
Di sebuah ruangan yang gelap dan sempit, seseorang dihajar habis-habisan oleh lelaki bertubuh gempal berperawakan tinggi kekar. Reza, dia mengerang kesakitan setiap kali menerima hantaman. Dia merasakan pukulan demi pukulan yang bertubi-tubi membuatnya sampai tak sadarkan diri.
Sudah seharian dia terjebak di sana. Salma, membayar beberapa orang untuk emnangkap Reza lantaran dia mencurigai lelaki itu menyembunyikan semuanya tentang Neta darinya. Firasat Salma begitu kuat sebagai istri pertama dia mampu mencium semua kebohongan itu.
Memang, sepandai-pandainya manusia menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Seperti saat ini di mana Salma yang masih saja bisa mengetahui kebohongan yang Reza buat meskipun ia sudah menutupinya. Reza saat ini tersudut, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengatakan kejujurannya.
“Kamu mau bicara jujur atau secara perlahan kus*yat-say*t tubuhmu ini?” tanya Salma dengan sangat tenang dan santai seolah pertanyaan yang ia ajukan bukanlah sesuatu yang bisa melukai atau pun menyakitkan bagi orang lain.
“Baiklah, aku akan katakan yang sebenarnya. Benar, wanita itu adalah dia. Dia yang menjadi istri kedua suamimu, dia Neta,” jawab Reza dalam keadaan terdesak.
“Neta, sudah aku duga. Kamu selama ini hanya bohong kepadaku, semenjak kamu mulai memata-matai, sejak saat itu juga mereka sudah berhubungan. Iya ‘kan?” tanya Salma yang kali ini dengan mengarahkan pisau ke dada Reza yang terkapar tidak berdaya.
“Kamu tahu resikonya bila pisau ini menghunus ke sini?” tunjuk Salma oada dada kirinya dengan belati. Dia bertanya sambil tertawa mengerikan.
Sementara itu seorang gadis dengan sepeda motor matiknya, dia mengendarai sepeda motor itu melewati sebuah perkampungan yang terbengkalai. Lebih tepatnya adalah sebuah komplek perumahan yang mangkrak dan terbengkalai. Belasan tahun kosong dan sekarang sudah tidak ada yang mennjaganya sama sekali.
“Ah, tadi aku lihat mobil yang membawa Reza itu ke sini, aku ikuti atau ah ….” Dara tengah berada dalam kebimbangan.
Tadi, gadis itu melihat bagaimana temannya, Reza yang sedang berjalan tiba-tiba di tarik begitu saja masuk ke dalam sebuah mobil hitam. Dara melihatnya dan dia mengikutinya dari kemarin, akan tetapi kemarin dia tidak berani. Lalu semalaman dia tidak bisa tidur dan memikirkan nasib Reza.
“Apa aku susul saja? Aku susuri satu persatu jajaran rumah itu? Motorku aku sembunyikan dulu, semoga saja tidak di maling orang. Tuhan, lindungi aku, aku ingin melakukan kebaikan. Para hantu, menyingkirlah jangan ganggu aku,” ucap Dara yang mulai berdoa dan mulai melancarkan misi kemanusiaannya.
“Semoga saja tidak ada apa-apa,” harapnya dalam hati sembari berjalan menyusuri semak belukar yang tingginya sama dengan tubuh mungilnya.
Dengan langkah pasti dan perlahan Dara mendekati tengah bangunan. Dari bagian belakang gedung dia melihat mobil hitam kemarin. Lalu secara tidak sengaja, dia juga melihat seorang laki-laki berperawakan tinggi hitam. Tidak
kurang akal, Dara menghidupkan ponselnya dan melakukan live selama penelusuran tersebut.
Dara sudah memikirkan semuanya, termasuk segala kemungkinan buruk yang bisa menimpanya. Setidaknya nanti bila ada apa-apa dengan dirinya, akan ada banyak mata yang mengabadikan itu dan bisa mnejadi bukti atau penolongnya. Dara terus saja mendekat, ia berbicara dengan para penontonnya dengan berbisik. Hingga ….
“A …!” teriakan kencang terdengar dari dalam gedung.
Dara hapal benar suara siapa itu. Itu adalah suara Reza. Reza berteriak kesakitan dan Dara yang juga ketakutan justru bersembunyi di dalam semak belukar. Kakinya lemas setelah mendengar teriakan Reza.
Tidak lama dari teriakan itu terdengar, suara mobil pun terdengar pergi meninggalkan gedung itu. Dara sempat kebingungan, antara ingin mengejar mobil atau menyusuri gedung kosong itu lagi. Dia terdiam beberapa saat sambil berdoa dan itu terdengar jelas di ponselnya.
