Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
21. Kejujuran Kei


__ADS_3

“Ibu harus lebih tenang, saat ini dari hasil diagnosa saya, ibunya sedang stress dan tertekan. Untungnya janin dalam keadaan baik-baik saja,” kata Dokter yang menangani Neta.


Kei terdiam menatap wajah pucat Neta yang masih bisa tersenyum di saat seperti itu. Senyum getir yang menggambarkan luka hati. Namun, saat Kei menggenggam tangan istri keduanya itu, Neta sama sekali tidak berusaha untuk menepisnya. Dia hanya diam saja dan sama sekali tidak bergeming.


“Aku mungkin sedang banyak pikiran bu Dokter. Tapi ini hanya masalah kecil,” kata Neta sembari tersenyum mengarah pada Kei sesaat lalu berpindah kepada Dokter yang menanganinya.


“Iya, itu baik. Selesaikan secara perlahan saja ibu ini butuh banyak istirahat dan juga butuh ketenangan. Janinnya kuat kok, sama sekali tidak terganggu dengan keadaan ibunya, bed rest saja dulu selama 3 hari ini. Jangan bekerja sama sekali ya ibu. Termasuk pekerjaan rumah. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata ibu Dokter.


“Iya Bu, saya akan menjaga istri dan calon anak kami dengan baik. Apa malam ini kami perlu menginap di sini?” tanya Kei untuk memastikan.


“Tidak, bisa pulang kok yang penting di jaga saja dengan baik,” pesan ibu Dokter sembari menuliskan resep.


Kei dan Neta saling tatap. Mereka lalu memalingkan muka disertai dengan helaan napas dari Neta. Terlihat sekali bila wanita itu tengah menahan emosinya.


“Baik, kalau begitu kami pemit dulu ya Bu,” ucap Kei disertai dengan tangannya yang bergerak cepat membantu dan memapah Neta.


“Aku enggak apa-apa, udah enggak pusing. Kamu ambil aja obatnya dulu.” Neta menepis tangan Kei.


Kei hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Dia sama sekali tidak ingin membuat tekanan yang lebih besar untuk istrinya. Dipandanginya wajah Neta sesaat sebelum pada akhirnya dia pergi mengambil resep di apotik.


Beberapa menit Kei mengambil resep, Neta menunggunya. Dia duduk seorang diri di dekat pintu masuk klinik seperti sedang mencari udara segar. Kei langsung mendekatinya, lagi-lagi dia ingin memapah tetapi Neta menepisnya.


“Aku enggak lumpuh, aku bisa jalan,” kata Neta dengan tatapan sayu di wajah pucatnya.


“Ta, jangan keras kepala,” kata Kei.


“Jaga jarakmu Kei, aku tidak mau ada yang melihat kita lagi barengan kayak gini. Aku belum siap dilabrak istri orang. Mentalku bukan mental perebut milik orang lain,” ketus Neta yang kemudian menaiki taksi online yang baru saja datang.

__ADS_1


Tidak ada perlawanan selain hanya Diam. Kei hanya Diam mematung. Dia tidak tahu akan menyalahkan siapa bila keadaannya sudah begitu rumit seperti ini.


Kei hanya bisa melihat wanitanya pergi meninggalkannya menghilang di telan lalu lalang jalanan kota. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Kemarahannya meledak di dalam dada.


Selama didalam perjalan, Kei terus saja khawatir akan keadaan Neta. Tetapi dia juga tidak berbuat banyak karena memang apa yang dikatakan Neta itu benar adanya. Sangat benar malah.


Sebelum sampai ke apartemen, ke sempat mampir untuk membeli semua yang Neta butuhkan. Susu ibu hamil, buah, kue, es krim dan berbagai macam makanan yang lainnya. Berbekal pengetahuan dari internet dia membeli itu semua. Berharap, istrinya akan menerima.


Setengah jam Kei mengulur waktu untuk berbelanja itu semua. Akan tetapi dia kembali menepi ketika melihat toko bunga. Dia memang sudah menjadi suami dari Neta, tetapi apa saja kesukaan wanita baik itu, dia sama sekali tidak tahu.


Sampai di apartemen manik Kei menelusuri ruang tamu. Tidak ada Neta di sana. Kei pikir kalau istri mudanya berada di kamar.


Selesai menata semua yang ia beli, Kei langsung masuk ke dalam kamar. Akan tetapi dia tercengang sebab kamar itu pun kosong. Dia yang panik dan sangat takut Neta akan lari darinya pun langsung menghubunginya.


Nihil, sama sekali tidak ada hasil. Entah kemana Kei pergi yang jelas saat ini dia cemas setengah mati. Dengan segera ia menghubungi ibu mertuanya.


