
Semua bentuk perhatian yang Kei berikan tidak berlangsung lama. Pagi harinya dia sudah kembali disibukkan dengan panggilan Salma. Istri pertamanya itu terus saja menghubunginya berkali-kali.
Hingga pada akhirnya Jono menghubungi Kei atas perintah Salma. Tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Kei itu ketakutan dia takut salah berbicara. Pasalnya kala itu Salma berada di kantor dan mencari keberadaan suaminya.
"Pak aku mohon segera datang ke kantor ada hal penting ibu tiba-tiba datang ke sini mencari bapak," lapor Jono melalui sambungan telepon selulernya.
"Ada apa lagi kenapa dia datang ke kantor?" tanya Kei kepada Jono dengan suaranya yang tertahan.
Neta masih berada di atas ranjang. Tubuhnya masih lemas dan dia pun masih merasakan sedikit pusing di kepalanya. Hanya saja wanita itu sama sekali tidak mau berkeluh kesah kepada suaminya.
Setelah pembicaraan mereka semalam Neta mengambil keputusan. Dengan sikap Kei yang terus saja bersikeras untuk mempertahankan pernikahan mereka. Neta pun mengambil keputusan besar dengan meminta satu hal.
"Pergi saja temui kak Salma, aku akan baik-baik saja di sini," kata Neta saat menemui Kei yang sedang berbicara melalui sambungan telepon seluler hingga Jono bisa mendengarkan suara Neta.
Jono pun yang mendengarkan suara Neta sudah bisa menilai karakter dari istri kedua atasannya itu. "Benar kata bapak karakter ibu Neta jauh berbeda dengan ibu Salma. Yang satu panas dan berkobar seperti api tetapi satunya begitu tenang dan dingin seperti air," batinnya.
"Tapi keadaanmu masih seperti ini kamu itu butuh seseorang untuk jaga kamu Neta. Jangan keras kepala dan jangan membuat pertengkaran lagi," kata Kei yang terdengar begitu tegas dan tidak ingin mendapatkan bantahan.
"Aku ini nggak pengen bertengkar. Aku cuma pengen kasih tahu kamu dia itu istri kamu. Dia juga punya hak atas kamu. Kalau dia mengajakmu untuk bertemu ya temui lah, dia juga merindukanmu. Aku di sini baik-baik saja dan bisa mengurus diriku sendiri. Aku rasa beberapa hari kita berpisah itu juga bukan suatu hal yang buruk. Setidaknya dengan itu aku bisa meredam amarah ku saat ini," kata Neta begitu tenang dan dingin dan Jono pun ikut mendengarkan perkataan dari istri kedua atasannya itu.
__ADS_1
Kei hanya bisa menghela napasnya. Dia memikirkan apa yang Neta ucapkan dan memang tidak ada yang salah dari yang istri keduanya itu. Salma mempunyai hak 100% atas diri kei saat ini.
"Oke iya aku turuti apa maumu. Aku juga butuh waktu untuk mempersiapkan kepindahanmu. Pilih saja tempat yang mana kamu suka, asal kamu dan bayi kita bisa sehat-sehat saja, itu bukan apa-apa buatku. Aku ikut senang bila kamu juga senang," kata Kei yang dengan perlahan kemudian mengusap pucuk kepala Neta dan memberikan kecupan di kening wanita yang tengah berbadan dua itu.
Neta hanya tersenyum pias menerima kecupan di keningnya. Terlihat sekali bila kesedihan itu masih lebih dominan daripada kebahagiaannya saat ini. Bahkan saat ini pun sebenarnya dia begitu enggan menatap wajah suaminya ini, dia masih marah.
Kei melanjutkan kembali perbincangannya dengan Jono. Di balkon kamar mereka Kei berbicara. Sedangkan Neta ia lebih memilih mengabaikan semua itu demi kesehatan mentalnya.
Semua ini masih terlalu menyakitkan baginya di mana dia baru saja merasakan bahagia atas pernikahan dan juga kandungannya, bersamaan dengan itu ia pun harus rela berbagi suami dengan istri pertama. Sedangkan dia sendiri sama sekali tidak mengetahui akan status Kei yang sebelumnya.
Jika ditilik dari masalah yang Neta hadapi dia hanyalah sebagai korban. Neta menjadi korban dari kebaikannya sendiri. Menjadi wanita yang baik dan anak yang baik membuatnya begitu lemah hingga terlalu mudah mempercayai siapapun.