Perlahan ia mulai berdiri dan teriakan terdengar lagi. “A …!”
“Reza!” pekik Dara yang kemudian berlari sekencang-kencangnya. Saat ini dia sudah seperti atlit lari. Dia berlari begitu kencang melupakan semak belukar yang menghadang.
Langit mulai gelap dan Dara pun menyalakan lampu senter di ponselnya. Dia menyusuri satu persatu ruangan dengan perasaan takutnya. Akan tetapi semakin lama, semakin jelas terdengar erangan dari seorang laki-laki. Reza mengerang kesakitan sambil menangis.
“Shh …! Argh!” Reza mengerang kesakitan.
__ADS_1
“Za! Itu kamu? Za!” teriak Dara dengan penglihatannya yang terbatas.
Dramatis memang malam itu, tidak hanya Dara yang ketakutan tetapi semua penonton yang menonton livenya. Beruntung Dara sebab salah satu dari puluhan penonton livenya adalah tetangganya yang berprofesi sebagai
polisi. Dengan sigap si tetangga itu pun mengerahkan anggotanya untuk membantu evakuasi tersebut.
“Dara! Dara …! Ini aku, Reza!” sahut Reza dengan sisa tenaga yang tersisa, dia keakitan sebab 4 belati sengaja Salma tancapkan di tubuhnya.
Dua belati menancap di paha dan dua lainnya di telapak tangan Reza. Salma sengaja melakukan itu supaya Reza mati perlahan kehabisan darah tanpa mampu bergerak ke mana-mana untuk meminta pertolongan. Sungguh mengerikan bukan seorang Salma ini?
“Ya Tuhan! Za …!” Dara berteriak histeris sambil menangis, gemetaran dan lemas dia berusaha untuk mendekati Reza.
“Bertahan Za, bertahan,” kata Dara dengan paniknya. Sambil menangis dan terus menyalakan ponselnya dia menerangi ruangan gelap itu. “Mana bajumu?” tanyanya.
“Mereka membuang baju dan celanaku untuk menghilangkan identitas. Mereka membakarnya Dara,” aku Reza sambil terus mengerang kesakitan.
“Sebentar, aku akan menghubungi ambulan,” kata Dara dengan paniknya. Dia lalu mematikan siaran langsungnya dan mengurus Reza.
Pada saat itu Reza hanya mengenakan ****** ***** saja. Salma melakukan itu supaya saat Reza mati nanti mayatnya tidak akan teridentifikasi dengan mudah dan itu akan mengulur waktunya untuk melarikan diri. Dara yang panik lalu melepas kemejanya dan merobeknya.
Dara, hanya mengenakan tank top hitam pada malam itu sebagai inner kemejanya. Dia tidak lagi memikirkan rasa malu meskipun buah dadanya yang biasanya tertutup rapi pada malam itu terekspose begitu saja. Sudah hilang semua pikiran kotor itu baik Reza maupun Dara hanya berpikir bagaimna untuk menghentikan darah yang terus mengalir dari kedua telapak tangan Reza.
Dua mobil polisi datang untuk mengevakuasi. Dara yang semula bingung karena dia tidak menghubungi polisi pun pada akhirnya mengerti karena si tetangga yang juga ikut menolongnya malam itu. Dara tidak menyangka bahwa jalan hidupnya akan berubah seperti itu dalam hitungan menit.
“Ke mana perginya orang-orang yang ada di dalam rekamanmu tadi?” tanya polisi tetangga Dara.
“Kamu ada masalah apa sampai orang itu tega berlaku seperti ini sama kamu?” tanya si polisi kepada Reza.
Belum sempat menjawabnya Reza memejamkan matanya setelah tubuhnya menggigil kedinginan. Dara hanya bisa menangis histeris melihat itu. Dia ketakutan setengah mati, pertama kalinya melihat orang dalam keadaan kritis dan itu di atas pangkuannya sendiri.
****
Nit!
Nit!
Nit!
Suara detak jantung yang terpantau monitor terdengar di satu ruangan yang dijaga oleh polisi dan seorang gadis yang terus menangis setiap melihat temannya masih saja memejamkan mata. Dara sangat sedih melihat keadaan
Reza. Sampai saat ini dia bahkan belum tahu apa penyebab semua itu bisa terjadi.
“Ra ….” Panggil Reza pelan.
__ADS_1
“Za, lu udah bangun,” tanya Dara pelan yang kemudian memencet bel untuk memanggil petugas medis.
