebelum Karin pergi, Shofi naik dari kolam memakai kimononya. Shofi menuju kamar dan meminta Karin menunggunya. Tak berselang lama Shofi kembali menggenggam uang di tangan dan menyerahkannya pada Karin.


"Ambillah ini sebagai tanda terima kasihku!" lirih Shofi.


"Aku ikhlas Mbak, jangan begini!" kaget Karin.


"Jangan menolak! Aku tau kamu membutuhkannya! Anggaplah kamu membantuku mendapatkan pahala!" ucap Shofi menahan kedua bahu Karin sembari tersenyum.


"Mbak ... terima kasih!" Baru saja Karin hendak memeluk, Shofi menahannya. "Tubuhku basah, lagipula aku tidak membutuhkan pelukanmu lagi karena sudah a-da-----


Shofi menoleh menatap Syafiq yang sudah berdiri tegak merangkul bahunya.


"Ahh ... aku bahagia melihat kalian. Titip mbak Shofi ya, Ma-s Sya-fiq!"


"Tentu saja," ucap Syafiq menyapu kepala Shofi dan mencium pelipisnya.


Karin sudah pergi. Syafiq menahan tubuh Shofi yang hendak beranjak. Wajah mereka sudah sangat dekat. Baru sepasang daging kenyal itu bertemu seketika Shofi menjauhkan wajahnya sembari menutup mulut. "Ma-af ... aku mual, Mas!" Shofi ke kamar mandi setelahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💔Setelah ini pelan-pelan akan terungkap yaa😊

__ADS_1


💔Happy reading❤❤


__ADS_2