Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
57. Lebih Dari Suka


__ADS_3

"Katakan saja kalau kamu tidak suka, jangan merasa sungkan. Aku minta maaf ya, beberapa bulan ini aku mengacaukan usahamu. Aku hanya sayang saja kalau usahamu ini terbengkalai karena masalah yang aku ciptakan, sedangkan aku tahu bagaimana susah payahnya kamu dalam membangun usaha ini," kata Kei panjang lebar dan tentunya hal itu justru membuat Neta terenyuh.


"Aku jatuh cinta? Apa aku jatuh cinta lagi sama suamiku sendiri? Belum lama dia mematahkan hatiku. Tapi ... sekarang setelah melihatnya bersusah payah begini, aku jadi tidak tega. Aku merasa, diam-diam dia begitu memperhatikanku. Apa ini merupakan sisi lain dari dirinya yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari istrinya? Pernikahannya dulu, mungkin Kak Salma begitu egois, hingga sisi kelaki-lakiannya habis terkikis, merasa tidak dibutuhkan dan hanya menjadi objek pelampiasan," pikir Neta.


Neta mendekat, lalu memeluk Keiji dengan begitu erat. Ia mendongak dan tersenyum manis. Apa yang Neta lakukan itu membuat seorang Keiji berdebar dan tersipu malu.


"Ah, kenapa sikapnya begitu manis. Seperti anak TK saja. Padahal aku sudah pernah mengecewakannya. Aku pernah menghancurkan kepercayaan dan juga impiannya. Tapi dia tetap lembut dan baik padaku. Dalam keadaan seperti ini, aku jadi yakin kalau aku sudah menemukan berlian di dalam batu bongkahan." Keiji menatap teduh sang istri.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu terpesona dengan ketampanan suamimu ini?" tanya Keiji.


"Enggak, bukan ketampanannya," jawab Neta dan jawaban itu membuat hati Keiji kecewa.


"Ah, ternyata dia tidak terkesima dengan ketampananku. Wajah tampan bukan modal yang pas untuk menaklukkan hati wanita baik ini," batin Keiji.


"Sayang sekali ya, padahal aku ini sudah banyak berharap," cetus Keiji dengan tangannya yang bergerak mengusap lembut pipi sang istri.


"Aku, terpesona dengan kebaikan dan ketulusan hatimu. Sayang, maaf ya kalau sebenarnya aku selama ini masih meragukanmu." Neta melepaskan pelukannya dan berdiri dengan tatapan hampa menatap bunga anggrek yang menghiasi ruangan di sana.


"Setelah kejadian itu, aku menilaimu sebagai orang yang paling munafik di dunia ini. Aku jadi susah untuk mempercayai apa yang kamu katakan. Terlebih lagi dengan paksaanmu sebelum kita rujuk kemarin," kata Neta.


"Rujuk? Memangnya kapan aku mencwraikanmu? Aku sudah pernah bilang kan kalau aku tidak akan pernah melepasmu." Keiji berbicara dengan begitu tenang dan Neta menjadi semakin tidak mengerti.


"Apa maksudnya kamu nipu aku lagi? Iya?" desak Neta dengan kembali mendekati Keiji sembari memukul dada suaminya.


"Nipu? Aku tidak menipu, ini adalah insting seorang laki-laki untuk mempertahankan pernikahannya. Aku tidak mau membuang wanita yang sudah teruji kebaikannya. Memangnya mau cari di mana lagi?" tanya Keiji dengan menaikkan kedua alisnya dan itu menambah kesal Neta.

__ADS_1


Neta beralih duduk di sofa kecil. Ia menatap marah suaminya itu. Dua kali sudah ia kena tipu oleh orang yang sama.


"Ya harusnya bukan begitu caranya! Ah! Kesal sekali aku, selalu saja bisa kamu tipu!" sembur Neta dengan melipat kedua tangannya ke dada. Tatapan matanya melirik tajam ke arah lain.


"Lihat aku Sayang, aku sudah bicara jujur, jadi hargai dong. Waktu itu memangnya aku ada pilihan? Wanitaku mengancam akan mengakhiri hidupnya kalau aku tidak menuruti permintaannya. Ya sudah, apa boleh buat. Aku tidak akan bisa melepaskan dirimu Sayang," kata Keiji dengan begitu lembutnya. Dia duduk di lantai dan memeluk kaki sang istri. Tatapan matanya mendongak menunggu pengampunan.


"Ah, enggak tahulah! Marah aku sama kamu!" ketus Neta.


