Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
67. Upaya Pencarian


__ADS_3

Neta terbaring di kamar sebelah yang tidak terdampak dari longsor. Kei dengan setia merawat dan menemani istrinya. Dengan penuh perhatian dia terus saja menawarkan segala sesuatu buang mungkin bisa ia penuhi.


"Ta, kamu mau apa lagi?" tanya Kei kepada snag istri yang masih bergelung di dalam selimut.


"Tidak mau apa-apa. Kamu diamlah Mas Kei, tidurlah. Apa tidak lelah dari tadi mondar-mandir mengurusku dan juga Kenny. Bagaimana keadaannya?" tanya Neta juga dengan perintahnya supaya bsang suami mau beristirahat dan duduk di sebelahnya.


Kei menghela napasnya pelan. Ia lalu mengusap lembut pucuk kepala Neta. Usapan yang menyatakan bahwa dia begitu lega saat ini lantaran istrinya sudah kembali berada di sampingnya.


"Aku senang kamu tidak apa-apa. Kenny juga tidak apa-apa, dia baik-baik saja. Tangan dan kakinya tadi sudah diobati oleh Dara. Dara berpengalaman mengurus luka seperti itu."


"Oh iya, dia dulu juga yang merawat Reza. Apa sudah ada yang datang untuk memberikan pertolongan?" tanya Neta dengan membuka selimutnya.


Kei masuk ke dalam selimut, ia mendekap erat dan mendaratkan kecupan di kening sang istri. Kecupan yang begitu mendalam hingga membuat Neta memejamkan matanya untuk beberapa saat. Ia menikmati dan mensyukuri kebersamaan itu.


"Kita hanya bisa menunggu saja. Jalanan kita terisolir. Mungkin saat ini baru ada pergerakan dari pemerintah. Mungkin mereka baru mau melakukan pencarian korban dan memberikan pertolongan."


Saat Ke-i berbicara, perutnya mengeluarkan bunyi. Nampaknya karena terlalu sibuk mengurus istrinya, Ke-i sampai lupa makan. Hari sudah menuju pagi, dan semalaman ia terjaga, berupaya keras untuk menyelamatkan istrinya.


"Kamu lapar? Semalaman juga kamu tidak tidur. Kamu juga pasti lelah Mas. Sudah, kita cari makan dulu," ucap Neta yang juga mengkhawatirkan keadaan snag suami.


"Tidak ada apa-apa. Dapur kita rusak parah. Kamu ingat kamu bersembunyi di lemari yang ada di dekat dapur? Sebelahnya, dapurnya rusak tertimpa pohon. Besok pagi saja kita cari makanan dari sana," tutur Kei sembari mengusap-usap kecil punggung sang istri. Ia menatapnya penuh cinta.


"Tapi kamu pasti lapar Mas. Kasihan suamiku," ucap Neta yang selalu saja bisa menyentuh kalbu seorang Kei yang dahulu sama sekali tidak bisa berpaling dari Salma. Sekarang, semua sisi dan sudut hatinya hanya dipenuhi dengan satu nama, Neta.


"Aku juga kasihan sama istriku. Lihat tanganmu masih kisut begini. Tadi pasti dingin sekali ya di dalam sana. Maafkan aku ya, seharusnya aku ikut membantumu untuk menolong Kenny. Tapi, aku malah meninggalkannya," aku Kei dengan permintaan maafnya.


"Tidak sepenuhnya dingin. Aku justru merasakan suatu kehangatan dari pria lain. Tapi sumpah, aku sama sekali tidak ada perasaan apa-apa terhadap adik sepupumu itu Mas. Maafkan aku juga ya." Neta hanya berani berucap dalam hatinya.

__ADS_1


"I-iya, tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu jadi lupakan saja.


Mereka berdua tertidur di pukul 4 dini hari. Sementara itu di lain tempat, di kamar yang lain, Reza dan Dara tengah sibuk membagi tempat tidur.


"Dara, tolong kakimu ini. Nanti mengenai wajah tampanku," tegur Reza sembari menepis kasar kaki Dara yang nyaris saja hinggap di wajahnya.


