
"Oke, kita rujuk." Kei langsung duduk setelah berhasil menakut-nakuti Neta supaya kembali mau menerimanya lagi.
"Panggil penghulunya ke sini," kata Kei melalui sambungan telepon dan terdengar begitu jelas bahwa lelaki itu sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.
"Berbulan-bulan aku mencoba menerima kenyataan bahwa kita memang tidak bisa bersama. Tetapi setiap aku mencobanya aku malah menjadi semakin gila Neta. Aku tidak bisa membiarkanmu menjadi milik yang lain dan siapa Reza? Kamu tidak akan ku ijinkan untuk dekat atau berhubungan dengannya."
Neta sambil menangis ia berdiri dan merapikan pakaiannya yang compang-camping karena ulah Kei. "Kamu sudah gila!"
"Terserah, terserah kamu mau memaki aku atau bagaimana. Kemarin aku sudah cukup bersabar dan mengalah, akan tetapi kamu malah mau pergi meninggalkanku. Oh, aku tidak bisa tinggal diam untuk itu. Tidak sama sekali," jawab Kei dengan tatapan matanya yang mengintimidasi.
"Iya aku sudah gila karena terobsesi dengan tubuhmu ini, dengan senyumanmu, dan juga kebaikanmu apa itu salah?" tanya Kei sembari mendekat dan terlihat menyeringai.
Kei bertepuk tangan dan seketika masuklah beberapa orang dengan membawa gaun dan juga penata rias. Neta hanya bisa terperangah. Dia sangat terkejut sampai-sampai tidak bisa bicara lagi. Dia hanya terdiam begitu saja mengamati semua orang yang masuk ke dlaam kamarnya.
"Ada apa ini Kei?" tanya Neta saat orang tersebut berusaha untuk memakainya gaun.
"Itu adalah baju pernikahan untukmu kamu pakai dan kita menikah lagi hari ini." Kei berbicara dengan tatapan matanya yang mengintimidasi ia bahkan mendekat, hingga Neta bisa merasakan deru napasnya.
"Tapi aku tidak mau menikah Kei aku tidak mau namaku kembali tercoreng, aku masih trauma dengan semua itu apakah kamu tidak bisa mengerti ku sama sekali?"
__ADS_1
"Aku mengertimu? Setelah aku pikir-pikir aku sudah sangat berusaha untuk mengerti kamu Neta, aku berbulan-bulan berusaha untuk menyiksa diriku sendiri semata-mata supaya kamu bisa sembuh dan kembali menerimaku. Tapi apa kenyataannya kamu malah membuka pintu hatimu untuk pria lain dan aku sama sekali tidak suka itu," Kei berbicara dengan begitu santai dan tenang dia bahkan duduk dengan menyilangkan kakinya tatapan matanya begitu dalam kepada mantan istrinya.
Neta bersimpuh di lantai dia begitu frustasi merasakan tingkah gay ini dari yang tiba-tiba datang memaksanya dengan cara yang tidak terpuji. Hingga dengan satu kali tepukan yang membuat beberapa orang datang untuk menikahkan mereka lagi. Neta tidak habis pikir dengan semua ini.
"Aku belum siap Kei, nanti bagaimana bila orang-orang kembali menghinaku?" tanya Neta dengan matanya yang berkaca-kaca dia terlihat begitu cemas akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Wajahnya mendongak menatap penuh melas kepada mantan suaminya.
Kei tersenyum tipis senyuman yang terlihat sedikit mengerikan berpadu dengan gerak tubuh yang begitu dingin hingga memunculkan aura yang begitu menegangkan. Iya lalu perlahan memegang dagu Neta meraihnya dengan lembut membawanya mendekat dan semakin mendekat lalu memberikan kecupan singkat di sana. Tidak ada penolakan dari wanita yang menangis itu ia membiarkan bibir kenyalnya bersentuhan langsung dengan bibir mantan suaminya seolah kali ini Neta sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan kekuasaan Kei.
"Siapa yang berani menghinamu saat ini posisimu itu jelas kamu bukan pelakor lagi setelah skandal yang kita buat kemarin kita akan membuka lembaran baru dan berita-berita miring itu sudah aku hapuskan dari peredaran. Apa kamu belum memeriksanya? Apa kamu tidak tahu siapa suamimu ini?" tanya key dengan perlahan.
"Sudah jangan banyak tanya lagi sekarang kamu cukup berdandan yang cantik supaya para wartawan itu senang ketika mengambil gambar pernikahan kita. " Kei berbicara dengan teramat sangat dingin dan ia melangkah keluar begitu saja meninggalkan mantan istrinya yang masih bersimpuh di lantai menatapnya dengan tatapan nanar dan penuh tanda tanya.