"Yah ... jangan marah dong. Aku kan sudah bicara jujur. Juga aku melakukan hal baik, bukan berselingkuh atau melakukan kecurangan. Sayang, maafkan aku ya?" rengek Kei dengan memeluk kaki Neta. Ia merangkak naik dan duduk di pangkuan sang istri.


"Hei! Kamu pikir kamu ini anak kecil Bapak Keiji? Kamu ini berat ...." Neta berusaha untuk menurunkan sang suami dari pangkuannya.


"Enggak akan turun. Mau semalaman aku duduk di sini aku tidak keberatan," tolak Keiji dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Makanya maafkan aku dulu ya, maafkan. Ya, ya, ya?" rengek Keiji dengan mengedipkan matanya dengan berlagak sok imut.


"Kenapa di hadapanku tingkahnya berubah jadi seperti anak kecil yang begitu manja dengan ibunya? Oh, kakiku sudah mulai kesemutan. Dia pikir tubuhnya yang tegap dan berisi ini tidak berat!" Neta mendorong Keiji namun tidak berhasil.


"Enggak akan bisa," ejek Keiji sambil tertawa. Dia tampak tidak takut sama sekali dengan kemarahan sang istri.


Tanpa mereka berdua sadari, gelak tawa itu terdengar sampai ke luar. Reza yang baru saja datang ke butik itu juga ikut mendengarkan canda tawa tersebut. Dengan rasa penasaran, ia langsung mewawancarai Dara.


"Ra, di ruangan atas ada siapa? Bos laki sama ceweknya ya?" tanya Reza.


"Iya, sama ceweknya. Lagi mesum kayaknya mereka berdua. Dari tadi cekikikan melulu. Lu kalau penasaran, ngintip aja di atas, nanti kalau udah dapat bocoran lu kasih tahu gue. Oke? Gue standby di bawah sini jaga-jaga." Dara dengan sengaja mengerjai Reza.

__ADS_1


"Eh, seriusan lu? Gue enggak enaklah sama Pak bos. Dia udah baik sama gue, ngurusin gue sampai sembuh gini. Masa iya gue tega ngintip dia?"


"Ya serah elu sih, gue mah enggak maksa. Sekedar ide cemerlang aja, soalnya gimana ya, kalau kayak gini gue lebih enggak tega sama Mbak Neta sih. Katanya Pak Bos Sayang banget sama Mbak Neta, tapi kok gitu?" ucap Dara yang menambahkan bumbu penasaran bagi Reza.


"Iya juga sih, kasihan Neta gue. Kalau Pak Bos selingkuhin Neta, udah fix. Gue maju buat jaga hatinya," papar Reza.


"Siapa yang mau kamu jaga hatinya Za?" tanya Keiji yang keluar dengan menggandeng tangan Neta.


"Ta, kamu di sini?" cetus Reza dengan wajah bingungnya.


"Dara! Sengaja banget lu ya, mau buat gue malu," dengus Reza sembari menatap Dara yang tengah tertawa.


"Habisnya elu kepo sama idup orang Za," kata Dara tanpa merasa bersalah. "Harusnya ada tontonan sih gue, jadi gagal kan."


"Kamu sudah sembuh Za? Gimana tangan sama kakimu? Maaf ya, aku enggak bisa jenguk kamu. Keadaan aku sendiri aja enggak memungkinkan buat keluar-keluar," kata Neta dengan begitu menyesal lantaran tidak bisa menjenguk Reza bahkan sampai Reza sembuh.


"Enggak apa-apa kok Ya, it's oke. Pak Bos selama ini udah urusin aku sampai aku sembuh dan bisa gerak normal lagi Ta," jawab Reza yang membuat Neta merasa lega dan semakin menyukai suaminya. Tanpa sepengetahuannya, Keiji sudah berperan menjadi suami yang baik dengan tetap menjaga apa yang seharusnya Neta jaga.


"Kamu benar-benar sudah sembuh?" tanya Keiji pada Reza.


"Iya, udah," angguk Reza.


"Kalau benar-benar sudah sembuh, bagaimana kalau Sabtu-Minggu ini kita adakan gathering? Kalian datang ke vilaku, nanti kita adakan acara di sana. Anggap saja itu sebagai salah satu bentuk rasa syukurku akan kembalinya hubunganku dengan istriku ini, dan juga untuk kamu Reza yang sudah bisa normal lagi."


"Memangnya aku udah maafin kamu?" tanya Neta yang seketika membuat perhatian orang yang ada di sana tertuju padanya.

__ADS_1


__ADS_2