"Engh, apaan sih Za. Ngantuk banget nih. diem ah, ngomel Mulu," jawab Dara tanpa membuka matanya gadis itu sudah terlelap terlebih dahulu.


Reza yang merasa gemas akan tingkah Dara pun pada akhirnya berpindah tempat. Mereka yang tadinya menghadap kaki satu sama lain kini kepala mereka sejajar. Reza melakukannya supaya bisa tidur.


Namun siapa sangka bila pada siang harinya, di saat mereka terbangun, justru mereka saling berpelukan. Hawa dingin yang menyebar membuat mereka melakukan itu. Suatu insting mahluk untuk bertahan hidup.


"A ...! a ...!" teriak Dara tepat di hadapan Reza.


"Apaan sih Lo? Lebay!" tukas Reza dengan merauk bibir Dara yang tengah berteriak. Terasa peling dan menusuk gendang telinga.


"Hehehehe! Iya enggak, masih rapi gue," ucap Dara cengengesan.


"Heh! Kalian berdua itu sedang apa? Bangun-bangun berteriak seperti itu mengganggu saja. Tidak mungkin dia melakukan apa-apa. Aku sudah seperti CCTV di sini. Aku melihat semua yang kalian lakukan," ujar Kenny yang membuat anak buah Neta itu tertegun mematung.


"Bisa tolong bantu aku ke kamar mandi? Aku tidak ada tongkat, aku sudah menahannya dari tadi," kata Kenny meminta tolong.


"Sana Lo aja Za, jangan gue. Dia bukan muhrim sama gue," ujar Dara seketika.


"Bukan muhrim, terus sewaktu gue sakit Lo semua yang urusin. Kita juga bukan muhrim Ra, alasan apa lagi Lo?" cecar Reza dengan kedua alisnya yang terangkat seperti menantang.


Dara menelan ludahnya gelagapan. Ia bahkan merasa panas di sekitarnya. Pipinya sampai merona seperti udang rebus.

__ADS_1


"Ya kalo sama Lo beda!" tukas Dara membela dirinya.


"Apanya? Sama aja kali gue juga punya belalai," sahut Reza.


"Em ...." Dara tengah berpikir.


"Udahlah kamu saja Reza, tolong bantu aku," tunjuk Kenny pada Reza yang sedang beradu argumentasi dengan Dara.


Tidak ada pilihan lain, Reza pun pada akhirnya membantu Kenny. Di saat itu juga Dara hanya bisa merenung memikirkan apa yang sudah dia dan Reza lakukan selama Reza sakit.


"Iya ya, apanya yang beda? Mereka sama-sama lelaki. Tapi kalau sama Reza aku merasa cocok dan aman saja untuk melakukan semuanya. Bahkan aku tidak apa-apa bila dia memelukku," pikir Dara.


...----------------...


"Dini, apanada kabar dari Kei? Mereka pergi berlibur tapi kenapa tiba-tiba tidak bisa untuk dihubungi?" tanya nenek Fuji sembari mengusap lututnya yang terasa sakit.


"Tidak ada Nek, aku juga sedang berusaha. Tadi pagi, ada berita longsor itu dan semoga saja villa tidak terdampak. Kita ke sana atau kita suruh orang saja Nek?" tanya suster Dini meminta pertimbangan.


"Kita ke sana, kita lihat kondisinya. Aku juga melihat berita longsor itu. Tapi terkadang berita yang disiarkan itu tidak sinkron. Aku mau kita periksa langsung," kata nenek Fuji.


"Baik!" suster Dini mengangguk cepat dan turun untuk mempersiapkan semuanya.


Saat berada di lantai bawah, mereka bertemu dengan nenek Yuki yang sudah bersiap untuk mencecar dan melabrak nenek Fuji lantaran Kenny yang ikut pergi dengan Kei.


"Oh, kebetulan ketemu kamu di sini. Lihat berita ini! ini lokasinya dekat dengan vilamu. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengan cucuku satu-satunya? Apa kamu mau bertanggung jawab, hah?" bentak nenek Yuki dengan telunjuknya yang menunjuk tepat di depan wajah nenek Fuji.


"Singkirkan tanganmu atau aku potong?" cetus nenek Fuji dengan lirikan tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2