“Ta, ayo kita pulang. Kenapa di luar? Ibumu pergi,” kata Kei dengan menarik tangan Neta. “Ingat anak kita, jangan siksa dirimu seperti ini,” kata Kei.


“Ibu ada di dalam, saat aku datang tadi lampu kamarnya menyala. Setelah aku mengetuk pintu dia mematikannya. Mengapa ibu juga begini sama aku? Apa salah aku sama ibu sama kamu?” Neta mulai meronta.


Kei yang ingat akan pesan ibu Dokter tadi pun dengan segera memeluk erat istrinya itu. Dia berusaha meredam amarah Neta. Kei sanga takut dan mencemaskan keadaan calon anak dan juga istrinya.


“Oke, oke aku akan bicara jujur sama kamu dan untuk itu memang harus ada ibu. Dia terlibat dalam semua ini,” kata Kei yang seketika membuat tangisan Neta berhenti. Ia menatap lurus Kei tanpa berkedip.


“Ibu terlibat? Apa maksudmu Kei?” todong Neta.


“Aku memasang iklan di website. Sebut saja pasar gelap. Aku menuliskan kalau aku membutuhkan istri kedua sementara. Aku hanya menginginkan anak dari hubungan yang sah. Ibumu menghubungiku dan ya … sampai saat kita menikah lalu melakukannya. Semuanya dia tahu itu, aku membayar mahal dia,” ungkap Kei tanpa aling-aling.

__ADS_1


Terasa tercabut semua tulang-tulang di tubuh Neta. Tubuhnya lemas seketika. Dia sama sekali tidak menyangka bila ibunya sampai sebegitu tega menjualnya.


“Kamu hanya mengada-ada ‘kan supaya aku tidak membencimu sendirian?” tanya Neta dengan matanya uang berkaca kaca.


“Buat apa? Aku tidak ingin kamu berusaha mencari tahu dan semakin stress dengan semua ini Sayang. Aku mulai mencintaimu dan juga calon anak kita. Aku ingin pernikahan ini berjalan untuk selamanya,” ujar Kei dengan kejujurannya.


“Jadi benar kalau niat awalmu hanya untuk mendapatkan anak lalu merebutnya dariku dan kamu akan hidup bersama istrimu Kei?” cecar Neta dan Kei mengangguk pasrah.


“Iya, iya kamu benar. Tapi pada kenyataannya, sikap baik dan kelembutanmu membuatku tersadar. Aku sadar aku salah, tapi aku juga terlanjur mencintaimu Neta. Aku mencintaimu,” ungkap Kei dengan begitu emosional dan mereka berdua duduk di tanah, di halaman depan rumah.


Belum selesai dengan itu, hujan deras mengguyur. Kei dan Neta basah kuyup. Keduanya menangis dan berpelukan di bawah guyuran hujan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di hati Kei juga saat ini separuhnya adalah milik Neta. Hanya tersisa sedikit ruang untuk Salma.


Sementara itu di dalam rumah ibu Rahayu, dua orang mengintip dari jendela. Bibi Risma dan ibu Rahayu melihat semua itu di bawah kilatan petir.


“Kamu lihat itu? Rencana kita berhasil. Kalau Neta sampai bisa menggeser posisi Salma, maka kita akan menjadi orang kaya,” bisik ibu Rahayu pada adiknya yang juga level jahatnya sama.


“Ayo kita pulang ya, kita pulang. Aku takut kamu sakit,” kata Kei yang brusaha membujuk sang istri muda untuk kembali ke apartemen mereka.


Pada akhirnya mereka pulang. Dengan sangat perhatian, Kei mengurusi Neta. Mengeringkan tubuh


dan juga rambut istrinya dan setelahnya ia membuatkan susu sebelum Neta tidur. Tanpa diminta pun ia langsung duduk di samping Neta.


“Aku tidak tahu harus berbuat apa Kei, kita menikah secara sah dan anak ini juga anakmu,” gumam Neta dengan tatapan hampa.


“Tidak ada yang harus kamu lakukan. Jaga saja kesehatanmu biar aku saja yang mengurus semuanya. Aku akan mengurus perceraianku dengan Salma,” ujar Kei yang membuat Neta menoleh seketika.


“Enggak, jangan ceraikan dia. Aku akan semakin merasa berdosa jika kamu sampai melakukan itu Kei. Dia istri pertamamu dan aku seharusnya yang kamu buang. Biarkan aku pergi,” pintanya sambil kembali menangis.

__ADS_1


“Berkali-kali aku bilang. Kita tidak akan pernah bercerai. Ti-tik!” putus Kei dengan tatapan tajamnya.


__ADS_2