"Aku sama sekali tidak menduga bila di dalam perjalanan hidupku ini aku akan berpapasan dengan orang gila sepertinya. Dia menyita waktuku dia menguasai hati dan juga pikiranku. Sebenarnya aku bisa saja pergi dari sini tapi entah mengapa hatiku tidak menginginkan semua itu terjadi. Egoku seperti tenggelam ke dasar bumi dan tidak mampu untuk mencuat lagi." Neta berbicara di dalam hatinya.
"Nenek-nenek sudah ada di sini? Apa selama ini nenek juga tahu apa yang Kei lakukan terhadapku?" tanya Neta dengan raut bingungnya.
"Iya nenek sudah tahu semuanya sama sekali tidak ada yang key tutupi dari nenek. Untuk itu nenek minta kepadamu supaya bisa menjaga hubungan kalian ini dengan baik-baik. Nenek sudah hafal benar siapa cucu nenek itu dia paling tidak bisa ditentang atau mengurungkan niatnya untuk suatu keinginan. Nenek harap kamu bisa selalu bersabar dalam menghadapi wataknya itu." Nenek Fuji berbicara dengan begitu lembut sembari mengusap punggung Neta.
"Nek," gumam Neta dengan matanya yang berkaca-kaca. Sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang singgah di dalam kepalanya akan tetapi mulutnya tidak mampu lagi bicara ketika netranya menatap calon suami yang sekaligus mantan suaminya itu keluar dari salah satu ruangan dengan penampilannya yang begitu gagah.
__ADS_1
Key dengan setelan jasnya yang serba putih tatanan rambut yang baru membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda. Dia tersenyum lebar begitu bahagia langkah kakinya terlihat mantap dan yakin untuk mengarungi cerita baru di dalam hidupnya. Dengan gagahnya iya langsung berdiri di samping Neta tangannya singgah di pinggang ramping mantan istrinya itu.
"Ada apa-apa nenek sudah menceritakan semuanya kepadamu?" tanya Kei sambil tersenyum penuh arti senyuman yang mengandung banyak teka-teki.
Neta hanya diam tidak bergeming tatapannya terlihat meragu dan bingung dalam sekali waktu. Dia tidak tahu sedang berada pada posisi apa dalam skenario tersebut. Iya merasa bahwa dirinya hanyalah menjadi suatu objek atau alat yang bisa dimanfaatkan dengan mudah.
"Sebelum pernikahan kita yang kedua ini dimulai apa boleh aku membuat sesuatu persyaratan?" Tanya Neta dengan tiba-tiba dan hal itu sontak saja membuat Kei dan nenek Fuji uji sedikit tercengang.
"Kamu mau membuat perjanjian pra nikah?" Tanya key seketika dan Neta menganggukan kepalanya.
"Baik apa susahnya hanya membuat perjanjian sepele seperti itu," kata kyai yang menggampangkan keinginan calon istrinya.
"Ambilkan kertas!" Seru oke memberikan perintah kepada anak asisten rumah tangganya.
Tidak butuh waktu lama hanya ada dua poin dalam surat perjanjian pranikah yang Nita buat. Di mana, dalam poin pertama Neta menyebutkan bahwa apabila ada perpisahan di antara mereka apapun itu sebabnya maka Kei tak boleh meminta anaknya. Dengan kata lain Neta menginginkan hak asuh sepenuhnya jatuh kepadanya.
Di point kedua Neta meminta bila nanti ada perpisahan maka diantara mereka harus bisa mengasingkan diri atau menarik jarak untuk tidak saling mengganggu dan membiarkan kehidupan masing-masing berjalan dengan baik. Permintaan tersebut membuat key yang merasa gemas ketika menggulung kertas tersebut dan memukulkannya di kening calon istrinya. Tidak terasa sakit memang tetapi hal itu justru membuat nenek Fuji dan suster dini tertawa.
"Perjanjian bodoh macam apa ini memangnya siapa yang akan membiarkan kamu dan aku berpisah huh? Jangan mimpi!" sentak Kei dengan kembali memukulkan gulungan kertas itu ke kening calon istrinya.
__ADS_1
"Memangnya aku salah membuat perjanjian seperti itu? Kalau kamu saja dari pernikahan pertamamu bisa meninggalkan dia demi aku bukankah itu tidak menutup kemungkinan nanti di saat bersamaku kamu juga akan meninggalkanku demi wanita lain!" tuduh Neta yang seketika membuat Kei mengepalkan tangannya ia geram mendengar pernyataan Neta.
"Pemikirannya masih saja sama tentang hal itu. Baiklah aku akan membuktikan bahwa aku bukanlah lelaki yang seperti itu," batin Kei.