Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
71. Apa jangan-jangan ....


__ADS_3

"Benar lagi hamil Mbah?" tanya Kei lagi memastikan.


Dia sudah sangat senang. Apa yang ia nantikan selama ini pada akhirnya berwujud juga. Istrinya mengandung buah cinta mereka. Padahal bila diingat, hanya beberapa kali saja mereka melakukannya dan itu pun dengan sangat hati-hati.


Ribuan kupu seperti tengah menggelitik perutnya, rasanya ... dia ingin sekali berlari dan bernyanyi riang untuk merayakannya. Namun, ekspresi aneh justru dipancarkan oleh istrinya. Neta malah terlihat bingung dan menolaknya.


"Mas, apa iya? Tapi kenapa aku tidak merasakan apa- selain meriang, panas dingin, dan pusing." Neta berkata kejujuran tentang apa yang tengah dia rasakan.


Mbah dukun bayi itu pun hanya bisa tertawa kecil. Ia terkikik sampai kedua bahunya turun naik. Terlihat sekali bila dia ini memandang lucu Neta.


"Kamu ini Nduk, ada memang yang sebagian wanita hamil seperti ini. mereka merasa meriang, sampai mereka mengabaikan kemungkinan lain yaitu kehamilan. Kamu juga sedang seperti itu, kalau tidak percaya silahkan periksa ke Dokter," ujar si Mbah.


"Baik Mbah, saya akan memeriksakan istri Saya. Terima kasih banyak Mbah, nanti kalau saya sudah bisa mengambil uang saya dan kea ...."


Kei belum selesai bicara dan Mbah dukun itu sudah memotongnya. "Sudah, tidak apa-apa. Mbah ikhlas menolong kalian. Cepat periksakan, temanmu itu juga butuh pertolongan sebelum membusuk lukanya."


Kei dan Neta menatap Kenny. Tanpa di diduga-duga, Kei berucap, "Dia adikku Mbah."


"Oh, pantas saja ada sedikit kemiripan. Sebaiknya kalian cepat ke rumah sakit. Di desa ini jauh dari lengkap fasilitas medisnya."


"Baik Mbah." Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir seorang Kei yang kemudian membantu Neta untuk bangun.


Mereka semua pergi menuju ke rumah sakit dengan menumpang pada mobil bak. Sedangkan di lokasi kejadian, nenek Fuji dan suster Dini sedang memantau para tim SAR dan warga yang membantu jalannya evakuasi yang sempat terhenti karena hujan lebat. Masih berupaya keras, dan ada salah satu warga yang menceritakan bahwa di desa sebelah telah kedatangan 5 orang dari pengunjung villa.


Mendengar hal itu nenek Fuji seketika mengusap dadanya lega. Dia sangat yakin bila itu ada cucunya. Dia hanya bisa mengucap terima kasih dan penuh syukur.

__ADS_1


Namun, tidak dengan nenek Yuki yang justru mengomel dan terus saja menyalahkan Kei atas kejadian tersebut. Nenek Fuji sampai muak mendengarnya. Perdebatan pun terjadi di sana antara dua nenek-nenek.


"Semua ini terjadi karena cucumu yang pembawa sial itu! Kalau cucuku tidak diajaknya, tidak mungkin dia ada di sini." Nenek Yuki mengomel sepanjang perjalanan kembali masuk ke dalam mobil.


"Hei! Jaga baik-baik mulutmu itu. Cucumu itu yang terus saja ikut dengan cucuku. Dia begitu terobsesi ingin mempunyai istri seperti cucu menantuku! Hahaha! Kelihatan sekali kalau kamu itu tidak mampu bersaing dengan kami. Kenapa, tidak bisa mencari yang lain? Iri?" ejek nenek Fuji.


"Sial! Beraninya kamu ...!" pekik nenek Yuki yang dengan gencar mendekat dan berusaha untuk menjambak nenek Fuji.


Beruntunglah pada saat kejadian ada Suster Dini yang dengan cepat melerai keduanya. Mereka dipisahkan dan nenek Yuki tidak diijinkan naik ke dalam mobil sebelum minta maaf kepada kakaknya yang berbeda ibu itu. Sungguh keduanya seperti anak kecil.


"Jangan harap kamu bisa naik mobilku!" tukas nenek Fuji sembari menutup keras pintu mobilnya.