Dua hari Reza tidak sadarkan diri dan dia nyaris saja meninggal dunia karena kehabisan darah. Reza kehilangan banyak darahnya malam itu. Bila saa Dara tidak datang, sudah dapat sipastikan dia akan meninggal dunia hari itu juga.
“Makasih banyak Ra, gue hutang nyawa sama elu,” kata Reza dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Enggak apa-apa Za, gue ikhlas nolong elu. Siapa mereka, kenapa mereka jahat sama elu?” tanya Dara masih dengan air matanya yang jatuh berderai.
Polisi yang ada di sana pun bersiap mencatat kesaksian Dara dan Reza. Kasus itu haru segera teruraikan bila tidak maka akan ada kemungkinan Salma bertindak brutal kepada Neta dan Kei. Kabar tentang apa yang menimpa Reza
itu rupanya sampai juga ke telinga nenek Fuji.
Nenek Fuji mengutus seseorang untuk emngusut kasus tersebut dan melindungi Dara dan juga Reza. Bahkan ia menambahkan pengawal pribadi untuk keduanya. Reza dan Dara hanya kebingungan karena ternyata pengendali terbesar dari kejadian ini hanyalah seorang nenek tua yang tidak sanggup berdiri lagi.
“Permisi,” ucap seseorang dari balik pintu. Dia adalah pengacara kondang yang bayarannya begitu fantastis. Biasa memecahkan kasus yang begitu rumit di dalam maupun di luar negeri.
“Masuk, bapak siapa ya?” tanya polisi yang bertugas menjaga Reza.
“Saya adalah pengacara yang di tunjuk oleh keluarga nenek Fuji untuk mengawal kasus saudara Reza sampai dengan selesai. Apa saya bisa masuk dan melihat keadaan beliau? Saya Deska Nababan,” jawab Deska selaku
pengacara Reza.
Reza dan Dara hanya bisa diam dan saling pandang. 6 jam proses pengumpulan data itu berlangsung. Reza sampai kelelahan lantaran ingatannya dipaksa untuk kembali ke kejadian yang sebenarnya sudah sangat ingin dia lupakan.
“Mulai, dari saat ini sampai kasus ini tuntas, kalian berada di bawah pengawasan nenek Fuji. Dua pengawal pribadi itu akan bertugas menjaga keamanan kalian. Jadi jangan ada berpikiran yang bagaimana, saya akan berusaha memenangkan kasusu ini karena kalian memang tidak bersalah,” kata Deska panjang lebar sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut.
“Za, bisa-bisanya lu terlibat urusan kayak gini,” omel Dara dengan perasaan gusarnya.
“Mana gue tahu Dara, gue hanya coba buat lindungin Neta. Enggak nyangka gue kalau bininya si tuan Kei itu gila kayak gini,” aku Reza pada Dara yang seolah hilang semua tenaganya setelah mengetahui yang sebenarnya.
“Terus butik Bu Neta gimana dong?” tanya Dara dengan bingungnya.
“Mana gue tahu Dara,” jawab Reza sembari menghela napasnya gusar.
****
“Halo, Nek.” Kei menjawab panggilan telepon di siang hari. Nenek Fuji menghubunginya setelah mengirimkan Deska dengan harapan Salma belum akan sampai ke vila miliknya yang tersembunyi itu.
Sialnya, bersamaan dengan panggilan masuk dari nenek Fuji, masuk jugalah Salma ke dalam vila itu dan membuat kekacauan. Tanpa basa-basi dan banyak drama, dia langsung saja menendang perut Neta dengan sangat keras. Hal itu disaksisakan langsung oleh Kei yang berdiri di samping Neta.
Neta langsung tersungkur dan kesakitan memegangi perutnya. Kei, dia langsung naik pitam melihat itu semua. Kei mengamuk sejadinya, dia tidak pandang jenis kelamin dan siapa Salma. Kei dengan cepat pun melakukan hal serupa pada Salma, dia menendang perut wanita itu hingga Salma terjatuh dan pingsan.
Setelahnya Kei habis di keroyok oleh anak buah Salma. Kei kalah jumlah. Ia dikeroyok oleh 4 orang sekaligus. Hingga ia tersungkur dan mereka barulah pergi.
__ADS_1
Kedatangan Salma saat itu tidak ubahnya hanyalah pembut kekacauan, dan dengan tingkahnya yang demikian, Kei menjadi semakin mantap dan yakin untuk memilih Neta sebagai istrinya dari pada Salma. Neta menangis sembari memegangi perutnya yang berdarah.
“Kei, anak kita ….” rintih Neta dalam tangisnya sebelum dia jatuh pingsan.