Hati Neta bukanlah hati yang terbuat dari baja iya begitu rapuh dan mudah sekali luruh. Kesedihan itu masih saja membelenggu kalbu. Pikirannya masih saja terngiang-ngiang dengan kejadian kemarin malam.
"Ibu harap kamu akan jadi anak yang kuat ya Nak," kata Neta yang berbicara seorang diri sambil mengusap perutnya yang rata sedangkan satu tangannya mengaduk susu hamil.
Di saat itu tiba-tiba saja sebuah tangan berurat melingkar ikut mengusap perutnya yang rata. Tidak hanya itu kecupan lembut pun ia dapatkan di ceruk leher dan juga pipinya. Seolah lelaki yang mendaratkan itu semua adalah lelaki yang begitu mencintai dan setia kepadanya.
"Aku pergi dulu mungkin kali ini agak lama, mungkin satu atau dua bulan. Aku akan mengirimkan orang ke sini untuk menemani dan menjagamu," kata Kei dengan sangat lembutnya berbisik di telinga Neta.
__ADS_1
"Iya pergilah, aku tidak apa-apa. Ini memang yang terbaik untuk kita. Bukankah kita sudah sepakat membicarakannya dan aku sama sekali tidak mau bertengkar lagi, jadi pergilah temui dia," ucap Neta sembari melepaskan pelukan Kei dari atas perutnya.
Dengan berat hati Kei tetap pergi meninggalkan rumah istri keduanya itu. Sebenarnya dia sudah bertekad untuk menceraikan Salma akan tetapi berulang kali juga Neta mengatakan bahwa dia bisa menerima semuanya asalkan Kei tidak menceraikan Salma. Kei bahkan sampai tidak dapat memahami bagaimana cara berpikir Neta dia sama sekali tidak terlihat jahat ataupun egois begitu lembut dan membuatnya selalu terenyuh.
"Kita lihat bagaimana perbandingannya nanti ketika aku sampai di kantor," gumam Kei sembari menutup pintu mobil dan mulai melaju pergi meninggalkan apartemen tersebut.
Kei melaju kencang membelah jalanan kota. Selama dalam perjalanan ia terus saja terngiang-ngiang akan perkataan Neta yang memintanya untuk tidak menceraikan Salma. Bahkan Neta sempat mengancam jika saja Kei sampai menceraikan Salma maka dia juga akan pergi meninggalkan Kei.
Kei sampai di kantor ia disambut dengan beberapa karyawan yang menyapanya ramah. Sampai di depan resepsionis karyawannya pun langsung memberitahukan jika istrinya datang hari itu dan mencarinya dengan raut wajah marah. Hal seperti ini sudah menjadi pemandangan yang lumrah di mana Salma memang acap kali berlaku demikian.
"Pak ada ibu di dalam tadi ibu marah-marah mencari bapak," kata si resepsionis.
Kei hanya berjalan dengan tenang ia hanya mengangkat tangannya sebagai tanda jika dia sudah tahu akan apa yang terjadi di dalam ruangannya. Melihat hal itu resepsionis pun hanya bisa menggeleng. Banyak dari para karyawan di sana yang menyayangkan hubungan Kei dan Salma. Dimana si lelaki yang begitu sabar disandingkan dengan wanita yang begitu temperamental.
"Asli fix nggak cocok banget bapak Kei bersanding sama ibu Salma yang kayak reog Ponorogo itu," kata para karyawan yang tengah bergunjing membicarakan atasan mereka.
"Kerja, kerja, kerja. Jangan gosip terus," tegur Jono sambil berjalan pergi meninggalkan lobi kantor. Dia mendapatkan tugas baru hari ini.
Sementara itu di dalam ruang kerjanya sudah terdengar teriakan dan amukan dari seorang wanita. Terdengar juga beberapa barang yang seperti sedang terlempar membentur dinding. Kei menghela napasnya dalam-dalam sebelum memasuki ruangan itu dia tengah mempersiapkan mental untuk menghadapi kemarahan wanita yang sudah 4 tahun bersanding dengannya.
__ADS_1
"Sampai kapan aku akan terus menjadi pengasuh dari si manja yang tempramental ini?" batin hati Kei menggerutu, menyesali keputusannya yang menikahi Salma dengan tergesa-gesa semata-mata demi harta.