"Nek, apa tidak apa-apa?" tanya sopir yang kebingungan melerai dua nenek-nenek keras kepala ini.


"Tidak apa-apa, ini mobil punya saya, terserah saya mau bagaimana. Kamu, tahumu cuman mengemudi, jadi jangan banyak omong!" tandas nenek Fuji yang membuat si sopir langsung bungkam seribu bahasa. Dia bahkan tidak berani untuk menatap nenek Fuji meskipun hanya melalui kaca spion dalam.


---*---


"Bagus, hanya tadi ibu dan janin agak stress, jadi ya perlu banyak-banyak istirahat untuk memulihkan keduanya. Baik kok, sejauh ini baik dan tidak ada sesuatu yang aneh," kata sang Dokter setelah memeriksa Neta.


"Apa ada pantangan makanan Dok? Dia sepertinya mulai mual-mual." Kei terus saja mengusap lembut perut Neta.


"Tidak ada, asalkan makanannya sehat, bebas bahan pengawet dan pemanis buatan, juga borax dan bahan berbahaya lainnya saya rasa aman selagi sesuai dengan takaran konsumsi. Tidak boleh berlebihan, sedikit saja boleh kalau pengen banget, semisal pengen es pinggir jalan, itu tidak apa-apa asal sedikit saja." Dokter menuliskan resep vitamin.


"Dengar itu, sedikit saja," ulang Kei yang mewanti-wanti.

__ADS_1


"Iya Bapak Kei," ucap Neta sembari tersenyum kecil. "Tangannya udah, perutku geli Mas Kei."


"Oh!" Kei tersadar dan segera menghentikan aksinya. Ia mengambil resep dan menyudahi sesi konsultasi tersebut.


Selesai dengan konsultasi, Kei berniat ingin langsung membawa Neta pulang. Dia nyaris saja melupakan adiknya, Kenny yang masih mendapatkan perawatan di rumah sakit dan dianjurkan untuk menginap semalam. Sampai di depan gerbang rumah sakit, Neta menghentikan langkahnya.


"Sayang, kok kita pulang. Terus Kenny bagaimana? Apa dia mau ditinggal saja?" tanya Neta.


"Astaga, iya. Aku pulang mengambil uang dan juga sekaligus mengkonfirmasi bahwa kita selamat dan aku juga harus mengurusi harta benda kita yang masih berada di villa sebelum diambil oleh orang lain." Leo mulai menghubungi seseorang. Ia pergi tanpa menunggu jawaban dari istrinya.


"Ah iya, dia benar sekali. Kita memang harus mengurus apa yang menjadi milik kita," kata Neta pelan.


"Aku kembali ke dalam, Kenny di ruangan berapa?" tanya Neta pelan saat suaminya sedang menelpon.


Kei hanya mengulurkan jari telunjuknya tanda bahwa istrinya harus diam. Neta menurut dan dia duduk di bawah pohon yang terhalang oleh sebuah mobil. Setelah selesai menelpon, barulah Kei tersadar bahwa istrinya sudah tidak ada.


"Ta, Ta! Kamu ke mana Sayang?" Kei mencari-cari keberadaan Neta.


"Dia pergi ke mana? Kenapa di sekitar sini tidak ada?" tanya Kei yang bermonolog dengan dirinya sendiri.


Kei memutuskan untuk kembali masuk dan mencari sang istri sampai bertanya kepada Dokter yang tadi memeriksanya. Tidak ada jawaban. Menelusuri tempat terakhir di mana tadi istrinya berada, nun tetap tidak ada.


Ponsel barunya kembali berdering, kini panggilan dari nenek Fuji yang sedang meluncur ke sana. Sementara orang yang nenek Fuji kirim untuk membawakan semua kebutuhan Kei tengah mengisi bahan bakar. Dia sama sekali tidak tahu-menahu akan menghilangkannya si majikan perempuan.


Kei terus saja wara-wiri mencari keberadaan sang istri. Dia sudah melintasi dan melewati sebuah bangku yang berada di antara dua pohon dan di sana dia tidak mengamati secara jelas keberadaan seseorang. Kei terdiam dan merasakan kesedihan yang menyeruak.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan dia disembunyikan oleh mahluk halus?" gumamnya.


__ADS_2